Monday, August 17, 2009

Jangan Ganggu Banci (Trip to Thailand - Part 8)

Pagi-pagi buta kami berangkat. Dari hotel, semua koper telah kami kemas. Dua koper kecil yang bisa kami tarik ke mana-mana, dengan satu ransel di punggung Suhu berisi air minum dan dua dus mi instan roti tawar untuk survival. Tas tgwinmg yang juga merupakan fashion peripheral [iya, yang dibahas di komen pembaca pada posting ini], berisikan paspor, tiket pesawat, pepper spray, perisai anti huru hara, dan senapan mesin dan barang-barang kecil penting lainnya.


Ini adalah tiket bus kami ke Pattaya.


Tergantung dari mana kamu di Bangkok, kamu naik Skytrain untuk menuju ke Stasiun Ekkamai. Kebanyakan turis, seperti kami, tinggal di daerah pusat kota Bangkok. Berarti kalian akan menuju ke arah Timur. Naiklah kereta ke arah On Nut. Bacanya nut seperti sakit kepala cenut-cenut, bukan nat seperti bahasa orang bule. Turun di stasiun kereta Ekkamai, tepat di luar stasiun kalian akan melihat Terminal Bus Ekkamai. Dalam bahasa setempat, Ekkamai Tai. Mudah diingat bukan?


Ekkamai Tai


Meskipun stasiun kereta dalam bahasa setempat termasuk susah diingat, Rotfaifah. Iya, rot-fai-fah. Repeat after me. Rot. Fai. Fah. Pinter. Tapi, terminal bus cukup mudah diingat, karena mungkin korelasinya dengan kata yang sering kita pakai. Terminal bus. Tai. Oke? Bisa ingat? Jangan salah lho ya. Berikut adalah contoh pemakaian di percakapan.

"Sawadeekaaap"
"Sawadeekaaa ..."
"Excuse me ... Bhai Ekkamai E'ek?"
"Haa?" *bingung*
"Ekkamai E'ek .."
"Mai kao chaii ..." *geleng-geleng*
"Oh! Oh! Mai E'ek ... Taiiii ... Ekkamai Tai ..."
"Oooo Ekkamai Tai ... yaaa" *menunjuk ke arah stasiun*

Di Ekkamai Tai, kami menunggu jam keberangkatan kami. Tiket bus bisa dibeli di tempat. Ada beberapa jasa bus yang menawarkan perjalanan dari Bangkok ke Pattaya. Hal ini memudahkan para turis, karena dengan banyaknya provider, effectively setiap jam ada bus ke Pattaya. Perlu diingat perjalanan memakan waktu tiga jam, pastikan bus anda cukup nyaman dan minimum dilengkapi dengan air-conditioning.

Setelah tiga jam perjalanan yang tidak bisa dibilang nyaman. Bus kami AC-nya mogok, lalu beberapa menit kemudian bus-nya mogok. Kami menunggu sampai supir menyerah, dan memanggil bus lain untuk meneruskan perjalanan kami. Selama menunggu, Suhu dan tgwinmg merundingkan tentang itinerary kami di Pattaya.

"Di Pattaya kita ngapain ya?"
"Yang paling utama ya liat banci."
"Hhmmmm bagus ya?"
"Menurut Apong bagus."
"Oh ya?"
"I think so, yang. He can't stop talking about that for weeks, for God's sake."
"Oke. Kamu uda tanya-tanya dia ya info'e?"
"Udah. Katanya harganya sekitar 75 baht per orang."

Sesampainya kami di Pattaya. Kami perlu ganti sarana transportasi lagi. Kali ini, kami perlu naik sarana transportasi lokal. Jalanan di Pattaya sendiri sebenarnya sangat sederhana. Di sebelah pantai ada sebuah jalan yang cukup besar [lebar sekitar 7.8m], kira-kira dua jalur mobil. Tapi karena adanya gerobak-gerobak kaki lima, jalan ini hanya efektif untuk satu jalur mobil. Tidak masalah, karena toh jalan ini One Way. Jalan ini resminya adalah Pattaya 1 Road. Tapi kalau tanya orang setempat, mereka tahunya Beach Road. [Ibaratnya tujuh dari sepuluh wanita Bandung nggak tahu Jalan Ir H Juanda, tapi tiap malam pergi ke Jalan Dago].

Sejajar dengan Beach Road, ada sebuah jalan yang lebih besar, sekitar 4 jalur mobil. Diisi kebanyakan pertokoan segala macam bisnis. Jalan ini adalah Pattaya 2 Road. Jalur angkutan umum, Songthaew, dari terminal bis menelusuri sepanjang pantai lewat Beach Road, sehabis pantai, dia akan belok dan kembali ke terminal lewat Pattaya 2 Road. Di antara Beach Road dan Pattaya 2 Road, ada belasan Soi [gang, jalan kecil]. Di Soi-soi ini adalah penginapan untuk para turis yang berlibur ke Pattaya.


Songthaew adalah sarana transportasi utama di Pattaya


Harga perlu ditentukan sebelum naik. Tawar. Jangan ragu-ragu. Sebenarnya Thailand tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Jadi, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan sudah berpengalaman ngutang sama tukang becak, kalian tidak perlu takut sama sopir Songthaew di Thailand. Jangan-jangan mereka lihat paspor hijau garuda emas sudah lari kalang kabut.


Lengan yang berotot menunjukkan siap memakai kekerasan jika tidak tercapai kesepakatan harga


Setelah berhasil mendapatkan harga setengah dari harga yang disetujui turis Korea [yang ada di foto Songthaew di atas], kami naik songthaew. Turun di Soi 10, kami meletakkan barang bawaan kami di kamar hotel. Dan segera mencari tempat makan setempat. Makanan lokal. Itu yang kami cari di setiap tempat yang kami kunjungi.


tgwinmg berusaha memesan dua gelas minuman dingin



Gayanya sudah kayak preman setempat, penguasa Beach Road Utara



Setelah perut kenyang dan meninggalkan warung itu, kami masih ada satu masalah. Kami lupa bayar. Kami belum beli tiket show banci. Layaknya di Amazing Race, Road Block kali ini adalah membeli tiket show banci. Suhu mengambil tantangan ini. Maka kali ini Suhu pergi sendiri, membeli tiket.

"Halo ... mau beli tiket show banci."
"Oh, mau yang Alcazar atau Tiffany?"
"Ehmm ... apa bedanya ya?"
"Yang Tiffany ini yang original, Mas."
"Kalau yang Alcazar? Crispy atau Spicy?"
"Yang Alcazar itu baru, setelah Tiffany terkenal."
"Oh, saya maunya yang show banci total."
"Dua-duanya banci total."
"Menurut kamu bagusan yang mana?"
"Ya... saya sih uda nonton dua-duanya bolak balik, mas. Sama. Sama sama banci."
"Ya sudah kalau gitu yang original. Tiffany. Berapa ya?"
"Six hundred baht."
"HAHHHH??!!!?"

Reaksi terkejut itu tidak dibuat-buat. Karena menurut Apong harganya sekitar 75 Baht per orang. Hanya ada beberapa kemungkinan.

1. Penjual Tiket Berbohong. (90% kemungkinan)
Seperti yang telah kita ketahui. Point of interest penjual tiket, yang bukan agen resmi, tentu saja adalah maximizing profit. Dan mengingat di tempat wisata selalu saja turis menjadi sasaran empuk penipuan.

2. Kesalahpahaman (10% kemungkinan)
Mungkin yang dimaksud dengan Apong 75 Baht adalah ongkos bermalam dengan banci. Come to think of it, masuk akal juga. 75 Baht. Per orang. Maybe waktu aku tanya tentang banci di Pattaya, yang dia pikir adalah menyewa banci dibawa ke hotel. Bukan nonton show banci. Astaga pong, ternyata seleramu yang kayak gini.

Memandang bahwa kemungkinan kedua mempunyai peluang sangat kecil. Mengingat bahwa Alfonso tidak mungkin tertarik sama banci, karena Apong kan sukanya sama cowok dia sudah punya pacar yang sejauh pengetahuan saya cewek tulen. Penjualnya penipu. Suhu memasang tampang garang. Menggebrak meja.
"HEH! Lu kira gue goblok?"
"Ha?"
"Sebelum ke sini, aku sudah tanya-tanya harga sama kawanku."
"Oh iya mungkin harganya beda. Soalnya harga tiket itu beda di tiap penjual. Tapi biasanya bedanya gak jauh."
"Gak jauh? Berapa best price kamu?"
"Lima ratus baht, tapi nggak bisa VIP tempat duduknya."
"Mahal banget! Kalau semahal itu ya mending aku ambil yang gak originalnya aja."
"Yang Alcatraz?"
"Iya. Berapa yang Alcatraz?"
"Sama. Lima ratus."
"Koq teman saya bisa dapat murah?"
"Berapa? Mas maunya berapa? Bilang! Bilang!"
"TUJUH PULUH LIMA BAHT!!"
"MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Coba kamu cari keliling Pattaya, kalau bisa nemu harga segitu kita joinan makelar tiket, kamu beli aja dari orang itu."

Singkat kata, setelah berputar-putar mencari harga dari tempat lain. Selisihnya tidak jauh beda dengan penjual pertama. Aku baru tahu Apong ternyata pria semacam itu. Best deal yang kami dapat adalah 600 baht per orang, tempat duduk Deluxe [kursi lebar tapi nggak terlalu depan].

Akhirnya setelah bargaining skill yang memukau. Dengan harga yang sama, Suhu berhasil mendapatkan transport pulang pergi dari hotel ke tempat show. Sebenarnya letak hotel-hotel di Pattaya tidak terlalu jauh dengan panggung banci ini. Tapi, yang menjadi masalah, adalah halang rintang yang akan kamu lalui kalau pergi ke tempat itu dengan berjalan kaki. Mungkin saja, kamu melihat hingar bingar kehidupan malam Pattaya, lalu membatalkan niat ke show banci. Mungkin juga, di tengah jalan kamu diculik banci. Banyak kemungkinan di sana. The sky is the limit.


Direkrut Dijemput mobil menuju show banci.


Di Tiffany's Show, kami dikejutkan dengan beberapa fakta-fakta menarik. Tempatnya tidak pengap dan lengket seperti kata Apong. Tapi lebih menyerupai sejuk dan berkelas. Berdesak-desakan dan memancing emosi seperti kata Apong tidak dialami. Yang ada hanya welcome drink gratis dengan orang-orang yang tertib mengantri sebelum pintu dibuka. Mungkin ini sebabnya 75 Baht, pikirku.


Suejuk, leluasa, dan berkelas. Bukan tipe tempat 75 Baht.


Belum sempat aku berpikir lebih lanjut, pintu sudah dibuka, dan para pengunjung dipersilahkan masuk. Penonton masuk dan duduk di tempat masing-masing layaknya bioskop. Lagu-lagu berkumandang, perempuan-perempuan berkeliaran di panggung. Datang dari bilik kanan, kiri, dari atas dikerek pake senar, dari bawah tiba-tiba nyembul. Pertanyaan kami hanya satu. MANA BANCINYA?


Perempuan-perempuan berlalu lalang, mana bancinya?

Sampai akhirnya lampu dinyalakan, seperti layaknya felem bioskop sudah tamat. Kami tahu bahwa show sudah berakhir. Mana bancinya? MANA? Kembalikan banci uang tiket kami! Memang sih waktu show tadi, ada beberapa peran figuran yang jelas-jelas berotot dan berjakun. Tapi kalau cuma sebagian kecil seperti itu sih, rugi. Apalagi menurut penjual tiket, ini adalah show TOTAL banci. Mana? Mana bancinya?

Entah kenapa paragraf barusan membuat Suhu kedengaran seperti fetish transexual.


Seriously. Mana? Mana bancinya?


Setelah semua digiring keluar, kami dipersilahkan untuk menjumpai para cast show-show barusan. Tentu saja kamu akan mengharapkan berjumpa dengan those gorgeous girls yang telah melakukan tarian-tarian erotis eksotis dengan irama timur tengah tadi. Sudah terbayang senyum malu dan tertawa cekikikan kecil yang anggun dari rombongan cewek-cewek paruh baya yang sedang arisan. Sampai akhirnya, kamu menangkap percakapan antara preman belakang pasar dengan tukang tagih pungutan liar keamanan.


Ada berapa pria di foto ini?

Astaganagahugahuga .... mereka. Semua. Laki. Laki. Paling tidak dulunya laki-laki. Benar-benar. Groundbreaking. Buat para cowok yang berminat nonton show ini. This show is incomplete without attending the meet-the-cast session. Waktu kamu melihat mereka menari dengan gemulai di atas panggung, kamu akan merasakan betapa agung Tuhan menciptakan these beautiful ladies untuk memanjakan mata para pria. Setelah kamu bertemu dengan mereka, mendengar mereka, dan melihat jakun mereka secara close-up. Kamu akan tahu, kadang-kadang ciptaan Tuhan is not something for human to tamper with.

Seperti layaknya para turis. Kami berfoto-foto dengan para pemeran utama show barusan. Nampaknya tgwinmg agak enggan berfoto-foto dengan selebritis jadi-jadian ini. Alhasil, Suhu berfoto-foto, tgwinmg menjadi fotografernya. Suhu sedang mencari lokasi yang tepat biar jepretan potonya bisa bagus, sampai Suhu menyadari ada sesuatu yang aneh.


AWAS BELAKANGMU!!!!


Dari belakang, bencong berbaju pink menyergapku. Kepalaku dijorokkan ke lantai, dan tanganku dipiting ke belakang punggung. HARTA ATAU NYAWA?

"Hello ... come ... come ... cooo~~me"
"Uh .. eh ... anu .. tengkyu ... sori .. nooooo!!"

Terlambat. Yang pakai baju kuning dan baju item ikut turun dan menyeretku. Ini bukan bercanda. Tampang mereka memang perempuan, tapi saat yang baju hitam memegang lenganku. Jantungku berdebar-debar. Jari-jari tanganku serasa mati rasa. Darah berhenti mengalir. Edan, inikah cengkeraman tangan gadis-gadis ex-preman belakang pasar. Rasanya seperti test tekanan darah tujuh kali berturut-turut dalam durasi lima menit.


Berfoto dengan Artis-artis Tiffany Show


"One person forty Ba~~ht." *suara manja*
"Hah?" *suara bingung*
"Forty Baht. One. Three PERSON. One hundred twenty baht." *suara bass*
"No .. no .. no money." *suara mengiba, hampir dilanjutkan dengan "sudah tiga hari tidak makan oom"*

Yang berbaju hitam mempererat cengkeraman tangannya. Yang baju kuning mengangkat rok, dari gelagatnya mau mengeluarkan pisau dari dalam stokingnya. Yang baju merah muda membetulkan beha. Koq sempet-sempetnya merhati'in. Mereka geram, koq kali ini ketemu turis miskin. Akhirnya, Suhu membuka dompet, memberikan kepada mereka uang yang tersisa di dompet. "Sumpah mas, maksud saya, mbak! Saya punyanya cuma iniiii ... saya jangan dihamili ...!!!"

"Ya udah, laen kali jangan diulangi lagi! Ayo coy, kita cari mangsa lain."

Demikian kira-kira kata si baju hitam, dengan suara bariton, dalam bahasa Thailand. Lalu mereka bertiga cekikikan malu-malu sambil berlalu, kemudian menggandeng bule dari Belanda. Mati lu, penjajah.

Suhu,
hampir digebugi banci.

---------------------------------------------------------------------------------

Apakah Pattaya identik dengan banci? Apakah Pattaya is all about Tiffany? Tentu tidak. Ada apalagi di Pattaya?

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Trip to Thailand: Pattaya, Nggak Cuma Banci.

6 comments:

nCy . vLa said...

hahahaha

tapi suhu ga tergoda kan? :p

Olivia Wijaya said...

yang baju kuning manis banget keliatannya. hoho..

suhu said...

#ncy:
deg-deg serrrr.... [suara pipis di celana]

#olip:
fokus ke jakunnnn

Idub said...

Terminal kamu!!

Cuma gara2 banci wae kok ribut, sampe gebrak meja segala.. haduuh.. tapi kalo liat "hasilnya".. kayaknya ya bisa dimaklumi.

Kamu mbok bawa pulang satu bancinya.. :D

PHY said...

wah, ane malah ke alcazar, Hu. bagus juga kok..tapi geli hahaha

suhu said...

#idub:
hahaha paling kamu kalo di sana jg uda malik mejo dub!

#phy:
lha kamu diapain koq geli?