Saturday, August 08, 2009

Terlepas Dari Mulut Macan Masuk Mulut Buaya (Trip to Thailand - Part 7)

Pernah dengar istilah 2 in 1? Two in one. Dua dalam satu. Contohnya banyak. Untuk perawatan rambut ada 2 in 1 Shampoo + Conditioner dalam satu kemasan. Untuk furniture ada kursi sofa 2 in 1 merangkap bed. Banyak sekali di kehidupan ini kita menjumpai istilah-istilah 2 in 1. Bahkan sampai celana dalam pun ada 2 in 1.

Seperti itulah Samphran Elephant Ground. Hari itu, Suhu dan tgwinmg melihat kerumunan orang-orang. Nampaknya mereka sedang terkagum-kagum melihat sesuatu. Samphran Elephant Ground. Pasti mereka melihat gajah. Kami berdua pun celingukan di belakang kepala orang-orang. Mana. Mana gajahnya. Mana?

Dengan gerakan koordinasi gerak horizontal sikut dan gerakan maju kaki, kami berhasil maju ke depan barisan. Bukan. Gajah. Ini adalah Kucing Macan.




Masss ... Meooong ...


Jadi, selain lahan luas berisi gajah-gajah bermain baseball sepakbola, tempat ini adalah tempat 2 in 1. Ada gajah, ada macan pula! Betapa senang hatiku karena untuk harga yang sama, kita dapat additional items. Tiba-tiba merasa darah cina bergejolak mengalir di sekujur tubuh. Macan kembar ini, memang ditaruh di atas mimbar untuk diajak befoto-foto bersama turis. Hanya 100 Baht.

"Mau foto, yang?"
"Hiii takut ih yang, ntik dicakot."
"Dirantai koq macan'e. Lagian ada pawang'e."
"Masiyo yo, kan foto'e deket mbek macan'e."
"Beranikan dirimu! Kapan lagi isa foto mbe macan kembar?"
"Emang itu kembar?"
"Lha itu tulisan'e kata'e kembar."

Sejujurnya, pas itu Suhu juga jadi mikir-mikir lagi. Memangnya bagaimana caranya tahu itu macan kembar atau tidak? Bukannya semua lorengnya ya kurang lebih kayak gitu? Kecuali ada eksperimen semacam ini. KEMAMPUAN VISUAL MANUSIA MEMBEDAKAN MACAN KEMBAR.

Siapkan satu mahasiswa Teknik Sipil yang sedang mengerjakan skripsi. Spesies jenis ini terbukti paling netral. Tidak pernah jalan-jalan, tidak pernah shopping, tidak pernah nonton tivi, tidak pernah maen playstation, tidak terlalu banyak tercampur dengan pengaruh teknologi manusia. Intinya, tingkat intelejensianya cukup tapi masih belum rusak oleh hedonisme. Karena pada eksperimen semacam ini, kita perlu membangkitkan insting manusia sebagai primata.

Siapkan dua ekor macan kembar. Definisi kembar di sini adalah lahir dari satu induk dalam masa kandungan yang sama. Sebutkanlah nama dua macan kembar ini adalah Micin dan Mucun.

Mahasiswa dimasukkan satu ruangan sempit dengan ventilasi terbatas. Diberi satu foto closeup Micin. Lalu dialunkan lagu-lagu klasik. Foto closeup Micin diambil, lalu diganti foto closeup Mucun. Lalu dialunkan lagu-lagu metal. Ulangi prosedur ini. Setelah kira-kira sepuluh cycle, mahasiswa berspesies dasar primata diharapkan mulai develop relationship between jenis lagu dan nama macan.

Kemudian mahasiswa dipindahkan ke ruangan kosong yang lebih besar. Lagu dangdut dinyalakan. Dua ekor macan kembar dilepas ke dalam ruangan berisi mahasiswa.

Bahkan eksperimen serumit ini pun tidak akan mampu membuktikan bahwa dua macan di Samphran Elephant Ground itu kembar.

"Macannya tidur."
"Foto dari luar deh."
"Cepetan, itu ada keluarga jepang mau foto"

Jepret.

Suhu buru-buru berpose, tgwinmg dengan sigap menjepret Suhu dengan ketapel kamera. Lalu keluarga Jepang itu berjalan perlahan ke samping dua macan yang sedang tidur itu. Mereka menyerahkan beberapa lembaran sepuluh Baht ke pawang macan itu. Lalu.



Nggak mau rugi bayar 100 Baht, foto dari luar pagar



CETARRR!!!!

Pawang macan itu melecutkan cemetinya. Keluarga Jepang terperanjat. Bapaknya melongo, ibunya bingung, anak laki-laki memeluk paha ibunya, anak perempuan berteriak "kimochiii..." "MAMAAAAAA". Pawang macan mengambil minum segelas air mineral. Ditenggak, dikumur-kumur. Lalu disemburkan ke Micin, sisa air di gelas disiramkan ke Mucun.

Perlu diketahui bahwa semua kejadian ini terjadi kurang dari satu menit. Pawang ada di luar jangkauan macan. Ingat: macan dirantai. Yang ada dalam jangkauan terkam macan kembar adalah keluarga turis Jepang yang sekarang celananya sudah basah kena pipis sendiri. Entah karena takut diterkam macan yang baru di-provoke, atau karena takut dipecut dan disembur sama pawangnya.

Suhu, sebagai Sarjana Teknik Sipil, cukup mengerti tentang kekuatan beberapa material struktur. Baja misalnya, merupakan sejenis logam. Logam, betapa pun kuatnya, kalau sudah berkarat, kekuatannya akan berkurang secara signifikan. Melihat bahwa rantai dua ekor kucing besar itu sudah berkarat, Suhu mengajak pacarnya pergi mencari atraksi lain.



Cintailah lingkungan


Setelah melihat-lihat sekitar. Kami melihat sebuah kolam luas yang di kelilingi oleh kawat setinggi leher. Baru kami menyadari bahwa Samphran adalah lahan 3 in 1 [Lahan dengan peternakan tiga satwa, bukan lahan cari uang buat joki di Jakarta!]. Rupanya di sini ada buaya juga. Terakhir kami melihat buaya adalah saat kami pergi ke Singapore Zoo beberapa tahun silam. Itu pun kami tidak seberapa yakin apakah itu buaya atau pohon yang hanyut. Yang lebih jelas, waktu Suhu pergi ke Jatim Park. Ayam dilempar ke dalam kandang buaya. Tiba-tiba, seperti felem Transformers, batang pohon berubah jadi reptil. Memang buaya memiliki kemampuan untuk stop-motion, membuat dirinya dikira batang pohon yang sudah membusuk.



Buaya ini bernama Malin Kundang. Dia dikutuk ibunya menjadi batu.


"Yang, banyak sekali ya buayanya."
"Iya. Masak semua asli?"
"Nggak lah, banyak gini. Yang di pinggir-pinggir ini bukan lah."
"Iya, mana ya yang asli?"
"Tuh yang! Itu, jalan!"
"Hahaha patung yang ini bagus ya, kayak aslinya."
"Iya. Yang mulutnya buka itu kan."
"Iya, yang mulutnya buka itu pasti patung. Kalau buaya mau nipu mangsanya dia mesti nutup mulut, kakinya ditekuk di perut, terus setengah badan masuk air. Biar dikira batang pohon yang hanyut sampai ke tepi sungai."
"Iya. Tapi bagus patung'e. Mirip asli!"
"Eh, koq kayak idup ya."
"Robot, yang! Lihat, perutnya kembang kempis. Pasti pake mesin hidrolik."
"Iya, mungkin ditutup pake kulit buaya imitasi ya. Mata buayanya juga bagus."
"Eh! Iya, kayak kelereng. Terang ya."
"Kelopak mata reptil itu ada dua lapis biasanya, detail banget bikin patung e."
"Kayak e barusan kedip deh."
"Kedip?"
"Iya, keren ya robot buaya e."
"Kayak e gak bakal seniat itu deh kalau bikin robot buaya."



Malin Kundang renang


Blub-blub-blub. Robot buaya kami berjalan ke air lalu berenang. Menyelam.

Interesting Facts:
Buaya menutup mulut, kakinya ditekuk di perut, terus setengah badan masuk air. Biar dikira batang pohon yang hanyut sampai ke tepi sungai. Adalah cara BUAYA DI HUTAN untuk menipu mangsanya. Buaya membuka mulut, kakinya dibuka dengan lebar. Jauh dari air, di daratan kering, guling-guling di pasir sampai badannya berdebu dan warnanya mirip batu. Adalah CARA BUAYA DI KEBUN BINATANG THAILAND menipu mangsanya. Siapa tahu ada turis topinya jatuh, "Eh, topinya jatuh di moncong patung buaya. Ambil sendiri deh" ... HAP! Lalu ditangkap. *dinyanyikan dengan ending lagu Cicak cicak di dinding, nada dasar Do = C*

Di mana pun kalian, tidak hanya di Thailand. Kalau ada buaya, batang pohon, robot, jangan dekat-dekat. Jangan ambil resiko.



Suhu,
Waspadalah! Waspadalah!

------------------------------------------

Next episode: Episode yang mungkin paling ditunggu-tunggu oleh pembaca blog yang sudah melihat sneak preview di akun mukabuku Suhu.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Pattaya: Jangan Ganggu Banci!

2 comments:

Idub said...

Whahaha.. gak usah jadi ST dulu biar bisa ngukur kekuatan logam berkarat.. dasar sarjana pede banget.. hahaha..

potonya yang lagi gendong buaya beneran, yeah living crocodile, i mean,.. :D

piss.. (ada banci? ditunggu..wkwkwk)

suhu said...

#idub: haha kalo nggendong buaya beneran mgkn skrg ngeblog nya pake kaki ...