Sunday, June 27, 2010

Handling Shopping Disorder, Engineer’s Way

Masih berkaitan dengan posting sebelumnya tentang bagaimana para pria acap kali tidak bisa berfungsi dengan normal – hence the title: Disorder – di kala menemani spesies betina shopping. Perlu dicatat bahwa dalam konteks ini Shopping tidaklah didefinisikan hanya sebagai proses membeli barang, tetapi mencakup juga aktivitas keluar masuk semua toko di shopping mall, mencoba asesoris, baju, dan sepatu di lebih dari 80% toko tersebut, dan pulang ke rumah di saat matahari meredup karena inti matahari berhenti memancarkan energi terbenam.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kaum Adam, kurang mampu menghadapi ujian fisik dan mental seperti menemani pasangannya shopping. Oleh karena itu, manusia dengan akal budi dan free will, menciptakan suatu proses mekanisme yang cenderung ke arah otomatisasi atas dasar logika optimisasi dan pola pikir simplifikasi. Itulah konsep dasar Engineering. Optimisasi. Simplifikasi.

Dalam posting kali ini, kita akan menelaah beberapa aspek ilmu pengetahuan yang telah kita telusuri selama masa perjuangan kita melawan sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan. Empat tahun duduk di bangku kuliah membuat Suhu mampu menerapkan konsep-konsep Engineer’s way of handling things, including Shopping Disorder.

1. Database.

Database adalah kumpulan informasi berisi catatan historikal, yang umumnya diperoleh secara eksperimental, dan digunakan oleh para engineer untuk meramalkan (secara ilmiah, tentunya) hasil dari kejadian di masa mendatang. Prediksi ilmiah itu bisa dari cara semudah Regresi Linear atau menciptakan rumus empirikal. Lantas apa hubungannya dengan shopping?

Pendekatan database adalah satu-satu nya cara bagi pria yang tidak mengerti fashion untuk menjawab pertanyaan “Bagus mana, ini atau ini?” atau pertanyaan yang lebih sulit “Ini bagus nggak?”. Biasanya pertanyaan ini diajukan sembari menenteng ringan dua pasang sepatu yang bagi kita kelihatannya sama saja. Atau baju. Whichever.

Kita mulai dengan yang mudah. “Bagus mana, ini atau ini?” Kedengaran mudah. Paling tidak di kelas 4 SD kita pernah belajar matematika bab Peluang. Untuk pertanyaan semacam ini, peluang kita menjawab benar adalah 50%. Ini. Atau ini. Sayang sekali, kalian salah.

Suhu pernah berpikir demikian. Di saat beberapa bulan pertama berpacaran dengan tgwinmg tentunya. Dengan asal tebak, kita punya peluang benar sama dengan peluang salah. Itu juga pikirku dulu. Nyatanya, mungkin keduanya bagus. Atau, mungkin keduanya jelek. Yang dulu kita pelajari di bab peluang itu adalah dua sisi koin, yang berisi Gambar atau Angka. Sesuatu hal yang mutlak. Yang kita lupa, bagus itu relatif. Keduanya bisa sama-sama bagus. Bisa juga yang satunya lebih bagus tapi satunya itu juga bagus meskipun gak sebagus yang satunya karena yang satunya sangat bagus. Dan, setidaknya, hanya Fourier Transform yang bisa menyelesaikan persamaan tersebut.

Solusinya, pendekatan database (inspirasi dari komrad: Apong). Ikuti berapa kali sesi shopping, amati selera objek penderita. Selera (atau rasa suka) bisa didefinisikan dengan parameter:

  • barang yang dibeli (tidak mungkin beli kalau tidak suka);
  • barang yang dicek harganya tapi tidak dibeli (tetap suka tapi sepertinya terlalu mahal);
  • barang yang dicoba hampir di setiap toko (mau beli tapi ragu apa cocok dipakai); dan
  • yang paling menyakitkan – barang yang ditanyakan ke kamu “Ini bagus nggak?”

Catat barang-barang tersebut. Beruntung untuk orang-orang seperti Apong yang punya fotografik memori, ini mudah. Untuk kita, catat. Seperti layaknya nahkoda kapal yang menyimpan Captain’s Logs untuk setiap hari pelayaran berisi arah angin, cuaca, rasi bintang, dan kejadian-kejadian penting. Synchronize catatan kita dengan inventory objek penderita. Buang outliers statistik dengan mencoret yang kurang relevan. Mungkin saja objek penderita hanya sedikit adventurous saat mencoba-coba di ruang ganti dan tidak akan pernah beli topi koboi tersebut.

Inventory objek penderita yang termudah untuk diakses adalah rak sepatu. Maka dengan pendekatan ilmiah, Suhu bisa menyimpulkan bahwa tgwinmg lebih suka sepatu yang simpel, tidak banyak ornamen, sedapat mungkin tidak ada strap di belakang, ada hak tapi tidak terlalu tinggi untuk bekerja, flat untuk jalan-jalan, preferensi warna putih untuk jalan-jalan dan warna gelap agar match dengan baju kerja.

Jika saya bisa. Pria lain pun bisa. Menyimpulkan selera objek penderita dengan konfidens interval 95%. Sampling error mungkin terjadi karena sepatu di rak mungkin saja milik flatmate nya. Dan semua itu bisa kita lakukan tanpa perlu melakukan satu-satunya hal yang tidak bisa kita lakukan karena memang itu kelemahan kita – bertanya.

Memang bagian paling susah dari proses pembentukan database ini adalah – seperti yang telah kalian tebak – mengumpulkan informasi-informasi di awal penelitian. Selanjutnya, tergantung seberapa brilian kalian mencerna data-data mentah seperti ini:

27 Juni 2008, sepatu merah totol putih, 20 detik dipegang-pegang tapi tidak dicoba. sepatu hitam, hak 2”, ornamen bunga diameter 0.7”, dicoba, minta ukuran lebih besar setengah, dicoba, minta ukuran lebih besar satu, dicoba, dicek apa ada warna lain, tidak ada, minta dicek apa ada di cabang di shopping mall lain, ada, 28 Juni 2008 pergi ke shopping mall lain, mendapatkan barang tipe sama ukuran yang pas dan warna yang diinginkan,tidak jadi beli.27 detik pegang-pegang sepatu putih totol merah.

Kumpulkan, jika jumlahnya mencapai sekitar ribuan, you’re good to go.

2. Colour Coding

Kembali ke zaman di mana Suhu masih mempelajari elektro tentang power dissipation dari four-band resistor. Remang-remang masih inget Hitam Coklat MeJiKuHiBiU Abu Put Emas Perak Tak Berwarna menjadi urutan penentuan nilai resistansi dari resistor tersebut. Waktu itu, menghafalkan warna-warna ini terasa sangat sulit.

Warna Pita pertama Pita kedua Pita ketiga
(pengali)
Pita keempat
(toleransi)
Pita kelima
(koefisien suhu)
Hitam 0 0 × 100
Cokelat 1 1 ×101 ± 1% (F) 100 ppm
Merah 2 2 × 102 ± 2% (G) 50 ppm
Oranye 3 3 × 103 15 ppm
Kuning 4 4 × 104 25 ppm
Hijau 5 5 × 105 ± 0.5% (D)
Biru 6 6 × 106 ± 0.25% (C)
Ungu 7 7 × 107 ± 0.1% (B)
Abu-abu 8 8 × 108 ± 0.05% (A)
Putih 9 9 × 109
Emas × 10-1 ± 5% (J)
Perak × 10-2 ± 10% (K)
Kosong ± 20% (M)

Sampai akhirnya kita lulus dan menjadi sarjana Teknik, sadar bahwa di dunia ini ada spesies yang serupa tapi tak sama dengan kita. Kita mencoba mengenali mereka, dan akhirnya tahu, bahwa di dunia ini, ada yang lebih sulit daripada colour coding resistor. Yaitu, colour coding wanita.

2010-03-01-12bf011

Hafalkan tabel pertama untuk lulus ujian. Hafalkan tabel kedua untuk ‘lulus ujian’.

3. Persamaan Linear

Fungsi persamaan linear sederhana tentu paling mudah dimengerti oleh kita. Persamaan garis sederhana melewati sistem koordinat kartesian dengan empat kuadran. Demikian kita bisa membuat fungsi (y) untuk mewakili hasil jawaban pasangan kita dengan parameter (variabel m, variabel x, dan konstanta c)

y = mx + c

y = girl’s mood after you reply

x = the correctness level of your reply. Sebagai suatu variabel yang proportional dengan jawabannya. Semakin benar jawabanmu (x semakin positif), semakin senang mood nya (semakin positif nilai y).

m = the way you express your reply. m sebagai gradien tentu saja adalah suatu variabel yang bersifat mengamplifikasi apa pun nilai mutlak dari x. Kalau kamu bilangnya asal-asalan (m negatif) bisa jadi jawaban yang benar (x positif) menghasilkan mood jelek (y negatif). Kalau kamu jawabnya benar sedikit (x positif kecil) tapi sambil bawa bunga dan pake jas lengkap dengan dasi kupu-kupu (m positif BUESAR), mood nya bisa sangat berbunga-bunga (y positif tembus garis batas kertas gambar grafik).

c = original mood. Perempuan senantiasa sudah mempunyai mood tertentu sebelum menanyakan pertanyaan tersebut. Apakah produk m dan x dari jawaban kita cukup untuk membuat nilai y melewati ruas y=0, merubah mood dari baik ke buruk, atau sebaliknya? Itu semua tergantung nilai c. Untuk kondisi kram perut saat PMS, masukkan nilai c=(-∞).

Suhu,
engineered boyfriend.

5 comments:

pelangi anak said...

Wah-wah...baru tahu kalau ada jalan keluar dengan'engineer's way' dalam mengatasi 'shopping disorder'...

Meskipun hanya sedikit yang bisa pahami, tapi saya berkesimpulan bahwa article ini sesungguhnya sangat menarik, dan layak untuk dicermati dengan sungguh-sungguh!

Terimakasih...

Elsa said...

i'm Banana Lemon..

truly yellow

tyaghita said...

hahahahahahahah (tertawa guling - guling)

mungkin gak ya pacar saya menghadapi dilema yang sama,,hmmm,,,

teori statistiknya boleh juga,,apalagi teori warna,,hahaha

unique way to explain,,i'll tell my boyfriend right away,,because it seems like he's clueless,,hehehe :p

- said...
This comment has been removed by the author.
- said...

OMG this is so sweet!
bisa juga ternyata diengineered
btw dah lama gak baca blogmu hu!
-ibugurugita