Friday, January 29, 2010

Project Management 101

Suhu kembali lagi ke bangku sekolah. Kali ini sebagai mahasiswa semester dua di Ninjitsu University of Shogun. Sejak nilai ujian semester satu keluar, Suhu sudah memutuskan. Semester ini kita ambil tiga mata kuliah. Bukan. Bukan karena Suhu menjadi mahasiswa teladan dengan mendapatkan nilai penuh pada dua mata kuliah dan sekarang sedang berusaha untuk lulus cepat dengan mengambil mata kuliah lebih. Bukan. Suhu bukan mahasiswa dari medan. Alasannya simpel. Suhu mencoba dua. Sukses. Suhu, to the next step. Tiga.

See? I’m a predictable guy afterall.

Mari kita tilik mata kuliah Suhu. Setelah berjuang melawan kejahatan Research Method dan kejahanaman Contract Management. Kali ini Suhu harus memilih tiga dari lima. Dan setelah pertimbangan matang dan masak-masak, Suhu mengambil Time&Cost Management, International Project Management, dan Project Management 101.

Time&Cost Management. Sering disingkat sebagai T&C, Suhu sering salah mengartikannya sebagai Testing and Commissioning, salah satu fase yang paling ruwet dan tidak disukai oleh seorang mandor dalam Building Works. Because in every T&C if any failure could happen, it will. Dan tentu saja T&C juga bermakna lain bagi kehidupan mandor lapangan, karena saat asisten memanggil lewat walkie talkie “Mister Adi where are you? Boss is coming looking for you.” Suhu akan menjawab “I’ll be back soon, now I’m still T&C”. Dan asisten pun tahu, bahwa mandor sedang sibuk. Bukan Testing & Commissioning. Tea & Coffee.

International Project Management. Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengambil mata kuliah yang sering disebut ‘Inter’ untuk singkatnya. Selain kedengarannya keren, dan dosennya dari Ghana. Kalau tidak salah namanya !xobile. Mengambil mata kuliah yang bernama ‘inter’ tentu saja bisa menimbulkan situasi awkward dan pandangan tidak senonoh dari para mahasiswi. Misalnya saat Matt dari Swiss bertanya di tengah kerumunan orang dalam lift.

“Hey Adi! How’s your holiday?”

“It’s perfect. If I have any. How about yours?”

“It’s too short. Haha. Are you here for class?”

“Yeah, you? I’m taking today’s module. How about you?”

“Yeah, in fact I’m doing PM101 and another subject, Law course, for this semester.”

“Wow that’s great. I don’t think I can do Law, so I do Inter course.”

“That’s awesome.”

“Eeew that’s gross.”

Lift terbuka dan mahasiswi-mahasiswi berlalu. Goddammit Matt!

Project Management 101

Sebenarnya nama jurusan yang sedang suhu ambil ini adalah Project Management. Dan nama mata kuliah ini adalah PM5101 Project Management. Sekedar analisa sederhana, PM artinya nama jurusan, yaitu Project Management. 5 artinya tahun di mana kita seharusnya mengambil jurusan bersangkutan. [Jurusan dengan nomer awal 1, 2, 3, dan 4, dimaksudkan untuk diambil mahasiswa S1. Oh those younger years.]

Nomer 101 adalah nomer identitas mata kuliah bersangkutan. Kali ini, Suhu akan membahas tentang ‘101’, karena Suhu tidak mungkin membahas apa yang diajarkan di kelas Project Management. I paid for this shit, why should I give it to you for free? Suhu percaya bahwa ini bukan pertama kali kalian mendengar 101. 101, yang biasanya dibaca wan-oh-wan, bisa ditemukan di mana-mana.

Ya kamu yang pakai baju kuning kotak-kotak di belakang. Apa? Iyak benar. 101 Dalmatians.

Apa lagi?

Ya kamu yang pakai baju biru. Bukan. Bukan kamu. Kacamata, belakang. Benar. Taipei 101.

Masih banyak lagi yang bisa kalian pikirkan dari 101. Karena memang 101 ini unik. Termasuk bilangan palindrom yang dibaca dari depan belakang tetap sama, seperti ‘kasur ini rusak’ atau yang lebih menarik di bahasa Inggris adalah “was it a car or a cat i saw”. Tentu saja personally Suhu lebih suka - “Naomi, I moan.” tapi karena blog ini untuk segala usia, well.

Mungkin tidak begitu spesial karena palindrom tidak terbatas jumlahnya. Tapi tidak banyak bilangan prima seperti 101 yang adalah hasil penjumlahan dari lima bilangan prima berurutan (13 + 17 +19 + 23 +29). Entah dari mana asalnya, 101 sekarang dikenal menjadi pengganti kata ‘Dasar’, ‘Basic’, dan ‘Elementary’. Sebagai mata kuliah perkenalan.

Di sini lah Suhu sekarang, di dalam kelas PM101. Dosen memanggil satu orang dari kursi paling depan. Memberikan selembar kertas. Rupanya berisi sebuah kalimat. Lalu kalimat itu disampaikan dari murid pertama ke murid kedua yang duduk di paling belakang. Murid kedua, berkewarganegaraan India, entah apa yang dia mengerti dari murid pertama yang berkewarganegaraan Singapura. Tapi yang pasti si India sekarang berjalan ke bangku tengah. Ke murid berkewarganegaraan Indonesia. Saya.

Setelah itu, Suhu menyampaikan pesannya ke murid dari Malaysia. Yang kemudian meneruskan pesannya ke Thailand research student. Dan dari Thailand, kembali ke perputaran orang-orang tidak sebangsa. Dan murid ke sepuluh dipanggil ke depan. Dia mahasiswa dari Ghana. Membacakan pesan yang diterima secara lisan lewat sepuluh transaksi bisik-bisik tetangga.

“So what did the message say?”

“I don’t know, prof. It doesn’t make sense.”

“Never mind, just say it.”

“They say, ‘the engineering straw is longer than the drinking straw’.”

“We have a serious communication problem here.”

Lalu professor memanggil mahasiswa pertama untuk membaca apakah original message di kertas tersebut.

“The chicken rice stall in engineering canteen has been around longer than the drink stall by more than three years.”

Inilah pentingnya komunikasi, saudara-saudara.

Demikian semester dua Suhu sejauh ini, semoga masih sempat meng-update blog ini sebelum exam.

Suhu,
playing survivor game.

Tuesday, January 05, 2010

PM5103 Contract Management

Hidup tidak seindah biasanya akhir-akhir ini. Mohon maaf untuk update yang tertunda. Bahkan ucapan selamat natal dan tahun baru yang tidak tiba pada waktunya. Anyway, ini adalah kisah lanjutan post sebelumnya. Perjuangan seorang mandor yang kembali ke bangku sekolah.

Setelah melalui exam Research Method pada tanggal 25 November. Exam selanjutnya adalah 3 Desember 2009. Nama Mata kuliah: Contract Management. Ilmu yang dipelajari: Me-manage Contract. Tingkat kesiapan saat memasuki bangku ujian: 93.7%. Kehancuran exam pertama bukanlah sesuatu yang layak diulangi.

Mata kuliah ini, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk Suhu. Pada mata kuliah ini, para siswa diharapkan untuk mengerti tentang PSSCOC dan SIA Contract. PSSCOC adalah suara botol sampanye dibuka saat tutup nya meletup Public Sector Standard Conditions of Contract. Sedangkan SIA adalah Singapore Institute of Architects, organisasi yang mem-publish SIA contract.

Bagi Suhu, yang seumur masa kerja nya mengabdi di PT. Bangun Subangkit membangun SLTP Sukamaju, PSSCOC sudah menjadi bagian dari hidupnya. Karena SLTP yang dibangun Suhu adalah sekolah negeri, maka termasuk dalam kategori Public Sector. Semua aturan main dalam pembangunan ini memakai dasar PSSCOC.

Tentang SIA Contract. Itu dia masalahnya. Hidup memang tidak pernah adil.

Hari ujian itu pun tiba. Suhu masuk ke dalam ruang ujian. Menarik nafas dalam-dalam. Fuhhh. Hembuskan. Semua sudah siap. Everything’s gonna be alright. Or at least, it better be.

Pensil. Penghapus. Penggaris. Dan Bolpen. Lho, ngapain aku bawa kalkulator ke ujian essay? Dan yang tak kalah penting, Matric Card.

Seperti mata kuliah essay yang lain, skor nilai Contract Management berbanding lurus dengan durasi ujung pena menyentuh kertas jawaban.

Waktu masih menunjukkan lima menit sebelum kita diizinkan menulis. Semua peserta ujian mulai memeriksa kertas ujiannya. Apa ada lembaran yang kurang. Apa ada soal yang kurang. Apa soalnya kurang sulit. Dalam waktu lima menit, tiap orang memastikan. Sambil membolak-balik kertas soal, Suhu mulai menghitung. Empat soal. Masing-masing 25 marks.

Lalu Suhu membuka buku lembar jawaban. Sepuluh lembar. Jawaban hanya boleh ditulis di satu sisi kertas. Total sepuluh halaman. Suhu mulai melakukan hitungan enjiniring di dalam kepalanya. Kalaupun otaknya beku karena AC nya terlalu dingin, Suhu sudah membawa kalkulator! Kalkulator bisa digunakan untuk SEMUA exam. Kalaupun soal exam tidak ada hitungannya, kalkulator bisa dipakai buat menghitung prediksi nilai, estimasi waktu tersisa, atau jarak diagonal peserta ujian dengan nonik imut yang duduk di pojok kanan depan.

Okeh. Fokes. 10 halaman 4 soal. Berarti 2 soal kita jawab 2 halaman. Karena tiap soal harus dijawab di halaman baru, red. 2 soal kita jawab 3 halaman. 2x2 + 2x3 = 10. Durasi ujian 2 jam 4 soal. Masing-masing soal kita beri setengah jam. 4 x 0.5 = 2. Beres.

Strategi. Nomer satu. Soal cuma satu kalimat plus satu kata.

Construction Contracts would come with contract mechanisms that would ensure that the Contractor complies and carries out his obligations. Discuss.

Hmm.  Tulis nomer 1. Balik. Balik. Tulis nomer 2.

Values Management or Engineering is a straight forward exercise that requires only the Quantity Surveyor and the client to discuss on cost cutting measures. Discuss the validity of this statement.

Kayaknya perlu tiga halaman. Balik. Balik. Balik. Tulis nomer 3.

Cost monitoring. Security of Payment Act. Post Contract Stage. Meskipun banyak yang bisa ditulis untuk topik ini, Suhu belum benar-benar mencengkeram bab ini. Hmmm. Dua halaman. Mari berharap, soal yang terakhir cukup dikuasai Suhu untuk bisa mengarang indah.

Balik. Balik.

Nomer empat. Studi kasus. Kembali ke halaman pertama. Mari kita coba lulus ujian ini dengan dua nomer pertama.

Sembari terus menempelkan pena ke kertas jawaban, Suhu meyakinkan dirinya. Setengah jam untuk dua halaman. Jawaban terus mengalir dari penanya. Oh tidak penaku bocor! Lalu Suhu menengadah sebentar ke atas untuk melihat jam dan memperkirakan waktunya. Tinggal setengah halaman lagi untuk nomer satu. Lho! Koq sudah empat puluh lima menit!

Lompat! Maksud Suhu lompat ke nomer selanjutnya. Kalau lompat beneran di ruang ujian bisa diamankan petugas. Menuju ke nomer dua.

Ternyata meskipun Contract Management sudah dipelajari oleh Suhu. Suhu masih perlu mempelajari Time Management. Nomer dua bablas lagi. Setelah menorehkan sedikit kosmetik untuk jawaban nomer satu tadi. Dan menyelesaikan nomer dua. Waktu yang tersisa tinggal setengah jam.

Secara matematis, dua soal pertama diselesaikan dalam satu setengah jam. Maka dua soal sisanya harus diselesaikan dalam waktu yang tersisa, yakni setengah jam. Maka, kecepatan harus ditingkatkan tiga kali lipat.

Secara logis, dua soal pertama diselesaikan dalam satu setengah jam. Maka dua soal sisanya memerlukan sekitar durasi yang sama. Maka, hanya ada kurang dari satu soal yang bisa diselesaikan. Tepatnya, hanya 66% dari satu soal yang sempat untuk dikerjakan.

Secara moral, di saat seorang prajurit melihat bahwa batalionnya sudah di ambang kekalahan, semangat juang nya akan menurun. Tetapi, mengetahui bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya dia akan mati, dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Secara religius, Suhu mulai mengunjungi prinsip karma, pahala, ibadah, dan amal. None of them really makes sense in the exam situation.

Menggoreskan pena dengan kecepatan kilat. Suhu berhasil memasuki halaman ketiga ketika Loud Speaker mengumumkan YOU HAVE FIFTEEN MINUTES REMAINING!

Beranjak ke nomer empat. Studi kasus dalam lima belas menit. PLEASE STOP WRITING!!!

Adiprawirav2.0 berhasil menulis sepuluh halaman penuh. Dalam durasi dua jam. Tentang apa yang dia tulis, itu lain cerita. Yang pasti. Dua jam. Sepuluh halaman. Kali kedua dalam hidupnya, menghabiskan lembar jawaban di ruang ujian. It’s been a while, no?

Suhu,
works incredibly well under pressure.