Friday, November 07, 2014

Time to Go, but Where?

Suhu terlalu bingung untuk bertindak. Suhu hanya mengikuti perintah. Pulang dan cek paspor. Masih ada. Re Entry Permit kertas kuning. Masih ada. Expiry date. Tiga tahun setelah manufacturing date. Eh salah. Ini kotak panadol. Expiry date, masih lebih dari enam bulan. Boleh bepergian.

So. What's next?

Benar saja. Keesokan harinya, Mister Faifai, bos besar PT Bangun Subangkit. Mantan. Mantan bos besar PT Bangun Subangkit sebelum perusahaan ini dijual. Mister Faifai datang ke kantor Suhu. Memastikan bahwa tidak ada orang di kantor, Mister Faifai mengeluarkan sebuah amplop. menyorongkannya di atas meja menuju ke arah Suhu.

Apa-apaan ini?!?
Pendidikan dasar sembilan tahun. Pendidikan tinggi tiga tahun. Dan perguruan tinggi empat tahun lulus kumlaud tidak dipersiapkan untuk mengatasi masalah ini. What should I do? What the fish is this? Why did I think in English? Iki piye mak!

Melihat raut wajahku yang tidak tenang, Mister Faifai menyadarinya. Hidung kembang kempis, napas tidak teratur, kuping gerak-gerak, mata juling. Gimana gak sadar? Lalu Mister Faifai buka suara.

"Jumlahnya nggak banyak. Tapi lebih dari cukup buat belanja di sana. Nanti kalau kamu sudah agak tenang, kamu telpon Madam Pik. Kamu kasih dia nomer paspormu sama nama lengkap. Tiket diatur perusahaan."

Apa?

Tiket?

Kemaren bilang paspor hari ini ngasih amplop terus tanya nama lengkap bilang tiket sudah diatur perusahaan? Ini apa-apaan. Apa-apaan ini.

Suhu marah. Mengangkat kursi tinggi-tinggi lalu menghujamkannya ke Mister Faifai. Dalam imajinasinya.

Mister Faifai sudah pergi. Bagaikan ninja dia. Yang sisa tinggal asap-asap. Perginya pakai bom asap.



Cukup sudah kau permainkan aku dalam drama perpindahan takhta PT Bangun Subangkit, batin Suhu. Perlahan-lahan amplop dibuka. Sebuah cek yang bisa diuangkan langsung tunai. Nilainya tidak banyak. Tapi lebih dari cukup. Untuk belanja di sana. Terngiang-ngiang perkataan Mister Faifai.

Di mana? Belanja untuk berapa lama? Ngapain kita ke sana?

Memandang cek itu. Suhu tersenyum. Mungkin ini bentuk kompensasi pensiun dini? Atau insentif agar bekerja lebih keras di bawah naungan PN Cin Cao? Entahlah. Tapi bagai terhipnotis nominal jumlah yang tertera di cek itu. Suhu mengangkat telepon. Menekan serangkaian nomer yang sudah terhafal di kepalanya.

"PT Bangun Subangkit, ada yang bisa saya bantu?"
"Dengan Madam Pik, please"

ningnongningnongning lagu ini berbunyi.

untunglah kejadian ini berlangsung oktober tahun 2011. kalau ditunggu beberapa bulanlagi mungkin lagu on-hold telefonnya nengnengnongneng bukan ningnongning.


Setelah serangkaian percakapan dengan Madam Pik. Suhu meletakkan gagang telepon. Tiket sudah disiapkan oleh perusahaan. Perjalanan ini akan dibiayai perusahaan dan berdurasi sepuluh hari. Selasa depan berangkat.

Dan amplop berisi cek tadi? Cukup buat hidup sepuluh hari di sana. Sekaligus sewa mobil beserta sopir dan selusin dayang.

Suhu,
ke negeri asal Panda.

Rahasia Perusahaan

Lanjutan dari  Duniaku Jungkir Balik

Hari-hari setelah makan siang itu, berlalu seperti biasa.

Berangkat kerja sebelum matahari terbit. Pulang setelah matahari terbenam. Tidak ada perubahan yang berarti. Bahkan setelah PT Bangun Subangkit dijual ke pihak Cina Daratan, PN Cin Cao. Tidak ada perubahan yang berarti.

Mungkin karena memang PaKuPinEs dari episode ini, berjanji bahwa tidak akan ada yang berubah dari struktur perusahaan PT Bangun Subangkit.

Mungkin karena Mister Faifai, pemimpin perusahaan PT Bangun Subangkit ingin menyelesaikan proyek yang sedang berlangsung sebagai hadiah perpisahan untuk kita semua. Baik keluarga besar PT Bangun Subangkit,maupun PN Cin Cao.

Mungkin juga karena ini adalah sebuah bom waktu. Yang sebelum meledak, tidak ada yang bisa merasakannya. Kecuali. Orang yang mengetahui keberadaan bom waktu tersebut.

Dan di proyek ini, hanya ada tiga orang yang mengetahuinya. Mr Huat. Mr Hock. Dan Suhu.

Suhu jadi sering makan siang bersama Mr Huat dan Mr Hock. Tanpa karyawan-karyawan lain. Terdengar desas desus bahwa Suhu akan dipromosikan.Walaupun itu benar, tapi berita itu sudah tertutup berita yang lebih mendebarkan.

Mereka yang hidup dalam ketidaktahuan. Betapa indah hidup mereka. Suhu masih sering melihat Calvin, mesin pikir tenaga bir, dan memikirkan bagaimana perasaan dia, bagaimana nasib dia, dia itu udah jomblo, jelek, sekali-kali nya punya gebetan, pas mau nembak, gebetannya ngasi undangan nikah. PT Bangun Subangkit merahasiakan proses penjualan perusahaan agar supaya tidak menimbulkan gejolak yang tidak perlu.

Mr Hock, Mr Huat, dan Suhu mengerti ini adalah keputusan yang terbaik untuk perusahaan. Betapa tidak, jika kabar ini bocor, staff yang tidak dilibatkan akan merasa bahwa mereka dianggap tidak penting oleh perusahaan. Dan mungkin malah kocar-kacir cari pekerjaan baru. Sedangkan proses perjanjian penjualan PT Bangun Subangkit ke PN Cincao adalah sepaket dengan karyawannya sebagai sebuah perusahaan yang menghasilkan uang. Hal terakhir yang diinginkan PN Cincao adalah karyawannya kabur semua dan PT Bangun Subangkit menjadi perusahaan kosong.

Ini adalah rahasia perusahaan.

"Tidak ada perusahaan lain yang boleh tahu. Tapi yang lebih penting. Staf kita tidak boleh tahu."

Demikian ujar Mister Faifai sambil menepuk pundak kami sebelum pergi. Tampak punggung dia berkata.

"Pastikan paspor kalian bertiga siap setiap saat."

Suhu,
knows too much.

Wednesday, July 23, 2014

Pemilihan Ketua Kelas

Jadi ceritanya Suhu mau bikin posting yang dibaca sekali duduk selesai.

Nggak harus dibaca bersambung. Nggak ada hubungannya sama posting sebelumnya. Nggak ada hubungannya sama posting selanjutnya. Tapi ide nulis nya dari mana?

Paling mudah ya memetik dari peristiwa di sekitar kita, dan yang terkini. Seperti prinsip Suhu jaman awal-awal nge-blog. Ambil 15 menit paling menarik dari 24 jam. Jadikan sebuah posting. Tiap hari akan ada hal baru. Maka dulu jaman suhu dot blogspot dot com (ini dibaca kom ya, bukan comblang. kalau dot org dibaca orek, bukan orang), terkadang bisa sampai posting dua kali sehari. DUA! Kayak minum yakult. Terus mencret.

Kembali ke cara penulisan blog. Biasanya Suhu memulai dengan tulisan secara poin form. Lalu tiap poin utama dikembangkan menjadi paragraf. Paragraf yang terlalu panjang dipisah biar enak dibaca. Paragraf yang terlalu pendek digabung biar sedap dipandang.

Ambil contoh postingan kali ini. Kita bikin poin poin secara runut.

-----------------------------------------------------------------------

Kisah di SDN Sukamaju Desa Rimbun sebelah hutan rimba.

Pemilihan Ketua Kelas berlangsung.

Dua pilihan, si Gembul dan si Ceking.

Si Gembul punya banyak teman dari tim olahraga. Kekar dan bertenaga.

Si Ceking punya banyak teman dari ekskul Mading. Suka berkarya dan sosial media.

Si Gembul tidak disukai beberapa kawannya karena dulu suka mencontek saat ujian.

Si Ceking tidak disukai beberapa kawannya karena dia anak pindahan dari sekolah lain.

Keduanya tidak sempurna.

Pemilihan Ketua Kelas dimulai.

Pak Guru membacakan satu persatu hasil lintingan kertas tanpa identitas masing-masing bertuliskan nama si Gembul dan si Ceking.

Si Gembul dan si Ceking tumpengan di kelas karena dua-dua merasa menang.

Si Gembul mengancam akan memanggil orang tua Kepala Sekolah dan menyuruh Pak Guru berdiri di depan tiang bendera.

Si Gembul pindah sekolah.

Ini cerita koq nggak ada esensi nya. Nggak logis! Apa-apan ini?

AH SUDAHLAH!

*banting laptop*

*balik meja*

Tuesday, July 08, 2014

Kontes Raja Rimba

Obor di tengah hutan belantara itu meredup. Pertanda masa kepemimpinan Gajah sebagai raja rimba akan habis. Sebagaimana tradisi telah berlangsung selama beberapa puluh tahun terakhir, hutan belantara ini akan mengadakan kontes sejagad raya untuk menentukan siapa yang akan memegang tahta RImba Satu. Di masa kepemimpinan Gajah, bisa dibilang hutan cukup stabil. Tidak ada perubahan berarti, nilai tukar pisang masih buruk sekitar delapan tandan pisang untuk satu ikan. Bukan salah Gajah, memang susah untuk mengembalikan keterpurukan sejak kebakaran hutan besar-besaran jaman pemerintahan Harimau.

Kali ini, obor yang meredup itu menjadi secercah sinar harapan bagi dua ekor hewan yang mengincar takhta raja rimba. Singa penuh wibawa dan Monyet cerdik cendekia, keduanya adalah kandidat kuat raja rimba. Tak satu pun dari mereka boleh dipandang sebelah mata.

Auman kuat Singa menunjukkan bahwa dia adalah seekor hewan yang mampu memimpin hutan ini di masa-masa krisis. Yang mengenaskan adalah tuduhan-tuduhan yang ditujukan ke Singa. Mulai dari gosip sejarah Singa yang bersimbah darah karena kisah-kisah tentang kekejiannya di masa lampau. Hubungannya dengan mantan raja rimba Harimau (jaman sebelum Gajah), bukannya malah membantu karirnya tapi malah membuat dia semakin dihujat. Ada yang mengata-ngatai Singa dulu selalu diberi perlakuan khusus karena dia menantu Harimau. Ada yang bilang Singa hewan buas tidak layak jadi pemimpin karena hewan karnivora suka memakan hewan lainnya. Gosip yang paling seru adalah Singa dulu pernah mencoba merebut obor kekuasaan sebelum redup waktu Kancil menyandang gelar raja rimba. Omaigat! Yang menarik, sampai sekarang tidak ada yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri Singa menggigit warga hutan.

Monyet yang cerdik tapi bersahaja, juga tidak kalah. Apalagi rekam jejaknya dia adalah pemimpin perkebunan kelapa yang kian hari kian subur. Sebelum dia di perkebunan kelapa, dia juga dijadikan pemimpin oleh tetangga-tetangganya yang tinggal di sebelah bengawan. Prestasinya memang di luar kebiasaan para pemimpin belantara beberapa puluh tahun terakhir. Karena sifat alami monyet yang suka mblusuk-mblusuk di antara pepohonan, Monyet sangat dekat dengan warga hutan, Monyet bahkan berhasil memindahkan gerombolan munyuk ilegal tanpa kekerasan!

Tapi bagikan pohon yang tinggi diterpa angin yang lebih kencang, monyet pun dicerca dengan banyak tuduhan-tuduhan. Kadang hina, kadang pilu, kadang menyakitkan, kadang lucu. Tuduhannya beragam. Mulai dari monyet dituduh agen kiriman manusia untuk memata-matai hutan, Monyet digosipkan sebenarnya cuma boneka yang kalau jadi raja rimba gerak gerik nya akan diatur ratu Kingkong, dan yang paling absurd, Monyet dituduh keturunan Panda (dabelyutief!).

Yang menyebarkan gosip ini dan itu siapa? Warga hutan sendiri. Hewan-hewan fanatis Singa dan Monyet meluncurkan black campaign (ini maksudnya gosipin kandidat lawan-lawan saat malam hari setelah matahari terbenam) untuk menjerumuskan lawannya. Mulai dari beberapa putaran ajang pemilihan raja rimba, pendukung kedua belah pihak makin terpecah belah. Memang sebelum hari pemilihan terakhir, ada sesi-sesi hiburan ajang kehebatan dari kedua hewan tersebut. Singa mengaum dan Monyet memanjat, benar-benar memikat para penonton. Tapi ingat, jangan tepuk tangan! Mengganggu konsentrasi kandidat.

Entah karena sebab apa, warga hutan kali ini benar-benar hanyut dalam euphoria demokrasi rimba. Partisipasi warga hutan melebihi tahun-tahun sebelumnya. Dengungan-dengungan saling mengingatkan satu sama lain agar tidak lupa memilih. Bahkan diduga ini pertama kali ada sukarelawan dengan panji-panji dikibarkan untuk mendukung idola masing-masing.

Tapi semua juga sudah tahu, pemilihan raja rimba ini ibarat bisnis janji. Siapa salesman terbaik. Janji-janji angin surga. Kedua belah pihak menjanjikan sesuatu yang belum tentu ditepati. Warga hutan hanya bisa berharap agar mereka menepati janjinya. Berharap. Tanpa jaminan. Kalau salah pilih, ya tunggu obor berikutnya. Siapakah yang akan memenangkan kontes raja rimba?

Singa yang menjanjikan kembalinya kejayaan rimba di masa lampau?

Monyet yang menjanjikan perubahan menuju rimba masa depan yang serba maju?

Kamu yang menentukan besok.

Siapapun pilihanmu, ingat. Kita tetap satu, warga hutan. 1+2=3. Persatuan Belantara.

Panda Tambun,
di balik hutan bambu.

PS:
Pilihan Panda Tambun? Hmmm ... kalau Singa menang, mungkin nilai tukar bisa naik jadi sepuluh tandan pisang untuk satu ikan. Kalau Monyet menang, Panda Berang otomatis jadi pemimpin perkebunan kelapa. Pelik sekali kontes raja rimba kali ini!

Sunday, June 01, 2014

Duniaku Jungkir Balik

Jika ditelaah dari frekuensi posting yang ada di blog ini, tertanggal sejak September 2011. Siapa yang tahu, posting Suhu berjudul Quick Recap, bukannya menjadi daftar isi. Melainkan menjadi rangkuman kehidupan Suhu. Bagaikan berpamitan dengan para pembaca nya di dunia maya. Baik yang Suhu tidak kenal, mau pun yang Suhu lupakan.

Apakah yang terjadi pada bulan September 2011?

Episode lalu: Lima Belas Menit yang Merubah Nasib.

Lima belas menit. Cukup aku mendengarkan isi perkataan mereka selama lima belas menit. Kalau ditambah dan diteruskan, misalkan lima menit lagi. ah ah ah dia mau datang menjemputku , mungkin aku bisa muntah. Perutku sudah mual.

Mister Faifai memperkenalkan salah satu dari mereka. Mereka berasal dari Cina. Daratan Cina. Benar, tempat di mana kita dianjurkan menuntut ilmu sampai tanah mereka. Belum kita ke sana, dia ke sini duluan. Yang diperkenalkan oleh boss besar PT Bangun Subangkit, tentu saja adalah pimpinan kami juga. Pimpinan kami? Pimpinan mereka, maksudku.

Untuk kepentingan pembaca dan kerahasiaan identitas pelaku, kita sebut saja namanya Pak Ketua. Kan ceritanya dia yang memimpin grup tak dikenal tadi. Pak Ketua, kita singkat PaKu gitu, biar praktis.

PaKu bercerita tentang. Eh tunggu dulu. Dia bercerita tentang apa?

Suhu tidak seberapa mengerti apa yang dia ucapkan. Oh. Ternyata PaKu berbicara dalam bahasa Mandarin. Lho? Suhu kan bisa bahasa Mandarin?

Nah ini dia salah kaprah. Bahasa Mandarin orang setanah daratan Cina, dari kampung satu ke kampung lainnya itu esensi nya sama. Hasil dari Kaisar dari zaman Dinasti Ming dan Qing telah bersusah payah membuat orang sebanyak itu di tanah seluas itu memakai bahasa yang sama. Mungkin jaman itu mereka juga sudah punya Sumpah Pemuda versi Cina. Berbahasa satu, bahasa mandarin. Begitu.

Tapi kenapa sesama orang yang bisa berbahasa Cina tidak mengerti percakapan satu sama lain?

Sebentar sebentar. Untung nya Suhu punya analogi yang mudah dicerna, karena kalian juga orang Indonesia yang suku nya beragam. Kecuali kalau ada orang Brasil nyasar ke blog ini, ngapain kalian di sini? Kembali ke Indonesia yang beragam suku, coba kalian bayangkan ada orang Batak bertemu dengan orang Madura. Dua-dua nya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Tidak masalah. Tapi, sudah hampir pasti kalian tahu yang mana si Batak, yang mana si Madura. Bukan. Bukan karena yang satu parbada yang satu jual sate. Minta ditempeleng kalian ini, rasis nian.

Betul. Aksen. Penekanan kata. Intonasi frase. Tinggi rendah nada.

Nah. Sekarang buat yang pernah belajar mandarin. Kata yang berbunyi sama. Dengan nada berbeda. Artinya BEDA. Sekarang bayangkan kalau cerita si Batak tadi dan si Madura ini diganti dengan si ShangHai dan si ShanDong. Itu yang sama-sama Cina asli nya. Belum lagi kalau dicampur Cina palsu yang kayak Suhu?

----------------
Di Cina, kalau kalian mau tanya ke mbak mbak di warung, misal nya warung pangsit mie.

Mbak, Shui jiao yi wan duo shao?
 
Kemungkinan pertama: dijawab harganya, berarti pertanyaannya. 水饺一碗多少 (shui jiao yi wan duo shao) - pangsit semangkok berapaan?

Kemungkinan kedua: digampar. berarti pertanyaannya. 睡觉一晚多少 (shui jiao yi wan duo shao) - tidur semalam berapaan?

Kemungkinan ketiga: dijawab harganya. Tapi mahal. Berarti mbak mbak pangsit mie nya pok ami ami. Siang mbak pangsit mie kalau malam kupu kupu.
-------------

Kembali ke pokok permasalahan sebelum kita menyimpang terlalu jauh.

Dengan kesamaan tingkat intelejensia yang sangat berbeda, Suhu memahami sekitar tiga puluh persen perkataan PaKu. Mulai dari perkenalan bahwa dia adalah seorang perwakilan dari perusahaan di Cina. Dia adalah lulusan salah satu Ivy League Universities. Salah dua tepatnya. Harvard dan Yale. Prestasi yang sangat memukau, mempertimbangkan cukup susah buat Suhu untuk melafalkan kata Harvard tanpa kelihatan cegukan dan Yale yang Suhu tahu adalah merk gembok.

Setelah basa basi perkenalan diri, dia memperkenalkan sebuah perusahaan yang Suhu kurang menangkap nama nya. Maklum, masalah pangsit mie tadi, Kendala bahasa. Suhu tak kehilangan akal. Ibarat kata pepatah besar kemaluan susah berjalan malu bertanya sesat di jalan. Suhu bertanya pada kolega nya. Mister Huat terlihat begitu serius mendengarkan. Saat Suhu bertanya.

"Ngomongin apaan sih?"
"Ssshh ... ntar aku jelasin .. diem dulu aku mau dengerin."

Saat itu Suhu melihat kiri dan kanan. Semua serius mendengarkan. Tidak semua. Kecuali Suhu yang sibuk tingak tinguk kiri kanan. Oh lalu ada Htun yang sibuk menyeruput teh krisantemum yang disajikan. Dan Marcus yang makan kacang dengan buas. Adakah kesamaan dari kami bertiga. Suhu mandor yang dari Indonesia, Htun staf senior contract department yang dari Myanmar, dan Marcus yang mendaki career ladder PT Bangun Subangkit mulai dari posisi rendah di lapangan sampai masuk ke management staff berasal dari Filipin. Dari asal negara, kami bertiga sudah berbeda. Dari lama mengabdi, mereka sudah belasan tahun bersama PT Bangun Subangkit, seperti Mister Hock lah kira-kira, sedangkan aku, hanya hampir lima tahun. Kami bertiga sama-sama tidak terpengaruh isi berita itu, karena KAMI TIDAK MENGERTI APA YANG MEREKA BICARAKAN.

Lima belas menit setelah speech itu dimulai. Hidangan mulai disajikan. Kami mulai mendapat terjemahan tentang isi pembicaraan itu.

PT Bangun Subangkit telah di-merger di-akuisisi DIJUAL.

Hidangan itu hanya menunggu dingin di tengah meja. Dari pihak tamu mereka sungkan untuk memulai. Dari pihak PT Bangun Subangkit tidak ada yang punya selera makan. Bukan karena hidangannya nampak tak lezat.

PaKu (Pak Ketua) dari grup tersebut dalam hitungan menit kini telah menjadi PaKuPinEs (Pak Ketua Pimpinan Perusahaan) kami, dengan dijualnya PT Bangun Subangkit ke tangan mereka. Dia berdiri dan memulai mengambil hidangan di tengah meja. Sambil mengajak yang lain untuk mulai menyantap.

"Ayo dimakan, keburu dingin nanti."

Sungguh nampak lezat hidangan itu. Selezat hidangan terakhir yang diberikan ke narapidana yang akan dihukum mati keesokan hari saat matahari terbit.

Suhu,
di ujung akhir karir.

Sunday, May 18, 2014

Lima Belas Menit yang Merubah Nasib

Masih hari Sabtu, 3 September 2011.

Sreeeekkkk...

Siapa gerangan?

Nampak wujud yang familiar, Suhu pernah jumpa dengan mereka. Suhu kenal dengan mereka. Tapi hanya sebatas lihat-rupa-tahu-nama. Mereka adalah pendekar-pendekar dari gunung sebelah petinggi petinggi dari proyek lain di bawah naungan PT Bangun Subangkit. Ada project manager, ada mandor lain, ada project manager lain lagi, ada mandor lain lagi. Ada apa ini?

Semua hanya menyapa dengan "hai" lalu duduk. Suhu menyadari apa yang terjadi, hanya dengan melihat paras mereka, dengan kemampuan Suhu membaca pikiran, Suhu menyimpulkan. MEREKA JUGA SAMA SAMA TIDAK TAHU NGAPAIN KITA DI SINI!?!! Selain kekuatan mind-reading yang sering diasah dengan "bagus mana? yang biru, atau yang merah?" sewaktu shopping dengan pacar. Suhu juga mendengar Mister Say, Project Manager proyek Tampines, bertanya pada Mister Huat

"Ada yang tahu kita ngapain di sini?"

Dan semuanya mengangkat bahu nyaris bersamaan. Nyaris. Bersamaan. Perhatikan kata nyaris. Hanya ada satu di antara kami, yang terlambat mengangkat bahu. Mandor proyek Bukit Batok, dengan usia sebaya Suhu, dan pangkat yang sama tak perlu Suhu memanggil nya dengan nama Mister Choon. Suhu menghardiknya.

"Choon! Kamu tahu sesuatu yang kami tidak tahu. Katakan segera!"
Cengkeram kerah bajunya, dan benturkan seluruh tubuhnya ke dinding.
"A-a-a-apa maksudmu? Aku benar-benar tidak tahu!"
"Kamu terlambat 0.782 milisekon mengangkat bahu. Jangan kau pikir aku tidak menyadarinya!"
"Apa?"

Mandor proyek Tampines, See, hanya tersenyum dan menggenggam pergelangan tanganku.

"Lepaskan dia. Choon berkata jujur. Dia hanya sedikit lambat."
"Betul. Aku memang sedikit lambat."
"Kadang dia memang demikian."
"Betul."
"Baiklah. Tapi aku masih tidak seratus persen percaya."
"Kau akan percaya suatu hari kelak, Suhu."
Dua menit kemudian.
"See, apa maksudmu aku lambat?"
"... Baiklah. Aku percaya sekarang."

Mendekati pukul dua, makin banyak yang datang. Beberapa kolega dari Headquarters kantor pusat. Kepala bagian HR, Admin, Purchaser datang bersamaan. Kebanyakan dari mereka Suhu hafal suaranya, tapi tidak pernah bertatap muka.

Datang dari berbagai proyek, juga dari kantor pusat Headquarter. Kami semua punya latar belakang berbeda. Tapi ada hal yang mempersatukan kita. Kita sama-sama staff PT Bangun Subangkit kebingungan. Tidak ada lagi yang membuka suara. Semua saling menebak. Apa yang terjadi. Yang ada hanya kasak-kusuk bisik-bisik, terutama dari kolega kolega dari Headquarter. Sepertinya mereka lapar tahu sesuatu yang kita tidak tahu. Kita harus merenggut informasi ini dari mereka. Sebelum Suhu sempat menerkam, pintu itu terbuka lagi.

Sreeeekkkk...

Mister Faifai. Bos besar PT Bangun Subangkit. Diikuti dengan beberapa orang yang tidak kukenal. Orang-orang di belakang nya berpakaian rapi. Terlalu rapi. Jas dan kemeja, beberapa berdasi. Beberapa orang. Tampang-tampang asing yang Suhu tidak pernah tahu.

Dan kalau itu adalah pilihan; kalau Suhu bisa menerawang masa depan, Suhu tidak akan pernah mau tahu.

Tapi ini semua adalah kenyataan. Mereka bersalam-salaman dengan kami yang sudah sampai terlebih dahulu. Anehnya, mereka kebanyakan hanya tersenyum saat bersalaman tanpa berkata-kata. Entah apakah mereka bodyguard profesional yang jarang bicara, pengacara yang hemat wicara karena tahu salah kata bisa dijadikan senjata di pengadilan, atau, bisu.

Ternyata bukan semuanya.

Ramah tamah dan senyum sumringah saat bersalam-salaman hanya berlangsung sejenak. Lima belas menit kemudian. Semua fakta terungkap. Duniaku jungkir balik.

Suhu,
terjungkir balik. koprol. terus bilang wow.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu: Duniaku jungkir balik
Siapakah mereka? Apakah kabar yang dibawa mereka? Bagaimana makan siang hari ini bisa memutarbalikkan hidup Suhu, menjadi satu alasan utama blog post ini tertunda nyaris tiga tahun?