Tuesday, August 18, 2009

Pattaya, Nggak Cuma Banci (Trip to Thailand - Part 9)

Hari-hari di sana bukanlah hari yang penuh tekanan seperti layaknya di Singapore. Semua orang bergerak dengan lebih lambat daripada orang-orang Singapore pada umumnya. Hidup mereka lebih … santai. Meksipun sama-sama panas, seperti layaknya di Singapore, tapi tetap saja hawa di daerah ini berbeda. Mungkin inilah kehidupan pantai.

Kami berdua pergi menyusuri pantai, menikmati hembus summer breeze yang sepoi-sepoi asoy geboy. Semua orang nampak menikmati hidup. Sepanjang pantai hanya ada turis-turis bersantai di kursi-kursi yang disewakan. Benar-benar daerah pariwisata, semuanya pakai uang. Satu kursi bertarif 30 Baht untuk sepanjang hari.

Mau kamu disuruh bayar 30 Baht seharian buat duduk di kursi kayak gini?

Berbekalkan buku bacaan yang kami bawa dari hotel, kami bermalas-malasan di kursi itu. Matahari datang dari arah depan kami. Tentu saja kalau kamu cermat melihat foto di atas, kamu sudah tahu hal ini. Chapter demi chapter buku bacaan kami lewatkan. tgwinmg meletakkan bukunya di meja. Mengambil sebotol air mineral gratisan yang kami dapat dari kamar hotel. Suhu melakukan tindakan serupa.

Dia sangat cantik. Gumam Suhu dalam hati.

Pacarku bulet. Gumam tgwinmg dalam hati.

Dan mereka saling jatuh cinta.

Tiba-tiba Suhu menemukan sebuah ide yang cemerlang.

“Eh yang, kamu masih inget gak? Kamu kan sering tanya, kerjaanku itu ngapain aja. Dari Senin sampe Sabtu, kadang lembur. Ngapain di kantor?”

“Iya, kenapa?”

“I’ll show you.”

Suhu berjalan menjauh dari kursi itu. Mengambil gelas air mineral yang hanyut disiram ombak. Menggenggam pasir. Membiarkan pasir yang ukurannya kecil melewati sela-sela jarinya. tgwinmg membiarkannya, bingung apa yang dilakukan oleh Suhu. Suhu meraup air laut dengan genggaman tangannya.

Pasir, Air, Mould. tgwinmg mulai menyadari apa yang dilakukan kekasihnya. He was doing the only thing he’s doing in his life. Building things. Jauh dalam hatinya tgwinmg tahu Kalau di sini ada semen, bisa-bisa sampai besok kita gak balik ke hotel  bahwa Suhu sangat enjoy melakukan hal yang di depan matanya.

Gelas sebagai mould, pasir sebagai aggregates, air laut sebagai binder, sandal jepit sebagai extractor

tgwinmg mendapat kursus kilat bagaimana membuat bangunan simetris semi-cor

 

hueco Kebanyakan orang ke pantai untuk membuat istana pasir. Tapi tidak sama halnya dengan kami. Kami bukan orang kebanyakan. Suhu adalah seorang sarjana teknik sipil dengan pengalaman kerja yang lebih dari orang kebanyakan. Maka. Kami. Memutuskan untuk membuat sesuatu yang lebih menantang.

 

 

 

 


P5041581 P5041582

Ya. Kami membuat replika Hueco Mundo. (虚圏, ウェコムンド, Weko Mundo; Spanish for "Hollow World", Japanese for "Hollow Sphere").

 

Tak terasa, hari perlahan mulai berlalu. Sang surya pun mulai kembali ke peraduan. Matahari pun bisa lelah. Waktunya ganti shift dengan rembulan. Menandakan waktunya umat manusia untuk kembali. Beristirahat. Pulang. Ke orang-orang yang dicintainya. Dan meluangkan waktu bersama mereka.

 

Suhu pun tersadar. Mungkin. Pattaya cuma banci. Mungkin. Tempat ini nggak ada apa-apanya dibanding pantai-pantai di pulau dewata. Suhu sadar saat melihat bahwa matahari terbenam di sini tidak seindah di Tanah Lot. Mungkin tempat ini tidak seindah yang di iklan pariwisata. Suhu mendadak tersadar.


Maybe. It’s not the place. Maybe, it’s the one who you’re with.

If I Aint Got You - Alicia Keys

P5041569

Suhu,
will not be complete without you.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu: Short Road, Long Journey.

3 comments:

Idub said...

aaaawwwww...

*berkaca-kaca*

:P

nCy . vLa said...

ceileeee... co cwiiiiit.......

yang ngefotoin berdua sapa hu? banci? :p

suhu said...

#idub:
udah udah bud. udahhh. tuh kan basah semua. kalau mau nangis ke pojokan sana, ntar dikira aku yang bikin kamu nangis.

#ncy:
wah kamu gak tau abis foto itu ada adegan felem laga. yang motoin lari membawa kamera kita!