Monday, August 03, 2009

Rooney, Gajah Kecil Berbelalai Panjang (Trip to Thailand - Part 6)

Di floating market itu, sebenarnya Kwik Lee menawarkan beberapa atraksi yang tidak cuma melihat turis-turis mengapung di atas sampan motor.

"Who want to see snake? Snake! SSsshhnake!" *sambil meniru goyang ular*
"Excuse me, sir?"
"Kwik Lee."
"Ok, Kwik Lee. What snake?"
"Snake show. 400 baht only."

Setelah ditilik lebih lanjut rupanya hanya melihat ular. Tidak ada atraksi pawang dimakan ular atau sebagainya. Tapi kami juga tidak begitu jelas, karena begitu diberitahu kami harus membayar 400 baht lebih untuk nonton ular, kami langsung ilfil. Begitu pula saat Kwik Lee memberi tahu tentang show Gajah.

"Ok you two go snake show follow him. Kwik Lee."
"You don't have to repeat your name every now and then."
"How about you two? Want see elephant?"
"You want to see my elephant?"
"What elephant?"
"Kwik Lee. We go to the jungle, trekking with elephant across the jungle."

Kelihatannya asyik nih. Naek gajah, menembus hutan. Terus di foto-foto yang dia tunjukkan, ada masuk sungai yang kedalamannya sedangkal perut gajah. Jadi kita duduk di atas gajah, gajahnya menyebrang masuk sungai sehingga seolah-olah kita berjalan di atas air. Gajahnya mati tenggelam dong. Ya nggak lah, kan belalainya naek kayak periskop kapal selem.


Yang dipromosikan seperti ini, tapi nggak semua yang elo denger itu bener. Yang bener mungkin cuma gajahnya.


Mata tgwinmg berbinar-binar mendengar promosi dari Kwik Lee. Satu tekad bulat tgwinmg, pokoknya MAU NGASIH MAKAN GAJAH. Maka dengan semangat juang Sumpah Pemuda, tgwinmg mengangkat tangan tinggi-tinggi siap menjawab pertanyaan ibu guru di kelas.

"Can we feed the elephant?"
"Kwik Lee."
"Yang, kayaknya orang ini gak seberapa ngerti kamu ngomong apa"

Suhu sih kurang seberapa tertarik dengan jungle trekking dengan gajah. Kan belalaiku lebih panjang dari belalai gajah Kwik Lee. Masalahnya simpel. 600 Baht. Edan kalo suruh bayar segitu, terus nanti dikasih parang, suruh nebas-nebas hutan, yang nantinya bakal dijadiin objek wisata baru sama Mimi. Ini mah jelas-jelas sindikat kejahatan berkedok pariwisata. Atau jangan-jangan di tengah hutan nanti kita ditangkap dan dijadikan budak-budak pembangunan expansion floating market.

Jadi selama di Floating Market itu kita duduk bengong, nggak ngapa-ngapain. Ya istilah romantisnya spending quality time with my better half. Nyatanya sih nungguin peserta tour yang lain yang masih nonton ular sama bonceng gajah goyang. Sampai akhirnya semua peserta berkumpul kembali di hadapan Tuhan YME.

Waktu mereka berbondong-bondong masuk mini-van Tour, tiba-tiba kami melihat ada yang jual souvenir. Berbentuk seperti lepek [apa bahasa indonesia lepek?] yang buat minum minuman panas, dituang, biar luas permukaan lebih besar, membuat kalor pada minuman panas lebih cepat terdistribusi ke udara sekitar, mempercepat waktu menunggu, langsung disruput maknyus.

Kita sih gak seberapa tertarik yang gitu-gituan. Kecuali. Kecuali ada foto kita dicetak di sana. Tiba-tiba pembeli itu menampilkan foto kami berdua. Setengah kaget setengah takjub, kami pun jadi tertarik untuk membelinya. 150 Baht. Yang masih menjadi misteri buat kami, bagaimana dia bisa ingat wajah kita, memamerkannya ke kita, dan menunjukkannya pada kita tepat waktu, padahal foto ini diambil sekitar enam jam lalu. Dengan traffic ratusan orang per jam. Ajaib.


Mesra ya?

Tengah-tengah transaksi, kami melihat Tour Guide kami celingukan, lompat-lompat seperti gorila baru disunat, sambil berteriak-teriak NGUKKK NGGUKKK A'AKK NGUK!!!

"Kwik Lee ... Kwik Lee !!!"

Oh setan alas tenan oq wong iki, dari tadi aku nungguin jam-jam an ndak ngomong apa-apa, sekarang aku cuma beli satu barang digusah-gusah kayak bebek.

Setelah kami masuk mobil, mobil berjalan, kami mengeluarkan souvenir kami tersebut. Kalau dilihat-lihat bagus juga. Kalau dilihat-lihat menarik juga. Kalau dilihat-lihat ... koq nggak kayak tempat yang kita datangi tadi ya?

Dari tempat itu kami dibawa ke Royal Thai Handicraft Centre. Di sana kami mendapati beberapa bapak-bapak jongkok bawa kayu sama pahat, duok duok duok, terus dikerok pelan-pelan. Mereka membuat semacam lukisan-lukisan yang menyatu dengan piguranya dengan nuansa tiga dimensi. Ada yang dijadikan corak pinggiran meja, kursi, lemari, jamban duduk sampai yang hanya jadi pajangan belaka.



See No Evil, Talk No Evil, Hear No Evil, Touch No No No

Selain ukir-ukiran kecil, ternyata bapak-bapak itu kalau bosan juga pingin bikin yang besar. Entah apa alasannya, mereka demen sekali membuat patung Gajah. Mungkin karena Thailand disebut negara gajah putih, mungkin juga karena patung landak susah bikinnya. Masih ingat tentang cita-cita mulia tgwinmg untuk memberantas kelaparan di negeri Gajah? tgwinmg sangat ingin memberi makan gajah langsung dari tangannya.


Gajah ini didorong ditepok tepok tetep gak mau makan



Lalu kami menuju ke tujuan berikutnya. Samphran Elephant Ground & Zoo. Pertanyaan pertama yang ada di hati kecil Suhu adalah: Kira-kira mirip nggak ya sama yang di Waikambas? Pertanyaan itu terus mengusiknya, sampai Suhu tiba-tiba tersadar. Kan aku nggak pernah ke Waikambas.

Kwik Lee mengumpulkan anggota tour nya. Memberikan pesan singkat. Di sini kita akan makan siang, restoran depan Samphran Elephant Ground & Zoo. Setelah makan kita akan nonton atraksi gajah. Buat yang sudah pernah ke Singapore Zoo, acara ini jauh berbeda dengan gajah-gajah yang ada di Singapore.

Di Singapore, gajahnya ada lima, pawangnya ada sebelas. Mau ke mana-mana dituntun. Emcee berdiri di depan penonton, menjelaskan apa yang terjadi di lapangan dengan Sound system yang sudah ditata sedemikian rupa sehingga kita seakan-akan menonton acara discovery Channel tentang bagaimana gajah membantu hidup manusia.

Di Thailand, gajahnya ada banyak. Pawangnya ada dua. Gajahnya dibiarin mau apa juga pasrah. Pawang sibuk menghindari gajah. Tidak ada Emcee. Sound system memutar lagu irama dangdut setempat. Dan kita seolah-olah menonton pemanasan World Cup.


Nakamura dan Henry ada di satu team dan ngetem di depan gawang

Masalahnya dengan gajah dan sepakbola adalah. Mereka nggak seberapa berminat mencetak gol. Mereka lebih senang menarik perhatian penonton. Misalnya Henry dan Kaka yang mencoba mendekat ke arah penonton. Begini kira-kira percakapan antara Suhu dan tgwinmg tentang gajah-gajah beringas itu.

"Eh gajahnya koq dilepas gitu ya?"
"Tenang aja, yang. Kan ada pawangnya." *suara meyakinkan biar pacar gak khawatir*
"Pawangnya cuma segitu. Gedhe'an gajah e juga."
"Tenang aja, yang. Kan ada pagernya."
"Tapi gajahnya kan bisa ngelewatin pagernya."
"Nggak bisa yang, mereka terlalu berat buat lompat."
"Tapi cukup berat buat ngerusakin pager. Tuh."
"GYAAAA... GAJAH GILAAA!!!"

Henry dan Kaka berusaha menggulingkan pagar


Dasar gajah-gajah cari perhatian. Mereka melakukan atraksi-atraksi selama temannya saling oper-operan bola. Gawangnya gak dipedulikan. Bahkan beberapa ada yang cuma males-malesan minum limun sambil nonton tivi. Tapi yang pasti, gajahnya BWANYAK, gak pelit kayak di Singapore Zoo.

"Yang! Lihat! Itu ada yang main trampolin!"
"Hah? Mana-mana?"
"Ituuuu!"
"Mana???"
"Depan sendiri!"
"Hah? Mana?"
"Torres! Baju Torres!"
"Itu tamburin. Bukan trampolin!"

Terima kasih Tuhan kamu telah mengkaruniai aku dengan pacar yang sabar.


Torres maen tamburin

Di antara mereka semua, ada satu yang menarik perhatian penonton. Yang dengan khidmat maen sepakbola. Dengan tulus menanti datangnya bola lambung. Mengumpan dengan sepenuh hati. Mengacuhkan temannya yang cari perhatian. Berkonsentrasi pada professional football. Dia adalah. Rooney. Gajah kecil berbelalai panjang.


Rooney konsentrasi meniti karir di dunia persepakbolaan.

Kami sangat terharu dengan perjuangannya di lapangan hijau tandus. Saat itu pula kami memutuskan. Kami akan mengadopsinya memberi dia makan. Dari tangan kami sendiri. Akhirnya pertunjukan show gajah selesai. Kami maju dan membeli pisang dari pawang. Lalu mencari-cari Rooney. Kami bagi tugas, tgwinmg memberi pisang. Suhu menggusah-gusah pengunjung yang lain biar fotonya kelihatan bagus.


Impian memberantas kelaparan terwujud

Setelah acara makan-makan [gajah, bukan kami makan siang ronde dua]. Kami berjalan keliling-keliling Elephant Ground. Tebak siapa yang kami temui. Rooney! Tampaknya dia masih mengenali kami. Memang benar kata pemeo bahwa Gajah tidak pernah lupa apa yang dia ingat. Masalahnya, siapa yang bilang bahwa dia bisa mengingat?


Untuk kenang-kenangan dari Samphran kami berfoto bersama Rooney, iya gajahnya dilepas gitu aja di sini.

Samphran Elephant Ground adalah tempat yang kecil dan mungkin tidak terkenal. Tapi setelah seharian di Bangkok [yang terkenal], di Floating Market [yang terkenal], dan hidup selama enam tahun di Singapore [yang terkenal]. Mungkin kita sudah kangen ke tempat yang terpencil, sederhana, apa-adanya. Dan tidak terkenal. Di mana gajah hidup berdampingan secara wiraswasta dengan manusia.

Suhu,
wong biyasa-biyasa.

-------------------------

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Kisah perjalanan di Thailand seolah tak ada habisnya. Suhu akan pulang ke rumah untuk mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya. Tapi bagaimanakah cara pulang kalau di tempat ini saja masih tersesat?

Masih di kisah di balik hutan bambu. Masih di Thailand. Masih di Bangkok dan sekitarnya. Masih di SAMPHRAN ELEPHANT GROUND. Suhu tersesat di dalam dan merasakan secara langsung peribahasa Terlepas Dari Mulut Macan Masuk Mulut Buaya.

4 comments:

dina.. said...

oo..makae milih sing cilik dijak poto2 yo hu..

btw, blog-e bhro kok dikunci ngono hu? ono opo njerone?

suhu said...

#dina:
inggih, kalo sing gedhe ndak cukup kamera e.

Bhro, ada pengunjung laen yang numpang interview lagi. monggo dijawab.

nCy . vLa said...

ooo ternyata tgwinyg dikasih suhu piring .... :p

lepek cinta ya hu hihihihi....

suhu said...

#ncy:
ngga cuma piring, ncy. juga cinta dan kasih sayang. hahaha