Thursday, November 05, 2009

Kalo Kangen Tinggal Pulang

Beberapa tahun silam, waktu Suhu masih SMA kelas 3.

Pada saat ini orang-orang kebanyakan mulai bingung masuk ke universitas mana. Begitu banyak pilihan sehingga orang-orang bingung mau milih yang mana. Buat Suhu, pilihannya tidak banyak. Tepatnya, pilihannya cuma dua. Beasiswa atau putus sekolah.

Beasiswa, berarti aku harus menjadi berprestasi, berorganisasi, dan aktif di kegiatan ekstrakurikuler. Yang nampaknya sudah terlambat untuk disesali, karena di kelas tiga SMA, hal-hal kayak gitu sudah terlambat untuk dimulai. Berarti hanya ada satu alternatif. Putus sekolah. Pergi ke luar negeri.

Lho?

Tahukah kamu bahwa studi di luar negeri itu bisa jadi jauh lebih murah daripada studi di dalam negeri? Dengan bukti nyata Papa yang lulus dari Jerman, Mama yang lulus dari Taiwan, dan Cece yang masih memperjuangkan kuliah di Taiwan. Nampaknya satu-satunya jalan keluar untuk menyambung pendidikan demi masa depan yang lebih baik, hanyalah ke luar negeri. Pertanyaan selanjutnya, ke mana?

Saat itu ada salah satu celetukan seorang teman.

"Ke Singapore aja, Hu. Deket. Kalo kangen tinggal pulang."



And that's, kid ,is the beginning of the story of how i met your mother, what this story is all about.

Beberapa tahun kemudian. Hari Jumat tanggal 31 Juli 2009.

Suhu terbang ke Juanda, Surabaya. Berbekal sebuah ransel. Ini pertama kali Suhu terbang tanpa koper. Biasanya kalau pulang indo selalu bawa koper kosong, berangkat dari Indo koper bisa penuh secara ajaib [berisikan beranekaragam hasil bumi, dari manakah datangnya?]. Ransel itu pun juga isinya cuma satu setel baju, plus jaket buat jaga-jaga kalau kedinginan.

Sampai di Juanda sekitar setengah tiga, Suhu mulai merasakan perasaan-perasaan hore-sampai-rumah. Padahal aslinya orang Malang [masih 90km dari Surabaya]. Ternyata di bandara Juanda pemeriksaan Influenza Babi Manusia lebih seru daripada di Singapore. Di Changi Airport, orang-orang hanya lewat, di monitor nampak simbol orang panas, yang mencurigakan ditangkap dan di-delete dikarantina. Di Juanda, setiap orang disuruh mengisi deklarasi saya-sehat-sehat-dan-seminggu-lalu-gak-ke-mana-mana. Lalu, semua orang, tanpa kecuali, sakit gak sakit, semuanya harus antri.

Masuk ke sebuah mesin yang seperti detektor logam. Iya dek, tangannya masuk lobang sana. Tangannya yang kiri juga. Iya, dek. Coba jangan goyang aja. Pandangan lurus ke depan.

BUUUSSSHHHH.

Gila! Apaan tuh tadi Pak?

Tiba-tiba sekujur tubuh serasa gelisah [geli-geli basah]. Rupanya kami disemprot semacam disinfektan. Semoga. Soalnya waktu keluar tangan yang disemprot baunya rada-rada pesing gitu. Terus mesin-semacam-detektor-logam ini letaknya di depan toilet wanita. Ya, semoga saja itu disinfektan. Karena kan kita tahu, amonia juga bisa membunuh kuman.

Keluar dari Gerbang Kedatangan Internasional, ternampak sebiji makhluk jadi-jadian, campuran antara manusia, Yeti, dan Big Foot. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan gaya sedingin [baca:cool] mungkin. Suhu menuju ke sana, ke tempat temannya menunggu. Temannya yang bernama Rocky.

Makhluk ini bernama Rocky

Suhu pun menjumpai Rocky, dan berjalan gontai dengan ranselnya. Saat itu Suhu adalah orang pertama yang keluar dari gerbang kedatangan internasional. Tanpa bawa koper, tidak ada yang perlu diperiksa. Dengan perut tambun mata sipit dan kulit kuning, kayaknya susah bagi Suhu untuk dikira TKW. makjleb, Din?

Setelah mendapat informasi lalu lintas bahwa ternyata Porong macet, kami memutuskan untuk membatalkan acara makan di Bu Kris dan mengganti lokasi makan siang di Warung Tempo Doeloe. Dari sana kami meluncur ke kota Malang melewati wisata Lumpur Sidoarjo.

Kalau kamu ke Tempo Doeloe, pesan Es Kelapa Muda dikasih gelas ini

Sekitar pukul setengah tujuh sore, di tengah-tengah jalan, Rocky mulai membuka pertanyaan yang membingungkan.

"Hu, iki enak'e langsungan ae yo?"
"Langsung piye rock?"
"Yo langsung ke MOG"
"eM Oh Ge?"
"Oh, gak ruh Mall baru yo? Ono Marlboro Mall baru nde sebelah stadion."
"Oh kowe meh mrono? Nang MOG?"
"Iyo, iki lak mau ketemu MC e buat besok toh Hu, aku janjian e jam tujuh."
"Oh mosok sempat?"
"Yo sempat lah. Iki wes masuk Malang koq."
"Wes masuk Malang!?!!"

Masuk Malang dari Hongkong? Sebagai mahasiswa yang asli malang, lahir malang, besar di malang,sekolah di malang, malang benar nasibmu nak, Suhu tidak terima. Bagaimana mungkin jalan yang kiri kanan kosong ini bisa dibilang sudah masuk Malang.

"Oh, pas koe terakhir mrene durung onok yo embong iki?"

Apa-apaan ini. Mall baru. Jalan baru.

Ternyata jalan yang sedang kami lalui ini tak lain tak bukan adalah proyek jembatan masuk kota yang melayang di atas Jalan Ahmad Yani. Tempat ini, terasa asing bagi Suhu. Suhu memang sempat mendengarnya, bahwa ada proyek pembangunan jalan dan jembatan baru untuk masuk kota. Sempat melihat waktu jalanan ditutup untuk membangun fondasi jembatan. Tapi, berada di dalam mobil bersama Rocky, tempat ini tidak terlihat seperti Malang.

Mau Mall lama, mau Mall baru, masuknya tetap diperiksa

Beberapa menit kemudian kami pun sampai di eM Oh Ge. Mal Olimpik Garden. Letaknya di sebelah stadion. Iya, stadion yang megah berdiri di sebelah kolam renang umum. Sekarang nampak mungil di sebelah Mall yang baru dibangun ini. Kami menuju ke Excelso, tempat seperti Starbucks gitu kira- kira. Ada sofa, ada wi-fi, tapi tidak ada nasi pecel. Sambil menunggu datangnya MC buat acara besok, kami memesan minuman terlebih dahulu.

Apa?

Oh iya.

Kami mengadakan reuni SMA. Jadi ceritanya, Rocky yang dulunya ketua OSIS, sekarang studi di Amerika. Jadi selaku kepala negara yang bertanggungjawab, waktu pulang dia mewujudkan sumpah palapa untuk mengumpulkan seluruh alumni-alumni angkatan kita bersatu di bawah kekuasaan Sriwijaya untuk reuni mengenang nostalgia masa-masa SMA.

OSIS

Berdasarkan referensi foto close up di atas, temukan Rocky di foto ini

Karena tidak mungkin membantah titah Rocky, maka semua hampir semua kebanyakan beberapa alumni angkatan kami pulang ke tanah air, untuk menghadiri acara reuni ini. Itu pula sebabnya kenapa Rocky menjemput Suhu dari Lapangan Udara Juanda Surabaya. Memang Suhu tidak dikaruniai transportasi pribadi, di Singapura pakai BMW [Bus MRT Walk], di Indonesia juga BMW [Bondho Manuk Wae Bondho Montor’e Wong]

Selama dalam perjalanan ke MOG, pikiran Suhu terus terngiang-ngiang. Sekarang, hari Jum’at malam dia telah sampai ke kota kelahirannya. Tangannya menggenggam tiket pesawat untuk kembali ke Singapore hari minggu pagi, itu besok lusa. Perjalanan yang singkat, hanya untuk reuni. Hanya untuk menghapus rasa kangen. Saat itu, ucapan itu terngiang-ngiang.

"Ke Singapore aja, Hu. Deket. Kalo kangen tinggal pulang."

Dan orang yang mengucapkan itu sekarang di balik kemudi. Menyetir mobil dari Juanda ke Malang untuk kesuksesan reuni. Karena pasti sedikit yang datang kalau Suhu tidak datang. Karena Suhu sudah membuat syarat, mau datang reuni kalau dijemput di airport. Rocky menjemputnya, meskipun dia tahu. Tidak dijemput pun pasti Suhu datang reuni. Karena Singapore. Deket.

Suhu,
kalo kangen tinggal pulang.

8 comments:

nCy . vLa said...

wahhh.. suhu muda...
masih imut2 :p

Olivia Wijaya said...

jadi kangen malang....

Idub said...

Hu, kamu saat ini awet muda atau pas SMA tampang tua? kok gak beda jauh?
:p

deket ya, Hu? =.='

dina.. said...

HAHAHA..
love the above comment!!

*revenge is a dish, best served cold. betul juragan? oh salah, pak agen tkw*

suhu said...

#ncy & idub:
itu namanya rocky. bukan sayaaaa ...

#olivia:
ya pulang tho ya. kalo kangen tinggal pulang.

#dina:
isu sensitif! ngawur ae juragan2, woi woi kebiasaan kaskus nya jng dipindah ke sini.

Idub said...

Yeee.. bukan yang difoto sendirian, itu udah tau =.='

Maksudnya itu lho foto rame2 pake baju SMA kan ada Suhu-nya :p

nCy . vLa said...

ho'oh benul.. saya kan komentar yang foto sma , ada suhu nampang di barisan paling depan pula..

pe de tingkat tinggi? :p

suhu said...

#ncy & idub:

ncy bilang imut, idub bilang tampang tua. kalian berdua urun rembug dulu dah, kalau sudah mufakat baru cari saya. ndak usah pake mahkamah konstitusi, diskusi biasa aja.