Tuesday, August 18, 2009

Pattaya, Nggak Cuma Banci (Trip to Thailand - Part 9)

Hari-hari di sana bukanlah hari yang penuh tekanan seperti layaknya di Singapore. Semua orang bergerak dengan lebih lambat daripada orang-orang Singapore pada umumnya. Hidup mereka lebih … santai. Meksipun sama-sama panas, seperti layaknya di Singapore, tapi tetap saja hawa di daerah ini berbeda. Mungkin inilah kehidupan pantai.

Kami berdua pergi menyusuri pantai, menikmati hembus summer breeze yang sepoi-sepoi asoy geboy. Semua orang nampak menikmati hidup. Sepanjang pantai hanya ada turis-turis bersantai di kursi-kursi yang disewakan. Benar-benar daerah pariwisata, semuanya pakai uang. Satu kursi bertarif 30 Baht untuk sepanjang hari.

Mau kamu disuruh bayar 30 Baht seharian buat duduk di kursi kayak gini?

Berbekalkan buku bacaan yang kami bawa dari hotel, kami bermalas-malasan di kursi itu. Matahari datang dari arah depan kami. Tentu saja kalau kamu cermat melihat foto di atas, kamu sudah tahu hal ini. Chapter demi chapter buku bacaan kami lewatkan. tgwinmg meletakkan bukunya di meja. Mengambil sebotol air mineral gratisan yang kami dapat dari kamar hotel. Suhu melakukan tindakan serupa.

Dia sangat cantik. Gumam Suhu dalam hati.

Pacarku bulet. Gumam tgwinmg dalam hati.

Dan mereka saling jatuh cinta.

Tiba-tiba Suhu menemukan sebuah ide yang cemerlang.

“Eh yang, kamu masih inget gak? Kamu kan sering tanya, kerjaanku itu ngapain aja. Dari Senin sampe Sabtu, kadang lembur. Ngapain di kantor?”

“Iya, kenapa?”

“I’ll show you.”

Suhu berjalan menjauh dari kursi itu. Mengambil gelas air mineral yang hanyut disiram ombak. Menggenggam pasir. Membiarkan pasir yang ukurannya kecil melewati sela-sela jarinya. tgwinmg membiarkannya, bingung apa yang dilakukan oleh Suhu. Suhu meraup air laut dengan genggaman tangannya.

Pasir, Air, Mould. tgwinmg mulai menyadari apa yang dilakukan kekasihnya. He was doing the only thing he’s doing in his life. Building things. Jauh dalam hatinya tgwinmg tahu Kalau di sini ada semen, bisa-bisa sampai besok kita gak balik ke hotel  bahwa Suhu sangat enjoy melakukan hal yang di depan matanya.

Gelas sebagai mould, pasir sebagai aggregates, air laut sebagai binder, sandal jepit sebagai extractor

tgwinmg mendapat kursus kilat bagaimana membuat bangunan simetris semi-cor

 

hueco Kebanyakan orang ke pantai untuk membuat istana pasir. Tapi tidak sama halnya dengan kami. Kami bukan orang kebanyakan. Suhu adalah seorang sarjana teknik sipil dengan pengalaman kerja yang lebih dari orang kebanyakan. Maka. Kami. Memutuskan untuk membuat sesuatu yang lebih menantang.

 

 

 

 


P5041581 P5041582

Ya. Kami membuat replika Hueco Mundo. (虚圏, ウェコムンド, Weko Mundo; Spanish for "Hollow World", Japanese for "Hollow Sphere").

 

Tak terasa, hari perlahan mulai berlalu. Sang surya pun mulai kembali ke peraduan. Matahari pun bisa lelah. Waktunya ganti shift dengan rembulan. Menandakan waktunya umat manusia untuk kembali. Beristirahat. Pulang. Ke orang-orang yang dicintainya. Dan meluangkan waktu bersama mereka.

 

Suhu pun tersadar. Mungkin. Pattaya cuma banci. Mungkin. Tempat ini nggak ada apa-apanya dibanding pantai-pantai di pulau dewata. Suhu sadar saat melihat bahwa matahari terbenam di sini tidak seindah di Tanah Lot. Mungkin tempat ini tidak seindah yang di iklan pariwisata. Suhu mendadak tersadar.


Maybe. It’s not the place. Maybe, it’s the one who you’re with.

If I Aint Got You - Alicia Keys

P5041569

Suhu,
will not be complete without you.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu: Short Road, Long Journey.

Monday, August 17, 2009

Jangan Ganggu Banci (Trip to Thailand - Part 8)

Pagi-pagi buta kami berangkat. Dari hotel, semua koper telah kami kemas. Dua koper kecil yang bisa kami tarik ke mana-mana, dengan satu ransel di punggung Suhu berisi air minum dan dua dus mi instan roti tawar untuk survival. Tas tgwinmg yang juga merupakan fashion peripheral [iya, yang dibahas di komen pembaca pada posting ini], berisikan paspor, tiket pesawat, pepper spray, perisai anti huru hara, dan senapan mesin dan barang-barang kecil penting lainnya.


Ini adalah tiket bus kami ke Pattaya.


Tergantung dari mana kamu di Bangkok, kamu naik Skytrain untuk menuju ke Stasiun Ekkamai. Kebanyakan turis, seperti kami, tinggal di daerah pusat kota Bangkok. Berarti kalian akan menuju ke arah Timur. Naiklah kereta ke arah On Nut. Bacanya nut seperti sakit kepala cenut-cenut, bukan nat seperti bahasa orang bule. Turun di stasiun kereta Ekkamai, tepat di luar stasiun kalian akan melihat Terminal Bus Ekkamai. Dalam bahasa setempat, Ekkamai Tai. Mudah diingat bukan?


Ekkamai Tai


Meskipun stasiun kereta dalam bahasa setempat termasuk susah diingat, Rotfaifah. Iya, rot-fai-fah. Repeat after me. Rot. Fai. Fah. Pinter. Tapi, terminal bus cukup mudah diingat, karena mungkin korelasinya dengan kata yang sering kita pakai. Terminal bus. Tai. Oke? Bisa ingat? Jangan salah lho ya. Berikut adalah contoh pemakaian di percakapan.

"Sawadeekaaap"
"Sawadeekaaa ..."
"Excuse me ... Bhai Ekkamai E'ek?"
"Haa?" *bingung*
"Ekkamai E'ek .."
"Mai kao chaii ..." *geleng-geleng*
"Oh! Oh! Mai E'ek ... Taiiii ... Ekkamai Tai ..."
"Oooo Ekkamai Tai ... yaaa" *menunjuk ke arah stasiun*

Di Ekkamai Tai, kami menunggu jam keberangkatan kami. Tiket bus bisa dibeli di tempat. Ada beberapa jasa bus yang menawarkan perjalanan dari Bangkok ke Pattaya. Hal ini memudahkan para turis, karena dengan banyaknya provider, effectively setiap jam ada bus ke Pattaya. Perlu diingat perjalanan memakan waktu tiga jam, pastikan bus anda cukup nyaman dan minimum dilengkapi dengan air-conditioning.

Setelah tiga jam perjalanan yang tidak bisa dibilang nyaman. Bus kami AC-nya mogok, lalu beberapa menit kemudian bus-nya mogok. Kami menunggu sampai supir menyerah, dan memanggil bus lain untuk meneruskan perjalanan kami. Selama menunggu, Suhu dan tgwinmg merundingkan tentang itinerary kami di Pattaya.

"Di Pattaya kita ngapain ya?"
"Yang paling utama ya liat banci."
"Hhmmmm bagus ya?"
"Menurut Apong bagus."
"Oh ya?"
"I think so, yang. He can't stop talking about that for weeks, for God's sake."
"Oke. Kamu uda tanya-tanya dia ya info'e?"
"Udah. Katanya harganya sekitar 75 baht per orang."

Sesampainya kami di Pattaya. Kami perlu ganti sarana transportasi lagi. Kali ini, kami perlu naik sarana transportasi lokal. Jalanan di Pattaya sendiri sebenarnya sangat sederhana. Di sebelah pantai ada sebuah jalan yang cukup besar [lebar sekitar 7.8m], kira-kira dua jalur mobil. Tapi karena adanya gerobak-gerobak kaki lima, jalan ini hanya efektif untuk satu jalur mobil. Tidak masalah, karena toh jalan ini One Way. Jalan ini resminya adalah Pattaya 1 Road. Tapi kalau tanya orang setempat, mereka tahunya Beach Road. [Ibaratnya tujuh dari sepuluh wanita Bandung nggak tahu Jalan Ir H Juanda, tapi tiap malam pergi ke Jalan Dago].

Sejajar dengan Beach Road, ada sebuah jalan yang lebih besar, sekitar 4 jalur mobil. Diisi kebanyakan pertokoan segala macam bisnis. Jalan ini adalah Pattaya 2 Road. Jalur angkutan umum, Songthaew, dari terminal bis menelusuri sepanjang pantai lewat Beach Road, sehabis pantai, dia akan belok dan kembali ke terminal lewat Pattaya 2 Road. Di antara Beach Road dan Pattaya 2 Road, ada belasan Soi [gang, jalan kecil]. Di Soi-soi ini adalah penginapan untuk para turis yang berlibur ke Pattaya.


Songthaew adalah sarana transportasi utama di Pattaya


Harga perlu ditentukan sebelum naik. Tawar. Jangan ragu-ragu. Sebenarnya Thailand tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Jadi, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan sudah berpengalaman ngutang sama tukang becak, kalian tidak perlu takut sama sopir Songthaew di Thailand. Jangan-jangan mereka lihat paspor hijau garuda emas sudah lari kalang kabut.


Lengan yang berotot menunjukkan siap memakai kekerasan jika tidak tercapai kesepakatan harga


Setelah berhasil mendapatkan harga setengah dari harga yang disetujui turis Korea [yang ada di foto Songthaew di atas], kami naik songthaew. Turun di Soi 10, kami meletakkan barang bawaan kami di kamar hotel. Dan segera mencari tempat makan setempat. Makanan lokal. Itu yang kami cari di setiap tempat yang kami kunjungi.


tgwinmg berusaha memesan dua gelas minuman dingin



Gayanya sudah kayak preman setempat, penguasa Beach Road Utara



Setelah perut kenyang dan meninggalkan warung itu, kami masih ada satu masalah. Kami lupa bayar. Kami belum beli tiket show banci. Layaknya di Amazing Race, Road Block kali ini adalah membeli tiket show banci. Suhu mengambil tantangan ini. Maka kali ini Suhu pergi sendiri, membeli tiket.

"Halo ... mau beli tiket show banci."
"Oh, mau yang Alcazar atau Tiffany?"
"Ehmm ... apa bedanya ya?"
"Yang Tiffany ini yang original, Mas."
"Kalau yang Alcazar? Crispy atau Spicy?"
"Yang Alcazar itu baru, setelah Tiffany terkenal."
"Oh, saya maunya yang show banci total."
"Dua-duanya banci total."
"Menurut kamu bagusan yang mana?"
"Ya... saya sih uda nonton dua-duanya bolak balik, mas. Sama. Sama sama banci."
"Ya sudah kalau gitu yang original. Tiffany. Berapa ya?"
"Six hundred baht."
"HAHHHH??!!!?"

Reaksi terkejut itu tidak dibuat-buat. Karena menurut Apong harganya sekitar 75 Baht per orang. Hanya ada beberapa kemungkinan.

1. Penjual Tiket Berbohong. (90% kemungkinan)
Seperti yang telah kita ketahui. Point of interest penjual tiket, yang bukan agen resmi, tentu saja adalah maximizing profit. Dan mengingat di tempat wisata selalu saja turis menjadi sasaran empuk penipuan.

2. Kesalahpahaman (10% kemungkinan)
Mungkin yang dimaksud dengan Apong 75 Baht adalah ongkos bermalam dengan banci. Come to think of it, masuk akal juga. 75 Baht. Per orang. Maybe waktu aku tanya tentang banci di Pattaya, yang dia pikir adalah menyewa banci dibawa ke hotel. Bukan nonton show banci. Astaga pong, ternyata seleramu yang kayak gini.

Memandang bahwa kemungkinan kedua mempunyai peluang sangat kecil. Mengingat bahwa Alfonso tidak mungkin tertarik sama banci, karena Apong kan sukanya sama cowok dia sudah punya pacar yang sejauh pengetahuan saya cewek tulen. Penjualnya penipu. Suhu memasang tampang garang. Menggebrak meja.
"HEH! Lu kira gue goblok?"
"Ha?"
"Sebelum ke sini, aku sudah tanya-tanya harga sama kawanku."
"Oh iya mungkin harganya beda. Soalnya harga tiket itu beda di tiap penjual. Tapi biasanya bedanya gak jauh."
"Gak jauh? Berapa best price kamu?"
"Lima ratus baht, tapi nggak bisa VIP tempat duduknya."
"Mahal banget! Kalau semahal itu ya mending aku ambil yang gak originalnya aja."
"Yang Alcatraz?"
"Iya. Berapa yang Alcatraz?"
"Sama. Lima ratus."
"Koq teman saya bisa dapat murah?"
"Berapa? Mas maunya berapa? Bilang! Bilang!"
"TUJUH PULUH LIMA BAHT!!"
"MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Coba kamu cari keliling Pattaya, kalau bisa nemu harga segitu kita joinan makelar tiket, kamu beli aja dari orang itu."

Singkat kata, setelah berputar-putar mencari harga dari tempat lain. Selisihnya tidak jauh beda dengan penjual pertama. Aku baru tahu Apong ternyata pria semacam itu. Best deal yang kami dapat adalah 600 baht per orang, tempat duduk Deluxe [kursi lebar tapi nggak terlalu depan].

Akhirnya setelah bargaining skill yang memukau. Dengan harga yang sama, Suhu berhasil mendapatkan transport pulang pergi dari hotel ke tempat show. Sebenarnya letak hotel-hotel di Pattaya tidak terlalu jauh dengan panggung banci ini. Tapi, yang menjadi masalah, adalah halang rintang yang akan kamu lalui kalau pergi ke tempat itu dengan berjalan kaki. Mungkin saja, kamu melihat hingar bingar kehidupan malam Pattaya, lalu membatalkan niat ke show banci. Mungkin juga, di tengah jalan kamu diculik banci. Banyak kemungkinan di sana. The sky is the limit.


Direkrut Dijemput mobil menuju show banci.


Di Tiffany's Show, kami dikejutkan dengan beberapa fakta-fakta menarik. Tempatnya tidak pengap dan lengket seperti kata Apong. Tapi lebih menyerupai sejuk dan berkelas. Berdesak-desakan dan memancing emosi seperti kata Apong tidak dialami. Yang ada hanya welcome drink gratis dengan orang-orang yang tertib mengantri sebelum pintu dibuka. Mungkin ini sebabnya 75 Baht, pikirku.


Suejuk, leluasa, dan berkelas. Bukan tipe tempat 75 Baht.


Belum sempat aku berpikir lebih lanjut, pintu sudah dibuka, dan para pengunjung dipersilahkan masuk. Penonton masuk dan duduk di tempat masing-masing layaknya bioskop. Lagu-lagu berkumandang, perempuan-perempuan berkeliaran di panggung. Datang dari bilik kanan, kiri, dari atas dikerek pake senar, dari bawah tiba-tiba nyembul. Pertanyaan kami hanya satu. MANA BANCINYA?


Perempuan-perempuan berlalu lalang, mana bancinya?

Sampai akhirnya lampu dinyalakan, seperti layaknya felem bioskop sudah tamat. Kami tahu bahwa show sudah berakhir. Mana bancinya? MANA? Kembalikan banci uang tiket kami! Memang sih waktu show tadi, ada beberapa peran figuran yang jelas-jelas berotot dan berjakun. Tapi kalau cuma sebagian kecil seperti itu sih, rugi. Apalagi menurut penjual tiket, ini adalah show TOTAL banci. Mana? Mana bancinya?

Entah kenapa paragraf barusan membuat Suhu kedengaran seperti fetish transexual.


Seriously. Mana? Mana bancinya?


Setelah semua digiring keluar, kami dipersilahkan untuk menjumpai para cast show-show barusan. Tentu saja kamu akan mengharapkan berjumpa dengan those gorgeous girls yang telah melakukan tarian-tarian erotis eksotis dengan irama timur tengah tadi. Sudah terbayang senyum malu dan tertawa cekikikan kecil yang anggun dari rombongan cewek-cewek paruh baya yang sedang arisan. Sampai akhirnya, kamu menangkap percakapan antara preman belakang pasar dengan tukang tagih pungutan liar keamanan.


Ada berapa pria di foto ini?

Astaganagahugahuga .... mereka. Semua. Laki. Laki. Paling tidak dulunya laki-laki. Benar-benar. Groundbreaking. Buat para cowok yang berminat nonton show ini. This show is incomplete without attending the meet-the-cast session. Waktu kamu melihat mereka menari dengan gemulai di atas panggung, kamu akan merasakan betapa agung Tuhan menciptakan these beautiful ladies untuk memanjakan mata para pria. Setelah kamu bertemu dengan mereka, mendengar mereka, dan melihat jakun mereka secara close-up. Kamu akan tahu, kadang-kadang ciptaan Tuhan is not something for human to tamper with.

Seperti layaknya para turis. Kami berfoto-foto dengan para pemeran utama show barusan. Nampaknya tgwinmg agak enggan berfoto-foto dengan selebritis jadi-jadian ini. Alhasil, Suhu berfoto-foto, tgwinmg menjadi fotografernya. Suhu sedang mencari lokasi yang tepat biar jepretan potonya bisa bagus, sampai Suhu menyadari ada sesuatu yang aneh.


AWAS BELAKANGMU!!!!


Dari belakang, bencong berbaju pink menyergapku. Kepalaku dijorokkan ke lantai, dan tanganku dipiting ke belakang punggung. HARTA ATAU NYAWA?

"Hello ... come ... come ... cooo~~me"
"Uh .. eh ... anu .. tengkyu ... sori .. nooooo!!"

Terlambat. Yang pakai baju kuning dan baju item ikut turun dan menyeretku. Ini bukan bercanda. Tampang mereka memang perempuan, tapi saat yang baju hitam memegang lenganku. Jantungku berdebar-debar. Jari-jari tanganku serasa mati rasa. Darah berhenti mengalir. Edan, inikah cengkeraman tangan gadis-gadis ex-preman belakang pasar. Rasanya seperti test tekanan darah tujuh kali berturut-turut dalam durasi lima menit.


Berfoto dengan Artis-artis Tiffany Show


"One person forty Ba~~ht." *suara manja*
"Hah?" *suara bingung*
"Forty Baht. One. Three PERSON. One hundred twenty baht." *suara bass*
"No .. no .. no money." *suara mengiba, hampir dilanjutkan dengan "sudah tiga hari tidak makan oom"*

Yang berbaju hitam mempererat cengkeraman tangannya. Yang baju kuning mengangkat rok, dari gelagatnya mau mengeluarkan pisau dari dalam stokingnya. Yang baju merah muda membetulkan beha. Koq sempet-sempetnya merhati'in. Mereka geram, koq kali ini ketemu turis miskin. Akhirnya, Suhu membuka dompet, memberikan kepada mereka uang yang tersisa di dompet. "Sumpah mas, maksud saya, mbak! Saya punyanya cuma iniiii ... saya jangan dihamili ...!!!"

"Ya udah, laen kali jangan diulangi lagi! Ayo coy, kita cari mangsa lain."

Demikian kira-kira kata si baju hitam, dengan suara bariton, dalam bahasa Thailand. Lalu mereka bertiga cekikikan malu-malu sambil berlalu, kemudian menggandeng bule dari Belanda. Mati lu, penjajah.

Suhu,
hampir digebugi banci.

---------------------------------------------------------------------------------

Apakah Pattaya identik dengan banci? Apakah Pattaya is all about Tiffany? Tentu tidak. Ada apalagi di Pattaya?

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Trip to Thailand: Pattaya, Nggak Cuma Banci.

Saturday, August 08, 2009

Terlepas Dari Mulut Macan Masuk Mulut Buaya (Trip to Thailand - Part 7)

Pernah dengar istilah 2 in 1? Two in one. Dua dalam satu. Contohnya banyak. Untuk perawatan rambut ada 2 in 1 Shampoo + Conditioner dalam satu kemasan. Untuk furniture ada kursi sofa 2 in 1 merangkap bed. Banyak sekali di kehidupan ini kita menjumpai istilah-istilah 2 in 1. Bahkan sampai celana dalam pun ada 2 in 1.

Seperti itulah Samphran Elephant Ground. Hari itu, Suhu dan tgwinmg melihat kerumunan orang-orang. Nampaknya mereka sedang terkagum-kagum melihat sesuatu. Samphran Elephant Ground. Pasti mereka melihat gajah. Kami berdua pun celingukan di belakang kepala orang-orang. Mana. Mana gajahnya. Mana?

Dengan gerakan koordinasi gerak horizontal sikut dan gerakan maju kaki, kami berhasil maju ke depan barisan. Bukan. Gajah. Ini adalah Kucing Macan.




Masss ... Meooong ...


Jadi, selain lahan luas berisi gajah-gajah bermain baseball sepakbola, tempat ini adalah tempat 2 in 1. Ada gajah, ada macan pula! Betapa senang hatiku karena untuk harga yang sama, kita dapat additional items. Tiba-tiba merasa darah cina bergejolak mengalir di sekujur tubuh. Macan kembar ini, memang ditaruh di atas mimbar untuk diajak befoto-foto bersama turis. Hanya 100 Baht.

"Mau foto, yang?"
"Hiii takut ih yang, ntik dicakot."
"Dirantai koq macan'e. Lagian ada pawang'e."
"Masiyo yo, kan foto'e deket mbek macan'e."
"Beranikan dirimu! Kapan lagi isa foto mbe macan kembar?"
"Emang itu kembar?"
"Lha itu tulisan'e kata'e kembar."

Sejujurnya, pas itu Suhu juga jadi mikir-mikir lagi. Memangnya bagaimana caranya tahu itu macan kembar atau tidak? Bukannya semua lorengnya ya kurang lebih kayak gitu? Kecuali ada eksperimen semacam ini. KEMAMPUAN VISUAL MANUSIA MEMBEDAKAN MACAN KEMBAR.

Siapkan satu mahasiswa Teknik Sipil yang sedang mengerjakan skripsi. Spesies jenis ini terbukti paling netral. Tidak pernah jalan-jalan, tidak pernah shopping, tidak pernah nonton tivi, tidak pernah maen playstation, tidak terlalu banyak tercampur dengan pengaruh teknologi manusia. Intinya, tingkat intelejensianya cukup tapi masih belum rusak oleh hedonisme. Karena pada eksperimen semacam ini, kita perlu membangkitkan insting manusia sebagai primata.

Siapkan dua ekor macan kembar. Definisi kembar di sini adalah lahir dari satu induk dalam masa kandungan yang sama. Sebutkanlah nama dua macan kembar ini adalah Micin dan Mucun.

Mahasiswa dimasukkan satu ruangan sempit dengan ventilasi terbatas. Diberi satu foto closeup Micin. Lalu dialunkan lagu-lagu klasik. Foto closeup Micin diambil, lalu diganti foto closeup Mucun. Lalu dialunkan lagu-lagu metal. Ulangi prosedur ini. Setelah kira-kira sepuluh cycle, mahasiswa berspesies dasar primata diharapkan mulai develop relationship between jenis lagu dan nama macan.

Kemudian mahasiswa dipindahkan ke ruangan kosong yang lebih besar. Lagu dangdut dinyalakan. Dua ekor macan kembar dilepas ke dalam ruangan berisi mahasiswa.

Bahkan eksperimen serumit ini pun tidak akan mampu membuktikan bahwa dua macan di Samphran Elephant Ground itu kembar.

"Macannya tidur."
"Foto dari luar deh."
"Cepetan, itu ada keluarga jepang mau foto"

Jepret.

Suhu buru-buru berpose, tgwinmg dengan sigap menjepret Suhu dengan ketapel kamera. Lalu keluarga Jepang itu berjalan perlahan ke samping dua macan yang sedang tidur itu. Mereka menyerahkan beberapa lembaran sepuluh Baht ke pawang macan itu. Lalu.



Nggak mau rugi bayar 100 Baht, foto dari luar pagar



CETARRR!!!!

Pawang macan itu melecutkan cemetinya. Keluarga Jepang terperanjat. Bapaknya melongo, ibunya bingung, anak laki-laki memeluk paha ibunya, anak perempuan berteriak "kimochiii..." "MAMAAAAAA". Pawang macan mengambil minum segelas air mineral. Ditenggak, dikumur-kumur. Lalu disemburkan ke Micin, sisa air di gelas disiramkan ke Mucun.

Perlu diketahui bahwa semua kejadian ini terjadi kurang dari satu menit. Pawang ada di luar jangkauan macan. Ingat: macan dirantai. Yang ada dalam jangkauan terkam macan kembar adalah keluarga turis Jepang yang sekarang celananya sudah basah kena pipis sendiri. Entah karena takut diterkam macan yang baru di-provoke, atau karena takut dipecut dan disembur sama pawangnya.

Suhu, sebagai Sarjana Teknik Sipil, cukup mengerti tentang kekuatan beberapa material struktur. Baja misalnya, merupakan sejenis logam. Logam, betapa pun kuatnya, kalau sudah berkarat, kekuatannya akan berkurang secara signifikan. Melihat bahwa rantai dua ekor kucing besar itu sudah berkarat, Suhu mengajak pacarnya pergi mencari atraksi lain.



Cintailah lingkungan


Setelah melihat-lihat sekitar. Kami melihat sebuah kolam luas yang di kelilingi oleh kawat setinggi leher. Baru kami menyadari bahwa Samphran adalah lahan 3 in 1 [Lahan dengan peternakan tiga satwa, bukan lahan cari uang buat joki di Jakarta!]. Rupanya di sini ada buaya juga. Terakhir kami melihat buaya adalah saat kami pergi ke Singapore Zoo beberapa tahun silam. Itu pun kami tidak seberapa yakin apakah itu buaya atau pohon yang hanyut. Yang lebih jelas, waktu Suhu pergi ke Jatim Park. Ayam dilempar ke dalam kandang buaya. Tiba-tiba, seperti felem Transformers, batang pohon berubah jadi reptil. Memang buaya memiliki kemampuan untuk stop-motion, membuat dirinya dikira batang pohon yang sudah membusuk.



Buaya ini bernama Malin Kundang. Dia dikutuk ibunya menjadi batu.


"Yang, banyak sekali ya buayanya."
"Iya. Masak semua asli?"
"Nggak lah, banyak gini. Yang di pinggir-pinggir ini bukan lah."
"Iya, mana ya yang asli?"
"Tuh yang! Itu, jalan!"
"Hahaha patung yang ini bagus ya, kayak aslinya."
"Iya. Yang mulutnya buka itu kan."
"Iya, yang mulutnya buka itu pasti patung. Kalau buaya mau nipu mangsanya dia mesti nutup mulut, kakinya ditekuk di perut, terus setengah badan masuk air. Biar dikira batang pohon yang hanyut sampai ke tepi sungai."
"Iya. Tapi bagus patung'e. Mirip asli!"
"Eh, koq kayak idup ya."
"Robot, yang! Lihat, perutnya kembang kempis. Pasti pake mesin hidrolik."
"Iya, mungkin ditutup pake kulit buaya imitasi ya. Mata buayanya juga bagus."
"Eh! Iya, kayak kelereng. Terang ya."
"Kelopak mata reptil itu ada dua lapis biasanya, detail banget bikin patung e."
"Kayak e barusan kedip deh."
"Kedip?"
"Iya, keren ya robot buaya e."
"Kayak e gak bakal seniat itu deh kalau bikin robot buaya."



Malin Kundang renang


Blub-blub-blub. Robot buaya kami berjalan ke air lalu berenang. Menyelam.

Interesting Facts:
Buaya menutup mulut, kakinya ditekuk di perut, terus setengah badan masuk air. Biar dikira batang pohon yang hanyut sampai ke tepi sungai. Adalah cara BUAYA DI HUTAN untuk menipu mangsanya. Buaya membuka mulut, kakinya dibuka dengan lebar. Jauh dari air, di daratan kering, guling-guling di pasir sampai badannya berdebu dan warnanya mirip batu. Adalah CARA BUAYA DI KEBUN BINATANG THAILAND menipu mangsanya. Siapa tahu ada turis topinya jatuh, "Eh, topinya jatuh di moncong patung buaya. Ambil sendiri deh" ... HAP! Lalu ditangkap. *dinyanyikan dengan ending lagu Cicak cicak di dinding, nada dasar Do = C*

Di mana pun kalian, tidak hanya di Thailand. Kalau ada buaya, batang pohon, robot, jangan dekat-dekat. Jangan ambil resiko.



Suhu,
Waspadalah! Waspadalah!

------------------------------------------

Next episode: Episode yang mungkin paling ditunggu-tunggu oleh pembaca blog yang sudah melihat sneak preview di akun mukabuku Suhu.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Pattaya: Jangan Ganggu Banci!

Monday, August 03, 2009

Rooney, Gajah Kecil Berbelalai Panjang (Trip to Thailand - Part 6)

Di floating market itu, sebenarnya Kwik Lee menawarkan beberapa atraksi yang tidak cuma melihat turis-turis mengapung di atas sampan motor.

"Who want to see snake? Snake! SSsshhnake!" *sambil meniru goyang ular*
"Excuse me, sir?"
"Kwik Lee."
"Ok, Kwik Lee. What snake?"
"Snake show. 400 baht only."

Setelah ditilik lebih lanjut rupanya hanya melihat ular. Tidak ada atraksi pawang dimakan ular atau sebagainya. Tapi kami juga tidak begitu jelas, karena begitu diberitahu kami harus membayar 400 baht lebih untuk nonton ular, kami langsung ilfil. Begitu pula saat Kwik Lee memberi tahu tentang show Gajah.

"Ok you two go snake show follow him. Kwik Lee."
"You don't have to repeat your name every now and then."
"How about you two? Want see elephant?"
"You want to see my elephant?"
"What elephant?"
"Kwik Lee. We go to the jungle, trekking with elephant across the jungle."

Kelihatannya asyik nih. Naek gajah, menembus hutan. Terus di foto-foto yang dia tunjukkan, ada masuk sungai yang kedalamannya sedangkal perut gajah. Jadi kita duduk di atas gajah, gajahnya menyebrang masuk sungai sehingga seolah-olah kita berjalan di atas air. Gajahnya mati tenggelam dong. Ya nggak lah, kan belalainya naek kayak periskop kapal selem.


Yang dipromosikan seperti ini, tapi nggak semua yang elo denger itu bener. Yang bener mungkin cuma gajahnya.


Mata tgwinmg berbinar-binar mendengar promosi dari Kwik Lee. Satu tekad bulat tgwinmg, pokoknya MAU NGASIH MAKAN GAJAH. Maka dengan semangat juang Sumpah Pemuda, tgwinmg mengangkat tangan tinggi-tinggi siap menjawab pertanyaan ibu guru di kelas.

"Can we feed the elephant?"
"Kwik Lee."
"Yang, kayaknya orang ini gak seberapa ngerti kamu ngomong apa"

Suhu sih kurang seberapa tertarik dengan jungle trekking dengan gajah. Kan belalaiku lebih panjang dari belalai gajah Kwik Lee. Masalahnya simpel. 600 Baht. Edan kalo suruh bayar segitu, terus nanti dikasih parang, suruh nebas-nebas hutan, yang nantinya bakal dijadiin objek wisata baru sama Mimi. Ini mah jelas-jelas sindikat kejahatan berkedok pariwisata. Atau jangan-jangan di tengah hutan nanti kita ditangkap dan dijadikan budak-budak pembangunan expansion floating market.

Jadi selama di Floating Market itu kita duduk bengong, nggak ngapa-ngapain. Ya istilah romantisnya spending quality time with my better half. Nyatanya sih nungguin peserta tour yang lain yang masih nonton ular sama bonceng gajah goyang. Sampai akhirnya semua peserta berkumpul kembali di hadapan Tuhan YME.

Waktu mereka berbondong-bondong masuk mini-van Tour, tiba-tiba kami melihat ada yang jual souvenir. Berbentuk seperti lepek [apa bahasa indonesia lepek?] yang buat minum minuman panas, dituang, biar luas permukaan lebih besar, membuat kalor pada minuman panas lebih cepat terdistribusi ke udara sekitar, mempercepat waktu menunggu, langsung disruput maknyus.

Kita sih gak seberapa tertarik yang gitu-gituan. Kecuali. Kecuali ada foto kita dicetak di sana. Tiba-tiba pembeli itu menampilkan foto kami berdua. Setengah kaget setengah takjub, kami pun jadi tertarik untuk membelinya. 150 Baht. Yang masih menjadi misteri buat kami, bagaimana dia bisa ingat wajah kita, memamerkannya ke kita, dan menunjukkannya pada kita tepat waktu, padahal foto ini diambil sekitar enam jam lalu. Dengan traffic ratusan orang per jam. Ajaib.


Mesra ya?

Tengah-tengah transaksi, kami melihat Tour Guide kami celingukan, lompat-lompat seperti gorila baru disunat, sambil berteriak-teriak NGUKKK NGGUKKK A'AKK NGUK!!!

"Kwik Lee ... Kwik Lee !!!"

Oh setan alas tenan oq wong iki, dari tadi aku nungguin jam-jam an ndak ngomong apa-apa, sekarang aku cuma beli satu barang digusah-gusah kayak bebek.

Setelah kami masuk mobil, mobil berjalan, kami mengeluarkan souvenir kami tersebut. Kalau dilihat-lihat bagus juga. Kalau dilihat-lihat menarik juga. Kalau dilihat-lihat ... koq nggak kayak tempat yang kita datangi tadi ya?

Dari tempat itu kami dibawa ke Royal Thai Handicraft Centre. Di sana kami mendapati beberapa bapak-bapak jongkok bawa kayu sama pahat, duok duok duok, terus dikerok pelan-pelan. Mereka membuat semacam lukisan-lukisan yang menyatu dengan piguranya dengan nuansa tiga dimensi. Ada yang dijadikan corak pinggiran meja, kursi, lemari, jamban duduk sampai yang hanya jadi pajangan belaka.



See No Evil, Talk No Evil, Hear No Evil, Touch No No No

Selain ukir-ukiran kecil, ternyata bapak-bapak itu kalau bosan juga pingin bikin yang besar. Entah apa alasannya, mereka demen sekali membuat patung Gajah. Mungkin karena Thailand disebut negara gajah putih, mungkin juga karena patung landak susah bikinnya. Masih ingat tentang cita-cita mulia tgwinmg untuk memberantas kelaparan di negeri Gajah? tgwinmg sangat ingin memberi makan gajah langsung dari tangannya.


Gajah ini didorong ditepok tepok tetep gak mau makan



Lalu kami menuju ke tujuan berikutnya. Samphran Elephant Ground & Zoo. Pertanyaan pertama yang ada di hati kecil Suhu adalah: Kira-kira mirip nggak ya sama yang di Waikambas? Pertanyaan itu terus mengusiknya, sampai Suhu tiba-tiba tersadar. Kan aku nggak pernah ke Waikambas.

Kwik Lee mengumpulkan anggota tour nya. Memberikan pesan singkat. Di sini kita akan makan siang, restoran depan Samphran Elephant Ground & Zoo. Setelah makan kita akan nonton atraksi gajah. Buat yang sudah pernah ke Singapore Zoo, acara ini jauh berbeda dengan gajah-gajah yang ada di Singapore.

Di Singapore, gajahnya ada lima, pawangnya ada sebelas. Mau ke mana-mana dituntun. Emcee berdiri di depan penonton, menjelaskan apa yang terjadi di lapangan dengan Sound system yang sudah ditata sedemikian rupa sehingga kita seakan-akan menonton acara discovery Channel tentang bagaimana gajah membantu hidup manusia.

Di Thailand, gajahnya ada banyak. Pawangnya ada dua. Gajahnya dibiarin mau apa juga pasrah. Pawang sibuk menghindari gajah. Tidak ada Emcee. Sound system memutar lagu irama dangdut setempat. Dan kita seolah-olah menonton pemanasan World Cup.


Nakamura dan Henry ada di satu team dan ngetem di depan gawang

Masalahnya dengan gajah dan sepakbola adalah. Mereka nggak seberapa berminat mencetak gol. Mereka lebih senang menarik perhatian penonton. Misalnya Henry dan Kaka yang mencoba mendekat ke arah penonton. Begini kira-kira percakapan antara Suhu dan tgwinmg tentang gajah-gajah beringas itu.

"Eh gajahnya koq dilepas gitu ya?"
"Tenang aja, yang. Kan ada pawangnya." *suara meyakinkan biar pacar gak khawatir*
"Pawangnya cuma segitu. Gedhe'an gajah e juga."
"Tenang aja, yang. Kan ada pagernya."
"Tapi gajahnya kan bisa ngelewatin pagernya."
"Nggak bisa yang, mereka terlalu berat buat lompat."
"Tapi cukup berat buat ngerusakin pager. Tuh."
"GYAAAA... GAJAH GILAAA!!!"

Henry dan Kaka berusaha menggulingkan pagar


Dasar gajah-gajah cari perhatian. Mereka melakukan atraksi-atraksi selama temannya saling oper-operan bola. Gawangnya gak dipedulikan. Bahkan beberapa ada yang cuma males-malesan minum limun sambil nonton tivi. Tapi yang pasti, gajahnya BWANYAK, gak pelit kayak di Singapore Zoo.

"Yang! Lihat! Itu ada yang main trampolin!"
"Hah? Mana-mana?"
"Ituuuu!"
"Mana???"
"Depan sendiri!"
"Hah? Mana?"
"Torres! Baju Torres!"
"Itu tamburin. Bukan trampolin!"

Terima kasih Tuhan kamu telah mengkaruniai aku dengan pacar yang sabar.


Torres maen tamburin

Di antara mereka semua, ada satu yang menarik perhatian penonton. Yang dengan khidmat maen sepakbola. Dengan tulus menanti datangnya bola lambung. Mengumpan dengan sepenuh hati. Mengacuhkan temannya yang cari perhatian. Berkonsentrasi pada professional football. Dia adalah. Rooney. Gajah kecil berbelalai panjang.


Rooney konsentrasi meniti karir di dunia persepakbolaan.

Kami sangat terharu dengan perjuangannya di lapangan hijau tandus. Saat itu pula kami memutuskan. Kami akan mengadopsinya memberi dia makan. Dari tangan kami sendiri. Akhirnya pertunjukan show gajah selesai. Kami maju dan membeli pisang dari pawang. Lalu mencari-cari Rooney. Kami bagi tugas, tgwinmg memberi pisang. Suhu menggusah-gusah pengunjung yang lain biar fotonya kelihatan bagus.


Impian memberantas kelaparan terwujud

Setelah acara makan-makan [gajah, bukan kami makan siang ronde dua]. Kami berjalan keliling-keliling Elephant Ground. Tebak siapa yang kami temui. Rooney! Tampaknya dia masih mengenali kami. Memang benar kata pemeo bahwa Gajah tidak pernah lupa apa yang dia ingat. Masalahnya, siapa yang bilang bahwa dia bisa mengingat?


Untuk kenang-kenangan dari Samphran kami berfoto bersama Rooney, iya gajahnya dilepas gitu aja di sini.

Samphran Elephant Ground adalah tempat yang kecil dan mungkin tidak terkenal. Tapi setelah seharian di Bangkok [yang terkenal], di Floating Market [yang terkenal], dan hidup selama enam tahun di Singapore [yang terkenal]. Mungkin kita sudah kangen ke tempat yang terpencil, sederhana, apa-adanya. Dan tidak terkenal. Di mana gajah hidup berdampingan secara wiraswasta dengan manusia.

Suhu,
wong biyasa-biyasa.

-------------------------

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Kisah perjalanan di Thailand seolah tak ada habisnya. Suhu akan pulang ke rumah untuk mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya. Tapi bagaimanakah cara pulang kalau di tempat ini saja masih tersesat?

Masih di kisah di balik hutan bambu. Masih di Thailand. Masih di Bangkok dan sekitarnya. Masih di SAMPHRAN ELEPHANT GROUND. Suhu tersesat di dalam dan merasakan secara langsung peribahasa Terlepas Dari Mulut Macan Masuk Mulut Buaya.