Sunday, May 10, 2009

Truth and Lies of Sayembara Roro Jonggrang (Trip to Thailand - Part 4)

Sudah pernah dengar tentang kisah Roro Jonggrang?

Alkisah, ribuan tahun silam. Tersebutlah jejaka tampan kuat dan perkasa, kembali dari pertapaan ke kerajaannya. Bapaknya yang adalah seorang raja. Mengutusnya pergi ke negeri seberang untuk kuliah Teknik Sipil menginfiltrasi negara tetangga sebagai agen rahasia.

"My name is Bond, Bandung Bond."

Benar. Ini adalah kisah tentang Bandung Bondowoso. Mengikuti titah ayahnya, Bandung Bondowoso menyerang kerajaan yang dipimpin oleh, I swear to God I didn't make this shit up, Raja BAKA. Tentang nama lengkapnya apakah Baka Yaro, itu saya kurang yakin. Karena aji sakti mandraguna Bandung Bondowoso, akhirnya Raja Baka kalah. Dan menurut legenda-legenda yang ada, kalah berarti mati. Mati.

Satu yang tidak diketahui oleh Bandung Bondowoso, Raja Baka [yang barusan mati] mempunyai satu anak yang sangat cantik. Putri ini bernama Roro Jonggrang. Entah kenapa banyak cerita yang menyebutnya Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso terkesiap oleh cantiknya Roro Jonggrang, paras yang menawan, tutur kata lembut penuh santun, bodi aduhai, sintal mengundang, kalau diteruskan lama-lama bisa jadi artikel 17tahun dot kom

Langsung, tanpa gugu gaga, Bandung Bondowoso meminta Roro Jonggrang untuk menjadi istrinya. Tapi, bagaimanapun juga, Roro Jonggrang tidak mau diperistri oleh orang yang telah membunuh ayahnya. Roro Jonggrang pun bingung. Bingung memilih. Kalau diterima, bertentangan dengan hati nurani. Ditolak mentah-mentah nanti dibunuh. Kecamuk antara harga diri dan takut mati, Roro Jonggrang terilham sebuah ide gemilang.

Bikin. Syarat. Yang. Gak. Masuk. Akal.

"Aku bukannya nggak mau jadi istri kamu. Tapi ..."
"Tapi apa, nggrang?"
"Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Tapi aku cuma mau jadi istri Insinyur Teknik Sipil."

Bandung Bondowoso pun bingung bagaimana harus memenuhi persyaratan ini. Apalagi saat itu belum ada satu pun universitas yang menawarkan program Teknik Sipil kilat. Dan seperti yang kita tahu, Sarjana Teknik Sipil, tidak mudah mendapatkannya. Itu kan jurusan yang gampang masuknya susah keluarnya.

"Bagaimana caranya, nggrang?"
"Ya, kalau kamu mau membuktikan kamu mampu, bikinin aku seribu candi."
"Oke."

Begitu cepat respon Bandung Bondowoso untuk menyanggupi permintaan Roro Jonggrang, membuat putri ini pucat pasi dan memikir ulang. Jangan-jangan salah strategi. Kecerdasannya yang jelas tidak diperoleh dari ayahnya, mengimbangi kecantikannya. Dengan cepat dia menyela.

"Eits, belum selesai syaratnya, nDung. 1000 Candi itu, mesti selesai, dalam waktu SATU malam."
"Lek kui matamu nggrang" "Oke."
"Ndung, seribu candi. Satu malam."
"Oke."
"Kamu tahu candi nggak sih?"
"Tahu, yang batu dibentuk kayak puting susu itu kan?"
"Itu stupa, ndung."
"Candi itu?"
"Yang tempatnya orang naruh stupa."
"Oh fuck."

Terlanjur bilang oke, Bandung Bondowoso segera pulang. Dia ambil kuali, menyiram air bunga, memegang bibir kuali dengan gerakan memutar tujuh kali. Perlahan air bunga di dalam kuali bergejolak. Lalu muncul gambar di permukaan air. You are logged in to KualiMessenger v2.1

"Gimana ini, mungkin nggak sih mbangun 1000 candi dalam satu malam?"
"Susah lah, ndung."
"Susah? Berarti bisa kan?"
"Ya bisa, tapi beton nya mesti dicampur superplasticizer biar cepet ngalir, terus dikasi Floor hardener biar cepet keras. Kerjanya mesti cepet banget biar beton e nggak kaku pas lagi ngecor."
"Jadi, gimana? Perlu apa aja?"
"Perlu orang bwanyak, ndung."
"Kamu bisa bantuin bikin nggak?"
"Wah, aku cuma punya bangla tujuh puluh tiga, ndung."
"Cari'in temen-temen kamu lah, Hu."
"Oke deh. Tapi nggak janji."

Nah, mungkin bagian dari legenda ini yang nggak pernah kalian dengar. Teman Bandung Bondowoso, yang notabene adalah seorang Sarjana Teknik Sipil, mencoba membantu Bandung untuk menyelesaikan tugas tersebut. Maka dia pun nge-post di mailing list Asosiasi Mandor Intelijen Tampan Ampuh Mantap Internasional Terpercaya (AMIT-AMIT). Biar menarik, isinya berupa sayembara.


Sayembara berhadiah:

Bikin seribu candi dalam semalam, dapat istri cewek bahenol, putri raja, babenya baru mati.


Tak berapa lama kemudian, si Bandung memanggil lagi di KualiMessenger. Tertanda dengan air cucian berkedip-kedip oranye. Sarjana teknik sipil itu melihat.

"Hu, udah. Aku jadinya minta bantuan jin sama tuyul. Tengkyu eniwei."
"Oh oke. Jadi udah nggak perlu bantuan orangku ya?"
"Ho'oh, ga usah wes. Cukup koq rasa e makhluk halus ku."
"Oke oke. Good luck, ndung."

Bandung Bondowoso, membangun candi demi candi dengan bantuan para makhluk halus. Suhu, membangun dengan bantuan para orang-orang kasar. Tuyul, jin lampu, jin botol, jin toples, semua dia kerahkan. Roro Jonggrang pun takut melihatnya. At this rate, Bandung Bondowoso akan mampu menyelesaikan tugasnya. Roro Jonggrang tak kehabisan akal. Dia berlari membangunkan perempuan-perempuan seisi kerajaan. Lalu mereka membuat bunyi-bunyian seolah-olah sudah pagi. Mempercepat weker, mematikan lampu depan, menumbuk alu-alu dug dug dug, menyalakan speaker mushola krosak krosak nguinnggg.

Makhluk halus yang direkrut oleh Bandung Bondowoso, berhenti mengerjakan candi-candi itu. Mereka mengira jam kerja mereka sudah selesai, dan mulai packing semua peralatan mereka ke dalam toolbox. Lalu absensi untuk menghitung timesheet dan jatah upah lembur. Bandung Bondowoso kebingungan. Buru-buru dia menghitung candi yang sudah selesai. Sembilan. Ratus. Sembilan. Puluh. Sembilan. Wanbede wanbede wanbede.

Arrghhh!!!! Nggrang, ngaco aja kamu. Diem aja napa seh!
Yee... wek wek wek ...nyanyanyanya ... wek wek ga selesai.
JADI CANDI KAMU!
Oke.

Lalu demikianlah kisah bagaimana Bandung Bondowoso kehilangan seorang gadis yang dicintainya karena amarah murkanya. Demikian pula Bandung Bondowoso menunaikan tugasnya membangun seribu candi dalam semalam. Sebuah kisah yang sangat inspirasional yang akan menjadi dongeng sebelum tidur anak-anak yang bercita-cita menjadi insinyur sipil.

Sekuel dari cerita tersebut:

Masih ingat tentang sayembara yang disebar di Mailing List tadi? Ternyata beberapa jejaka putus asa dari negeri seberang, juga ikut membacanya. Tapi mungkin karena mereka kurang paham latar belakangnya. Mereka kira, siapa pun yang berhasil membangun seribu candi, akan dapat hadiahnya. Dan karena di negara mereka susah untuk mengecek email, mereka bahkan tidak mendapat kabar bahwa hadiah sayembara sekarang sudah jadi batu. Bukan, bukan Malin Kundang, Roro Jonggrang.

Di Wat Pho lah kami menemukan ribuan Candi seperti layaknya yang dibangun oleh Bandung Bond. Tapi, mungkin karena mereka tenaga kerjanya lebih kreatif dan dinamis, candi-candi di sini full colour. Mungkin juga karena pembangunan candi ini disponsori oleh Kodak dan Fujifilm, kalau mereka sudah ada pada zaman itu.


Wat Pho - cuplikan serial Bandung Bondowoso in full colour


Brapa Candi? Ratusan? LEBIH!

Untuk lebih memperkeruh suasana dan merusak mitos sang legenda, Suhu dan tgwinmg pergi ke Temple lain di sekitar Wat Pho. Yaitu The Lucky Budha Temple. Di sana kami menjumpai satu set Candi-candi lain yang baru dikapur, tidak ditegel mozaic. Jadi sebenarnya ada berapa macam candi?


Lucky Buddha Temple - seperti komik Bandung Bondowoso sebelum diwarna

Ada berapa sih orang-orang yang kesengsem sama Roro Jonggrang?

Suhu,
nggak semua yang lu denger itu bener.

Selanjutnya, hanya di kisah di balik hutan bambu: Floating Market, A Hoax?

4 comments:

J said...

*ngakak*

hu, sepertinya seharusnya kamu jadi novelis :D

nCy . vLa said...

lucu banget :)

coba dibukukan, mesti laris yah..

Idub said...

ngene iki lho.. semoga anakku nanti tidak bercita-cita menjadi Sarjana Teknik Sipil

Tapi saya kok melihat korelasi dan kontinuitas dalam kisah Bandung Bondowoso, Sarjana Teknik setengah gila dan Candi-candi di Thailand.. Jangan2 legenda itu benar..

Sejarah perlu di revisi!

Gita Arimanda said...

asoi kereeeeeeeeeeeeeeeeen! :D