Thursday, October 27, 2011

To Be or Not To Be

Hari itu Senin, 29 Agustus 2011.
Semua orang sibuk di kantor. Tipikal hari Senin. Sibuk tapi lesu. Monday blues kata orang-orang. Penuh masalah dengan hal-hal tidak beres yang muncul di hari Minggu kemarin. Ya, lapangan never sleeps, minggu pun kerja. Masalah tidak pernah berhenti berdatangan, tapi dengan adanya libur hari Minggu untuk staff, berarti pekerjaan hari Senin mengganda, urusan hari Senin sendiri, dan urusan hari Minggu yang terlalai. Double Damage. Combo.

Mr Huat memanggil Suhu masuk ke kantornya.

Senin pagi.

Bener nih? Tidak ada waktu laen yang lebih baek? Aku lagi banyak kerjaan nih.

Semoga bukan kabar buruk. Kalau ini kabar buruk, what a way to start the week.

Aku mengetuk pintu kantornya.

"Masuk."
"Permisi."
"Eh duduk duduk."

Suhu menarik kursi dan duduk.

Mr Huat celingukan melihat keluar kantornya. Mencurigakan.

"Mungkin tutup saja pintunya."
"Ah jangan pak ..."

Gawad. Aku akan diperkosa dimarahi. Bikin salah apa kemarin? Apa ini gara-gara pagi sering telat datang? Apa ini gara-gara sering pulang awal? Apa ini gara-gara datang telat pulang awal? Gawad.

Suhu menutup pintu sesuai perintah Mr Huat.

"Jadi begini ..."
"..."
"Sabtu lalu saya dan Mr Hock dipanggil boss besar, Mister Faifai untuk makan siang."
"..."
"Lalu kami juga berbincang-bincang tentang masalah pekerjaan waktu makan siang."
"..."
"Kami membicarakan tentang kamu juga."
"Aha! Aku sudah tahu! Dasar tukang gosip!"

Mr Huat menceritakan bagaimana Mr Faifai berdikusi dengannya dan Mr Hock tentang bagaimana perusahaan ini, PT Bangun Subangkit, ke depannya. Regenerasi manajerial staff dan visi misi untuk tetap kompetitif di pasar yang akhir-akhir ini lesu ganas nya tak menentu. Berbelit-belit tanpa maksud yang pasti, tapi Suhu mulai mencoba mengaitkan serpihan-serpihan konundrum yang menjadi teka-teki apa yang akan diucapkan Mister Huat berikutnya.

Apa Mister Huat hanya ingin pamer tentang seberapa tahunya dirinya tentang seluk beluk PT Bangun Subangkit? Tidak mungkin. Apa motifnya. Sampai Suhu mencoba mengait-ngaitkan, regenerasi manajerial, briefing tentang sejarah perusahaan, jangan-jangan ....

"Jadi Mister Faifai bertanya kepada kami berdua, saya dan Mister Hock, apakah kamu siap jadi ..."
"Penerus takhta kerajaan, pemilik tunggal PT Bangun Subangkit, mewarisi semua harta kekayaan Mister Faifai MWAHAHAHAHAHA"
"Jadi apa Mister Huat?"
"Project Manager."
"Oh."
"..."
"Hahaha." *ketawa aneh karena gak tau mau bilang apa*
"..."
"Oh serius? Jadi kalian bilang apa?"

Percakapan selanjutnya merupakan topik yang sangat berat. Mister Huat menjabarkan kelebihan-kelebihan Suhu dan tidak dapat menemukan kekurangan Suhu menjelaskan tentang kekurangan-kekurangan Suhu yang masih harus di-improve along the way saat menjadi Project Manager. Mister Huat juga menjelaskan ke Mister Faifai bahwa Suhu mempunyai keraguan untuk duduk di hotseat tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui, menjadi Project Manager di lapangan, itu berarti kita memegang kendali untuk empat hal. Sama seperti The Avatar, kita mengontrol empat elemen. Air, Tanah, Angin, dan Api. Yaitu Time, Quality, Cost, dan Safety. Segitiga Time Quality Cost adalah yang paling susah untuk di-control balance nya. Memperhatikan salah satu sudut, akan menarik dua sisi lainnya. Ditambah lagi dengan dimensi imajiner safety, yang jika tidak diperhatikan akan menghancurkan seluruh citra proyek. Bayangkan percakapan berikut.

"Kenapa kamu gak beli apartemen itu? Murah lho, lagian bagus, dan cepat dibangunnya, bulan depan sudah selesai."
"Oh kamu belum dengar? Waktu pembangunannya ada delapan puluh orang meninggal. Kayaknya kalau kamu tinggal di sana bakal dihantui."

Time Cost Quality Safety. Hanya botak bertato panah biru di kepala yang bisa mengontrol keempatnya in-balance.



Suhu,
The Last Airbender in 3D, to be or not to be.

Tuesday, October 18, 2011

The Beginning of an End

Kalender dinding itu disobek tiap hari. Lembar hari ini menunjukkan 27 Agustus 2011. Lengkap beserta informasi terkini mengenai penanggalan lunar dalam bahasa piktograf dan gambar dua orang berpacu kuda. Ini adalah hari Sabtu. Hari di mana sesuatu hal besar akan mulai berlaku.

Siang itu udara terasa sangat jenuh. Subuh tadi hujan turun tidak terkira. Dan sekarang sang surya sudah menghalau mendung. Genangan-genangan air bekas hujan tadi pagi, perlahan lumat terbakar. Menguap naik. Terasa udara sangat pengap, tapi lembab. Bukan cuaca yang kita harapkan, apalagi jika pekerjaan kita mengharuskan untuk menghadapinya. Mau tidak mau. Bukan pilihan kita.

Suhu mengusap peluh nya, dan meletakkan helm kesayangannya di meja kecil. Di atas tumpukan gambar-gambar konstruksi yang tertata kurang rapi. Jauh dari rapi. Menghempaskan badannya ke kursi. Lalu kursinya ambrol. Eeeaaa. Menarik nafas panjang. Lalu melamun.

Empat tahun. Sudah empat tahun aku bekerja di PT. Bangun Subangkit. Sudah banyak yang aku lalui bersama perusahaan ini. Sejak lulus. Hingga kini. Banyak kenangan manis, tak sedikit pula kenangan pahit. Tapi semua itu juga sudah dilalui sampai saat ini Suhu menjadi salah satu staff kunci di perusahaan ini. Bukan karena Suhu berbakat dan maju pesat, tapi memang begitu keadaan di perusahaan lokal skala kecil. Semua pekerjaan akan dihempaskan kepadamu, terserah kamu mampu atau tidak. Kalau kamu survive, selamat. Kalau kamu tidak survive, selamat tinggal. Empat tahun mengalami seleksi alam seperti ini bukanlah hal yang mudah. Tapi pekerjaan mengharuskan Suhu untuk menghadapinya. Mau tidak mau. Bukan pilihan kita.

Lamunanku tersibak teriakan keras Mr Hock pada rekannya Mr Huat. Keduanya adalah atasanku di proyek ini. Yang satu mengurus office works atawa kerja kantoran, yang satu mengurus site works atawa kerja lapangan. Sebagai seorang mandor yang melek komputer, jelas Suhu bekerja di bawah keduanya. Lapangan ya Mr Hock. Office ya Mr Huat. Walau kadang perintah keduanya saling bertabrakan, mematuhi satu berarti melanggar satunya dan kena marah. Tapi. Benul. Mau tidak mau. Bukan pilihan kita.

Untungnya keduanya baik pada Suhu. Salah satu faktor Suhu tidak keluar dari PT Bangun Subangkit adalah kedua atasan ini. Mr Huat adalah atasan Suhu di proyek pertama Suhu di Bedok selama beberapa minggu pertama Suhu di PT Bangun Subangkit. Lalu Suhu pindah ke proyek SLTP Sukamaju karena lokasi proyek Bedok terlalu jauh dari rumah Suhu [tiap hari telat walaupun sudah naek bus paling pagi].  Mr Hock adalah atasan Suhu untuk proyek SLTP Sukamaju. Proyek yang sekarang skala nya dua kali lipat lebih daripada SLTP Sukamaju, sehingga membutuhkan lebih banyak orang, maka dibentuklah koalisi PT Bangun Subangkit Allstars Team untuk menggarap proyek ini. Di mana keduanya menjadi atasanku dalam satu proyek sekaligus.

Sebelum ngelantur lebih lanjut, mari kita kembali ke Mr Hock yg memanggil Mr Huat. Percakapan terjadi dalam bahasa Hokkien. Diterjemahkan bebas untuk meningkatkan kepuasan pembaca.
"Hoi, sudah waktunya!"
"Oh. Sudah waktunya? Baiklah aku akan bersegera!"
"Mari. Lekaslah!"

Lalu keduanya meninggalkan kantor. Terus terang saja Suhu merasa ada yang aneh. Ini memang sudah siang. Tapi ini bukan waktu yang wajar untuk mereka mulai makan siang. Biasanya mereka menunggu orang-orang meninggalkan kantor untuk makan siang. Jarang sekali mereka jadi orang pertama yang keluar untuk makan siang. Terlebih lagi, jika mereka berdua keluar untuk makan siang, mereka selalu mengajak Suhu. Biasanya kami pergi bertiga. Ada sesuatu yang janggal. Nampaknya mereka homo mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi Suhu terlalu cuek untuk investigasi masalah semacam ini.

Dua atasan pergi tanpa mengajaknya. No big deal. Bagus malah. Tidur siang hari ini bisa dimulai lebih awal. Belum sempat Suhu terlelap, pintu terbuka. San Miguel, salah satu Asisten Suhu dari Filipin, masuk sambil memegang perutnya. Menahan tawa sampai mules. Lalu melantunkan lelucon terbaru yang baru dia dapat sebelum masuk kantor pada sobatnya, sesama Asisten mandor, Jeremiah. Dalam bahasa Tagalog. Yang terpatah-patah terpisahkan oleh gelak tawa yang tertahan. Setelah diterjemahkan bebas kira-kira isinya seperti ini.

"Bang. Kamu tidak akan percaya hahaha apa yang aku lihat barusan hahaha. Si Martin tadi mengajakku makan siang bersama hahaha aku bilang pergilah sendiri aku sudah bawa bekal dari rumah hahaha. Lalu. Hahaha. Lalu. Hahaha. Lalu Martin berkata hahaha baiklah tak mengapa aku akan ikut Mr Huat dan Mr Hock keluar makan. Hahahaha. Lalu dia berlari hahaha sambil berteriak MISTER HOCK!!! TUNGGU!!! hahahaha. Martin berlari ke Mr Hock, bercakap-cakap lalu kembali. Hahahaha."

Pintu terbuka lagi. Martin masuk ruangan kantor.

"San Miguel, apa yang lucu? Aku hanya bertanya ke mana dia mau pergi makan. Saat Mr Hock bilang dia mau ke warung yang dekat, aku hanya bilang mau ikut dia ke warung yang dekat."
"Lalu? HAHAHAHA... Lalu apa? Cerita yang lengkap, Martin!"
"Lalu dia bilang dia berubah pikiran, Mr Hock mau ke warung yang jauh."
"HAHAHAHAHA"
"Manusia bisa berubah pikiran, San Miguel, itu wajar."
"Ceritakan lanjutannya."
"Baiklah. Lalu aku bilang, Oke mari kita ke warung yang jauh bersama-sama."
"HAHAHAHA."
"Dan Mister Hock bilang mereka tidak jadi makan."

Seluruh kantor terbahak-bahak. Tentu saja ini berkaitan dengan semua orang tahu kebiasaan Martin yang sering sekali pesan makanan di kantin duluan, lalu merogoh saku lama sekali di antrian pembayaran sampai koleganya bilang "sudah aku saja yang bayar". Nampaknya Mr Hock menghindar dari Martin agar tidak perlu membayar makan siang untuk dua orang hari ini. Atau mungkin. Ada alasan lain. Mungkin. Ada sesuatu hal yang perlu diperbincangkan dengan Mr Huat yang tidak boleh ada orang lain yang tahu.

Saat itu semua serba mungkin.

Suhu,
kini. Semua itu sudah terpasti.

Wednesday, September 21, 2011

Quick Recap

Hari ini adalah salah satu hari di bulan September tahun 2011. Banyak hal yang terjadi sejak terakhir kali nya Suhu aktif di dunia blog. Dulu, tatkala Suhu masih sering meng-update blog nya, bahkan sehari bisa lebih dari dua entries - yes, those were the days - terasa sangat mudah untuk keep track apa yang terjadi dalam hidup Suhu. Baik untuk pembacanya, maupun untuk penulis nya.

Semua blog dibuat dengan tujuan. Semua penulis punya tujuan yang berbeda. Ada yang ingin berbagi pikiran, ada yang ingin mencurahkan perasaan, ada juga yang ingin mempermalukan diri sendiri ingin membahagiakan orang lain dengan berbagi penderitaan. Karena dalam hati kecil kita semua tahu, semua insan adalah sadomasochistic yang suka menertawakan penderitaan orang lain.

Tapi di samping semua tujuan itu, blog mempunyai kapasitas tersembunyi, yaitu yang telah tersebut di atas [aforementioned - bagaimana bahasa Indonesia tidak punya terjemahan untuk kata aforementioned? Yangtelahtersebutdiatas? Seriously?]. Blog mempunyai kemampuan tersembunyi untuk keep track apa yang terjadi di masa lampau. Acapkali Suhu membaca blog-blog lama, hanya untuk tertawa. Bukan, bukan seperti kalian yang tertawa di atas penderitaan orang lain [iblis semua kalian ini!], Tapi Suhu tertawa, melihat bahwa dulu Suhu pernah punya pola pikir seperti ini. Ah, masa muda memang indah.

Di perjalanan panjang Suhu menempuh gelar "Old and Wise", Suhu pernah menjadi seseorang yang "Young and Stupid". Ya sampai sekarang masih sih. Mulai menjajaki "Less young but still stupid" phase, but it's alright.

Tentang kapasitas blog untuk keep track, mungkin saatnya kembali ke pokok permasalahan sebelum ngelantur lebih jauh. Maka entry ini juga didekasikan untuk keep track.

Dua jejaka dalam postingan STMJ beberapa tahun silam, kini sudah beranakpinak bertunangan dan akan mengikat janji dalam waktu dekat. Penulis? Nantikan di biskop-biskop kesayangan anda. Eeaa.


Tentang Master Degree yang ditulis di post ini, akhirnya kelar juga. Nggak terasa ya? TERASA! BUERAT! For everyone else who currently think of pursuing Master Degree part-time. Here are tips for you. Tips#1:Don't. Tips#2: See Tips#1. Merujuk ke entry yang telah tersebut di atas aforementioned entry, lihat poin nomer 5 (Thankful). Orang-orang yang turut berperan serta menjerumuskan Suhu untuk mendapat gelar S2.

Orang-orang ini juga masih ada di lingkungan hidup Suhu. Arianto sudah tidak lagi bermain Dota bersama-sama, meninggalkan kejamnya company IT dan melompat ke company Auditing and Finance. Alfonso masih tetap merasakan kejamnya departemen IT di dalam company Finance. Dina masih jomblo, tapi sudah klarifikasi dia tidak lesbi, cuma memang merasa belum dapat yang cocok. Septian masih tetap muda, tapi sudah tidak jomblo. Meme masih tetap kecil di Kanada, memikat bule-bule yang percaya bahwa orang-orang Asia tidak bisa menyetir dengan benar. Stereotip dari mana itu? They never watch Tokyo Drift?

Dan, tentang tgwinmg, kami masih bersama. What do you expect? Disney's couples stick together. Happily ever after.

Kerja? Masihkah Suhu tetap di PT. Bangun Subangkit?

Suhu,
more on that later.

Saturday, February 26, 2011

DotA - thirty ... forty years from now, anyone?

It's been more than a year, perhaps two, since the last time I played DotA. If you don't know what DotA is, it's a game that make guys a better life partner.

There were times when I played DotA everyday with my friends over Hamachi network or NTU intranet.

I myself am now pursuing further study, hoping to get Master degree by the end of this semester.

My DotA partners?

One of them got married.
One of them got engaged.
One of them got promoted.
One of them got StarCraft.


Well, life sucks. Newton found it first and called it gravity. But that's not the point here. Recently, tgwinmg shared a video link on her facebook and made me think:



Maybe, just maybe. Thirty .. forty years from now ... one of us will bang the table, slamming the screenshot of our victory in front of the Ancient Tree, shouting "Let's play DotA!" . Despite one of us will have lousy hearing, we will pursue that dream. Dusting dust off our old PC, and re-calibrate our nVidia graphic cards and connect it to the future internet port of which its shape is still not yet invented now.

We will download a typer-shark deluxe to train our fingers movement. And Hamachi which will no longer be supported by its developer. Despite our Alzheimer and Parkinson, we will still be Godlike. Just like we used to, in our younger years. There we will stand for each other. In front of every towers, towards the Frozen Throne. Furion the Prophet. Bradwarden the Centaur Warchief. Nevermore the Shadow Fiend. Syllabear the Lone Druid. Claiming the lives of every creeps that stand in our way.

DotA,
For ordinary people with extraordinary hand-eye coordination.

Sunday, February 13, 2011

Bermain Mental

Sesuai dengan kata Suhu di postingan sebelumnya, kali ini kita akan bahas tentang bermain mental. Saat ujian.

Bermain mental?

Benar. Suhu percaya bahwa dengan membuat nilai siswa-siswa sekelas menjadi jelek, maka nilai Suhu [yang kemungkinan besar adalah jelek] akan tersamarkan. Logikanya, kalau satu kelas mendapat nilai jelek, maka nilai akan dikatrol bersama; mean standar distribusi akan bergeser ke kiri, median akan bergeser ke angka yang lebih rendah, dan rendah is the new normal. Ouyeah. Maka, cara mendapatkan nilai bagus adalah: belajar, atau buat saingan sekelas mendapat nilai jelek.

Ini seprinsip dengan orang-orang yang terlibat di kerusuhan-kerusuhan sekitar tahun 90an di Indonesia. Toko-toko dirusak dan dibakar, dengan prinsip, kalau saya miskin kamu gak boleh kaya, saya bakar. Ini sama. Saya bego kamu gak boleh pintar.

0400120301002

Setelah semester ini, akhirnya aku tahu. Itu tidak benar. Setelah mendapat pengalaman melihat teman-teman belajar bersama. Saling memfotokopi rangkuman dan pemecahan daripada bank soal. Tanpa pamrih. Tanpa berharap imbalan. Wadhu hamfut lali mbayar duit fotokopian. Akhirnya semester ini, gerombolan itu menyadarkan Suhu. Seseorang yang dari dulu selalu belajar sendirian. Menyadarkan bahwa di bangku kuliah ini, pertemanan itu masih ada.

Kita tidak benar-benar perlu bermain mental [kalau kamu punya teman as great as the friends I have now]. Kalau kamu tidak punya, mungkin tips-tips di bawah ini bisa berguna.

Maka di kesempatan hari ini, Suhu akan menge-share dengan kalian, teknik-teknik bermain mental yang telah Suhu praktekkan selama perjalanannya menempuh gelar Bujang Teknik di Ninja Turtles University beberapa tahun silam. Dan semester-semester awal menempuh gelar Master di Ninjitsu University of Shogun.

  • Jam weker.

bomb-alarm-clock-2 Menjadi seseorang terdaftar bernama Adi, sangat besar kesempatan untuk mendapatkan NIM atau nomer peserta ujian di urutan yang tergolong depan. Biasanya, nama Suhu ada di lini depan, bersama Aaron dan Abdullah. Demikian pula tempat duduk selalu berada di depan-depan. Maka di saat-saat krusial seperti inilah berlaku prinsip PMP [Posisi Menentukan Prestasi]. Suhu akan mengeluarkan sebuah jam weker. Agar taktik ini berhasil, jam weker harus cukup besar untuk bisa terlihat peserta ujian yang duduk di bangku paling belakang. Tujuan dari taktik ini adalah agar peserta ujian lain menggunakan jam weker kamu sebagai acuan waktu. Lalu di mana permainan mentalnya?

Percepat jam weker untuk menunjukkan waktu sepuluh menit lebih cepat. Misalkan waktu ujian adalah pukul dua sampai pukul empat. Saat mulai ujian buat agar jam weker anda menunjukkan jam dua lebih sepuluh. Maka, semua peserta ujian akan secara konstan merasa waktu mereka tidak cukup. Lalu buat alarm berbunyi saat menunjukkan pukul setengah empat [setengah jam sebelum waktu ujian berakhir]. Padahal waktu alarm berbunyi masih jam dua lebih dua puluh. Ini membuat orang tersentak, buyar konsentrasi mengira waktu habis. Lalu sadar waktu tinggal setengah jam. Padahal masih ada empat puluh menit. Interesting facts: Tiga puluh menit hanya selisih sepuluh menit dengan empat puluh menit. Tapi empat puluh menit mempunyai kesan “lama” sedangkan tiga puluh menit mempunyai kesan “tinggal setengah jam”.

Alternatif: perlambat jam weker untuk menimbulkan kesan “masih ada waktu” dan saat pengawas mengucapkan “you have fifteen minutes remaining” mereka baru sadar bahwa jam weker kamu salah. Percepat atau perlambat, gunakan sesuai selera. Sesuaikan dengan jenis ujian. Untuk mata kuliah hitungan, panik kekurangan waktu bisa mengacaukan fokus, gunakan cara 1. Untuk soal esai dan uraian, di mana alokasi waktu sangat penting, cara 2 lebih efektif. Untuk teman-teman yang cukup cerdas, gunakan kombinasi keduanya, misal percepat jam weker di tengah-tengah ujian saat mereka sedang sibuk menulis.

  • Jangka

Sering kali Suhu datang ke tempat ujian cukup mepet, nyaris waktu ujian mulai. Karena memang tidak punya teman untuk belajar bersama di depan ruang ujian. Ataupun seperti komunitas Kristen yang suka berdoa bersama membentuk lingkaran di koridor ruang ujian. Tapi Suhu selalu datang sedikit lebih awal untuk bisa menjumpai para peserta ujian lain. Untuk. Bermain mental.

“Huff …. untung aku gak telattttt … dari tadi panik. Bongkar laci bongkar lemari gak ketemu. Ada yang bawa jangka ekstra nggak?”

Mengakulah dari dalam hati kecil kalian. Berapa dari kalian yang berhenti belajar malam sebelumnya dan mengatakan “Ah bagian ini bisa lah dibaca-baca sebelum masuk ruang ujian besok.” Ketahuilah. Menit-menit terakhir mu yang kamu alokasikan untuk membacanya, akan sirna begitu saja kalau kamu mengambil mata kuliah yang sama dengan Suhu. Kamu akan panik setengah mati, mengetahui ada setidaknya satu bab atau subbab yang belum kamu baca. Bahwa ujian kali ini perlu jangka untuk mengerjakannya. Maka reaksi pertamamu bukanlah.

“Hah, jangka buat apa? Ngaco kamu”

melainkan

“Oh tidakkk aku juga tidak bawa, siapa yang bawa ekstra?”

There goes your last minute revision. Hilang kesempatanmu revisi untuk terakhir kali sebelum ujian.

  • Busur

Taktik busur adalah varian dari taktik jangka. “Hei! Siapa yang perlu busur, aku bawa ekstra.” Efeknya sama persis. Juga berlaku untuk taktik kalkulator pada ujian ujian yang tidak perlu hitungan.

“Siapa yang perlu kalkulator scientific? Aku bawa ekstra” pada pelajaran pendidikan agama dan kewarganegaraan.

  • Ruang ujian pindah

Lari tergopoh-gopoh. HAHHHH KALIAN MASIH DI SINI??!? PANTAS SAJA DI SANA SEPI! RUANG UJIAN PINDAH KE GEDUNG TIGA!”

Buat yang percaya kalau ruang ujiannya pindah, mereka bego dan akan kembali ke tempat semula [yang benar] terlambat, kurang waktu untuk mengerjakan ujian. Bagi yang cukup pandai, dalam dirinya pasti ada keraguan. Karena beberapa hari ini sibuk belajar dan tidak mengecek perubahan waktu dan tempat ujian. Either way, you still win. Mereka panik. Yeah.

  • Close/Open book

Pada ujian open book, letakkan tas sebelum mendekat ke kerumunan peserta ujian yang sedang sibuk mempersiapkan ujian beberapa menit lagi. Bawa bolpen. Main-main bolpen. Cetek cetek cetek cetek. Cari perhatian.

“Enaknya ujian close book, gak usah bawa buku berat-berat ke ruang ujian.”

“Dude, ujiannya open book.”

“Hah?!?! Kamu gak lihat pengumuman dari profesor? Kan sudah diralat jadi Close Book!"

Tanpa tas, hanya pegang bolpen, cetek … cetek .. , pandangan prihatin ke arah orang yang baru saja hilang gairah hidup karena belum mulai menghafal rumus.

Pada ujian close book. Bawa tas ransel atau slingbag berisi penuh buku tapi jangan dibawa di genggaman tangan.

“Sudaaahlaahhh … buat apa dibaca sekarang, toh nanti juga bisa tinggal salin.”

Efeknya tidak sekuat pada ujian open book. Tapi masih ada sedikit efek. Dengan membuat mereka mengira ini adalah ujian close book, mungkin mereka berhenti menghafal.

  • Jurus kombinasi: Senyum – Battlecry – Tidur

Tips-to-avoid-sleeping-in-class-for-students-school-copy Ini adalah salah satu metode yang hampir selalu Suhu pakai. Masuk ruang ujian, tunggu waktu ujian mulai. Buka soal, baca. Jaga raut muka. Tanpa ekspresi. Meskipun kamu tidak bisa mengerjakan satu pun, jangan panik. Maksudku, jangan kelihatan panik. Ini membuat peserta ujian lain tidak tahu apakah soal ujian ini sulit atau mudah menurutmu. Mungkin menurut peserta lain, soal ini sangat mudah. Dengan melihat mu panik, itu akan menambah rasa percaya diri nya. Atau mungkin dia menganggapnya susah, dengan melihat mu panik, itu akan membuatnya tenang karena dia tidak merasa sendiri. Yang harus kamu lakukan di ruang ujian saat membaca soal adalah:

SENYUM – benar. Kamu tidak salah. Bayangkan soal ujian itu sangat mudah seperti satu tambah satu sama dengan dua. Atau bayangkan dari dua puluh empat bab materi ujian, kamu cuma sempat belajar satu bab, dan soal ujian keluar dari bab itu. Munculkan ekspresi itu. Senyum iblis. Senyum merasa menang. Senyum percaya diri. Dengan aura jahat sekental mungkin. Ibarat iblis menari di atas bangkai para pendosa. Okay my imagination wanders a bit too far.

BATTLECRY – pekik peperangan. Tiap beberapa baris soal kamu baca, teriakkanlah pekik peperangan. Yang paling manjur biasanya adalah “YESSSSS!!!” sambil mengepalkan genggaman tangan ke udara. Efeknya bersinergi dengan jurus Senyum. Sebaiknya dilakukan di awal saat para peserta ujian baru membaca soal. Selain memecahkan konsentrasi, itu juga bisa membuat orang salah baca soal dan rusak mental.

Tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Mengingat kita kurang diberkati dalam bidang akademik, kemungkinan besar kita hanya bisa menggertak di awal. Dan menganggur setelahnya. Ya, kita kerjakan sebisanya, sambil sesekali tetap tersenyum seolah soal ini sangat mudah. Siapa tahu ada peserta lain yang melirik untuk mengetahui kondisi kita. [Kesusahan mengerjakan soal = merengut; Cuma kamu sendiri yang bego, aku bisa mengerjakannya = senyum]. Setelah itu, tidur.

TIDUR – benul. Jurus tidur. Kamu tidak salah lihat. Digabungkan dengan taktik jam weker tersebut di atas, kita bisa bangun tepat waktu. Tinggal lima belas menit, regangkan tangan sambil memekik “Saatnya mulai!” atau “It’s showtime!”.

----------------------------------------------------------------------------

Seperti yang kalian ketahui, layaknya posting-posting lain di blog ini. Apa pun yang ada di sini mungkin hanya fiktif belaka. Atau mungkin nyata.

Tapi yang terpenting, irregardless apakah Suhu benar-benar mempraktekkan cara kotor bermain mental menghalalkan segala cara, sekarang kalian telah tahu cara bermain mental. Mau dipraktekkan atau tidak, itu tergantung hati nurani kalian masing-masing. Namun, kalian kini jadi tahu. Jika ada orang yang nampak gembira di ruang ujian, mungkin dia bisa mengerjakan soal ujian itu dengan mudah. Atau. Dia adalah salah satu dari kalian. Pembaca kisah di balik hutan bambu.

Suhu,
the mentalist.

Saturday, January 08, 2011

Sehidup Semati. Senasib Seperjuangan.

Kalian pasti pernah dengar frase Sehidup Semati. Kata majemuk? Mungkin. Artinya begitu mendalam. Biasanya dikaitkan dengan nuansa romantis, cinta-sehidup-semati. Dipopulerkan oleh Romeo Juliet dan Sampek elek Sampek-Engtay, kisah cinta. Sehidup. Semati.

Tapi kalau diperhatikan dari segi morfologinya. Sebuah. Satu buah. Sebiji. Satu biji. Sejuta. Satu juta. Sehidup. Satu hidup. Semati. Satu mati. Lha justru yang kayak gini ini yang malah umum. Lebih realistis. Misalkan sepasang suami istri. Satunya mati. Terus satunya, demi cinta, ngikut mati. Lha yang ngurus anak-anak sama kerja buat beli susu, siapa? Wokey, sekarang kita nggak di sini buat mbahas siapa yang mati duluan, tapi kita akan membahas tentang konsep sehidup semati.

Dalam nuansa pasca UAS semester ini, kita akan membahas tentang Senasib Seperjuangan. Tentu saja posting-posting ini diilhami oleh teman-teman sekelas di kampus Ninjitsu University of Shogun. Ceritanya, semester ini Suhu mengambil mata kuliah nge-kross. Nge-kross ini adalah sistem di mana kita boleh ngambil mata kuliah jurusan lain, dan SKS nya bisa masuk ke jurusan yang kita ambil sekarang. Maka tentu saja Suhu mengambil ke jurusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik karena di situlah Tuhan menciptakan Kaum Hawa setelah menciptakan Adam di Taman Eden. Suhu mengambil jurusan teknik. Teknik sipil. Karena Suhu ngerti nya yang sipil-sipil, yang angel-angel ndak mudheng.

Tak disangka tak dinyana, Suhu datang paling awal di kelas kross nya yang pertama. Setelah menyalakan lampu dan A/C, serta mencari PehWe (PosisiHwenak) buat bobo di kelas, Suhu mengamati satu per satu mahasiswa lain yang masuk. Tipikal mahasiswa teknik. Kaos tidak disetrika. Celana pendek tiga perempat. Sandal gunung kelas Carfil dan Nyekerman. Beberapa berkacamata tebal, baju kucel belum dicuci tiga tahun, rambut acak-acakan, dan hawa-hawa nya seumur hidup belum keluar dari kampus. Tipikal mahasiswa scholar yang lagi garap PhD lagi cari bahan thesis. Biasa nimbrung kelas Master buat cari ilmu. Terus.

Datang segerombalan mahasiswa mahasiswi yang datang bersamaan. Ngerumpinya sudah kedengeran sejak dari koridor. Terus saat pintu ruang kelas terbuka, suaranya teramplifikasi karena tadinya memang muffled karena ruangan tadi tertutup. Salah satu dari mereka berujar.

"Woi jangan ribut woi. Malu-maluin aja."

Dalam hatiku aku membatin. Haizzz.... bloody foreigners. Belum sempat aku bersumpah serapah, hatiku mengingatkan otakku. Lho? Koq barusan kamu ngerti dia ngomong apa? Lho, I'm one of those bloody foreigners myself. Mereka menduduki bangku barisan terdepan. Tetap guyonan dengan jargon-jargon mereka. Makin didengar, makin jelas bahwa mereka tidak berbincang dalam bahasa Indonesia.

Lho, arek-arek iki lak ngomong Jowo seh?

Dengan semangat persatuan endonesa yang tertera di pancasila sila ketiga, tanpa permusyawaratan perwakilan, dan ketuhanan yang berbeda-beda. Suhu menghamili menghampiri mereka. Beberapa bulan berlalu. Suhu telah menjadi teman dari Sonny, Hendra, Jerry, Julia, Marsela, Heidi, Bonny, dan oknum-oknum jebolan universitas swasta ternama di Surabaya lainnya (nama dirubah untuk melindungi reputasi mereka). Dan apalah yang lebih memperkuat hubungan persahabatan selain daripada siksaan dalam kebersamaan. Terlebih lagi, beberapa anak fakultas teknik sipil ini ada yang nge-kross ke fakultas Suhu dan mengambil mata kuliah jurusan Suhu.

Pahit nya dunia pendidikan yang dikenyam. Nyam. Nyam. Membuat Suhu merasa. Belajar dengan teman terasa lebih indah. Jelas terasa beda nya dengan waktu menempuh studi untuk gelar Bujang Teknik (Bachelor of Engineering). Satu angkatan, hanya satu orang endonesa. Suhu. Saat itu, arti Senasib Seperjuangan adalah. Satu Nasib. Satu Perjuangan. Kalian berjuang, aku meratapi nasib. Menghalalkan segala cara untuk lulus ujian. Mulai dari sistem kebut semalam sampai main mental.

More on next post. Main mental.

Suhu,
sehidup. seperjuangan.

Friday, January 07, 2011

Chronicles of Ndut Cihuy #4

"You shouldn't have done that."
"Who asked you to do that? I never asked you to."
"I do that on regular basis and I never complain."

Three strike and you're out. The answer I'm looking for was "Thank you. For doing this for me. For us."

Monday, January 03, 2011

Chronicles of Ndut Cihuy #3

Ndut Cihuy: "Yang, kamu tahu Nurdin Halid?"
Non Hore: "Pernah denger kayak'e. Some bomber's name ... terrorist .."
Ndut Cihuy: "I think you've confused him with M Top."

true story *winks*

Sunday, January 02, 2011

Chronicles of Ndut Cihuy #2

Figur suami ideal adalah yang membantu masak di dapur dan tidak mengomel saat kepala dapur berkata "Ayo, kamu ambilin wadah kecil kecil yang ukurannya lumayan besar buat itu."

Tanpa tahu wadah mana yang dimaksud.
Tanpa konvensi tentang dimensi yang mendefinisikan 'kecil'.
Tanpa diskusi tentang persepsi ukuran 'lumayan besar'.
Tanpa tahu apa 'itu' yang dimaksud dalam konteks.

Membawa wadah sambil tersenyum walaupun salah dan dimarahi.

Chronicles of Ndut Cihuy #1

Yang tampan dan berotot memang selalu dikagumi.
Yang tambun dan empuk to cry on figur para suami.

Saturday, January 01, 2011

Happy New Year 2011

Untuk semua pembaca kisah di balik hutan bambu,

Panda Tambun mengucapkan Terima Kasih atas dukungan moral nya selama ini.

Dan.

SELAMAT TAHUN BARU 2011.



Suhu,
ngantuk habis countdown.