Sunday, May 10, 2009

Getting Around in Thailand (Trip to Thailand - Part 1)

Yow sobat muda di mana pun anda berada, seperti yang telah anda ketahui, Suhu baru saja melarikan diri dari kejam nya dunia kerja. Menuju sebuah tujuan yang sangat kental dengan budaya dan tradisi. Sebuah negara yang kerap dikenal dengan Kerajaan Gajah Putih. Tak lain tak bukan adalah United States of America!!! Thailand. Pada kesempatan kali ini, Panda Tambun akan mengulas satu demi satu tempat-tempat yang dikunjungi di Thailand.

Disclaimer: Ini bukan review tentang tempat wisata, bukan pula pelajaran geografi mengenai tempat-tempat tradisi dan budaya, tidak juga promosi dari pemerintah Thailand. Ini cuma catatan perjalanan semata, dengan tips-tips sederhana belaka, tanpa tujuan tersembunyi. Hanya untuk dibaca lagi di kemudian hari untuk sekian kalinya. Sambil tersenyum dan berkata "Dulu aku pernah muda".

Oke, sebelum lanjut membaca. Siapkan camilan dan minuman. This is going to be a long story.

Pagi itu, Suhu berangkat pagi-pagi ke Changi Airport. Dengan satu alasan yang pasti. Benul. Flight nya pagi. Kami naek budget flight JetSavers dari JetstarAsia, untuk membuktikan bahwa kami adalah cina sejati pelit tak tertandingi well-informed-travellers. Ya, kami. Suhu berangkat bersama tgwinmg.


Memastikan pacar sudah dibawa sebelum dimasukkan memasukkan bagasi


Total waktu penerbangan dari Changi Airport Singapore sampai Suvarnabhumi Airport Thailand sekitar 2 jam, tapi karena perbedaan Zona waktu [dikarenakan Singapura mengadopsi tata waktu yang biadab], waktu perjalanan relatif kami adalah satu jam. Alasan serupa yang akan membuat penerbangan pulang memakan waktu relatif tiga jam.

Dalam sunyi senyap henyakku dalam tidur, mimpiku terusik suara yang telah diamplifikasi secara digital dari speaker internal pesawat.

Krosakkkk krosaakk Bbzzz *nguing* Good morning this is your captain speaking ... bla bla bla ... Krosak Bzzz Blip.

Inti dari informasi kapten ini adalah kita sudah hampir mendarat. Maka kami pun melihat ke arah luar jendela.

Yang, ini koq kayak surabaya ya?
Iya, itu kali Brantas bukan?


Sama seperti Indonesia, Thailand juga menghasilkan beras dari sektor persawahan yang kuat. Maka tidak heran jika dilihat dari angkasa, daerah sekitar Airport Suvarnabhumi Bangkok tidak jauh berbeda dengan Landasan Udara Angkatan Laut Juanda Surabaya.


Yang, ini kayaknya flight ke Surabaya deh. Itu Kali Brantas kan?


Parahnya, setelah kami mendarat, samar-samar kami melihat tulisan-tulisan aksara Jawa seperti yang biasanya terukir di gapura-gapura antar kabupaten di Jawa Timur. Sesaat kami sempat yakin bahwa kami salah flight ke Surabaya. Tapi setelah mengamati ukir-ukiran itu dengan cermat, nampaknya aksara Jawa itu salah cetak. Atau, lebih tepatnya, itu aksara Thailand.

Saat itu kami berpikir dalam hati. Datang ke sebuah negara yang bahasanya tidak kami mengerti, tulisannya tidak kami kenali, budayanya tidak kami pahami. Holy crap we are awesome in deep shit!. Dan sekedar untuk informasi para pembaca, liburan kali ini, seperti liburan-liburan sebelumnya. Adalah liburan yang kami rancang sendiri. Bukan pake tour, bukan pake travel agent, tanpa dibarengi serombongan tante-tante bertopi seragam yang dipimpin anak muda berbaju kuning menyala membawa bendera. Ya, tour guide selalu saya konotasikan dengan baju berwarna terang dan bawa bendera.

Setengah menghibur diri, setengah mengandalkan pengalaman. Suhu berkata pada dirinya sendiri. "How bad can it be?" Kami berdua sudah survive Hongkong tanpa bisa cantonese. Suhu sudah pernah sendirian ke Taiwan di mana supir taxinya ga ngerti artinya airport. tgwinmg sudah ke tembok besar cina berbekal keberanian belaka. Seriously, how bad can it be? Lagipula, di Thailand ada 7-eleven dan fast food, kan? Pasti menunya nggak jauh beda dengan yang di Singapore, kan? Betul?


Salah.


Tapi sudah terlambat untuk menyesali semua ini. Nasi sudah menjadi dubur bubur. Mari kita makan bubur nya selagi masih hangat. Kami berjalan ke arah pintu keluar airport. Segera berhamburan para sopir taxi yang mencari mangsa turis-turis tak berpengalaman. Sayang seribu sayang, Suhu dan tgwinmg sudah melakukan research di internet mengenai sarana transportasi di Bangkok.

Mari Suhu share dengan kalian tentang sarana transportasi di Bangkok. Basically, untuk setiap tempat yang kalian kunjungi untuk liburan, transportasi setempat adalah hal terpenting yang perlu diketahui. Tapi acapkali kita sering melupakan aspek ini, dan sudah lega saat Tiket Pesawat dan Kamar Hotel sudah selesai diurus. Padahal transportasi DALAM tempat wisata tidak kalah penting daripada transportasi DARI & KE tempat wisata.

Karena Thailand merupakan negara besar, antara satu tempat dan tempat lain, sarana transportasi efektif nya pun berbeda. Di tempat-tempat seperti Pattaya, Koh Samui, dan daerah pantai-pantai lainnya, menyewa sepeda motor atau mobil dan mengemudinya sendiri bisa jadi alternatif yang lebih asyik. Tapi di Bangkok, menyetir sendiri dengan mobil rental, bisa kalian lupakan.


Ya, lupakan.


Nadi utama lalu lintas Bangkok dilintasi oleh BTS, yang tidak jauh beda dengan MRT [Singapore], atau MTR [Hongkong]. Sebuah sistemm kereta modern yang mondar-mandir di jalur itu-itu saja tanpa terpengaruh kemacetan kota. Sayang sekali, karena masih dalam tahap pembangunan, masih banyak tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh BTS. Sehingga dari stasiun BTS terdekat, kita masih harus mengandalkan sarana transportasi lain. Dan karena bus kota hanya menunjukkan arah dalam bahasa krama inggil salah cetak aksara Thailand, para turis harus mencari alternatif lain.


Tuktuk dan taxi merah jambu

Tuktuk, bisa dibilang sarana transportasi yang masih mengandung nilai budaya. Pada umumnya tarif tuktuk lebih murah daripada taxi. Pada jam-jam macet, tuktuk bisa menyusup masuk ke celah-celah sempit, dan nrabas gang-gang gak jelas. Tapi sayangnya, tuktuk juga punya kelemahan. Sebagai kendaraan terbuka, dikombinasi dengan matahari Bangkok yang kurang bersahabat, tuktuk sangat tidak cocok untuk perjalanan jarak jauh.

Tips untuk naek Tuktuk: Tawar menawar harga SEBELUM naek tuktuk. Jangan mau kalau diajak mampir ke tempat-tempat lain selain tujuanmu. Jangan banyak bicara, tidak usah pasang tampang bersahabat. Tawar, duduk, turun, bayar. Kalau kamu sudah tau kira-kira tarif perjalanannya, jangan takut untuk menawar. Meminjam istilah di salah satu travel guide: Haggle furiously. Mereka selalu charge overprice untuk tampang-tampang turis culun. Dan kalau mereka tidak mau, beranjaklah ke tuktuk berikutnya.

Selain tuktuk, ada pula taxi merah jambu. Taxi-taxi dengan bahan bakar LPG ini, pada dasarnya semua memiliki meter, tapi mereka tidak akan menyalakannya jika tidak diminta. Sebelum naek ke atas taxi, bilang tujuan kamu. Untuk lebih mudah nya, tunjukkan kartu nama hotel, atau nama tempat-tempat wisata atau foto yang sudah kamu print sebelumnya. Mereka kadang agak susah mengerti bahasa Inggris kita, karena bahasa inggris kita mengandung aksen campuran antara British, Eropa, dan Madura.

Tips naek taxi: Selalu meminta untuk memakai meter SEBELUM naek ke atas taxi. Jika sopir beralasan meter rusak atau dia menge-charge harga lebih murah daripada pakai meter, jangan mau. Kalau sopir tidak mau pakai meter, silakan lanjut ke taxi berikutnya. Kalau kamu wanita, tutup pintunya keras-keras sambil bilang "kamu pikir cuma kamu satu-satunya pria di dunia ini? Aku masih bisa mencari taxi lain!"

Studi kasus:

Setelah keluar dari Gate 3 [International Arrival], Suhu naik public taxi yang sudah mangkal di airport [berbeda dengan taxi airport - limousine]. Untuk taxi-taxi ini, ada surcharge 50 baht yang akan dibebankan ke penumpang.

Sesaat setelah naik taxi, meskipun sudah setuju untuk memakai meter, sopir taxi itu tidak menyalakan argo nya. Maka Suhu pun menegurnya.

"Excuse me. Meter please."
"Kheepunjap Ow nut khap."
"English please. Thai mai kao chai."
"You go. Surcharge I pay. Highway I pay. All I pay."
"Thank you." *di mana lagi kamu bisa menemukan keramahtamahan warga lokal semacam ini*
"Ha loi baaaht. Five hundred baht."
"No thank you. Meter please."

Sopir itu pun enggan menyalakan meter. Setelah menjelaskan bahwa kalau pakai meter akhirnya jatuhnya bakal lebih mahal. Dan dia menjelaskan seolah-olah turis nya gak paham bahasa Inggris. Mungkin karena tampang kami bukan tampang-tampang bule yang inggrisnya cas-cis-cus. Maklum mata kami jauh dari warna biru, rambut kami jauh dari warna pirang, dan hidung kami jauh dari definisi mancung.

"Meter." *sopir taxi tepuk-tepuk argo, seolah ini teknologi yang baru diciptakan Thailand*
"Ya meter."
"Meter expensive more."
"It's okay. Meter."
"Noooo. Meter more money."
"It's okay. Money is not an issue."
"No no no."
"Mai aw. Mai aw. No meter I go down."

Supir taxi menyalakan argonya. Beberapa supir taxi memang masih nakal meskipun sudah berunding sebelum naik mobil. Beberapa simply menolak pakai meter sebelum kamu naik. Tapi mayoritas mau memakai meter saat diminta dan kalau kamu berbeda pendapat dengan supir taxi, menolak dengan tersenyum sangat dianjurkan. Mereka generally friendly dan tidak menggigit bermaksud jahat.

Setelah sampai di hotel, kami hitung. Surcharge airport 50 baht. Masuk dua jalan tol masing-masing 25 baht dan 45 baht, tarif tol dibayar oleh penumpang. Dan angka yang tercantum di argometer 225 baht. Total 345 baht. Menurut yang kami baca di travel guide di internet dari airport ke pusat kota sekitar 300 Baht. Mungkin karena hotel kami jauh atau sopir taxi nya muter-muter kami kena 45 baht lebih mahal. Tapi masih jauh lebih murah daripada harga package yang ditawarkan, 500 Baht.

Sesampainya di hotel, kami segera check-in. Ingin segera memulai petualangan kami. Menimbang kami sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Bangkok, tampaknya tour lokal adalah pilihan yang bijaksana. Mengikuti nasihat petualang yang sudah merambah Bangkok beberapa bulan yang lalu, Alfonso sang psikopat dan pacarnya, kami mencari lokal travel agent yang bisa meng-arrange city tour ke tempat-tempat wisata sekitar Bangkok.

Untung bagi para turis yang ingin memakai metode ini, di Thailand hampir setiap hotel bekerja sama dengan satu atau lebih travel agent. Jadi mereka biasanya punya representatif yang deployed di hotel bersangkutan. Setelah resepsionis menujukkan ke arah sebuah meja kecil di mana seorang lelaki setengah baya sedang bekerja, kami menuju ke sana.

Kami melihat mejanya. Kecil. Seperti exam table NTU. Di sampingnya, ada poster sederhana dengan foto-foto tempat wisata. Lalu di mejanya ada kumpulan kertas-kertas di-laminating dengan foto album. Kami mendekat ke arahnya, sembari melihat-lihat foto yang ada di poster nya. Pemuda itu terkesiap, rupanya dia tidak menyadari kehadiran kami.

"Sawadeekarp. Good morning can I help you? My name is Mimi."

- bersambung -





Apakah Suhu jadi mengikuti city tour? Ataukah jiwa petualangannya yang menggebu-gebu memutuskan untuk pergi menjelajah Bangkok tanpa bantuan guide? Tour seperti apakah yang ditawarkan oleh Mimi? Benarkah Mimi ternyata agen tunggal tiket Tiger Show?

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Thailand WTF!!!

4 comments:

konnyaku said...

we want more
we want more
we want more

Idub said...

Supir taxine wani yo.. bawa2 panda. Di tangkep greenpeace urusan panjang

suhu said...

#konnyaku:
sibukkkkk kerja ga sempat ngeblog

#idub:
hahaha puwas? puwas???

Wisata Obyek said...

ini yang dicari
info hutan bambu di surabaya
salah satu tempat hangout foto unik