Wednesday, August 28, 2013

Harap Harap Cemas

Hari itu Sabtu, 3 September 2011.

Suhu berpikir keras atas apa yang diucapkan Mister Huat dan Mister Hock hari Senin barusan, 29 Agustus. Tentang tawaran itu. Bukan hanya hari ini, tapi setiap hari setelah hari itu. Sejak Senin itu, tidur Suhu tak pulas, sering bangun telat di pagi hari. Makan tak puas, selalu tak kenyang. Halah alesan, padahal aslinya males bin rakus. Terngiang-ngiang tawaran itu.

Hari Sabtu itu, Suhu mengambil jatah off in-lieu, semacam cuti, tapi diberikan karena masuk di hari-yang-semestinya-diharamkan-untuk-kerja dulu. Misalnya, kamu masuk di tahun baru Cina, masuk di tahun baru, masuk di Idul Adha, masuk di hari Minggu, masuk di hari natal, masuk di kombinasi semuanya. Maka kamu diberi jatah hari off in lieu. Suhu memutuskan untuk mengambilnya hari ini. Sabtu 3 September 2011. Malam sebelumnya dihabiskan mencari ilham dan petunjuk untuk arah hidup nya di masa mendatang. Suhu berdoa berDotA. Sampai pagi.

Matahari sudah membumbung tinggi ketika walkie-talkie berteriak lantang sambil joged gila (Vibrate on).
*buzzz* Krosak ...krosak ... Mandor mandor ... *nginguing krosak*
*suara bantal* Halooo~~

Tidak ada jawaban dari walkie talkie sebelah sana. Aku cek hape kantor. 3 missed calls. Mister Huat. Mister Hock. Dan Headquarters Bangun Subangkit.

Aku coba telpon kembali dalam urutan mereka meneleponku. Mister Huat, ada nada dering tapi tidak ada yang mengangkat. Mister Hock, sama. Aku telepon Headquarter. Aneh. Hari Sabtu sebenarnya Headquarter ini setengah hari kerja. Aku coba telepon balik. Diangkat.

Selamat pagi PT Bangun Subangkit ada yang bisa dibantu?
Ya, bisa naikin gaji saya? Err ... ya halo selamat pagi ini saya Suhu dari PT Bangun Subangkit
Ya ada yang bisa dibantu?
Ya saya dari proyek Ang Mo Kio, tadi ada yang telpon saya dari nomer ini.
Sebentar ya.
*ting tong ting teng tong teng tong ~ lagu nada tunggu*
Suhu! Kamu di kantor?
Hah? Iya! Tidak! Nggak tahu! Kenapa?!
Jam 2 .... Orchard Central .... Boss besar ... Tung Lok Seafood Restaurant ...

Suhu tidak tahu apa maksud pembicara di ujung telepon sebelah sana. Maklum, Suhu tidak fasih berbahasa Hokkien. Dan Suhu masih baru bangun, antara sadar dan tidak. Tapi Suhu menangkap inti dari pembicaraan itu dengan kata-kata bahasa Inggris yang terselip. Belum sempat Suhu bertanya apa maksudnya, ada suara telepon masuk. Mister Hock. Suhu mengucapkan terima kasih pada saluran telepon Headquarter dan menerima telepon dari Mister Hock.

Halo!
Terima telpon dari Headquarter?
Terima Pak! *Tegas dan luar biasa sigap*
Bagus. Sudah siap siap?
Tapi saya nggak ngerti dia ngomong apa Pak. *antiklimaks*
Lho?! Koq? Ya sudah, nggak apa. Kamu siap-siap dulu. Sekarang masih jam 11. Kamu jam 1 temui saya di kantor, kita berangkat bareng. Sama Mister Huat juga.
Oh bukan jam 2 Pak? Headquarter bilang jam 2.
Jam 2 di sana, kita ketemuan dulu di lapangan. Berangkat sama-sama.
Siap pak.

 Suhu bersiap-siap. Mengenakan celana panjang hitam resmi yang baru disetrika. Loh selangkangannya koq bolong. Hwarakadah. Resiko pria dengan ukuran kemaluan di atas rata-rata. Mari kita sulam dulu. Hwarakadah mana sempat. Cari celana yang lain. Waduh. Yang ini belum dicuci. Mari kita buka lemari. Pintu lemari dibuka, tanah longsor. Baju-baju bertaburan.

Satu jam kemudian, Suhu sudah siap dengan kemeja keberuntungannya. Dengan celana hitam necis rapi tapi bau lemari. Dampak selalu mengambil baju di tumpukan paling atas, sebenarnya ada di tumpukan bawah, tapi tidak pernah dipakai. Bertiga, Suhu, Mister Hock, dan Mister Huat berada di sedan mobil dinas Mister Hock.

Ada apa ini?
Aku juga tidak tahu. Headquarter menelepon aku, bilang untuk memberitahu Mister Hock dan Suhu untuk pergi ke tempat ini pada waktu ini.
Heran, Headquarter juga meneleponku. Bilang untuk memberitahu Mister Huat dan Suhu.
Aku juga ditelepon Headquarter, tapi aku tidak menerima telepon. Ada yang tahu, apa yang terjadi?
Tidak tahu. Tapi apa pun masalahnya, tidak ada seorang pun yang tahu jelas ada apa ini.
Mister Hock, kamu kan sudah delapan belas tahun mengabdi di PT Bangun Subangkit. Pernahkah hal seperti ini terjadi? Ada apa?

Mister Hock terdiam. Mukanya tegang.

Aku tahu. Hari ini. Akan tiba.

Mr Huat dan Suhu memandang Mister Hock dengan serius. Mister Hock menceritakan legenda pengabdiannya ke PT Bangun Subangkit. Sebenarnya selama Mister Hock bercerita tentang mitos mitos masa kejayaannya, Suhu sudah mulai mengatur beberapa deduksi kemungkinan ada peristiwa apa yang menunggunya di Tung Lok Orchard Central.

Pertama.
Mr Faifai, boss besar PT Bangun Subangkit punya anak, yang hari ini berusia 18 tahun. Semua karyawan yang dinilai layak, akan diundang merayakan hari ulang tahun anaknya. Setelah acara tiup lilin, akan ada duel beberapa babak yang di antaranya adu panco, makan kerupuk, dan lompat karung sambil tutup mata di treadmill. Juara umum akan diizinkan mempersunting anak boss besar.
Kemungkinan: Kecil. Mengingat anak bos ada di Amerika. Anak bos laki-laki. Staff PT Bangun Subangkit hampir semua laki-laki.

Kedua.
Boss besar PT Bangun Subangkit, Mr Faifai, kemarin baru check up ke dokter, dan mendapati dirinya tidak punya banyak waktu lagi. Dia ingin berterima kasih pada semua staff, membagi-bagikan harta kekayaan dan saham PT Bangun Subangkit. Terutama untuk Staff yang sudah mengabdi lama.
Kemungkinan: Mungkin. Boss sudah berusia di atas enam puluh tahun. Bentuk badan boss tidak ideal, perut sangat besar.

Ketiga.
PT Bangun Subangkit mengadakan reformasi total. Para mandor mandor muda diangkat menjadi Menejer Proyek. Para menejer proyek dijadikan direktur atau senior. Kandidat-kandidat yang sudah terbeber di meja adalah Suhu, mengabdi empat tahun lebih, gaji di bawah rata-rata, bisa diperas, mudah disiksa. Saingannya adalah See, mandor asal Malaysia, mengabdi hampir tiga tahun, saat mulai bekerja, gaji sudah di atas Suhu karena saat dia bergabung dengan PT Bangun Subangkit, masyarakat sedang kekurangan mandor. Kandidat lain adalah Choon, mandor lain dari Malaysia, yang terkenal ceroboh, pelupa, dan murah senyum.
Kemungkinan: Ada peluang. Choon nyaris tak mungkin dipromosi, tapi Suhu dan See, bisa jadi ini adalah ajang perayaan promosi.

Pikiran Suhu terus berkecamuk. Ditambah dengan kombinasi percakapan hari Senin barusan, Suhu makin harap-harap cemas. Ada apa hari ini. Kami bertiga sampai ke Tung Lok Orchard Central. Sebuah pengalaman yang tidak akan mudah terlupakan. Orchard Central adalah sebuah mall. Tapi kami naik ke atas tidak dengan tangga berjalan layaknya orang shopping, kami naik lift. Di lantai 11 hanya ada restoran Tung Lok, tak ada toko-toko lain.

Kami masuk ke restoran. Mister Huat dengan berbahasa mandarin mengatakan reservasi untuk pukul dua. Kami sampai sana kepagian setengah jam. Seorang waitress berbusana tradisional cina menunjukkan jalan dan membawa kami ke dalam. Melalui beberapa meja yang ada di tengah restoran, kami dibawa ke sebuah ruangan. Waitress itu membuka pintu geser. Sreeeekkkk .... Nampaklah sebuah meja bundar besar di dalam ruangan itu.

Kami melewati ruangan utama dengan meja-meja seperti ini


Pembaca mungkin tahu, ini adalah jenis ruangan di dalam restoran, biasanya yang makan di sini adalah bos-bos besar. Di felem-felem Hongkong, biasanya para mafia akan mendiskusikan teritori kekuasaannya di ruangan seperti ini. Di luar terlihat seperti restoran seafood biasa, tapi di dalam ruangan ini, akan ada diskusi tingkat tinggi tentang siapa mafia berikutnya yang akan menguasai daerah Ang Mo Kio, Bukit Batok, dan Tampines. Maaf, terbawa suasana.

Di sebelah kananku, Mister Hock. Di sebelah kanan Mister Hock, Mister Huat. Kami duduk. Waitress menutup pintu geser. Sreeekkk... Aku merasa campur aduk. Terakhir kali aku merasa seperti ini ketika aku sidang akhir skripsi S1. Atau kentut di dalam lift West Mall. Dalam ruangan ini, aku menenangkan diri.

Suasana di dalam ruangan tertutup.

Ilustrasi ruangan itu seperti foto di atas. Hanya bedanya, dekorasi oriental yang ada di dinding sangat kental. Gambar gambar naga, kaligrafi cina, dan warna yang bernuansa merah dan emas sangat kental. Diameter meja bundar ini juga sangat besar. Suhu mencoba menghitung jumlah kursi di ruangan ini. Dua puluh tiga.

Suhu mulai membatin mental aritmatika. Mengingat bahwa Calvin, mesin pikir tenaga bir, yang ada di proyek Suhu tidak diundang, berarti, yang diundang di sini hanyalah orang-orang tertentu. Kalau satu proyek tiga orang, dan kita sedang menjalankan tiga proyek. Berarti ada sembilan orang dari pihak proyek. Ditambah dari para petinggi departemen kontrak, HR, dan admin, maksimum orang-orang yang lebih senior dari Suhu hanya sekitar 15 orang. Lalu, kursi sisanya ini untuk siapa? Wartawan? Kita bakal diliput sama Seputar Indonesia? Dunia Dalam Berita? CNN? National Geography?

Belum sempat Suhu menebak, terdengar suara pintu geser dibuka. Sreeekk....

-bersambung-





2 comments:

stella said...

Moreeee

Anonymous said...

2 taun hu.. life has changed.

kucing-