Tuesday, November 10, 2009

Money Can’t Buy Everything

Oke. Pertama-tama. Buat yang mengikuti blog ini mulai dari season 1 (http://suhu.blogspot.com), tokoh-tokoh di cerita kali ini, mungkin sudah pernah kalian dengar. Karena. Mereka tak lain tak bukan adalah orang-orang yang sama dengan tokoh-tokoh post pertama blog Suhu di tahun 2004. Yes, it’s somewhere around 5 years ago, I know.

K4

Ya, orang-orang ini. Foto ini diambil pada akhir tahun 2003 dan ditampilkan di blog pada awal 2004

Tentu saja mereka sudah tidak lagi dipenjara seperti ini. Lebih dari lima tahun mereka tidak berkumpul bersama. Meskipun terpisah jarak, persahabatan mereka masih tetap kokoh dan solid seperti dulu. Memang kami tidak pernah saling menelepon dan berkirim surat. Tapi mereka senantiasa meng-update satu sama lain dengan menggunakan sandi asap api unggun seperti perkemahan Hiawata SMS untuk berita-berita penting.

Misal, seperti ini:

------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertengahan tahun 2004

Suhu > Tombro : Mbro, aku sekarang jomblo lagi.

Tombro > Suhu : Turut berduka cita. Aku sekarang masih tetap jomblo.

Suhu> Tombro : Turut berduka cita sedalam-dalamnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Awal tahun 2005

Aseph > Suhu : Malam ya say, luv u so much. Sweet dream.

Suhu > Aseph : ???

Aseph > Suhu : Pukimai beta salah sms … matisa besu sondadoi … sms singapur pula puki puki puki

------------------------------------------------------------------------------------------------

April 2006

Kenzy > Suhu : Tombro wis ono gandengan koyok’e

Suhu > Kenzy : Genah’e ? Waaa sopo sopo?

Kenzy > Suhu : April Mop!

------------------------------------------------------------------------------------------------

Ya. Berita-berita penting itu selalu mengingatkan kami satu sama lain. Bahwa kami pernah menjadi lebih dari sekedar teman. Kami punya saudara. Kakak beradik lain ibu beda ayah. Ibaratnya, di saat kamu hampir tepeleset ke kolam renang. Seorang teman akan mengingatkanmu “Awas licin!”. Seorang sahabat akan senantiasa siap untuk mengulurkan lengan membantumu naik tanpa takut ikut basah. Mereka, lebih dari itu. Mereka akan membiarkan aku terjatuh lalu membiarkan aku tenggelam menertawakan kecerobohanku. Lalu tiga dari mereka akan saling dorong, menceburkan satu sama lain, sambil tertawa. Hingga yang terakhir akan melompat sendiri dengan sukarela, dan kami berempat akan bermain air di kolam. What do you call that?

Maka tidaklah aneh jika saat Suhu memasuki kota Malang, mereka adalah orang pertama yang Suhu kontak. Masih berada di mobil bersama Rocky, refer ke cerita di post sebelumnya. Suhu meminta Rocky untuk meminjaminya telepon selular. HP. Henpon. Suhu segera menuju navigasi untuk mengirim pesan pada Tombro. Bukan karena Suhu paling dekat dengan Tombro di antara empat sekawan ini. Alasannya simpel. Kenzy sering tidak membawa HP [telepon genggam dijadikan telepon rumah]. Aseph terlalu sering ganti nomer telepon [terutama setelah menghamili anak orang jika ada promosi-promosi murah dari provider baru]. Tombro, sejak SMA kelas 1, tidak pernah ganti nomer HP. Sekarang, dia sudah bekerja sebagai wiraswastawan yang senantiasa perlu terhubung dengan permintaan pasar [bukan, bukan Germo], jadi koneksi HP nya selalu dalam jangkauan.

Eh ndeng, iki piye sms e? *setelah kebingungan mencari di mana icon SMS*

Hahaha dancok ‘oq HP e. HP cino. Aku pertama yo ra mudeng.

Iki gak enek function SMS?

Enek cok. HP opo ga enek SMS?

Piye aku meh SMS Tombro, meh bilang-bilang aku wes ndek Malang.

Yo. Ijo dua kali.

He? *dituruti juga, dan ternyata ijo dua kali di telepon ini bukan redial*

Atas X bawah B L Y R A Kakarotto … Kanan. Bawah. Cari New Message. Ijo lagi. Masukno nomer sing dituju.

Wes. Terus?

Ketik pesan. Kalau sudah tekan atas atas bawah bawah kiri kanan kiri kanan B A 30 extra lives Contra send.

Sudah. Udah terkirim. Thanks.

Tekan merah.

Merah? Merah ini buat nutup telepon kan?

Iya, kalau nggak tekan merah, telepon masuk nggak bisa bunyi.

Telepon genggam ajaib. Jadi buat kirim SMS, kamu mesti melakukan gestur mengangkat telepon. How intuitive is that?

Suhu sudah meng-SMS Tombro. Mengabarinya bahwa Suhu sekarang sudah di Malang. Sedang dalam perjalanan ke MOG. Dan Suhu akan segera meneleponnya setelah sampai di rumah. Begitu kira-kira. Suhu dan Rocky, melanjutkan perjalanannya ke Excelso MOG. Tiba di sana, menjumpai MC untuk reuni besok malam. Mendiskusikan susu nan empuk susunan acara. Intinya begitu. Setelah apa yang perlu dibicarakan selesai, kami beranjak dari MOG. Rencananya mau cari makan malam. Tidak tahu dengan kondisi topografi dan geografi MOG, Suhu menyerahkannya pada Rocky. Yang tentu saja tidak membantu, secara anak lancong Singapura ini bertanya pada anak rantau Amerika. Si buta menuntun si bingung.

Kami berdua memutuskan untuk memutarinya. Dan mencari tempat layak makan. Siapa tahu kami menjumpai tempat makan yang menarik dan kelihatan lumayan layak santap. Atau siapa tahu kami bertemu dengan orang yang kami kenal, untuk rekomendasi tempat makan di Mall baru ini. Malang kota kecil, besar kemungkinan kami akan ketemu dengan orang yang kami kenal. Seperti hari ini.

SUHU!

HEH? Ngapain kalian di sini?!!??!

Tombro kastau di beta lupisini, be langsung kasi talipun Kenzy kasi jemput beta lalu ketong kebut pi sini sa.

Ya, Tombro telepon Aseph, terus Aseph minta aku jemput, berangkat deh ke sini.

Thanks for the translation, Kenz. Bahasa Kupangku sudah karatan.

Jadi setelah Suhu meng-SMS Tombro. Tombro segera mengabari Kenzy yang memang sedang pergi menjemput Aseph di stasiun. Aseph juga datang dari Jakarta untuk reuni kali ini. Bukannya menaruh barang bawaan, mereka langsung detour ke MOG. Cari makan malam, katanya. Sesampai MOG, Kenzy yang menguasai jagad Malang, mengusulkan untuk makan di Hoka-hoka Bento atau A&W. Bukan karena ini tempat makan terenak, tapi karena Aseph dari tadi sudah gatal ingin menghisap Marlboro Light. Kami pun bergerak menuju A&W yang punya kursi outdoor.

Masih ingat tadi Suhu bilang Malang itu kota kecil?

Cukup kecil buat Tombro yang mantan pembalap untuk menaruh gagang telepon, dan menstarter kendaraannya dan melaju secepat kilat. Dan menjumpai kami di A&W. Reuni SMA memang masih esok malam. Tapi Suhu sudah bertemu dengan Aseph, Tombro, Kenzy. Kami berempat bergandengan tangan saling berpandangan. Diam sejenak. Sampai Suhu berdehem memecah keheningan.

Aku lapar.

Kami pun memilih tempat duduk. Karena Aseph merokok, Aseph duduk luar. Lalu kami duduk di dalam. Lalu kami memesan makanan sembari Aseph menghabiskan rokoknya. Mereka pergi ke Hoka-hoka Bento. Memang kursi ini diperuntukkan untuk pelanggan baik Hoka-hoka Bento maupun A&W. Suhu sedang malas makan makanan Jepang yang tidak seperti makanan jepang, memilih A&W.

P1050010

Hu, jang lu kasi bayar uang singgapur lai.

Haha, iya Seph. Beta masih belum gila.

Rocky sempat menawarkan untuk tukar mata uang Singapore dengan Rupiah. Benar-benar kawan yang baik. Dengan kurs satu banding satu. Keparat. Untungnya Suhu siap dengan uang rupiahnya. Dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah mestinya cukup untuk paket A yang berisi dua potong ayam, kentang goreng, dan softdrink. Suhu merogoh saku belakang celananya. Dompet ada. Suhu pun mengantri.

Tiba gilirannya, Suhu memesan. Wokay, paragraf-paragraf berikutnya akan terdengar sangat memalukan. Tapi, bukankah itu tujuan kalian ke sini? Untuk tertawa di atas penderitaan Suhu? Mari silakan lanjutkan membaca. Siapa tahu bisa jadi hiburan hari ini.

Permasalahan muncul bukan karena Suhu tidak sengaja pesan dalam bahasa Inggris.

Set A, please.

Eh, mas. Set nya cumak ada A, Bei, sama Sei. Ndak ada yang Set Ei.

Oh sorry. Sori, mbak. Maksudku Set Aahhhh. Minum e ndak pakek es ya mbak.

Mbak itu menyebutkan harganya. Sekitar belasan ribu rupiah, Suhu pun lupa pastinya. Tapi Suhu merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan lima puluh ribuan dari dompetnya. Mbak itu menyampaikan pesan ke belakang, tempat para koleganya menyiapkan dua potong ayam goreng dan kentang goreng. Dia sendiri mengambil gelas kertas, menekan keran yang mengucurkan rootbeer khas A&W. Meletakkannya di tray, lalu pergi. Rupanya stok kentang goreng menipis, Mbak itu menyiapkan satu batch kentang goreng. Suhu meletakkan lima puluh ribuan itu di meja. Haus.

Suhu mengambil gelas berisi Root Beer itu. Dan sedotan.

Slurrrpp. Arghhh. Membasahi dahaga. Sembari menunggu Mbak kentang, Suhu bersandar ke meja layan A&W. Lalu meja itu ambruk. Sesekali Suhu meminum Rootbeernya lagi. Dan lagi. Iya. Rootbeer yang belum dibayar. Keputusan yang kurang bijak. Suhu meletakkan gelas yang isinya tinggal separuh itu.

Mbak A&W datang tersenyum dengan dua tangan di balik punggungnya. Madu di tangan kanan mu racun di tangan kiri mu. Ayam di tangan kanan nya kentang di tangan kiri nya. Dia meletakkannya di nampan. Menyodorkan nampannya ke arah Suhu. Suhu menyodorkan uang lima puluh ribuan.

Lalu dia memberi kembalian, dan Suhu kembali ke meja outdoor bersama teman-temannya.

Itu yang seharusnya terjadi. Tapi, seperti yang kalian ketahui, dunia tidak sebegitu bersahabat dengan kita. Cerita ini tidak berakhir dengan indah di sini.

Mbak tadi mengambil uang lima puluh ribuan tersebut. Lalu pergi meninggalkan kasir nya. LHO? WOI MBAK! Mbak ini meninggalkan Suhu berarti ada dua kemungkinan:

1. Di kas dia tidak ada uang kembalian untuk uang lima puluh ribuan.

Hmm … kalau harga satu paket belasan ribu, semestinya uang lima puluh ribuan cukup normal untuk alat pembayaran. Kecuali kalau sejumlah customer di depan Suhu juga membayar dengan pecahan serupa, maka A&W akan mengalami masalah dalam studi kasus ini. Dan Indonesia perlu melakukan kebijakan uang ketat karena terlalu banyak rakyat jelata memegang lima puluh ribuan rupiah.

2. Suhu salah memberi uang lima puluh ribu dolar Singapur, dia langsung ke belakang, menampar managernya, lalu mengundurkan diri.

Mengingat uang lima puluh ribu dolar itu sekitar 400juta rupiah, kalimat di atas tidak melebih-lebihkan jika Mbak itu langsung mengundurkan diri dari A&W dan membuka warung sendiri. Masalahnya, Suhu sendiri tidak punya uang sebanyak itu. Maksud Suhu, tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Rekor terbesar, Tuition Fee Loan NTU, empat puluh dua ribu singapur dolar. Iya, minus. FML.

Lantas, kenapa Mbak itu meninggalkan Suhu sunyi sepi sendiri. Mana uang kembalian saya, Mbak??!!? Mbaaakkk jangan tinggalkan saya!! Ratapan anak Panda. Tapi untungnya makanannya sudah keluar. Sambil menunggu si Mbak datang, Suhu ngemil kentang. Yang belum dibayar. Yang sudah dibayar tapi belum dikasih kembalian. Sambil meneruskan nyeruput rootbeer yang belum dibayar. Yang sudah dibayar tapi belum dikasih kembalian.

Ini bukan rakus, dodol! Ini memang sudah jam makan.

Mbak itu kembali. Senyum sumringah arjunanya pulang tiga tahun berpisah nyari dana di kota. Dia memegang uang dengan kedua tangannya, membungkuk sambil menyodorkannya pada Suhu. Suhu siap menerima uang kembalian dari Mbak itu. Tapi, ada satu keanehan. Ini bukan uang kembalian.

Ini lima puluh ribu.

Mbak itu berkata “Selamat datang kembali ke kota Malang, Panda Tambun! Ini gratis dari A&W, kami semua pembaca blog anda!”

Itu yang seharusnya terjadi. Tapi, seperti yang kalian ketahui, dunia tidak sebegitu bersahabat dengan kita. Cerita ini tidak berakhir dengan indah di sini.

Benul. Seperti yang telah kalian duga. Mbak itu berkata.

rupiah

“Maaf Mas, uang ini sudah tidak berlaku.”

Suhu segera mengambil kembali uang lima puluh ribuannya. Meminta maaf kepada mbak kasir itu. “Oh! Maaf Mbak!” Kali ini Suhu mengecek dompetnya. Suhu mengeluarkan lembaran lima puluh ribuan. Dibolak-balik. Hmm… kayaknya bener ini dah. Suhu memberikan uangnya kepada Mbak A&W. “Ini Mbak, yang ini ndak pake Pak Harto!” Suhu tahu jelas uang lima puluh ribuan lama ada logonya Bapak Mantan Presiden Soeharto. Setelah memastikan ini bukan uang zaman limaribuan Teuku Umar dan limaratusan Orangutan, Suhu menyodorkannya.

“Lho mas, ini kan sama aja?”

“Ha?”

“Uang yang ini sudah tidak berlaku, Mas.”

“Dengkulmu a mbak ndak berlaku semua” “Oh lima puluh ribuan ini sudah ndak bisa dipakai?”

“Iya.”

“Ya sudah saya bayar pakai uang dua puluh ribuan saja Mbak.”

“Ini juga sudah kadaluarsa Mas.”

Mbak itu terheran-heran. Orang ini diawetkan berapa lama ya? Begitu mungkin kira-kira di pikirannya. Suhu mulai berkeringat. Ratusan ribu rupiah di dompetnya, kini tidak bernilai apa-apa. Benar kata mama, Money can’t buy everything. Dia berpikir keras. Bukannya uang lima puluh ribuan lama itu yang gambar Pak Harto? Satu edisi dengan duit-duit bergambar orang utan, lompat batu pulau Nias, dan telaga tiga warna? Jangan-jangan ada kamera tersembunyi.

Suhu nggak akan mengungkit-ngungkit masalah ke-absah-an uang ini dengan Mbak A&W itu. Karena ditafsir dari umurnya si Mbak, sepertinya Mbak ini bahkan tidak tahu kalau dulu uang lembar seratusan itu dulu gambarnya bukan kapal layar, melainkan burung dara. Kalau Suhu ngomong uang seratusan gambar Badak, ntar ketauan dong umur Suhu. Palingan Mbak ini taunya uang seratusan cuma ada koin. Itupun belum tentu dia tahu kalau ada uang cepek’an yang gambarnya candi.

“Mbak, saya mau menjelaskan. Ini uang gambarnya WR Supratman. Beliau pemaen biola yang mengarang lagu Indonesia Raya. Saya paham kalau duit gambar Pak Harto sudah tidak berlaku. Tapi, lihat baik-baik mbak, ini WR Supratman.”

“…”

“Kalau WR Supratman Mbak ndak mau terima, kenapa Ki Hajar Dewantara juga Mbak diskriminasi? Saya paham kalau Tuanku Imam Bonjol tidak cukup Mbak, tapi Ki Hajar Dewantara? Taman Siswa Mbak, demi tuhan 2 Mei Menteri pendidikan Indonesia di kabinet kementerian stabil pertama!”

Namun Mbak tetap tidak tergerak perasaannya. Meskipun Suhu telah menjelaskan perjuangan para pahlawan-pahlawan ini agar namanya bisa dicetak di uang rupiah. Mbak tidak berperasaan. Mbak A&W pula lah yang membuat Suhu sadar. Uang tidak bisa membeli segalanya. Apalagi kalau uangnya kadaluarsa.

Suhu,
money can’t buy everything.

Posting ini didedikasikan untuk Sisingamangaraja & Kapitan Patimura(1000), Teuku Umar & Tuanku Imam Bonjol (5000), Kartini & Cut Nyak Din (10000), Ki Hajar Dewantara (20000), WR Supratman (50000). SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 November 2009.

9 comments:

cantika said...

hahaha

ko, yang kap.pattimura sama imam bonjol masih bisa di pake ....

nCy . vLa said...

bwakakakakaka......
asli ngakak!!


eh tapi yang 1000 ma 5000 masih berlaku kayanya..

hu, dah tahu skrg ada uang kertas 2000 kan?

nCy . vLa said...

eh sik, bentar..

lha trus sing bayar makanan'e sopo?

h4d1 said...

Kayaknya uang seratus gambarnya bukan candi deh. Maksudnya yg di belakang gambar rumah Minangkabau kan? Itu gambar gunungan yg biasa ada di wayang. Atau maksudnya cepek'an yg mana ya?
Uang gambar cenderawasih kok gak disebut2?

deeka said...

*pasti mbak-nya ga pernah ke bank deh hu :D

itu maish bisa ditukerin kookkk -masih suka ada nasabah sok polos yg dtg dengan uang2 itu dan pengen dituker yg baru (harusnya si boleh, klo g boleh lapor aja ke kepala cabang sambil ngomel2 bahwa di bank pesaing masih bisa, biasanya si berhasil :p)

dina.. said...

lima ratusan monyet ndak disebut hu?

suhu said...

#cantika:
tapi kan ga cukup can, belasan ribu.

#ncy:
2000 kalo ga salah gambar antasari katanya, udah kelihatan dari milis-milis.

#h4d!:
ya waktu kecil dulu maennya kalo tos koin, bilang nya "rumah apa candi". Kalau mau ngomong "rumah adat minangkabau atau gunungan wayangan bumi gonjang ganjing" ya repot tho. Sing penting ngerti maksud'e le.

#dika:
aku wingenane kae wes meh gebrak-gebrak malik mejo koq ka. "Teman saya kerja di Bank!" Ya ternyata emang masih bisa dipakai tapi mereka enggan menerima soalnya udah jarang diterima di sirkulasi pasar, gitu.

#dina:
yah kamu din, saudara mu ga disebut aja protes. Eh, saudara apa pacar?

nCy . vLa said...

lha lalu sing bayar sopo?!?

*curiga suhu kabur cepat membawa nampan AW* :D

suhu said...

#ncy:
if I don't have the money to pay for the food, it's my problem.

if I don't have the money, but I have drunk and eaten [partially] the food, it's no longer my problem. It's their problem.

*Barney's wink*