Sunday, May 10, 2009

On The Way to Wat Pho (Trip to Thailand - Part 3)

Agar tidak membuang waktu terlalu lama, kami pun pergi ke Temple-Temple yang terkenal di Bangkok. Tanpa tour. Dengan mengandalkan peta turisme dari hotel, perut yang kenyang, dan hati suci, kami pun pergi mencari taxi. Kami berjalan melalui gang-gang sempit dan akhirnya sampai juga di jalan raya.

Dari sana kami melihat lalu lintas yang sepertinya tidak pernah putus. Mau nyebrang aja susah. Dari kejauhan kami melambaikan tangan pada taxi yang lewat. Taxi itu berhenti.

"Wat Pho?" "Okay okay hasib baht"
"May ow, meter okay?"
"Fifty Baht very cheap. I give you go jewelery store."
"No no no. Wat Pho. Temple. No shop."

Tips: Di Thailand, di beberapa hotel, kalian akan menjumpai beberapa penipuan public transport. Mereka akan mengajak para turis yang culun pergi ke toko perhiasan / toko pakaian / toko lainnya dengan harga overprice / barang tiruan / tipu muslihat lain. Supir taxi akan mendapat komisi dari toko-toko itu untuk setiap turis yang berhasil mereka bawa ke sana. Buat turis yang diiming-imingi, intinya, JANGAN.

Tapi untungnya, mereka tidak terlalu mekso. Kalau kalian tidak mau, mereka tidak akan bersikeras mengajak kalian ke toko perhiasan. Paling-paling, mereka cari mangsa turis lain. Yang lebih empuk, yang belum baca blog berisi tips-tips semacam ini.

Kami pun akhirnya mendapat taxi yang mau membawa kami ke Wat Pho, pakai meter, dan tidak mampir-mampir ke toko-toko mencurigakan. Di tengah perjalanan, Suhu baru menyadari sesuatu. Sopirnya koq kayak preman ya. Rambut disemir coklat gelap. Diikat ekor kuda. Berkumis tumbuh liar. Bekas jahitan menggurat dari atas alis ke pipi. Di dasbor terlihat asbak dan foto sopir itu bersama segerombolan yang kelihatannya bekas teman-teman satu sel. Mencoba untuk menepis perasaan berlebihan itu, Suhu menarik nafas panjang. HHHhhhhhaa....

"Halo"
*tersedak*
"Halo"
"Ya." *Mati, kita dipalak sopir taxi.*
"This way." *menunjuk jalan sepi*
"Wat Pho. Wat Pho. Bai wat pho." *Dia bakal masuk gang sepi, kita dikompas lalu mati.*
"Ya. This way."
"Okay. Wat Pho." *Mungkin mayat kita tidak akan pernah ditemukan lagi.*

Aku cepat-cepat membuka peta. Peta turisme dari hotel itu cukup untuk menentukan arah. Sebagai lulusan Teknik Sipil Ninja Turtles University, mudah bagi Suhu untuk membaca peta dengan mengandalkan landmark-landmark yang ada. Sebenarnya tidak ada hubungan dengan ijazah, tapi Suhu sudah lama tidak menyebut gelarnya di blog ini. Nampaknya, supir taxi ini tidak menempuh jalan yang semestinya dilalui.

Jeng ... jeng ... jeng ...

"Halo. Which way you go?" *sambil gemetar*
"This way"
"Eh .. anu .. this way no." *nunjuk peta*

Setelah perjuangan antara Suhu yang gak bisa ngomong bahasa Thailand dan sopir yang gak lancar bahasa Inggris. Suhu menebak kira-kira artinya dia mau menculik kita dan meminta uang tebusan yang cukup besar untuk dana pensiunnya isi bensin terlebih dahulu. Dia menunjukkan jarum penunjuk bahan bakar yang menunjuk ke arah huruf E. Singkatan dari Enthek.

Suhu pun mulai menghilangkan kecurigaannya. Mungkin dia bukan orang jahat. Mungkin dia cuma ingin mengisi bensin dan mengambil jalur ke pom bensin terdekat. Mungkin ini hanya kekhawatiran berlebihan. Suhu mencoba menenangkan dirinya. Mungkin.

Astaga.

Baru saja dia melewati sebuah pom bensin. Dia MELEWATI sebuah pom bensin. Dia. PENJAHAT. Jangan-jangan ini hanya alasan. Aku tahu sangat mudah bagi orang yang berpendidikan montir untuk mengutak-atik jarum penunjuk tangki bahan bakar. Banyak yang telah melakukannya. Dengan mengumpulkan segala keberanian yang tersisa, Suhu menggertak sopir taxi ini.

"HALO!"
*terkejut lalu banting setir* "Yaaaa..." *hampir tabrakan*
"Where you go?" *tetap dengan nada mandor berteriak ke bangla*
"Gas! Gas!"
"WHERE?" *makin garang, merasa di atas angin* "GASSSS!!! GASSS!! please don't shoot"

Dengan gerak-gerik bisu tuli, Suhu mencoba menanyakan motif nya kenapa melewati pom bensin barusan. Dengan bahasa inggris sedangkal peredaran darah amuba, sopir taxi itu berusaha menjelaskan ke Suhu alasan mengapa dia tidak berhenti di pom bensin yang tadi. Suhu menangkap penjelasannya mengandung kata "Elpiji, elpiji.". Mungkin di pom bensin yang berikutnya, jual elpiji buat istrinya titip kemarin malam.

Tentu saja pertanyaan terjawab setelah akhirnya kami sampai sana.

Ternyata taxi nya pake bahan bakar LPG

Memang Suhu sudah sering dengar bahwa kendaraan berbahan bakar LPG memiliki emisi CO2 lebih rendah tapi menjumpainya, ini baru pertama lagi. Bayangkan, mobil ini, kalo malam-malam kamu kelaparan, kamu bisa naruh kompor di atas knalpotnya lalu masak mi instan.

Terbukti setelah Taxi kami diisi Elpiji, jarum penunjuk bahan bakar menunjuk ke huruf F. Singkatan dari Fenuh. Lalu kami menuju ke Wat Pho. Melewati jalan-jalan yang nampaknya normal. Suhu dan tgwinmg menarik nafas lega karena kami tidak jadi diculik sopir taxi berwajah preman. Dan saat kami selesai berdoa mengucap berkah, kami membuka mata. Kami tidak berada di Wat Pho. Kami di Hongkong.

Gile supir taxi itu nyetir sampe Hongkong


Spanduk dan nama toko. Selebaran. Semuanya dalam bahasa Cina. Orang Cina di mana-mana. Ini persis sama seperti daerah Wan Chai di Hongkong. Jika saja sopir taxi itu tidak berkata.

"Traffic Jam. Car many. Always. Jawarat, Bangkok Chinatown"

Beberapa menit kemudian, kami berhasil lolos dari kemacetan setelah supir taxi kami melakukan manuver-manuver berbahaya yang hanya bisa dipraktekkan stunt driver film Too Fast Too Furious. Akhirnya. Kami sampai Vihara Buddha tidur. Ternyata tempat ini tak lain tak bukan adalah.

-bersambung-

Apakah sebenarnya Wat Pho itu? Apa keterlibatan Roro Jonggrang dalam pembangunan Wat Pho? Apakah benar bahwa Roro Jonggrang menolak Hanya. Di.

kisah di balik hutan bambu. Truth and Lies of Sayembara Roro Jonggrang

4 comments:

herephy said...

blog bagus :)

cantika said...
This comment has been removed by the author.
Idub said...

Halaah..bersambung meneh.. suwi2 blog iki podo wae karo Tersanjung..

Kasihan supir taksinya di curigai turis sok tau.. hihihi.. piss

suhu said...

#herephy:
thanks

#idub:
haha... targetku ngalahke tersanjung koq. piye neh, nang thailand e sakminggu punjul mas.