Sunday, September 06, 2009

Short Road, Long Journey (Trip to Thailand – Part 10)

Kami kembali ke Bangkok. Dari sana kami memutuskan perjalanan selanjutnya. Kami akan menyusuri daerah Setan Selatan Thailand. Sebuah pulau yang terpisah dari daratan utama Thailand. Destination: Koh Samui.

Ada dua pilihan, jalur udara: dengan pesawat terbang dari bandara Svarnabhumi Bangkok ke bandara Samui di pulau Koh Samui. Pilihan kedua, yang lebih menantang, galak, dan selera pemberani. Dengan bus dari Bangkok, turun di Suratthani, naik Ferry ke Nathon, naik mobil ke Chaweng. This is true, I don't make this shit up.

Tentu saja ada pilihan lebih galak lainnya, terbang ke Kuala Lumpur, lalu naik kereta dan ke Suratthani lewat Hatyai. Tapi itu bukan selera pemberani, itu gila.

Langkah pertama. Kami perlu mencari tiket bus ke sana. Di manakah tempat mencari bus malam? Sebelumnya kami sudah berpengalaman membeli tiket bus langsung ke Pattaya di Ekkamai Tai. Sekarang, benar-benar berbeda. Ini bukan perjalanan Bangkok-Pattaya yang seperti Jakarta-Bandung. Ini adalah perjalanan panjang seperti Anyer-Panarukan.

Untuk perjalanan ke Koh Samui, kami perlu mencari Travel Agent. Benar. Suhu pun perlu Travel Agent. Suhu bukan Andreas Li yang bisa keliling Eropa dengan sebuah ransel. Suhu juga bukan Alphonso Hartanto yang merencanakan semua rute perjalanan dengan matang jauh sebelum berangkat. Suhu adalah Suhu, yang pergi ke mana-mana mau gampang dan murah tapi ndak mau ikut tour.

Sampai di mana kita tadi?

Oh iya. Travel Agent.

P1030552Di mana letak Travel Agent di Bangkok? Meskipun semua backpacker yang pernah ke Bangkok pasti sudah tahu, belum tentu semua pembaca blog tahu. Tempat ini adalah Khao San Road. Di sepotong jalan ini, mungkin satu-satunya tempat di Thailand, di mana populasi turis mencapai sepuluh kali populasi orang lokal. Selepas mata memandang, bule bertebaran di mana-mana. Kalau saja tidak ada bendera-bendera Thailand digantung di jalanan, mungkin kami sudah mengira ini Liverpool.

P1030550

P1030606Di tempat ini para pengusaha lokal mengadu nasib. Menjajakan barang dari yang tidak masuk akal sampai yang tidak pernah terpikir untuk diciptakan umat manusia. Mereka menjual berbagai macam barang dagangan. Yang paling utama adalah T-shirt dengan kata-kata lucu / provokatif. Misalnya tulisan pada kaos yang digantung di kanan bawah pada foto di samping ini. Klik untuk gambar lebih besar.

P1030553

THEY SELL PORNS HERE!

Demikian kami adalah dua turis kesasar di daratan Bangkok. Khao San Road. Seutas jalan yang pendek. Bahkan tempat ini di-cover di Lonely Planet , sebuah Traveller’s Guide. Dengan bar untuk minum minuman keras di gedung yang berhadap-hadapan. Gang-gang kecil berisi travel agent yang klien utama nya adalah para bule luar negeri yang ingin menikmati petualangan keliling Asia. Kami pun masuk ke salah satu kantor kecil Travel Agent.

Di sana lah kami baru menyadari betapa penting nya uang. Ada dua alasan kenapa Suhu berkata seperti itu. Pertama, untuk pergi ke Koh Samui perlu uang. Kedua, uang kami habis.

“Yang, uangku habis.”

“Uangku juga.”

Kami berpandang-pandangan.

“Kita akan mati di sini yang”

“Kalau aku mati duluan … “

“Ssshhh …”

Kami sudah putus asa. Tapi. Tiba-tiba burung burung putih beterbangan di background. VISA! Semua travel agent menerima credit card. Dan bukan kebetulan, Suhu memiliki sebuah Credit Card. Cara pakainya mudah, sederhana. Sebenarnya ini adalah tipe modern daripada Jin Lampu Aladdin. Digesek-gesek, VISA akan mengabulkan keinginanmu.

Singkat kata, Suhu dan tgwinmg memegang dua tiket bis privat menuju ke Koh Samui dengan jalan halal.

Tapi!

Kami masih perlu uang tunai!

Nggak mungkin beli bakmi goreng di pinggir jalan Koh Samui pakai MasterCard kan? Bahkan bagaimana Richard Gere bisa gesek MasterCard di pasar burung India itu masih misteri bagi umat manusia.

Sudah biasa bagi Suhu, untuk menjadi super-observant selama perjalanan di negara asing. Karena dia tahu bahwa memperhatikan keadaan sekitar adalah sesuatu yang sangat berguna terutama di daerah yang tidak kamu kuasai. Bakat alam seperti fotografik memori dan analitical mind bisa menjadi sahabat baik mu.

Itu pula sebabnya Suhu tahu, dan meyakinkan tgwinmg. Bahwa, dan hanya bahwa, tidak ada ATM bank yang kita kenal dalam radius dua kilometer. Dan Suhu meyakinkan kekasihnya bahwa percuma kita menyusuri Khao San Road sekali lagi karena Suhu yakin bahwa tiga ATM yang ada di jalan yang barusan kita lewati itu bukan kombinasi dari ATM Bank-bank yang kita punya. Yaitu POSB, DBS, UOB, OCBC, BCA, Bank Mega, dan Koperasi Karyawan Kolese Santo Yusuf.

Jadi, sekali lagi, tidak ada gunanya kita kembali ke jalan yang tadi. Karena tidak ada ATM Bank-bank tersebut di sana. KECUALI TIBA-TIBA ADA ATM NONGOL DI TENGAH JALAN!


P1030549Ibarat fatamorgana kami menemukan ATM berjalan, I swear to God it was not there yesterday


Kami segera menguras isi ATM tersebut. Kalau kamu punya keahlian mencuri kendaraan bermotor. Di Thailand ada kombinasi curanmor, bajak laut, dan merampok bank. MEMBAJAK MOBIL ATM. Saat Suhu melihat mobil ATM ini, Suhu kembali tersadar bahwa dirinya sangat kecil dibandingkan alam semesta ciptaan Tuhan. Giliran liat duit langsung jadi relijius impulsif.

P1030551

Perjalanan kami mulai dari sini. Khao San Road. Dari gang kecil di Khao San Road, saat itu kira kira pukul enam sore waktu setempat. Benar. Itu adalah jam makan. Suhu dan tgwinmg, bersama dengan segenap bule dari negara Mr Bean. Terdengar dari logat mereka yang sangat keras dan baru menelan permen karet secara tidak sengaja. Usianya sekitar early 20 sampai late 30. Kemudian ada grup lain dengan nada bicara serupa. Kami dibawa berjalan kaki sekitar lima belas menit. Cukup jauh mengingat pemimpin rombongan ini adalah seorang Thailand lokal yang bulet bulet lincah. Rupanya kami masih menjemput rombongan lain di gang yang lain. Rupanya travel-travel agent itu saling mengabari dan kontak satu sama lain agar bus yang pergi selalu penuh. Cerdas. Belajar dari cina ya? Kami diminta menunjukkan slip tiket dari travel agent, dan koper kami dimasukkan ke bagasi bus privat itu.

P1030613

Kami naik bus itu. Lumayan. Bus nya ber-AC. Tempat duduknya bisa direcline untuk posisi tidur. Lumayan luas. Satu bus berisi kurang lebih 30 an orang. Ada toilet dalam bus. Ideal buat yang hobi eek sambil lihat pemandangan.

Yang jadi masalah, sopir bis ini rupanya baru minum Kratingdaeng dioplos sama bodrex dan kemenyan. Dengan refleks superhero dia berhasil melakukan manuver-manuver berbahaya. Dan. Rem mendadak di saat diperlukan. Untuk Suhu yang sudah biasa menerima getaran-getaran tidak terduga saat konstruksi fondasi, goyangan ini mah bikin ngantuk. Tapi untuk tgwinmg, bikin muntah. Memang kami adalah pasangan yang kompak. Di saat tgwinmg menahan rasa pusing mual mabuk darat, Suhu sudah ngiler-ngiler mimpi makan Tomyam di Koh Samui.

Bus itu berhenti di Chumphon untuk makan malam pukul setengah dua belas malam waktu setempat. Ya, benul. Orang Thailand punya waktu yang aneh untuk makan malam. By the time saat itu, bule-bule kelaparan itu sudah belingsatan tidak karuan.

Tempat ini adalah persimpangan jalan untuk orang yang ingin ke Koh Tao dan ke Koh Samui. bule-bule yang ingin snorkling di Koh Tao, semuanya diturunkan di sini. Dengan backpack yang ukurannya dua kali tgwinmg, mereka melambaikan tangan pada kami yang meneruskan perjalanan kami ke Koh Samui.

Akhirnya pukul delapan pagi kami sampai di Suratthani. Di Suratthani terjadi hal-hal yang lebih mustahil. Ya, tentu. Delapan pagi. Kami berangkat jam enam sore. Itu terasa seperti empat belas jam yang lalu. Yeah, repeat after me. F*in' fourteen hours ago. Dan antara Bangkok dan Suratthani, tidak ada perbedaan zona waktu. Tentu saja empat belas jam kurang kalau dihitung pemberhentian di Chumphon. Tapi berhenti di Chumphon itu tengah malam. Bahkan beberapa dari kami percaya perhentian di Chumphon itu hanya mimpi.

Kami diturunkan dari bus dalam keadaan ngantuk. Katanya ini Suratthani. Pelabuhan yang terletak di daratan utama Thailand. Tempat di mana ferry kami akan berangkat ke Koh Samui. Tetapi selepas mata memandang, tidak ada laut.

Dua orang asia [Suhu dan tgwinmg] diturunkan bersama bule-bule bau keju. Lalu ada seorang bapak-bapak bercelana pendek dan berkaos T-shirt putih dengan tampang Benyamin Sueb baru bangun. Dia meminta kami untuk menunjukkan tiket yang tadi kami peroleh dari Travel Agent. Kami menunjukkan. Lalu kami diberi stiker bertuliskan SAMUI.

Bule-bule itu juga diberi stiker. Sampai ada seorang bule. Yang kehilangan tiketnya. Orang itu tidak mau memberikan stiker. Terjadi perselisihan. Dari ukuran, jelas Benyamin Sueb kalah telak. Tapi mengingat bahwa di perkampungan sini semuanya pasti teman Benyamin Sueb, bijak bagi Arnold Swasanazeger untuk mengalah. Akhirnya, bule itu mengalah. Dan membayar 350 Baht! Benar-benar pemerasan! Buat yang mau ke Thailand, WASPADALAH!

Lalu satu persatu dari kami dipanggil oleh si Benjamin Sueb masuk ke sebuah bilik yang mencurigakan. Di dalam bilik itu ada seorang pria berkacamata kurus sayu [primata kuyu], yang mengaku sebagai pihak semacam imigrasi Suratthani. Suhu sudah lumayan ragu saat orang itu meminta untuk lihat paspor. Lagian mana ada kantor imigrasi di sebelah kandang ayam dekat sumur?

Tapi, setelah empat belas jam di atas bus yang ngebut terus ngerem ndadak tiap dua menit sekali. Kamu akan melakukan hal yang sama. Berikan paspormu. Primata kuyu mulai mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa mandarin, korea dan jepang. Sampai Suhu menyodorkan Garuda emas di sampul hijau.

You must buy ferry return ticket from here.

No need. I'll buy from Nathon.

No no no you can not buy from Nathon. Only can buy here.

Yes, I can.

Primata kuyu terus mengeluarkan fakta-fakta yang condong ingin memaksa turis yang tidak berpengalaman untuk membeli jasa transportasi darinya. Tapi Suhu, meskipun ngantuk, tidak termakan tipuannya.

I will not be coming back to Suratthani.

How will you go back to Indonesia?

Thats none of your fucking business.

I will fly from Samui to Singapore.

But it's very expensive.

Yap, NO PROBLEM.

You also can take flight from Suratthani Airport.

Primata kuyu terus melancarkan tipu muslihatnya. Suhu yang sudah sering nipu orang, tahu jelas bahwa orang nipu itu selalu takut ketahuan. Suhu sudah siap mempercepat proses ini dengan mencengkeram kerahnya. Tapi tgwinmg memegang lengan Suhu penuh arti "Jangan, biar aku aja." "Sudah, sabar. Ndak usah diladeni."

Akhirnya primata kuyu memberikan tiket one-way ke Koh Samui dari Suratthani. Tapi kami tidak langsung berangkat. Kami masih harus menunggu primata kuyu itu nipu bule-bule yang gampang dipengaruhi. Suhu terus memperhatikan bilik itu. Rupanya mereka sengaja dipanggil satu-persatu agar lebih mudah ditipu. Busuk. Ternyata memang negara dunia ketiga seperti ini, cari uang memang susah. Seperti Indonesia, seperti Malaysia, cari uang memang tidak mudah. Ini sudah mensunnahkan segala cara.

Saat-saat seperti ini, Suhu merasa bersyukur menjadi warga negara Indonesia. Bukan hanya garuda emas di sampul hijau yang bisa membuat orang negara lain takut. YEAH, WE BOMB EACH OTHER WHEN WE FEEL UNHAPPY. Tapi juga karena terbiasa di kehidupan yang keras. Apalagi menjadi minoritas di negara yang semuanya serba mungkin. Kami sudah terbiasa untuk expect the unexpected.

Sekitar pukul sembilan, sebuah bus reyot. Tanpa jendela, sudah lepas semua. Tanpa pintu, sepertinya sengaja dilepas. Kaca spion tinggal satu. Menjemput kami. Enam belas orang diberangkatkan ke pelabuhan Suratthani. Lumayan dekat. Kurang lebih setengah jam kami sudah sampai. Di situ lah kami melihat. Kesalahan kami.


P1030616

Stiker kuning itu harganya 350 Baht!

P1030617P1030615

Wajah gembira penuh keceriaan seolah-olah sudah sampai di tujuan. Padahal masih perlu empat jam naik Ferry

P1030618 P1030619

Setelah memastikan bahwa tidak ada barang bawaan yang tercecer dan pacar tidak tertinggal, kami melanjutkan petualangan menuju ke Koh Samui. Naik ferry selama empat jam. Jangan bayangkan ferry yang besar dan leluasa seperti Ketapang-Gilimanuk.



Jam pertama, berada di dalam kabin. Tidak kelihatan apa-apa. Mulai ada beberapa orang muntah-muntah. Kebanyakan yang muntah adalah perempuan. Atau tipe-tipe pria yang kelihatannya lemah.

Jam kedua, bosan di dalam kabin. Naik ke atas. Angin sepoi-sepoi. Selepas mata memandang hanya ada susu bule dijemur laut. Laut. Laut. Andaikan manusia belum menciptakan kompas, mungkin tiga hari lagi kita sampai Sulawesi. Halo pong!

Jam ketiga, mulai pusing. Gelap. Kayaknya sempat ngiler-ngiler agak banyak. Dan rasanya agak aneh. Dan kayaknya kena bule sebelah. Soalnya dia bilang "Stop puking on me!". Gelap.

Jam keempat. Lho? Sampai?

P1030621

Empat jam, tiga kresek cairan lambung, dua insan, satu tujuan. Koh Samui.

Suhu,
hoeekkkk...

---------------------------

Apakah perjalanan empat belas jam bus malam, setengah jam bus reyot, empat jam ferry antar pulau. Pantas? Layak? Posting berikutnya akan dipenuhi dengan foto-foto yang kami ambil di Koh Samui. Nantikan di kisah di balik hutan bambu. Koh Samui, Lagi-lagi Dikompas Banci. Koh Samui: Mortal Paradise.

5 comments:

nCy . vLa said...

wah wah.. fotone suhu segede gambreng, kok fotone lita minisize gitu :D

suhu said...

#ncy:
ilusi optik, kalau kamu amati pemandangan sekitar, pemandangannya size nya sama. Itu adalah ukuran kami pada resolusi asli.

姍姍 said...

hello, baru liat post2 di thailandnya. berapa lama ke thailand?

vy said...

keren...suhu banget..ngakak bacanya

suhu said...

#ven:
kurang lebih semingguan gitu deh. cuman cover southern thailand. you should try Koh Samui for stepTheWorld. Ada direct flight dari singapore.

#vy:
serius ini. jangan ketawa.