Saturday, November 27, 2010

STMJ post - Semester Tiga Makin Jempalitan



Seperti yang kita ketahui, universitas adalah sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan. Betapa pun mereka berusaha menyembunyikan kegiatan-kegiatan terlarangnya dengan menamainya istilah-istilah lain, kita tetap tahu. Mereka. Jahat. Coba tilik satu persatu kegiatan universitas yang berdampak buruk pada para mahasiswa, bagaimana mungkin sampai sekarang yang berwajib tidak menanganinya. Karena mereka menamainya dengan istilah-istilah berbeda. Jargon yang terlalu rumit untuk kita decipher.

Bius total, misalnya. Mereka ganti namanya menjadi Lecture. Meskipun caranya berbeda dan tidak memakai unsur kimia anaesthesis, efeknya persis sama. Masuk Lecture theatre, dua menit. Gelap gulita. Mata terbuka melihat sinar putih. Kita sudah diikat, mulut disumpal sapu tangan berbau chlorofom, di warehouse belakang pelabuhan.

Masih banyak contoh lain, misalnya Tutorial. Efeknya sama dengan cuci otak. Masuk segar bugar, keluar lholak lholok. Skripsi? Woh jangan ditanya. Itu jargon mereka untuk penculikan plus kerja rodi. Masih terngiang masa muda Suhu mengejar impian mengebut skripsi. Mama sempat panik karena Suhu tidak bisa dikontak, khawatir diculik nanti penculiknya tak bisa balik modal karena Suhu makannya banyak. Enam bulan tidak melihat matahari. Terkurung di lab di basement 5. Tanpa sinyal hp, tanpa facebook. Memang waktu itu belum ada mukabuku. *Ketahuan dah kalau ternyata generasi sesepuh*. Ya, waktu itu, bisa mengganti skin profile Friendster adalah trend. Eniwei, tidak penting. Intinya, sindikat kejahatan itu masih berkeliaran di mana-mana. Dengan kedok institusi pendidikan.

Entah apa yang dilakukan oleh para petinggi-petinggi di sindikat ini, para pengajar di institusi ini, mereka telah berhasil membuat kita percaya. Membuat dunia percaya. Bahwa kapasitas otak kita ditentukan oleh secarik kertas piagam, dan foto kita memakai topi kotak-kotak dan baju badut memegangnya sambil tersenyum di mimbar.

Itu sudah beberapa tahun silam. Ketika Suhu berdiri dan menghembuskan nafas terakhir menghela nafas lega sambil menggumam. "Akhirnya..." Belum sempat air mata melo berlinang di pelupuk mata, pria setengah baya di hadapanku berkata, "Woi cepetan woi, belakang udah ngantri, emangnya cuman ente yang mau diwisuda?" dalam dialek Cina. Bayangkan, saudara-saudara! Empat tahun peras keringat banting tulang peras otak banting buku. EMPAT TAHUN. Jalan ke panggung, salaman, terima ijazah, senyum TIGA DETIK aja digusah-gusah suruh cepetan jalan.

Saat itu. Perasaan gembira bercampur aduk dengan perasaan khawatir, pula sedih. Gembira karena lulus. Khawatir akan gonjang ganjing nya dunia persilatan akan menjadi tidak seimbang setelah Suhu tinggalkan. Sedih karena. Maaf, tidak ada rasa sedih sama sekali saat lulus. Tadi salah ketik. Sebentar, saya coret dulu. Cret. Sudah.

Waktu cepat berlalu. Matahari terbit, lalu terbenam. Sehari berlalu sejak wisuda Suhu. Seminggu. Sebulan. Setahun. Beberapa tahun. Suhu kembali duduk di bangku universitas. Kuliah lagi. Melawan sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan. Lagi.

Semester ini mengambil dua mata kuliah saja. Dari total 10 mata kuliah yang perlu di-clear untuk mendapat secarik ijazah dan kesempatan foto pakai baju badut. Lima mata kuliah sudah clear dua semester lalu. Kutipan singkat bisa lihat posting ini untuk semester satu dan posting ini untuk semester dua. Semester ini, semester tiga dijadwalkan clear dua mata kuliah. Semester depan berarti masih sisa ... sepuluh .. dikurangi lima .. dikurangi dua .. ah kita pikirkan nanti.

Hidangan semester ini adalah CE5610 Assessment and Retrofit of Concrete Structures dan PM5104 Development Management. Dua mata kuliah ini mengingatkan Suhu pada perkataan orang-orang bijak. Habis gelap, terbitlah mendung, lalu gerhana. Lalu kiamat.

Suhu,
berdjoeang dalam tempo jang sesingkatsingkatnja.

1 comment:

Olivia Wijaya said...

semangat ya ko panda =)