Thursday, October 14, 2010

Prelude: The Cultural Shock (Jakarta oh Jakarta – Part 1)

Setelah hidup di Singapura selama beberapa tahun, setiap liburan pulang ke indo selalu berkesan. Karena perubahan. Perubahan yang dialami orang-orang dalam kehidupan keseharian mereka. Perubahan yang tidak mereka sadari karena begitu kecilnya perubahan itu setiap hari. Tapi sebagai seseorang yang menilainya dalam skala 6 bulan sampai 2 tahun tidak pulang Indonesia, perubahan-perubahan kecil ini, menjadi besar.

Suhu masih ingat, pertama kali dia pulang kampung saat semester satu, dia terkejut melihat teman-teman SMA nya. Yang dulu masih cemot mbeler pake seragam putih kelabu. Yang cowok jadi keren, rambut disemir, fashion updated. Yang cewek, sudah jadi mahasiswi, kontak lens berwarna, sepatu cetok, dan make-up yang aduhai. Perubahan.

Kedua kali pulang kampung setelah sekitar setahun dari pulang terakhir, Suhu melihat perubahan di siaran televisi. Tiba-tiba banyak siaran berbau rohani, berjudul rohani, (e.g. Alhamdulilah, Istiqomah, Astagafirulah, dan semacamnya.) Isinya, istri tidak taat pada suami, berselingkuh, tidak sholat, mati, kuburannya dirubung rayap. Dan MENDADAK semua wanita di pasar memakai jilbab. Naudzubilah.

Pulang kampung berikutnya, perubahan-perubahan yang signifikan tapi tidak terasa bagi orang-orang yang mengalami perubahan ini, makin menjadi-jadi. Aula baru di SMA almamater megah berdiri. Jalan tol dari Surabaya ke Malang semakin menanjak (diurug makin tinggi untuk menanggulangi lumpur Lapindo Sidoarjo). Dan setiap kali pulang selalu melihat orang tua tampak lebih tua. Jumlah rambut putih, gaya berjalan, dan sebagainya. Perubahan yang tidak terasa jika kita jalani bersama mereka setiap harinya.

Kali ini, Suhu siap. Cultural shock. Itu yang Suhu batin dalam mental. Terakhir Suhu ke Jakarta adalah somewhere in 2003. Itu pun hanya sehari. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung naek kereta rakyat kelas ekonomi. Ah. Those were the days when we were young and adventurous almost kecopetan di stasiun. Sebelum itu, Suhu pernah ke Jakarta tahun 2001 dan tinggal selama sebulan. Sebelumnya lagi, ke Jakarta untuk lomba komputer di BiNus waktu masih duduk di bangku SMA. Tapi kesan Suhu pada Jakarta, ya sama. Kota besar, padat, sibuk, macet, polusi, klakson, woi minggir woi, klakson lagi, dan begitulah.

Tapi apalah daya kita sebagai seorang insan untuk menahan semua perubahan itu? Yang kita dapat lakukan hanyalah menarik nafas panjang. Dan menerimanya. So, here it is. Jakarta, aku datang. Siapa takut? Kemarilah semua perubahan apapun itu. Busway? Bebas fiskal? NPWP? Apapun perubahan Indonesia, perubahan Jakarta, bukan untuk kita untuk menahannya. Tapi untuk menerima, dan mengikuti aturan mainnya. Terlebih lagi jika perubahan itu untuk yang lebih baik.

Hari itu, tanggal 17 Agustus 2010, Indonesia telah merdeka untuk 60 tahun lamanya. Aku melongok keluar dari dalam terminal kedatangan internasional. Aku melihat sosok Asephsibocahkupang melambai, menjemputku di bandara udara, tepat waktu. Aseph tidak terlambat. Mungkin dunia memang sudah berubah. Ke arah yang lebih baik.

“Seph, lama nian tak jumpa”

“E Suhu, iya e su lama sekali sonde jumpa kau”

“Karmana lai? Su lama kah kau kas tunggu di beta?”

“Balom lah hu. Eh, be mo pi Toilet nih. Kas tunggu sini ya, be pung oto di sana.”

“Betong langsung pi oto lah Seph, sonde pi toilet.”

“Beta mau pipis.”

“Beta ada karet.” ujarku becanda.

“Parsetan ni lu orang, puki kerbo …” sambil berlari ke toilet.

Suhu masih tetap suka ngerjain Aseph, Aseph masih tetap gak sadar kalau lagi dikerjain. Suhu masih mengeksploitasi kenaifan Aseph. Aseph masih misuhan waktu sadar sedang dieksploitasi. Some things are better left unchanged. And maybe, just maybe, will never change. Maybe.

jakarta first day

What happens in Jakarta, stays in Jakarta

Suhu,
had a great fun.

No comments: