Friday, October 30, 2009

Apalah Arti Sebuah Nama, Dengan Apapun Ini Disebut, Tetep Aja Dodol

 

P1050163Jadi semua ini bermula waktu Suhu masih SMA. Tepatnya waktu Suhu masih SMU. Ya, karena pada zaman Suhu bersekolah dulu, namanya sudah diganti. Bukan lagi SMA [Sekolah Menengah Atas]. Mungkin karena pada waktu itu sudah banyak lulusan SMA, jadi namanya diganti oleh Departemen P&K [ya kamu jadi tau Suhu hidup di zaman Depdiknas belum disebut Depdikbud. Tapi kalau ketemu di jalan manggil ‘Oom’ ta’sambit sendal kamu.] Biar lulusan yang sekarang merasa gak kalah dari lulusan SMA, angkatan sekarang disebut SMU [Sekolah Menengah Uatas]. Bahkan kalau tidak salah, dalam beberapa tahun kita sempat memakai nama SLTP [Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama] dan SLTA [Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir]. Tapi beberapa lama kemudian dihapuskan dan diganti SMU tadi. Jelas saja, habis tingkat pertama langsung tingkat akhir. Who the hell made this, or even thought about it?

Nah, di dalam SMU [Sekolah Menengah Uatas] tadi, ada akronim dan singkatan dodol lain di dalamnya. Misalnya, Pramuka [Praja Muda Karana]. 90% tahu kepanjangannya, 10% mengira itu adalah kata baku. Praja Muda Karana [dari 90% yang tahu kepanjangannya, tidak ada yang tahu artinya] adalah kegiatan berorganisasi. Kegiatan organisasi lain yang acap dikenal oleh siswa adalah OSIS. Biasanya badge OSIS dijahit di saku dada kiri seragam sekolah, berlambangkan semacam tugu/piala/monumen/simbol Paramount Pictures yang bisa diartikan macam-macam. Tapi ada satu yang sama, ada tulisannya OSIS. Singkatan dari Ojo Senggol Iki Susu Organisasi Siswa Intra Sekolah.

Tentu saja ada banyak distro dan varian dari OSIS. Misalnya di sekolah Suhu, SMUK Belakambing [Sekolah Menengah Uatas Katolik Belakang Pasar mBlimbing] namanya adalah OWM singkatan dari Oeniversitas Widya Mandala Organisasi Wiyata Mandala. Benul. Dari namanya kedengaran seperti perusahaan jasa bus lokal saingan KD [KrisDayanti Kramat Djati]. Tapi percayalah, OWM pada hakekatnya adalah OSIS. Dan Suhu, dulu termasuk yang aktif di organisasi waktu studi di SMA.

Sampai waktunya Suhu menginjakkan kaki ke masa-masa jahiliyah. Kuliah. Melihat beban berat yang diberikan oleh sindikat kejahatan berkedok pendidikan, Suhu memutuskan. Sudah saatnya belajar. Tidak lagi ikut berurusan dengan berorganisasi. Tapi bukan berarti Suhu tidak mengikuti perkembangan di sekitarnya. Yang dia lihat, nama-nama di sekitarnya, kian hari kian brutal. Misalnya di universitasnya tempat dia dulu menempuh gelar Sarjana Teknik Sipil, NTU [Ninja Turtles University].

Perlu diingat bahwa, di sini, orang-orang sangat maniak singkatan. Contoh, di sini kalau kamu bilang “Kamu dari ICA Building habis ngurus PR langsung ke LT SADM NTU naek MRT terus oper SBS, kalau sudah sampai NIE bus stop kamu SMS ya, aku masih di TR nih.” kalimat ini sangat terdengar normal. Entah kenapa, mahasiswa indonesia di sini, juga ikut-ikutan suka bikin singkatan. Dan singkatannya, maaf, bikin ilfil.

Bukan ini bukan masalah ospek ceria atawa GTD [Get Together Day yang sering kita pelesetkan jadi Get To-get-her Day]. Ini lebih ke arah kenapa organisasi kita yang namanya PINTU [Pelajar Indonesia NTU]? Apa karena memang kita memang mau menyaingi Jelita [Jendela Informasi Wanita] atau menyaingi Microsoft Windows [Kecil-lembut Jendela]. Suhu tidak mau pergi lebih jauh ke tabloid singkat yang dipublikasi mereka, BUNTU [Buletin PINTU]. Fenomena ini juga ditemukan di ECA [Extra-curricular Activities] yang Suhu ikuti. Guitar Ensemble NTU. Mulai terdengar saru.

Nggak cuma di Ninja Turtles University, tetangga juga punya. Anak-anak Indonesia nya ngumpulnya di PINUS [bandingkan dengan PINTU]. Yang Suhu tidak tahu apakah universitas yang sama mempunyai organisasi khusus untuk para lulusannya. Alumni NUS, gitu? Suhu juga tidak terlalu peduli, karena dia memang sudah malas ikut organisasi-organisasi beginian. Bahkan saat dapat ajakan untuk ikut semacam Sunat Senat Mahasiswa yaitu Ninja Turtles University Students’ Union [NTUSU] yang singkatannya nggak aneh-aneh amat, Suhu juga tetap tidak ikutan.

Ya, buat kalian yang belum tahu, aplikasi yang waktu itu lolos. Sekarang, Suhu kembali masuk ke pertarungan memerangi sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan. Untungnya, setelah empat tahun terbiasa dengan kultur pendidikan Singapura, tuntutan sekolah Ndak Usah Sekarang tidak terlalu berbeda jauh dengan waktu dulu di Nanti Tunggu Urgent. Belum satu semester berlalu di Ninjitsu University of Shogun, hari ini keluar berita tentang akan dibukanya university baru. Samurai University.

Entah apakah Suhu akan melanjutkan studi nya ke sana nantinya, itu masih belum ada di dalam rencana menaklukkan semua Dojo di the littlereddot. Tapi yang pasti, kalau Suhu masuk ke Samurai University, Suhu akan kembali aktif di kegiatan mahasiswa, menjadi pengurus utama di Students’ Union. Dan mencetak badge organisasi secara massal untuk ditempelkan di saku dada kiri. Dan kanan.

Suhu,
bukan SUSU.

Wednesday, October 14, 2009

Tidak Mudah

Kamu pasti tahu, tidak mudah bagi seorang manusia untuk hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Okeh, katakanlah saja, kamu punya seorang sahabat karib. Sangat karib. Makan sama-sama tiap istirahat kelas, pulang sama-sama, bahkan outing juga sama-sama. Klop deh pokoknya.

Tapi.

Pasti ada paling tidak satu kali kamu berselisih pendapat dengannya. Entah karena dia suka pakai kaos kaki beda warna atau kalau kentut lepas kontrol. Seringkali, perbedaan antara dua orang manusia, membuat mereka tidak nyaman hidup di sekitar satu sama lain. Karena betapa pun guru PPKn mu menegaskan bahwa kita adalah makhluk sosial manusia pancasila, kita tetap seorang individual yang sedikit banyak punya rasa egois.

Tradisi, adat, budaya, yang ditanamkan sejak kecil. Membuat secara tidak langsung kita menghakimi mana yang benar mana yang salah. Padahal, yang kamu lakukan sejak kecil, yang kamu tahu karena setiap orang melakukannya, yang kamu tahu karena kamu diajari orang tuamu, itu semua belum tentu benar. Bagaimana jika mereka salah?

Bagaimana jika itu benar, di lingkunganmu. Tapi tidak di lingkungannya?

Benul. Memang tidak mudah. Karena garis-garis norma itu tidak pernah tegas lurus dan tegas lepas. Ilmu sosial selalu saja penuh liukan perkecualian dan garis putus-putus yang tidak jelas artinya. Apalagi yang menyangkut emosi manusia. Makhluk sok sial.

Suhu mulai belajar untuk hidup dengan orang lain sejak SMA. Masuk organisasi, berselisih pendapat dengan pengurus OSIS lain. Mengadu pendapat dengan pembina Koperasi sekolah. Dan berkompromi dengan keputusan teman-teman sekelas di Sidang Permusyawaratan Kelas.

Tahap demi tahap, Suhu belajar makin banyak. Hal-hal sepele. Misalnya. Orang tidak suka menunggu, jangan datang terlambat. Tidak semua orang, suka dikritik. Semua orang kalau ditonjok pas lagi ngupil, marah. Itu kira-kira hal yang penting yang Suhu pelajari di bangku SMA tentang interaksi antar manusia.

Sampai di bangku kuliah, Suhu hidup di asrama. Di antara teman-teman seasrama, ada beberapa fenomena interaksi antar manusia yang Suhu baru ketahui. Misalnya, ada orang yang tidak bisa tidur kalau lampunya mati. WOW! Did you see the light when you close your eyes? Ada juga yang bawa guling dari tanah air tercinta nusa bangsa indonesia karena tidak bisa tidur tanpa guling yang sudah dipakai sejak kecil. Tidak mudah bagi Suhu untuk menerima hal-hal baru seperti ini.

Dan tentu saja masih banyak hal-hal yang tidak mudah dicerna akal sehat. Misalnya, tiga tahun hidup sekamar dengan Bejo, Suhu hanya pernah melihat Bejo tidur KURANG DARI tujuh malam. Mitos mengatakan bahwa kejadian sesungguhnya adalah demikian. Suhu main game, Bejo belajar. Suhu tidur, Bejo belajar. Suhu tidur, Bejo tidur. Suhu tidur, Bejo bangun. Suhu tidur, Bejo doa pagi. Suhu tidur, Bejo sarapan. Suhu tidur, Bejo pergi lecture. Suhu tidur, Bejo belajar. Suhu bangun, Bejo belajar dengan posisi sama saat Suhu mulai tidur.

Yang Suhu lihat: Bejo belajar. Cerita apa pun yang berada di tengah-tengah awal Suhu mulai tidur sampai terbangun, hanya misteri. Bejo berkata bahwa dia tidur seperti manusia biasa. Tidak mudah untuk mempercayainya. Tidak mudah bagi kita untuk hidup berinteraksi dengan manusia yang tidak perlu tidur kebiasaannya tidak sama dengan kita.

Tapi perlahan Suhu dibentuk untuk mengetahui. Bahwa tidak mungkin bagi kita untuk hidup tanpa sesama. Begitu banyak petunjuk bahwa Suhu harus hidup dengan manusia lain. Misalnya. Diberi seorang kawan bernama Apong yang suka menyiksa kucing, yang berteman dengan Bhro yang takut kucing. Such a happy couple. Diberi kawan seperti Andre yang pura-pura bisa bahasa Kanton dan teman seperti Welli yang pura-pura mengerti apa yang diucapkan Andre.

Dari situ Suhu mulai sadar. Tidak mudah hidup dengan orang lain. Tapi, masih mungkin.

But since I know you.



Aku jadi tahu, lebih tidak mudah hidup tanpa orang lain.

Suhu,
happy 4th Anniversary, tgwinmg.