Thursday, October 27, 2011

To Be or Not To Be

Hari itu Senin, 29 Agustus 2011.
Semua orang sibuk di kantor. Tipikal hari Senin. Sibuk tapi lesu. Monday blues kata orang-orang. Penuh masalah dengan hal-hal tidak beres yang muncul di hari Minggu kemarin. Ya, lapangan never sleeps, minggu pun kerja. Masalah tidak pernah berhenti berdatangan, tapi dengan adanya libur hari Minggu untuk staff, berarti pekerjaan hari Senin mengganda, urusan hari Senin sendiri, dan urusan hari Minggu yang terlalai. Double Damage. Combo.

Mr Huat memanggil Suhu masuk ke kantornya.

Senin pagi.

Bener nih? Tidak ada waktu laen yang lebih baek? Aku lagi banyak kerjaan nih.

Semoga bukan kabar buruk. Kalau ini kabar buruk, what a way to start the week.

Aku mengetuk pintu kantornya.

"Masuk."
"Permisi."
"Eh duduk duduk."

Suhu menarik kursi dan duduk.

Mr Huat celingukan melihat keluar kantornya. Mencurigakan.

"Mungkin tutup saja pintunya."
"Ah jangan pak ..."

Gawad. Aku akan diperkosa dimarahi. Bikin salah apa kemarin? Apa ini gara-gara pagi sering telat datang? Apa ini gara-gara sering pulang awal? Apa ini gara-gara datang telat pulang awal? Gawad.

Suhu menutup pintu sesuai perintah Mr Huat.

"Jadi begini ..."
"..."
"Sabtu lalu saya dan Mr Hock dipanggil boss besar, Mister Faifai untuk makan siang."
"..."
"Lalu kami juga berbincang-bincang tentang masalah pekerjaan waktu makan siang."
"..."
"Kami membicarakan tentang kamu juga."
"Aha! Aku sudah tahu! Dasar tukang gosip!"

Mr Huat menceritakan bagaimana Mr Faifai berdikusi dengannya dan Mr Hock tentang bagaimana perusahaan ini, PT Bangun Subangkit, ke depannya. Regenerasi manajerial staff dan visi misi untuk tetap kompetitif di pasar yang akhir-akhir ini lesu ganas nya tak menentu. Berbelit-belit tanpa maksud yang pasti, tapi Suhu mulai mencoba mengaitkan serpihan-serpihan konundrum yang menjadi teka-teki apa yang akan diucapkan Mister Huat berikutnya.

Apa Mister Huat hanya ingin pamer tentang seberapa tahunya dirinya tentang seluk beluk PT Bangun Subangkit? Tidak mungkin. Apa motifnya. Sampai Suhu mencoba mengait-ngaitkan, regenerasi manajerial, briefing tentang sejarah perusahaan, jangan-jangan ....

"Jadi Mister Faifai bertanya kepada kami berdua, saya dan Mister Hock, apakah kamu siap jadi ..."
"Penerus takhta kerajaan, pemilik tunggal PT Bangun Subangkit, mewarisi semua harta kekayaan Mister Faifai MWAHAHAHAHAHA"
"Jadi apa Mister Huat?"
"Project Manager."
"Oh."
"..."
"Hahaha." *ketawa aneh karena gak tau mau bilang apa*
"..."
"Oh serius? Jadi kalian bilang apa?"

Percakapan selanjutnya merupakan topik yang sangat berat. Mister Huat menjabarkan kelebihan-kelebihan Suhu dan tidak dapat menemukan kekurangan Suhu menjelaskan tentang kekurangan-kekurangan Suhu yang masih harus di-improve along the way saat menjadi Project Manager. Mister Huat juga menjelaskan ke Mister Faifai bahwa Suhu mempunyai keraguan untuk duduk di hotseat tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui, menjadi Project Manager di lapangan, itu berarti kita memegang kendali untuk empat hal. Sama seperti The Avatar, kita mengontrol empat elemen. Air, Tanah, Angin, dan Api. Yaitu Time, Quality, Cost, dan Safety. Segitiga Time Quality Cost adalah yang paling susah untuk di-control balance nya. Memperhatikan salah satu sudut, akan menarik dua sisi lainnya. Ditambah lagi dengan dimensi imajiner safety, yang jika tidak diperhatikan akan menghancurkan seluruh citra proyek. Bayangkan percakapan berikut.

"Kenapa kamu gak beli apartemen itu? Murah lho, lagian bagus, dan cepat dibangunnya, bulan depan sudah selesai."
"Oh kamu belum dengar? Waktu pembangunannya ada delapan puluh orang meninggal. Kayaknya kalau kamu tinggal di sana bakal dihantui."

Time Cost Quality Safety. Hanya botak bertato panah biru di kepala yang bisa mengontrol keempatnya in-balance.



Suhu,
The Last Airbender in 3D, to be or not to be.

Tuesday, October 18, 2011

The Beginning of an End

Kalender dinding itu disobek tiap hari. Lembar hari ini menunjukkan 27 Agustus 2011. Lengkap beserta informasi terkini mengenai penanggalan lunar dalam bahasa piktograf dan gambar dua orang berpacu kuda. Ini adalah hari Sabtu. Hari di mana sesuatu hal besar akan mulai berlaku.

Siang itu udara terasa sangat jenuh. Subuh tadi hujan turun tidak terkira. Dan sekarang sang surya sudah menghalau mendung. Genangan-genangan air bekas hujan tadi pagi, perlahan lumat terbakar. Menguap naik. Terasa udara sangat pengap, tapi lembab. Bukan cuaca yang kita harapkan, apalagi jika pekerjaan kita mengharuskan untuk menghadapinya. Mau tidak mau. Bukan pilihan kita.

Suhu mengusap peluh nya, dan meletakkan helm kesayangannya di meja kecil. Di atas tumpukan gambar-gambar konstruksi yang tertata kurang rapi. Jauh dari rapi. Menghempaskan badannya ke kursi. Lalu kursinya ambrol. Eeeaaa. Menarik nafas panjang. Lalu melamun.

Empat tahun. Sudah empat tahun aku bekerja di PT. Bangun Subangkit. Sudah banyak yang aku lalui bersama perusahaan ini. Sejak lulus. Hingga kini. Banyak kenangan manis, tak sedikit pula kenangan pahit. Tapi semua itu juga sudah dilalui sampai saat ini Suhu menjadi salah satu staff kunci di perusahaan ini. Bukan karena Suhu berbakat dan maju pesat, tapi memang begitu keadaan di perusahaan lokal skala kecil. Semua pekerjaan akan dihempaskan kepadamu, terserah kamu mampu atau tidak. Kalau kamu survive, selamat. Kalau kamu tidak survive, selamat tinggal. Empat tahun mengalami seleksi alam seperti ini bukanlah hal yang mudah. Tapi pekerjaan mengharuskan Suhu untuk menghadapinya. Mau tidak mau. Bukan pilihan kita.

Lamunanku tersibak teriakan keras Mr Hock pada rekannya Mr Huat. Keduanya adalah atasanku di proyek ini. Yang satu mengurus office works atawa kerja kantoran, yang satu mengurus site works atawa kerja lapangan. Sebagai seorang mandor yang melek komputer, jelas Suhu bekerja di bawah keduanya. Lapangan ya Mr Hock. Office ya Mr Huat. Walau kadang perintah keduanya saling bertabrakan, mematuhi satu berarti melanggar satunya dan kena marah. Tapi. Benul. Mau tidak mau. Bukan pilihan kita.

Untungnya keduanya baik pada Suhu. Salah satu faktor Suhu tidak keluar dari PT Bangun Subangkit adalah kedua atasan ini. Mr Huat adalah atasan Suhu di proyek pertama Suhu di Bedok selama beberapa minggu pertama Suhu di PT Bangun Subangkit. Lalu Suhu pindah ke proyek SLTP Sukamaju karena lokasi proyek Bedok terlalu jauh dari rumah Suhu [tiap hari telat walaupun sudah naek bus paling pagi].  Mr Hock adalah atasan Suhu untuk proyek SLTP Sukamaju. Proyek yang sekarang skala nya dua kali lipat lebih daripada SLTP Sukamaju, sehingga membutuhkan lebih banyak orang, maka dibentuklah koalisi PT Bangun Subangkit Allstars Team untuk menggarap proyek ini. Di mana keduanya menjadi atasanku dalam satu proyek sekaligus.

Sebelum ngelantur lebih lanjut, mari kita kembali ke Mr Hock yg memanggil Mr Huat. Percakapan terjadi dalam bahasa Hokkien. Diterjemahkan bebas untuk meningkatkan kepuasan pembaca.
"Hoi, sudah waktunya!"
"Oh. Sudah waktunya? Baiklah aku akan bersegera!"
"Mari. Lekaslah!"

Lalu keduanya meninggalkan kantor. Terus terang saja Suhu merasa ada yang aneh. Ini memang sudah siang. Tapi ini bukan waktu yang wajar untuk mereka mulai makan siang. Biasanya mereka menunggu orang-orang meninggalkan kantor untuk makan siang. Jarang sekali mereka jadi orang pertama yang keluar untuk makan siang. Terlebih lagi, jika mereka berdua keluar untuk makan siang, mereka selalu mengajak Suhu. Biasanya kami pergi bertiga. Ada sesuatu yang janggal. Nampaknya mereka homo mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi Suhu terlalu cuek untuk investigasi masalah semacam ini.

Dua atasan pergi tanpa mengajaknya. No big deal. Bagus malah. Tidur siang hari ini bisa dimulai lebih awal. Belum sempat Suhu terlelap, pintu terbuka. San Miguel, salah satu Asisten Suhu dari Filipin, masuk sambil memegang perutnya. Menahan tawa sampai mules. Lalu melantunkan lelucon terbaru yang baru dia dapat sebelum masuk kantor pada sobatnya, sesama Asisten mandor, Jeremiah. Dalam bahasa Tagalog. Yang terpatah-patah terpisahkan oleh gelak tawa yang tertahan. Setelah diterjemahkan bebas kira-kira isinya seperti ini.

"Bang. Kamu tidak akan percaya hahaha apa yang aku lihat barusan hahaha. Si Martin tadi mengajakku makan siang bersama hahaha aku bilang pergilah sendiri aku sudah bawa bekal dari rumah hahaha. Lalu. Hahaha. Lalu. Hahaha. Lalu Martin berkata hahaha baiklah tak mengapa aku akan ikut Mr Huat dan Mr Hock keluar makan. Hahahaha. Lalu dia berlari hahaha sambil berteriak MISTER HOCK!!! TUNGGU!!! hahahaha. Martin berlari ke Mr Hock, bercakap-cakap lalu kembali. Hahahaha."

Pintu terbuka lagi. Martin masuk ruangan kantor.

"San Miguel, apa yang lucu? Aku hanya bertanya ke mana dia mau pergi makan. Saat Mr Hock bilang dia mau ke warung yang dekat, aku hanya bilang mau ikut dia ke warung yang dekat."
"Lalu? HAHAHAHA... Lalu apa? Cerita yang lengkap, Martin!"
"Lalu dia bilang dia berubah pikiran, Mr Hock mau ke warung yang jauh."
"HAHAHAHAHA"
"Manusia bisa berubah pikiran, San Miguel, itu wajar."
"Ceritakan lanjutannya."
"Baiklah. Lalu aku bilang, Oke mari kita ke warung yang jauh bersama-sama."
"HAHAHAHA."
"Dan Mister Hock bilang mereka tidak jadi makan."

Seluruh kantor terbahak-bahak. Tentu saja ini berkaitan dengan semua orang tahu kebiasaan Martin yang sering sekali pesan makanan di kantin duluan, lalu merogoh saku lama sekali di antrian pembayaran sampai koleganya bilang "sudah aku saja yang bayar". Nampaknya Mr Hock menghindar dari Martin agar tidak perlu membayar makan siang untuk dua orang hari ini. Atau mungkin. Ada alasan lain. Mungkin. Ada sesuatu hal yang perlu diperbincangkan dengan Mr Huat yang tidak boleh ada orang lain yang tahu.

Saat itu semua serba mungkin.

Suhu,
kini. Semua itu sudah terpasti.