Saturday, January 08, 2011

Sehidup Semati. Senasib Seperjuangan.

Kalian pasti pernah dengar frase Sehidup Semati. Kata majemuk? Mungkin. Artinya begitu mendalam. Biasanya dikaitkan dengan nuansa romantis, cinta-sehidup-semati. Dipopulerkan oleh Romeo Juliet dan Sampek elek Sampek-Engtay, kisah cinta. Sehidup. Semati.

Tapi kalau diperhatikan dari segi morfologinya. Sebuah. Satu buah. Sebiji. Satu biji. Sejuta. Satu juta. Sehidup. Satu hidup. Semati. Satu mati. Lha justru yang kayak gini ini yang malah umum. Lebih realistis. Misalkan sepasang suami istri. Satunya mati. Terus satunya, demi cinta, ngikut mati. Lha yang ngurus anak-anak sama kerja buat beli susu, siapa? Wokey, sekarang kita nggak di sini buat mbahas siapa yang mati duluan, tapi kita akan membahas tentang konsep sehidup semati.

Dalam nuansa pasca UAS semester ini, kita akan membahas tentang Senasib Seperjuangan. Tentu saja posting-posting ini diilhami oleh teman-teman sekelas di kampus Ninjitsu University of Shogun. Ceritanya, semester ini Suhu mengambil mata kuliah nge-kross. Nge-kross ini adalah sistem di mana kita boleh ngambil mata kuliah jurusan lain, dan SKS nya bisa masuk ke jurusan yang kita ambil sekarang. Maka tentu saja Suhu mengambil ke jurusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik karena di situlah Tuhan menciptakan Kaum Hawa setelah menciptakan Adam di Taman Eden. Suhu mengambil jurusan teknik. Teknik sipil. Karena Suhu ngerti nya yang sipil-sipil, yang angel-angel ndak mudheng.

Tak disangka tak dinyana, Suhu datang paling awal di kelas kross nya yang pertama. Setelah menyalakan lampu dan A/C, serta mencari PehWe (PosisiHwenak) buat bobo di kelas, Suhu mengamati satu per satu mahasiswa lain yang masuk. Tipikal mahasiswa teknik. Kaos tidak disetrika. Celana pendek tiga perempat. Sandal gunung kelas Carfil dan Nyekerman. Beberapa berkacamata tebal, baju kucel belum dicuci tiga tahun, rambut acak-acakan, dan hawa-hawa nya seumur hidup belum keluar dari kampus. Tipikal mahasiswa scholar yang lagi garap PhD lagi cari bahan thesis. Biasa nimbrung kelas Master buat cari ilmu. Terus.

Datang segerombalan mahasiswa mahasiswi yang datang bersamaan. Ngerumpinya sudah kedengeran sejak dari koridor. Terus saat pintu ruang kelas terbuka, suaranya teramplifikasi karena tadinya memang muffled karena ruangan tadi tertutup. Salah satu dari mereka berujar.

"Woi jangan ribut woi. Malu-maluin aja."

Dalam hatiku aku membatin. Haizzz.... bloody foreigners. Belum sempat aku bersumpah serapah, hatiku mengingatkan otakku. Lho? Koq barusan kamu ngerti dia ngomong apa? Lho, I'm one of those bloody foreigners myself. Mereka menduduki bangku barisan terdepan. Tetap guyonan dengan jargon-jargon mereka. Makin didengar, makin jelas bahwa mereka tidak berbincang dalam bahasa Indonesia.

Lho, arek-arek iki lak ngomong Jowo seh?

Dengan semangat persatuan endonesa yang tertera di pancasila sila ketiga, tanpa permusyawaratan perwakilan, dan ketuhanan yang berbeda-beda. Suhu menghamili menghampiri mereka. Beberapa bulan berlalu. Suhu telah menjadi teman dari Sonny, Hendra, Jerry, Julia, Marsela, Heidi, Bonny, dan oknum-oknum jebolan universitas swasta ternama di Surabaya lainnya (nama dirubah untuk melindungi reputasi mereka). Dan apalah yang lebih memperkuat hubungan persahabatan selain daripada siksaan dalam kebersamaan. Terlebih lagi, beberapa anak fakultas teknik sipil ini ada yang nge-kross ke fakultas Suhu dan mengambil mata kuliah jurusan Suhu.

Pahit nya dunia pendidikan yang dikenyam. Nyam. Nyam. Membuat Suhu merasa. Belajar dengan teman terasa lebih indah. Jelas terasa beda nya dengan waktu menempuh studi untuk gelar Bujang Teknik (Bachelor of Engineering). Satu angkatan, hanya satu orang endonesa. Suhu. Saat itu, arti Senasib Seperjuangan adalah. Satu Nasib. Satu Perjuangan. Kalian berjuang, aku meratapi nasib. Menghalalkan segala cara untuk lulus ujian. Mulai dari sistem kebut semalam sampai main mental.

More on next post. Main mental.

Suhu,
sehidup. seperjuangan.

1 comment:

dika said...

hooo, si panda sekarang punya nama baru ya? --> nunjuk ndut cihuy :D