Sunday, June 01, 2014

Duniaku Jungkir Balik

Jika ditelaah dari frekuensi posting yang ada di blog ini, tertanggal sejak September 2011. Siapa yang tahu, posting Suhu berjudul Quick Recap, bukannya menjadi daftar isi. Melainkan menjadi rangkuman kehidupan Suhu. Bagaikan berpamitan dengan para pembaca nya di dunia maya. Baik yang Suhu tidak kenal, mau pun yang Suhu lupakan.

Apakah yang terjadi pada bulan September 2011?

Episode lalu: Lima Belas Menit yang Merubah Nasib.

Lima belas menit. Cukup aku mendengarkan isi perkataan mereka selama lima belas menit. Kalau ditambah dan diteruskan, misalkan lima menit lagi. ah ah ah dia mau datang menjemputku , mungkin aku bisa muntah. Perutku sudah mual.

Mister Faifai memperkenalkan salah satu dari mereka. Mereka berasal dari Cina. Daratan Cina. Benar, tempat di mana kita dianjurkan menuntut ilmu sampai tanah mereka. Belum kita ke sana, dia ke sini duluan. Yang diperkenalkan oleh boss besar PT Bangun Subangkit, tentu saja adalah pimpinan kami juga. Pimpinan kami? Pimpinan mereka, maksudku.

Untuk kepentingan pembaca dan kerahasiaan identitas pelaku, kita sebut saja namanya Pak Ketua. Kan ceritanya dia yang memimpin grup tak dikenal tadi. Pak Ketua, kita singkat PaKu gitu, biar praktis.

PaKu bercerita tentang. Eh tunggu dulu. Dia bercerita tentang apa?

Suhu tidak seberapa mengerti apa yang dia ucapkan. Oh. Ternyata PaKu berbicara dalam bahasa Mandarin. Lho? Suhu kan bisa bahasa Mandarin?

Nah ini dia salah kaprah. Bahasa Mandarin orang setanah daratan Cina, dari kampung satu ke kampung lainnya itu esensi nya sama. Hasil dari Kaisar dari zaman Dinasti Ming dan Qing telah bersusah payah membuat orang sebanyak itu di tanah seluas itu memakai bahasa yang sama. Mungkin jaman itu mereka juga sudah punya Sumpah Pemuda versi Cina. Berbahasa satu, bahasa mandarin. Begitu.

Tapi kenapa sesama orang yang bisa berbahasa Cina tidak mengerti percakapan satu sama lain?

Sebentar sebentar. Untung nya Suhu punya analogi yang mudah dicerna, karena kalian juga orang Indonesia yang suku nya beragam. Kecuali kalau ada orang Brasil nyasar ke blog ini, ngapain kalian di sini? Kembali ke Indonesia yang beragam suku, coba kalian bayangkan ada orang Batak bertemu dengan orang Madura. Dua-dua nya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Tidak masalah. Tapi, sudah hampir pasti kalian tahu yang mana si Batak, yang mana si Madura. Bukan. Bukan karena yang satu parbada yang satu jual sate. Minta ditempeleng kalian ini, rasis nian.

Betul. Aksen. Penekanan kata. Intonasi frase. Tinggi rendah nada.

Nah. Sekarang buat yang pernah belajar mandarin. Kata yang berbunyi sama. Dengan nada berbeda. Artinya BEDA. Sekarang bayangkan kalau cerita si Batak tadi dan si Madura ini diganti dengan si ShangHai dan si ShanDong. Itu yang sama-sama Cina asli nya. Belum lagi kalau dicampur Cina palsu yang kayak Suhu?

----------------
Di Cina, kalau kalian mau tanya ke mbak mbak di warung, misal nya warung pangsit mie.

Mbak, Shui jiao yi wan duo shao?
 
Kemungkinan pertama: dijawab harganya, berarti pertanyaannya. 水饺一碗多少 (shui jiao yi wan duo shao) - pangsit semangkok berapaan?

Kemungkinan kedua: digampar. berarti pertanyaannya. 睡觉一晚多少 (shui jiao yi wan duo shao) - tidur semalam berapaan?

Kemungkinan ketiga: dijawab harganya. Tapi mahal. Berarti mbak mbak pangsit mie nya pok ami ami. Siang mbak pangsit mie kalau malam kupu kupu.
-------------

Kembali ke pokok permasalahan sebelum kita menyimpang terlalu jauh.

Dengan kesamaan tingkat intelejensia yang sangat berbeda, Suhu memahami sekitar tiga puluh persen perkataan PaKu. Mulai dari perkenalan bahwa dia adalah seorang perwakilan dari perusahaan di Cina. Dia adalah lulusan salah satu Ivy League Universities. Salah dua tepatnya. Harvard dan Yale. Prestasi yang sangat memukau, mempertimbangkan cukup susah buat Suhu untuk melafalkan kata Harvard tanpa kelihatan cegukan dan Yale yang Suhu tahu adalah merk gembok.

Setelah basa basi perkenalan diri, dia memperkenalkan sebuah perusahaan yang Suhu kurang menangkap nama nya. Maklum, masalah pangsit mie tadi, Kendala bahasa. Suhu tak kehilangan akal. Ibarat kata pepatah besar kemaluan susah berjalan malu bertanya sesat di jalan. Suhu bertanya pada kolega nya. Mister Huat terlihat begitu serius mendengarkan. Saat Suhu bertanya.

"Ngomongin apaan sih?"
"Ssshh ... ntar aku jelasin .. diem dulu aku mau dengerin."

Saat itu Suhu melihat kiri dan kanan. Semua serius mendengarkan. Tidak semua. Kecuali Suhu yang sibuk tingak tinguk kiri kanan. Oh lalu ada Htun yang sibuk menyeruput teh krisantemum yang disajikan. Dan Marcus yang makan kacang dengan buas. Adakah kesamaan dari kami bertiga. Suhu mandor yang dari Indonesia, Htun staf senior contract department yang dari Myanmar, dan Marcus yang mendaki career ladder PT Bangun Subangkit mulai dari posisi rendah di lapangan sampai masuk ke management staff berasal dari Filipin. Dari asal negara, kami bertiga sudah berbeda. Dari lama mengabdi, mereka sudah belasan tahun bersama PT Bangun Subangkit, seperti Mister Hock lah kira-kira, sedangkan aku, hanya hampir lima tahun. Kami bertiga sama-sama tidak terpengaruh isi berita itu, karena KAMI TIDAK MENGERTI APA YANG MEREKA BICARAKAN.

Lima belas menit setelah speech itu dimulai. Hidangan mulai disajikan. Kami mulai mendapat terjemahan tentang isi pembicaraan itu.

PT Bangun Subangkit telah di-merger di-akuisisi DIJUAL.

Hidangan itu hanya menunggu dingin di tengah meja. Dari pihak tamu mereka sungkan untuk memulai. Dari pihak PT Bangun Subangkit tidak ada yang punya selera makan. Bukan karena hidangannya nampak tak lezat.

PaKu (Pak Ketua) dari grup tersebut dalam hitungan menit kini telah menjadi PaKuPinEs (Pak Ketua Pimpinan Perusahaan) kami, dengan dijualnya PT Bangun Subangkit ke tangan mereka. Dia berdiri dan memulai mengambil hidangan di tengah meja. Sambil mengajak yang lain untuk mulai menyantap.

"Ayo dimakan, keburu dingin nanti."

Sungguh nampak lezat hidangan itu. Selezat hidangan terakhir yang diberikan ke narapidana yang akan dihukum mati keesokan hari saat matahari terbit.

Suhu,
di ujung akhir karir.

No comments: