Sunday, May 10, 2009

Thailand WTF (Trip to Thailand - Part 2)

Pemuda itu menyapa kami dengan profesionalisme nya, dengan Inggris yang berlogat Thailand, tapi masih bisa dimengerti.

"Sawadeekarp. Good morning can I help you? My name is Mimi."

Mimi membawa kami ke meja nya. Menunjukkan beberapa jenis tour yang ditawarkan oleh perusahaannya. Bahkan kami bisa customize travel plan kami, tapi tentu saja harus membayar lebih mahal.

Opsi pertama adalah Full Day Tour.

Pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok kami akan diberangkatkan ke Floating Market, di sana kami akan diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan masyarakat Thailand berdagang di atas sampan. Di tempat yang sama, kami diberi pilihan untuk naik gajah melintasi hutan belantara, menyeberangi perairan dan merasakan bagaimana penduduk setempat dulu menggunakan gajah sebagai sarana transportasi kelas berat sebelum machinery masuk desa. Di sisi lain floating market, atraksi ular Kobra juga dipersiapkan untuk para turis yang berminat.

Dari sana kami akan dibawa ke tempat pahat memahat kerajinan kayu sebelum kemudian pergi ke perhentian untuk makan siang. Lalu kami akan dibawa pergi ke Elephant Ground dan Crocodile Farm. Terakhir, sebelum tour selesai, kami akan dibawa ke Rose Garden. Setelah show di Rose Garden, kami akan dipulangkan kembali ke hotel masing-masing.

Opsi kedua adalah Half Day Tour

Kunjungan ke Grand Palace, Wat Arun, dan Wat Wat lain nya. Temple-temple yang terletak di sepanjang Sungai Chao Praya [ya, ternyata itu bukan Kali Brantas]. Juga termasuk tour naek kapal di sepanjang perairan Chao Praya. Dan bla bla bla ...

Suara Mimi perlahan mulai memudar. Pasti ini adalah salah satu ilmu gelap yang dipakai para travel agent Thailand agar kita terbuai dengan tawaran-tawarannya. Atau, kemungkinan kedua, ini adalah ... RASA LAPAR.

Dengan decision making skill yang tak diragukan, tgwinmg memutuskan. Kita ambil yang full day, tapi untuk besok. Karena Floating Market, jika seperti pasar basah endonesa, pasti aktivitas utamanya di pagi hari. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam .. sebentar ... jam kami belum di-set ke waktu Thailand. Tak mengapa. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Tour Half Day, kita lupakan. We're not going to pay hundreds Baht to see their temple. We have Borobudur already. Kita bisa pergi sendiri.

tgwinmg membayar uang Full Day Tour untuk besok kepada Mimi. Mata Suhu berkunang-kunang kekurangan makan. tgwinmg memastikan Mimi memberikan uang kembalian dengan benar. Suhu memegang pinggiran meja. tgwinmg nyaris membunuh Mimi karena kembaliannya kurang. Suhu mulai melihat imaji imaji makanan muncul di tempat-tempat tidak semestinya. tgwinmg menjelaskan pada Mimi bahwa tgwinmg tidak akan ragu-ragu mempraktekkan Kickboxing di negara asalnya. Suhu menyadari makanan-makanan itu hanya halusinasi karena otak Suhu sangat dekat dengan lambung.

Lima menit kemudian, tgwinmg menggandeng Suhu mencari makan, Suhu digandeng tgwinmg mencari makan, Mimi sedang diberi nafas buatan.

Ternyata tidak mudah untuk mencari tempat makan di sekitar hotel kami. Hotel kami ada di daerah Petchaburi. Stasiun terdekat adalah Ratchatewi yang jaraknya sekitar 700 meter. Buat yang gak bisa membayangkan 700 meter, satu penggaris papan guru matematika SMA itu 1 meter. Bayangkan 700 penggaris papan. Intinya, jauh. Terutama buat orang yang lapar.

Sebagai seorang warga negara Indonesia yang menurut pasal 6 ayat 1 tidak bisa menjadi presiden, Suhu berharap Bangkok seperti kota kelahirannya. Di mana dalam jarak pandang selalu ada gerobak penjual makanan entah itu bakso, pangsit mi, nasi goreng, atau pun gado-gado. Sayang, Bangkok bukanlah Malang. Untungnya, tgwinmg dan Suhu sudah berdiam lama di metropolitan Singapura. Kami tahu di mana letak makanan. Dekat MRT Station pasti ada Hawker Centre.


Kami akan memaafkan your spelling mistake asalkan kamu menjual makanan. Food Crot pun tak mengapa


Kami berjalan menuju ke Ratchatewi Station. Tanpa arah tanpa daya dan nyaris tanpa tenaga. Sepanjang jalan kami mencari-cari tempat makan. Melihat sepanjang jalan raya, tidak ada tempat makan yang buka. Akhirnya kami melakukan keputusan kontroversial. Masuk gang-gang kecil. Berburu gerobak makanan. Lima gang telah kami jelajah, tak satu pun rombong terlihat. Kami pun berteriak dalam keputusasaan. tgwinmg sudah sama-sama lapar.

Mukjizat terjadi. Tiba-tiba muncul sebuah warung yang dari tadi tidak nampak kelihatan.

Kami masuk, melihat, dan bingung.

Tidak ada menu. Tidak ada gambar. Tidak ada orang, warung ini berhantu. Tidak ada ampun. Kami dua turis yang nekad masuk gang-gang kecil yang semestinya bukan tempat tujuan wisata. Tidak heran jika warung yang kami temukan, tidak English-user-friendly. Hanya ada satu cara. Nekad. Kami tidak punya tenaga untuk mencari warung lain.

Suhu mengandalkan Basic Thai language yang dia asah selama dua tahun bekerja dengan beberapa construction worker dari Thailand.

"Eh halo .. Sawadee .. karp."
"Sawadeekaaaa"

Sukses. Sekarang, minta makan. Makan. Khin. Apa. Arai. Terima kasih. Kop Khun Karp. Song Thaew. Tuktuk. Tiba-tiba semua basic Thai bercampur baur. Suhu menggunakan semua kekuatan yang tersisa untuk mengingatnya. Dia harus tahu bagaimana cara memesan Nasi Ayam. Dalam bahasa Thailand. Suhu benci harus melakukan ini di depan umum, tapi dia terpaksa menggunakan his superhuman power. Photographic memory. Dia memejamkan matanya, mengingat-ingat artikel yang pernah dibacanya.



Ingatannya buram remang-remang

Nasi ayam. Khao mann kai. Chicken Rice.

"Khao Mann Kai"
"Khao Mann Kai. Song khao?"
"Khao Mann Kai"
"Song"
"Buay song ah?"
"Sorry? Thai mai kao chai, nit noy nit noy"
"Khao Mann Kai, you. You, khao mann kai."
"Ya ya ya, two. Khao Mann kai, khao man kai. Two, yaaa ya ya. Song, song."
"Teaow toeaow tew tew waow tok tok waow" *sounds something like this*
"Yes. Yes. Food please."

Akhirnya kami berhasil memesan chicken rice! Dengan basic Thai! Lebih hebohnya lagi, kami berhasil memesan dua jenis chicken rice. Yang ayam putih dan yang ayam nya mentah goreng.


Yang putih mirip chicken rice singapore, yang goreng hwenak tenan


Silakan tepuk tangan untuk tgwinmg yang berhasil memesan Es teh manis dan keluarnya Pepsi.


Perhatikan bahwa pepsi juga dicetak pakai honocoroko salah cetak di sana


Karena susahnya mencari makanan di Thailand waktu itu, kami langsung membuat janji pada diri kami sendiri. Untuk makanan-makanan berikutnya. Kami akan mengabadikannya dalam bentuk JPEG. Agar supaya semua kenangan akan rasa, kuasa, dan prakarsa semuanya tersimpan dalam bahasa.


tgwinmg sedang mengabadikan sepiring Mango Sticky Rice dan La'na

Itu sebabnya judul posting kali ini adalah Thailand WTF. Yang artinya adalah Thailand Where's The Food? karena susahnya kami mencari. Yang artinya adalah Thailand What's This Food? karena yang keluar bukan seperti yang kami pesan maupun seperti foto yang ada di menu. Yang artinya adalah Thailand What The F*** karena makanan pedas di Thailand rasanya benar-benar nendang.

Finally, Suhu akan membagikan Survival Tips Mencari Makan di Thailand

1. Carilah makan sebelum lapar.
Meskipun hadis mengatakan makan ketika lapar, tidak ada salahnya MENCARI makan sebelum lapar. Hal ini terbukti berguna karena bisa jadi saat kita benar-benar lapar, kita masih belum menemukan makanannya. Yang berakibat kita telat makan dan PROMAG obatnya kita akan mengalami fase terberat dalam hidup kita. Mencari makan dalam kelaparan.

Kalau kamu mau mencari makanan khas Thailand untuk breakfast, tidak ada salahnya kamu menggigit satu dua kunyah breakfast yang disediakan hotel. Sekedar untuk mengganjal rasa lapar bila makanan yang kamu cari tak kunjung kamu jumpai.


Ini adalah contoh standar makanan breakfast hotel, sekedar untuk mengganjal


2. Belajar bahasa Thai
Setiap ada masakan yang Suhu suka. Suhu akan bertanya pada penjulanya "Nee arai?" yang artinya adalah "Apa ini?". Penjual biasanya akan dengan senang hati melatih melafalkan dengan perlahan. Ulangi apa yang dia ucapkan. Dia akan meralat kalau kamu pronounce nya salah. Latihlah berulang-ulang. Nanti kamu akan bisa berbicara dalam bahasa Thailand cara memesan makanan favoritmu. Misalnya, "Pad thai, cuang'ok mai ow" artinya Mi goreng gak pake taoge.


La'kna , meskipun di Singapore bunyinya Niou Rou Hor Fun


3. Jangan berasumsi
Di pasar malam Singapura, di bawah tenda-tenda terpal yang biasanya didirikan sementara di samping stasiun kereta. Salah satu meja akan menjual Shark Fin Soup, dan kuali sebelahnya akan menjual Fish Maw Soup. Pernah coba? Rasanya memang tidak fantastis. Itu sebabnya pertama kali Suhu melihat Fish Maw Soup di menu rumah makan Thailand, Suhu tidak mencobanya. Tapi setelah melihat orang memesan makanan tersebut, kelihatannya enak, dan totally different daripada spesies yang ada di Singapura. Dan setelah dipesan, dan dimakan. Ternyata HWENAK!


Fish Maw Soup di sini bukan cemilan, tapi makanan utama

4. Bawa bekal Air Mineral
Meskipun tingkat toleransi Suhu terhadap rasa pedas bisa dibilang cukup tinggi. Tapi pedas di Thailand artinya agak berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia biasanya pedas berarti panas di lidah. Tapi di Thailand pedas artinya membakar lidah. Oleh karena itu, sedia payung sebelum hujan, sedia hujan sebelum makan Tom Yam.


Noodle Soup yang diberi bola bakso sapi dan irisan daging charsiew babi. OWNING!

5. Jangan Mudah Menyerah
Mungkin setelah melakukan semua tips di atas, kalian masih tidak bisa pesan makanan di Thailand. Tidak bisa baca menu. Tidak bisa baca aksara Thailand. Jangan putus asa. Berusahalah. Bahkan ada beberapa aksara Thailand yang kalau dilihat terus menerus selama beberapa menit, akan berubah menjadi Bahasa Inggris yang kamu pahami. Tentu saja, kalau kamu beruntung dan hatimu suci.


Dengan ilmu mata hati suci aku bisa mengerti bahwa tulisan itu artinya mi kuah


6. Lihat Gambar
Saat semuanya gagal, ingatlah bahwa A picture worth more than a thousand words especially if you don't understand those words. Tapi untungnya, di beberapa tempat makan, menu nya menampilkan foto makanannya. Meskipun acap kali yang muncul agak berbeda dengan yang ada di foto, tapi lebih baik mirip daripada tidak ada sama sekali.



Swensen's di Ma Boon Krong, Bangkok. Nampaknya targetnya adalah turis buta huruf


7. Berbagi makanan.
Pernah dengar peribahasa "Kesedihan kalau dibagi akan berkurang, kebahagiaan kalau dibagi akan bertambah"? Biasanya Suhu akan memesan satu jenis makanan, dan tgwinmg akan memesan makanan lain. Saat makanan dihidangkan, kami akan saling cicip makanan yang ada di piring masing-masing. Kalau rasanya pedas sekali / tidak enak / gagal total , kami akan tertawa sambil menertawakan pasangan kami masing-masing karena telah membuat raut muka lucu akibat indra pengecap yang tersiksa.

Kalau rasanya nikmat / enak / sedap /surgawi, kami akan saling memandang. Lama. Berpandangan sangat lama. Menatap dalam ke dalam matanya. Lalu berebut piring yang berisi sisanya. Lalu merasa bersyukur bisa berbagi rasa bahagia ini.



It doesn't matter how the food taste


Suhu,
Pad thai, cuang'ok mai ow.

7 comments:

Melon Farmer said...

Pasal 6 ayat 1-nya udah berubah tuh hehehe... Liat di sini:

http://www.indonesia.go.id/id/files/UUD45/satunaskah.pdf

Gita Arimanda said...

"Kalau rasanya nikmat / enak / sedap /surgawi, kami akan saling memandang. Lama. Berpandangan sangat lama. Menatap dalam ke dalam matanya. Lalu berebut piring yang berisi sisanya. Lalu merasa bersyukur bisa berbagi rasa bahagia ini"

Oh so sweeeeeeet XD

Idub said...

Susah amat ya, mau makan aja.. Emang gimana2 lebih mudah di negeri sendiri

Di foto, besok2 ditunjukkin kalo mau pesen makan, jadi kemana2 bawa album foto isinya foto makanan semua.. Huhu..

"It doesn't matter how the food taste" <-- ini yang paling.. hrrr...

cantika said...

lama lama liat foto cece tgwinyg (y=your :p), cecenya terasa makin cantik yah?!

good job!
laper aku bacanya.
:)

nCy . vLa said...

mimi bukannya nama cewe ya? o_O

suhu said...

#farmer:
oh bener uda ganti ya? brarti suhu ga updated. maklum, hidup di hutan bambu.

#gita:
ayo anak kecil baca buku anak kecil. ini konsumsi orang dewasa.

#idub:
cerdas. sudah dilakukan juga bud. sebelum pergi, foto toilet dulu. kalau mau cari toilet nunjukin foto.

#cantika:
*menghalang-halangi*
"hush .... hush .. pergi ... pacarku jangan dimakan!"

#ncy:
mimi 'dulunya' laki-laki

Anonymous said...

Sorry for my bad english. Thank you so much for your good post. Your post helped me in my college assignment, If you can provide me more details please email me.