Sunday, May 18, 2014

Lima Belas Menit yang Merubah Nasib

Masih hari Sabtu, 3 September 2011.

Sreeeekkkk...

Siapa gerangan?

Nampak wujud yang familiar, Suhu pernah jumpa dengan mereka. Suhu kenal dengan mereka. Tapi hanya sebatas lihat-rupa-tahu-nama. Mereka adalah pendekar-pendekar dari gunung sebelah petinggi petinggi dari proyek lain di bawah naungan PT Bangun Subangkit. Ada project manager, ada mandor lain, ada project manager lain lagi, ada mandor lain lagi. Ada apa ini?

Semua hanya menyapa dengan "hai" lalu duduk. Suhu menyadari apa yang terjadi, hanya dengan melihat paras mereka, dengan kemampuan Suhu membaca pikiran, Suhu menyimpulkan. MEREKA JUGA SAMA SAMA TIDAK TAHU NGAPAIN KITA DI SINI!?!! Selain kekuatan mind-reading yang sering diasah dengan "bagus mana? yang biru, atau yang merah?" sewaktu shopping dengan pacar. Suhu juga mendengar Mister Say, Project Manager proyek Tampines, bertanya pada Mister Huat

"Ada yang tahu kita ngapain di sini?"

Dan semuanya mengangkat bahu nyaris bersamaan. Nyaris. Bersamaan. Perhatikan kata nyaris. Hanya ada satu di antara kami, yang terlambat mengangkat bahu. Mandor proyek Bukit Batok, dengan usia sebaya Suhu, dan pangkat yang sama tak perlu Suhu memanggil nya dengan nama Mister Choon. Suhu menghardiknya.

"Choon! Kamu tahu sesuatu yang kami tidak tahu. Katakan segera!"
Cengkeram kerah bajunya, dan benturkan seluruh tubuhnya ke dinding.
"A-a-a-apa maksudmu? Aku benar-benar tidak tahu!"
"Kamu terlambat 0.782 milisekon mengangkat bahu. Jangan kau pikir aku tidak menyadarinya!"
"Apa?"

Mandor proyek Tampines, See, hanya tersenyum dan menggenggam pergelangan tanganku.

"Lepaskan dia. Choon berkata jujur. Dia hanya sedikit lambat."
"Betul. Aku memang sedikit lambat."
"Kadang dia memang demikian."
"Betul."
"Baiklah. Tapi aku masih tidak seratus persen percaya."
"Kau akan percaya suatu hari kelak, Suhu."
Dua menit kemudian.
"See, apa maksudmu aku lambat?"
"... Baiklah. Aku percaya sekarang."

Mendekati pukul dua, makin banyak yang datang. Beberapa kolega dari Headquarters kantor pusat. Kepala bagian HR, Admin, Purchaser datang bersamaan. Kebanyakan dari mereka Suhu hafal suaranya, tapi tidak pernah bertatap muka.

Datang dari berbagai proyek, juga dari kantor pusat Headquarter. Kami semua punya latar belakang berbeda. Tapi ada hal yang mempersatukan kita. Kita sama-sama staff PT Bangun Subangkit kebingungan. Tidak ada lagi yang membuka suara. Semua saling menebak. Apa yang terjadi. Yang ada hanya kasak-kusuk bisik-bisik, terutama dari kolega kolega dari Headquarter. Sepertinya mereka lapar tahu sesuatu yang kita tidak tahu. Kita harus merenggut informasi ini dari mereka. Sebelum Suhu sempat menerkam, pintu itu terbuka lagi.

Sreeeekkkk...

Mister Faifai. Bos besar PT Bangun Subangkit. Diikuti dengan beberapa orang yang tidak kukenal. Orang-orang di belakang nya berpakaian rapi. Terlalu rapi. Jas dan kemeja, beberapa berdasi. Beberapa orang. Tampang-tampang asing yang Suhu tidak pernah tahu.

Dan kalau itu adalah pilihan; kalau Suhu bisa menerawang masa depan, Suhu tidak akan pernah mau tahu.

Tapi ini semua adalah kenyataan. Mereka bersalam-salaman dengan kami yang sudah sampai terlebih dahulu. Anehnya, mereka kebanyakan hanya tersenyum saat bersalaman tanpa berkata-kata. Entah apakah mereka bodyguard profesional yang jarang bicara, pengacara yang hemat wicara karena tahu salah kata bisa dijadikan senjata di pengadilan, atau, bisu.

Ternyata bukan semuanya.

Ramah tamah dan senyum sumringah saat bersalam-salaman hanya berlangsung sejenak. Lima belas menit kemudian. Semua fakta terungkap. Duniaku jungkir balik.

Suhu,
terjungkir balik. koprol. terus bilang wow.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu: Duniaku jungkir balik
Siapakah mereka? Apakah kabar yang dibawa mereka? Bagaimana makan siang hari ini bisa memutarbalikkan hidup Suhu, menjadi satu alasan utama blog post ini tertunda nyaris tiga tahun?



No comments: