Sunday, February 13, 2011

Bermain Mental

Sesuai dengan kata Suhu di postingan sebelumnya, kali ini kita akan bahas tentang bermain mental. Saat ujian.

Bermain mental?

Benar. Suhu percaya bahwa dengan membuat nilai siswa-siswa sekelas menjadi jelek, maka nilai Suhu [yang kemungkinan besar adalah jelek] akan tersamarkan. Logikanya, kalau satu kelas mendapat nilai jelek, maka nilai akan dikatrol bersama; mean standar distribusi akan bergeser ke kiri, median akan bergeser ke angka yang lebih rendah, dan rendah is the new normal. Ouyeah. Maka, cara mendapatkan nilai bagus adalah: belajar, atau buat saingan sekelas mendapat nilai jelek.

Ini seprinsip dengan orang-orang yang terlibat di kerusuhan-kerusuhan sekitar tahun 90an di Indonesia. Toko-toko dirusak dan dibakar, dengan prinsip, kalau saya miskin kamu gak boleh kaya, saya bakar. Ini sama. Saya bego kamu gak boleh pintar.

0400120301002

Setelah semester ini, akhirnya aku tahu. Itu tidak benar. Setelah mendapat pengalaman melihat teman-teman belajar bersama. Saling memfotokopi rangkuman dan pemecahan daripada bank soal. Tanpa pamrih. Tanpa berharap imbalan. Wadhu hamfut lali mbayar duit fotokopian. Akhirnya semester ini, gerombolan itu menyadarkan Suhu. Seseorang yang dari dulu selalu belajar sendirian. Menyadarkan bahwa di bangku kuliah ini, pertemanan itu masih ada.

Kita tidak benar-benar perlu bermain mental [kalau kamu punya teman as great as the friends I have now]. Kalau kamu tidak punya, mungkin tips-tips di bawah ini bisa berguna.

Maka di kesempatan hari ini, Suhu akan menge-share dengan kalian, teknik-teknik bermain mental yang telah Suhu praktekkan selama perjalanannya menempuh gelar Bujang Teknik di Ninja Turtles University beberapa tahun silam. Dan semester-semester awal menempuh gelar Master di Ninjitsu University of Shogun.

  • Jam weker.

bomb-alarm-clock-2 Menjadi seseorang terdaftar bernama Adi, sangat besar kesempatan untuk mendapatkan NIM atau nomer peserta ujian di urutan yang tergolong depan. Biasanya, nama Suhu ada di lini depan, bersama Aaron dan Abdullah. Demikian pula tempat duduk selalu berada di depan-depan. Maka di saat-saat krusial seperti inilah berlaku prinsip PMP [Posisi Menentukan Prestasi]. Suhu akan mengeluarkan sebuah jam weker. Agar taktik ini berhasil, jam weker harus cukup besar untuk bisa terlihat peserta ujian yang duduk di bangku paling belakang. Tujuan dari taktik ini adalah agar peserta ujian lain menggunakan jam weker kamu sebagai acuan waktu. Lalu di mana permainan mentalnya?

Percepat jam weker untuk menunjukkan waktu sepuluh menit lebih cepat. Misalkan waktu ujian adalah pukul dua sampai pukul empat. Saat mulai ujian buat agar jam weker anda menunjukkan jam dua lebih sepuluh. Maka, semua peserta ujian akan secara konstan merasa waktu mereka tidak cukup. Lalu buat alarm berbunyi saat menunjukkan pukul setengah empat [setengah jam sebelum waktu ujian berakhir]. Padahal waktu alarm berbunyi masih jam dua lebih dua puluh. Ini membuat orang tersentak, buyar konsentrasi mengira waktu habis. Lalu sadar waktu tinggal setengah jam. Padahal masih ada empat puluh menit. Interesting facts: Tiga puluh menit hanya selisih sepuluh menit dengan empat puluh menit. Tapi empat puluh menit mempunyai kesan “lama” sedangkan tiga puluh menit mempunyai kesan “tinggal setengah jam”.

Alternatif: perlambat jam weker untuk menimbulkan kesan “masih ada waktu” dan saat pengawas mengucapkan “you have fifteen minutes remaining” mereka baru sadar bahwa jam weker kamu salah. Percepat atau perlambat, gunakan sesuai selera. Sesuaikan dengan jenis ujian. Untuk mata kuliah hitungan, panik kekurangan waktu bisa mengacaukan fokus, gunakan cara 1. Untuk soal esai dan uraian, di mana alokasi waktu sangat penting, cara 2 lebih efektif. Untuk teman-teman yang cukup cerdas, gunakan kombinasi keduanya, misal percepat jam weker di tengah-tengah ujian saat mereka sedang sibuk menulis.

  • Jangka

Sering kali Suhu datang ke tempat ujian cukup mepet, nyaris waktu ujian mulai. Karena memang tidak punya teman untuk belajar bersama di depan ruang ujian. Ataupun seperti komunitas Kristen yang suka berdoa bersama membentuk lingkaran di koridor ruang ujian. Tapi Suhu selalu datang sedikit lebih awal untuk bisa menjumpai para peserta ujian lain. Untuk. Bermain mental.

“Huff …. untung aku gak telattttt … dari tadi panik. Bongkar laci bongkar lemari gak ketemu. Ada yang bawa jangka ekstra nggak?”

Mengakulah dari dalam hati kecil kalian. Berapa dari kalian yang berhenti belajar malam sebelumnya dan mengatakan “Ah bagian ini bisa lah dibaca-baca sebelum masuk ruang ujian besok.” Ketahuilah. Menit-menit terakhir mu yang kamu alokasikan untuk membacanya, akan sirna begitu saja kalau kamu mengambil mata kuliah yang sama dengan Suhu. Kamu akan panik setengah mati, mengetahui ada setidaknya satu bab atau subbab yang belum kamu baca. Bahwa ujian kali ini perlu jangka untuk mengerjakannya. Maka reaksi pertamamu bukanlah.

“Hah, jangka buat apa? Ngaco kamu”

melainkan

“Oh tidakkk aku juga tidak bawa, siapa yang bawa ekstra?”

There goes your last minute revision. Hilang kesempatanmu revisi untuk terakhir kali sebelum ujian.

  • Busur

Taktik busur adalah varian dari taktik jangka. “Hei! Siapa yang perlu busur, aku bawa ekstra.” Efeknya sama persis. Juga berlaku untuk taktik kalkulator pada ujian ujian yang tidak perlu hitungan.

“Siapa yang perlu kalkulator scientific? Aku bawa ekstra” pada pelajaran pendidikan agama dan kewarganegaraan.

  • Ruang ujian pindah

Lari tergopoh-gopoh. HAHHHH KALIAN MASIH DI SINI??!? PANTAS SAJA DI SANA SEPI! RUANG UJIAN PINDAH KE GEDUNG TIGA!”

Buat yang percaya kalau ruang ujiannya pindah, mereka bego dan akan kembali ke tempat semula [yang benar] terlambat, kurang waktu untuk mengerjakan ujian. Bagi yang cukup pandai, dalam dirinya pasti ada keraguan. Karena beberapa hari ini sibuk belajar dan tidak mengecek perubahan waktu dan tempat ujian. Either way, you still win. Mereka panik. Yeah.

  • Close/Open book

Pada ujian open book, letakkan tas sebelum mendekat ke kerumunan peserta ujian yang sedang sibuk mempersiapkan ujian beberapa menit lagi. Bawa bolpen. Main-main bolpen. Cetek cetek cetek cetek. Cari perhatian.

“Enaknya ujian close book, gak usah bawa buku berat-berat ke ruang ujian.”

“Dude, ujiannya open book.”

“Hah?!?! Kamu gak lihat pengumuman dari profesor? Kan sudah diralat jadi Close Book!"

Tanpa tas, hanya pegang bolpen, cetek … cetek .. , pandangan prihatin ke arah orang yang baru saja hilang gairah hidup karena belum mulai menghafal rumus.

Pada ujian close book. Bawa tas ransel atau slingbag berisi penuh buku tapi jangan dibawa di genggaman tangan.

“Sudaaahlaahhh … buat apa dibaca sekarang, toh nanti juga bisa tinggal salin.”

Efeknya tidak sekuat pada ujian open book. Tapi masih ada sedikit efek. Dengan membuat mereka mengira ini adalah ujian close book, mungkin mereka berhenti menghafal.

  • Jurus kombinasi: Senyum – Battlecry – Tidur

Tips-to-avoid-sleeping-in-class-for-students-school-copy Ini adalah salah satu metode yang hampir selalu Suhu pakai. Masuk ruang ujian, tunggu waktu ujian mulai. Buka soal, baca. Jaga raut muka. Tanpa ekspresi. Meskipun kamu tidak bisa mengerjakan satu pun, jangan panik. Maksudku, jangan kelihatan panik. Ini membuat peserta ujian lain tidak tahu apakah soal ujian ini sulit atau mudah menurutmu. Mungkin menurut peserta lain, soal ini sangat mudah. Dengan melihat mu panik, itu akan menambah rasa percaya diri nya. Atau mungkin dia menganggapnya susah, dengan melihat mu panik, itu akan membuatnya tenang karena dia tidak merasa sendiri. Yang harus kamu lakukan di ruang ujian saat membaca soal adalah:

SENYUM – benar. Kamu tidak salah. Bayangkan soal ujian itu sangat mudah seperti satu tambah satu sama dengan dua. Atau bayangkan dari dua puluh empat bab materi ujian, kamu cuma sempat belajar satu bab, dan soal ujian keluar dari bab itu. Munculkan ekspresi itu. Senyum iblis. Senyum merasa menang. Senyum percaya diri. Dengan aura jahat sekental mungkin. Ibarat iblis menari di atas bangkai para pendosa. Okay my imagination wanders a bit too far.

BATTLECRY – pekik peperangan. Tiap beberapa baris soal kamu baca, teriakkanlah pekik peperangan. Yang paling manjur biasanya adalah “YESSSSS!!!” sambil mengepalkan genggaman tangan ke udara. Efeknya bersinergi dengan jurus Senyum. Sebaiknya dilakukan di awal saat para peserta ujian baru membaca soal. Selain memecahkan konsentrasi, itu juga bisa membuat orang salah baca soal dan rusak mental.

Tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Mengingat kita kurang diberkati dalam bidang akademik, kemungkinan besar kita hanya bisa menggertak di awal. Dan menganggur setelahnya. Ya, kita kerjakan sebisanya, sambil sesekali tetap tersenyum seolah soal ini sangat mudah. Siapa tahu ada peserta lain yang melirik untuk mengetahui kondisi kita. [Kesusahan mengerjakan soal = merengut; Cuma kamu sendiri yang bego, aku bisa mengerjakannya = senyum]. Setelah itu, tidur.

TIDUR – benul. Jurus tidur. Kamu tidak salah lihat. Digabungkan dengan taktik jam weker tersebut di atas, kita bisa bangun tepat waktu. Tinggal lima belas menit, regangkan tangan sambil memekik “Saatnya mulai!” atau “It’s showtime!”.

----------------------------------------------------------------------------

Seperti yang kalian ketahui, layaknya posting-posting lain di blog ini. Apa pun yang ada di sini mungkin hanya fiktif belaka. Atau mungkin nyata.

Tapi yang terpenting, irregardless apakah Suhu benar-benar mempraktekkan cara kotor bermain mental menghalalkan segala cara, sekarang kalian telah tahu cara bermain mental. Mau dipraktekkan atau tidak, itu tergantung hati nurani kalian masing-masing. Namun, kalian kini jadi tahu. Jika ada orang yang nampak gembira di ruang ujian, mungkin dia bisa mengerjakan soal ujian itu dengan mudah. Atau. Dia adalah salah satu dari kalian. Pembaca kisah di balik hutan bambu.

Suhu,
the mentalist.

1 comment:

Olivia Wijaya said...

ada-ada ae ko suhu ini. hahahaha....lucu tapi :)