Sunday, May 10, 2009

Truth and Lies of Sayembara Roro Jonggrang (Trip to Thailand - Part 4)

Sudah pernah dengar tentang kisah Roro Jonggrang?

Alkisah, ribuan tahun silam. Tersebutlah jejaka tampan kuat dan perkasa, kembali dari pertapaan ke kerajaannya. Bapaknya yang adalah seorang raja. Mengutusnya pergi ke negeri seberang untuk kuliah Teknik Sipil menginfiltrasi negara tetangga sebagai agen rahasia.

"My name is Bond, Bandung Bond."

Benar. Ini adalah kisah tentang Bandung Bondowoso. Mengikuti titah ayahnya, Bandung Bondowoso menyerang kerajaan yang dipimpin oleh, I swear to God I didn't make this shit up, Raja BAKA. Tentang nama lengkapnya apakah Baka Yaro, itu saya kurang yakin. Karena aji sakti mandraguna Bandung Bondowoso, akhirnya Raja Baka kalah. Dan menurut legenda-legenda yang ada, kalah berarti mati. Mati.

Satu yang tidak diketahui oleh Bandung Bondowoso, Raja Baka [yang barusan mati] mempunyai satu anak yang sangat cantik. Putri ini bernama Roro Jonggrang. Entah kenapa banyak cerita yang menyebutnya Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso terkesiap oleh cantiknya Roro Jonggrang, paras yang menawan, tutur kata lembut penuh santun, bodi aduhai, sintal mengundang, kalau diteruskan lama-lama bisa jadi artikel 17tahun dot kom

Langsung, tanpa gugu gaga, Bandung Bondowoso meminta Roro Jonggrang untuk menjadi istrinya. Tapi, bagaimanapun juga, Roro Jonggrang tidak mau diperistri oleh orang yang telah membunuh ayahnya. Roro Jonggrang pun bingung. Bingung memilih. Kalau diterima, bertentangan dengan hati nurani. Ditolak mentah-mentah nanti dibunuh. Kecamuk antara harga diri dan takut mati, Roro Jonggrang terilham sebuah ide gemilang.

Bikin. Syarat. Yang. Gak. Masuk. Akal.

"Aku bukannya nggak mau jadi istri kamu. Tapi ..."
"Tapi apa, nggrang?"
"Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Tapi aku cuma mau jadi istri Insinyur Teknik Sipil."

Bandung Bondowoso pun bingung bagaimana harus memenuhi persyaratan ini. Apalagi saat itu belum ada satu pun universitas yang menawarkan program Teknik Sipil kilat. Dan seperti yang kita tahu, Sarjana Teknik Sipil, tidak mudah mendapatkannya. Itu kan jurusan yang gampang masuknya susah keluarnya.

"Bagaimana caranya, nggrang?"
"Ya, kalau kamu mau membuktikan kamu mampu, bikinin aku seribu candi."
"Oke."

Begitu cepat respon Bandung Bondowoso untuk menyanggupi permintaan Roro Jonggrang, membuat putri ini pucat pasi dan memikir ulang. Jangan-jangan salah strategi. Kecerdasannya yang jelas tidak diperoleh dari ayahnya, mengimbangi kecantikannya. Dengan cepat dia menyela.

"Eits, belum selesai syaratnya, nDung. 1000 Candi itu, mesti selesai, dalam waktu SATU malam."
"Lek kui matamu nggrang" "Oke."
"Ndung, seribu candi. Satu malam."
"Oke."
"Kamu tahu candi nggak sih?"
"Tahu, yang batu dibentuk kayak puting susu itu kan?"
"Itu stupa, ndung."
"Candi itu?"
"Yang tempatnya orang naruh stupa."
"Oh fuck."

Terlanjur bilang oke, Bandung Bondowoso segera pulang. Dia ambil kuali, menyiram air bunga, memegang bibir kuali dengan gerakan memutar tujuh kali. Perlahan air bunga di dalam kuali bergejolak. Lalu muncul gambar di permukaan air. You are logged in to KualiMessenger v2.1

"Gimana ini, mungkin nggak sih mbangun 1000 candi dalam satu malam?"
"Susah lah, ndung."
"Susah? Berarti bisa kan?"
"Ya bisa, tapi beton nya mesti dicampur superplasticizer biar cepet ngalir, terus dikasi Floor hardener biar cepet keras. Kerjanya mesti cepet banget biar beton e nggak kaku pas lagi ngecor."
"Jadi, gimana? Perlu apa aja?"
"Perlu orang bwanyak, ndung."
"Kamu bisa bantuin bikin nggak?"
"Wah, aku cuma punya bangla tujuh puluh tiga, ndung."
"Cari'in temen-temen kamu lah, Hu."
"Oke deh. Tapi nggak janji."

Nah, mungkin bagian dari legenda ini yang nggak pernah kalian dengar. Teman Bandung Bondowoso, yang notabene adalah seorang Sarjana Teknik Sipil, mencoba membantu Bandung untuk menyelesaikan tugas tersebut. Maka dia pun nge-post di mailing list Asosiasi Mandor Intelijen Tampan Ampuh Mantap Internasional Terpercaya (AMIT-AMIT). Biar menarik, isinya berupa sayembara.


Sayembara berhadiah:

Bikin seribu candi dalam semalam, dapat istri cewek bahenol, putri raja, babenya baru mati.


Tak berapa lama kemudian, si Bandung memanggil lagi di KualiMessenger. Tertanda dengan air cucian berkedip-kedip oranye. Sarjana teknik sipil itu melihat.

"Hu, udah. Aku jadinya minta bantuan jin sama tuyul. Tengkyu eniwei."
"Oh oke. Jadi udah nggak perlu bantuan orangku ya?"
"Ho'oh, ga usah wes. Cukup koq rasa e makhluk halus ku."
"Oke oke. Good luck, ndung."

Bandung Bondowoso, membangun candi demi candi dengan bantuan para makhluk halus. Suhu, membangun dengan bantuan para orang-orang kasar. Tuyul, jin lampu, jin botol, jin toples, semua dia kerahkan. Roro Jonggrang pun takut melihatnya. At this rate, Bandung Bondowoso akan mampu menyelesaikan tugasnya. Roro Jonggrang tak kehabisan akal. Dia berlari membangunkan perempuan-perempuan seisi kerajaan. Lalu mereka membuat bunyi-bunyian seolah-olah sudah pagi. Mempercepat weker, mematikan lampu depan, menumbuk alu-alu dug dug dug, menyalakan speaker mushola krosak krosak nguinnggg.

Makhluk halus yang direkrut oleh Bandung Bondowoso, berhenti mengerjakan candi-candi itu. Mereka mengira jam kerja mereka sudah selesai, dan mulai packing semua peralatan mereka ke dalam toolbox. Lalu absensi untuk menghitung timesheet dan jatah upah lembur. Bandung Bondowoso kebingungan. Buru-buru dia menghitung candi yang sudah selesai. Sembilan. Ratus. Sembilan. Puluh. Sembilan. Wanbede wanbede wanbede.

Arrghhh!!!! Nggrang, ngaco aja kamu. Diem aja napa seh!
Yee... wek wek wek ...nyanyanyanya ... wek wek ga selesai.
JADI CANDI KAMU!
Oke.

Lalu demikianlah kisah bagaimana Bandung Bondowoso kehilangan seorang gadis yang dicintainya karena amarah murkanya. Demikian pula Bandung Bondowoso menunaikan tugasnya membangun seribu candi dalam semalam. Sebuah kisah yang sangat inspirasional yang akan menjadi dongeng sebelum tidur anak-anak yang bercita-cita menjadi insinyur sipil.

Sekuel dari cerita tersebut:

Masih ingat tentang sayembara yang disebar di Mailing List tadi? Ternyata beberapa jejaka putus asa dari negeri seberang, juga ikut membacanya. Tapi mungkin karena mereka kurang paham latar belakangnya. Mereka kira, siapa pun yang berhasil membangun seribu candi, akan dapat hadiahnya. Dan karena di negara mereka susah untuk mengecek email, mereka bahkan tidak mendapat kabar bahwa hadiah sayembara sekarang sudah jadi batu. Bukan, bukan Malin Kundang, Roro Jonggrang.

Di Wat Pho lah kami menemukan ribuan Candi seperti layaknya yang dibangun oleh Bandung Bond. Tapi, mungkin karena mereka tenaga kerjanya lebih kreatif dan dinamis, candi-candi di sini full colour. Mungkin juga karena pembangunan candi ini disponsori oleh Kodak dan Fujifilm, kalau mereka sudah ada pada zaman itu.


Wat Pho - cuplikan serial Bandung Bondowoso in full colour


Brapa Candi? Ratusan? LEBIH!

Untuk lebih memperkeruh suasana dan merusak mitos sang legenda, Suhu dan tgwinmg pergi ke Temple lain di sekitar Wat Pho. Yaitu The Lucky Budha Temple. Di sana kami menjumpai satu set Candi-candi lain yang baru dikapur, tidak ditegel mozaic. Jadi sebenarnya ada berapa macam candi?


Lucky Buddha Temple - seperti komik Bandung Bondowoso sebelum diwarna

Ada berapa sih orang-orang yang kesengsem sama Roro Jonggrang?

Suhu,
nggak semua yang lu denger itu bener.

Selanjutnya, hanya di kisah di balik hutan bambu: Floating Market, A Hoax?

On The Way to Wat Pho (Trip to Thailand - Part 3)

Agar tidak membuang waktu terlalu lama, kami pun pergi ke Temple-Temple yang terkenal di Bangkok. Tanpa tour. Dengan mengandalkan peta turisme dari hotel, perut yang kenyang, dan hati suci, kami pun pergi mencari taxi. Kami berjalan melalui gang-gang sempit dan akhirnya sampai juga di jalan raya.

Dari sana kami melihat lalu lintas yang sepertinya tidak pernah putus. Mau nyebrang aja susah. Dari kejauhan kami melambaikan tangan pada taxi yang lewat. Taxi itu berhenti.

"Wat Pho?" "Okay okay hasib baht"
"May ow, meter okay?"
"Fifty Baht very cheap. I give you go jewelery store."
"No no no. Wat Pho. Temple. No shop."

Tips: Di Thailand, di beberapa hotel, kalian akan menjumpai beberapa penipuan public transport. Mereka akan mengajak para turis yang culun pergi ke toko perhiasan / toko pakaian / toko lainnya dengan harga overprice / barang tiruan / tipu muslihat lain. Supir taxi akan mendapat komisi dari toko-toko itu untuk setiap turis yang berhasil mereka bawa ke sana. Buat turis yang diiming-imingi, intinya, JANGAN.

Tapi untungnya, mereka tidak terlalu mekso. Kalau kalian tidak mau, mereka tidak akan bersikeras mengajak kalian ke toko perhiasan. Paling-paling, mereka cari mangsa turis lain. Yang lebih empuk, yang belum baca blog berisi tips-tips semacam ini.

Kami pun akhirnya mendapat taxi yang mau membawa kami ke Wat Pho, pakai meter, dan tidak mampir-mampir ke toko-toko mencurigakan. Di tengah perjalanan, Suhu baru menyadari sesuatu. Sopirnya koq kayak preman ya. Rambut disemir coklat gelap. Diikat ekor kuda. Berkumis tumbuh liar. Bekas jahitan menggurat dari atas alis ke pipi. Di dasbor terlihat asbak dan foto sopir itu bersama segerombolan yang kelihatannya bekas teman-teman satu sel. Mencoba untuk menepis perasaan berlebihan itu, Suhu menarik nafas panjang. HHHhhhhhaa....

"Halo"
*tersedak*
"Halo"
"Ya." *Mati, kita dipalak sopir taxi.*
"This way." *menunjuk jalan sepi*
"Wat Pho. Wat Pho. Bai wat pho." *Dia bakal masuk gang sepi, kita dikompas lalu mati.*
"Ya. This way."
"Okay. Wat Pho." *Mungkin mayat kita tidak akan pernah ditemukan lagi.*

Aku cepat-cepat membuka peta. Peta turisme dari hotel itu cukup untuk menentukan arah. Sebagai lulusan Teknik Sipil Ninja Turtles University, mudah bagi Suhu untuk membaca peta dengan mengandalkan landmark-landmark yang ada. Sebenarnya tidak ada hubungan dengan ijazah, tapi Suhu sudah lama tidak menyebut gelarnya di blog ini. Nampaknya, supir taxi ini tidak menempuh jalan yang semestinya dilalui.

Jeng ... jeng ... jeng ...

"Halo. Which way you go?" *sambil gemetar*
"This way"
"Eh .. anu .. this way no." *nunjuk peta*

Setelah perjuangan antara Suhu yang gak bisa ngomong bahasa Thailand dan sopir yang gak lancar bahasa Inggris. Suhu menebak kira-kira artinya dia mau menculik kita dan meminta uang tebusan yang cukup besar untuk dana pensiunnya isi bensin terlebih dahulu. Dia menunjukkan jarum penunjuk bahan bakar yang menunjuk ke arah huruf E. Singkatan dari Enthek.

Suhu pun mulai menghilangkan kecurigaannya. Mungkin dia bukan orang jahat. Mungkin dia cuma ingin mengisi bensin dan mengambil jalur ke pom bensin terdekat. Mungkin ini hanya kekhawatiran berlebihan. Suhu mencoba menenangkan dirinya. Mungkin.

Astaga.

Baru saja dia melewati sebuah pom bensin. Dia MELEWATI sebuah pom bensin. Dia. PENJAHAT. Jangan-jangan ini hanya alasan. Aku tahu sangat mudah bagi orang yang berpendidikan montir untuk mengutak-atik jarum penunjuk tangki bahan bakar. Banyak yang telah melakukannya. Dengan mengumpulkan segala keberanian yang tersisa, Suhu menggertak sopir taxi ini.

"HALO!"
*terkejut lalu banting setir* "Yaaaa..." *hampir tabrakan*
"Where you go?" *tetap dengan nada mandor berteriak ke bangla*
"Gas! Gas!"
"WHERE?" *makin garang, merasa di atas angin* "GASSSS!!! GASSS!! please don't shoot"

Dengan gerak-gerik bisu tuli, Suhu mencoba menanyakan motif nya kenapa melewati pom bensin barusan. Dengan bahasa inggris sedangkal peredaran darah amuba, sopir taxi itu berusaha menjelaskan ke Suhu alasan mengapa dia tidak berhenti di pom bensin yang tadi. Suhu menangkap penjelasannya mengandung kata "Elpiji, elpiji.". Mungkin di pom bensin yang berikutnya, jual elpiji buat istrinya titip kemarin malam.

Tentu saja pertanyaan terjawab setelah akhirnya kami sampai sana.

Ternyata taxi nya pake bahan bakar LPG

Memang Suhu sudah sering dengar bahwa kendaraan berbahan bakar LPG memiliki emisi CO2 lebih rendah tapi menjumpainya, ini baru pertama lagi. Bayangkan, mobil ini, kalo malam-malam kamu kelaparan, kamu bisa naruh kompor di atas knalpotnya lalu masak mi instan.

Terbukti setelah Taxi kami diisi Elpiji, jarum penunjuk bahan bakar menunjuk ke huruf F. Singkatan dari Fenuh. Lalu kami menuju ke Wat Pho. Melewati jalan-jalan yang nampaknya normal. Suhu dan tgwinmg menarik nafas lega karena kami tidak jadi diculik sopir taxi berwajah preman. Dan saat kami selesai berdoa mengucap berkah, kami membuka mata. Kami tidak berada di Wat Pho. Kami di Hongkong.

Gile supir taxi itu nyetir sampe Hongkong


Spanduk dan nama toko. Selebaran. Semuanya dalam bahasa Cina. Orang Cina di mana-mana. Ini persis sama seperti daerah Wan Chai di Hongkong. Jika saja sopir taxi itu tidak berkata.

"Traffic Jam. Car many. Always. Jawarat, Bangkok Chinatown"

Beberapa menit kemudian, kami berhasil lolos dari kemacetan setelah supir taxi kami melakukan manuver-manuver berbahaya yang hanya bisa dipraktekkan stunt driver film Too Fast Too Furious. Akhirnya. Kami sampai Vihara Buddha tidur. Ternyata tempat ini tak lain tak bukan adalah.

-bersambung-

Apakah sebenarnya Wat Pho itu? Apa keterlibatan Roro Jonggrang dalam pembangunan Wat Pho? Apakah benar bahwa Roro Jonggrang menolak Hanya. Di.

kisah di balik hutan bambu. Truth and Lies of Sayembara Roro Jonggrang

Thailand WTF (Trip to Thailand - Part 2)

Pemuda itu menyapa kami dengan profesionalisme nya, dengan Inggris yang berlogat Thailand, tapi masih bisa dimengerti.

"Sawadeekarp. Good morning can I help you? My name is Mimi."

Mimi membawa kami ke meja nya. Menunjukkan beberapa jenis tour yang ditawarkan oleh perusahaannya. Bahkan kami bisa customize travel plan kami, tapi tentu saja harus membayar lebih mahal.

Opsi pertama adalah Full Day Tour.

Pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok kami akan diberangkatkan ke Floating Market, di sana kami akan diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan masyarakat Thailand berdagang di atas sampan. Di tempat yang sama, kami diberi pilihan untuk naik gajah melintasi hutan belantara, menyeberangi perairan dan merasakan bagaimana penduduk setempat dulu menggunakan gajah sebagai sarana transportasi kelas berat sebelum machinery masuk desa. Di sisi lain floating market, atraksi ular Kobra juga dipersiapkan untuk para turis yang berminat.

Dari sana kami akan dibawa ke tempat pahat memahat kerajinan kayu sebelum kemudian pergi ke perhentian untuk makan siang. Lalu kami akan dibawa pergi ke Elephant Ground dan Crocodile Farm. Terakhir, sebelum tour selesai, kami akan dibawa ke Rose Garden. Setelah show di Rose Garden, kami akan dipulangkan kembali ke hotel masing-masing.

Opsi kedua adalah Half Day Tour

Kunjungan ke Grand Palace, Wat Arun, dan Wat Wat lain nya. Temple-temple yang terletak di sepanjang Sungai Chao Praya [ya, ternyata itu bukan Kali Brantas]. Juga termasuk tour naek kapal di sepanjang perairan Chao Praya. Dan bla bla bla ...

Suara Mimi perlahan mulai memudar. Pasti ini adalah salah satu ilmu gelap yang dipakai para travel agent Thailand agar kita terbuai dengan tawaran-tawarannya. Atau, kemungkinan kedua, ini adalah ... RASA LAPAR.

Dengan decision making skill yang tak diragukan, tgwinmg memutuskan. Kita ambil yang full day, tapi untuk besok. Karena Floating Market, jika seperti pasar basah endonesa, pasti aktivitas utamanya di pagi hari. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam .. sebentar ... jam kami belum di-set ke waktu Thailand. Tak mengapa. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Tour Half Day, kita lupakan. We're not going to pay hundreds Baht to see their temple. We have Borobudur already. Kita bisa pergi sendiri.

tgwinmg membayar uang Full Day Tour untuk besok kepada Mimi. Mata Suhu berkunang-kunang kekurangan makan. tgwinmg memastikan Mimi memberikan uang kembalian dengan benar. Suhu memegang pinggiran meja. tgwinmg nyaris membunuh Mimi karena kembaliannya kurang. Suhu mulai melihat imaji imaji makanan muncul di tempat-tempat tidak semestinya. tgwinmg menjelaskan pada Mimi bahwa tgwinmg tidak akan ragu-ragu mempraktekkan Kickboxing di negara asalnya. Suhu menyadari makanan-makanan itu hanya halusinasi karena otak Suhu sangat dekat dengan lambung.

Lima menit kemudian, tgwinmg menggandeng Suhu mencari makan, Suhu digandeng tgwinmg mencari makan, Mimi sedang diberi nafas buatan.

Ternyata tidak mudah untuk mencari tempat makan di sekitar hotel kami. Hotel kami ada di daerah Petchaburi. Stasiun terdekat adalah Ratchatewi yang jaraknya sekitar 700 meter. Buat yang gak bisa membayangkan 700 meter, satu penggaris papan guru matematika SMA itu 1 meter. Bayangkan 700 penggaris papan. Intinya, jauh. Terutama buat orang yang lapar.

Sebagai seorang warga negara Indonesia yang menurut pasal 6 ayat 1 tidak bisa menjadi presiden, Suhu berharap Bangkok seperti kota kelahirannya. Di mana dalam jarak pandang selalu ada gerobak penjual makanan entah itu bakso, pangsit mi, nasi goreng, atau pun gado-gado. Sayang, Bangkok bukanlah Malang. Untungnya, tgwinmg dan Suhu sudah berdiam lama di metropolitan Singapura. Kami tahu di mana letak makanan. Dekat MRT Station pasti ada Hawker Centre.


Kami akan memaafkan your spelling mistake asalkan kamu menjual makanan. Food Crot pun tak mengapa


Kami berjalan menuju ke Ratchatewi Station. Tanpa arah tanpa daya dan nyaris tanpa tenaga. Sepanjang jalan kami mencari-cari tempat makan. Melihat sepanjang jalan raya, tidak ada tempat makan yang buka. Akhirnya kami melakukan keputusan kontroversial. Masuk gang-gang kecil. Berburu gerobak makanan. Lima gang telah kami jelajah, tak satu pun rombong terlihat. Kami pun berteriak dalam keputusasaan. tgwinmg sudah sama-sama lapar.

Mukjizat terjadi. Tiba-tiba muncul sebuah warung yang dari tadi tidak nampak kelihatan.

Kami masuk, melihat, dan bingung.

Tidak ada menu. Tidak ada gambar. Tidak ada orang, warung ini berhantu. Tidak ada ampun. Kami dua turis yang nekad masuk gang-gang kecil yang semestinya bukan tempat tujuan wisata. Tidak heran jika warung yang kami temukan, tidak English-user-friendly. Hanya ada satu cara. Nekad. Kami tidak punya tenaga untuk mencari warung lain.

Suhu mengandalkan Basic Thai language yang dia asah selama dua tahun bekerja dengan beberapa construction worker dari Thailand.

"Eh halo .. Sawadee .. karp."
"Sawadeekaaaa"

Sukses. Sekarang, minta makan. Makan. Khin. Apa. Arai. Terima kasih. Kop Khun Karp. Song Thaew. Tuktuk. Tiba-tiba semua basic Thai bercampur baur. Suhu menggunakan semua kekuatan yang tersisa untuk mengingatnya. Dia harus tahu bagaimana cara memesan Nasi Ayam. Dalam bahasa Thailand. Suhu benci harus melakukan ini di depan umum, tapi dia terpaksa menggunakan his superhuman power. Photographic memory. Dia memejamkan matanya, mengingat-ingat artikel yang pernah dibacanya.



Ingatannya buram remang-remang

Nasi ayam. Khao mann kai. Chicken Rice.

"Khao Mann Kai"
"Khao Mann Kai. Song khao?"
"Khao Mann Kai"
"Song"
"Buay song ah?"
"Sorry? Thai mai kao chai, nit noy nit noy"
"Khao Mann Kai, you. You, khao mann kai."
"Ya ya ya, two. Khao Mann kai, khao man kai. Two, yaaa ya ya. Song, song."
"Teaow toeaow tew tew waow tok tok waow" *sounds something like this*
"Yes. Yes. Food please."

Akhirnya kami berhasil memesan chicken rice! Dengan basic Thai! Lebih hebohnya lagi, kami berhasil memesan dua jenis chicken rice. Yang ayam putih dan yang ayam nya mentah goreng.


Yang putih mirip chicken rice singapore, yang goreng hwenak tenan


Silakan tepuk tangan untuk tgwinmg yang berhasil memesan Es teh manis dan keluarnya Pepsi.


Perhatikan bahwa pepsi juga dicetak pakai honocoroko salah cetak di sana


Karena susahnya mencari makanan di Thailand waktu itu, kami langsung membuat janji pada diri kami sendiri. Untuk makanan-makanan berikutnya. Kami akan mengabadikannya dalam bentuk JPEG. Agar supaya semua kenangan akan rasa, kuasa, dan prakarsa semuanya tersimpan dalam bahasa.


tgwinmg sedang mengabadikan sepiring Mango Sticky Rice dan La'na

Itu sebabnya judul posting kali ini adalah Thailand WTF. Yang artinya adalah Thailand Where's The Food? karena susahnya kami mencari. Yang artinya adalah Thailand What's This Food? karena yang keluar bukan seperti yang kami pesan maupun seperti foto yang ada di menu. Yang artinya adalah Thailand What The F*** karena makanan pedas di Thailand rasanya benar-benar nendang.

Finally, Suhu akan membagikan Survival Tips Mencari Makan di Thailand

1. Carilah makan sebelum lapar.
Meskipun hadis mengatakan makan ketika lapar, tidak ada salahnya MENCARI makan sebelum lapar. Hal ini terbukti berguna karena bisa jadi saat kita benar-benar lapar, kita masih belum menemukan makanannya. Yang berakibat kita telat makan dan PROMAG obatnya kita akan mengalami fase terberat dalam hidup kita. Mencari makan dalam kelaparan.

Kalau kamu mau mencari makanan khas Thailand untuk breakfast, tidak ada salahnya kamu menggigit satu dua kunyah breakfast yang disediakan hotel. Sekedar untuk mengganjal rasa lapar bila makanan yang kamu cari tak kunjung kamu jumpai.


Ini adalah contoh standar makanan breakfast hotel, sekedar untuk mengganjal


2. Belajar bahasa Thai
Setiap ada masakan yang Suhu suka. Suhu akan bertanya pada penjulanya "Nee arai?" yang artinya adalah "Apa ini?". Penjual biasanya akan dengan senang hati melatih melafalkan dengan perlahan. Ulangi apa yang dia ucapkan. Dia akan meralat kalau kamu pronounce nya salah. Latihlah berulang-ulang. Nanti kamu akan bisa berbicara dalam bahasa Thailand cara memesan makanan favoritmu. Misalnya, "Pad thai, cuang'ok mai ow" artinya Mi goreng gak pake taoge.


La'kna , meskipun di Singapore bunyinya Niou Rou Hor Fun


3. Jangan berasumsi
Di pasar malam Singapura, di bawah tenda-tenda terpal yang biasanya didirikan sementara di samping stasiun kereta. Salah satu meja akan menjual Shark Fin Soup, dan kuali sebelahnya akan menjual Fish Maw Soup. Pernah coba? Rasanya memang tidak fantastis. Itu sebabnya pertama kali Suhu melihat Fish Maw Soup di menu rumah makan Thailand, Suhu tidak mencobanya. Tapi setelah melihat orang memesan makanan tersebut, kelihatannya enak, dan totally different daripada spesies yang ada di Singapura. Dan setelah dipesan, dan dimakan. Ternyata HWENAK!


Fish Maw Soup di sini bukan cemilan, tapi makanan utama

4. Bawa bekal Air Mineral
Meskipun tingkat toleransi Suhu terhadap rasa pedas bisa dibilang cukup tinggi. Tapi pedas di Thailand artinya agak berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia biasanya pedas berarti panas di lidah. Tapi di Thailand pedas artinya membakar lidah. Oleh karena itu, sedia payung sebelum hujan, sedia hujan sebelum makan Tom Yam.


Noodle Soup yang diberi bola bakso sapi dan irisan daging charsiew babi. OWNING!

5. Jangan Mudah Menyerah
Mungkin setelah melakukan semua tips di atas, kalian masih tidak bisa pesan makanan di Thailand. Tidak bisa baca menu. Tidak bisa baca aksara Thailand. Jangan putus asa. Berusahalah. Bahkan ada beberapa aksara Thailand yang kalau dilihat terus menerus selama beberapa menit, akan berubah menjadi Bahasa Inggris yang kamu pahami. Tentu saja, kalau kamu beruntung dan hatimu suci.


Dengan ilmu mata hati suci aku bisa mengerti bahwa tulisan itu artinya mi kuah


6. Lihat Gambar
Saat semuanya gagal, ingatlah bahwa A picture worth more than a thousand words especially if you don't understand those words. Tapi untungnya, di beberapa tempat makan, menu nya menampilkan foto makanannya. Meskipun acap kali yang muncul agak berbeda dengan yang ada di foto, tapi lebih baik mirip daripada tidak ada sama sekali.



Swensen's di Ma Boon Krong, Bangkok. Nampaknya targetnya adalah turis buta huruf


7. Berbagi makanan.
Pernah dengar peribahasa "Kesedihan kalau dibagi akan berkurang, kebahagiaan kalau dibagi akan bertambah"? Biasanya Suhu akan memesan satu jenis makanan, dan tgwinmg akan memesan makanan lain. Saat makanan dihidangkan, kami akan saling cicip makanan yang ada di piring masing-masing. Kalau rasanya pedas sekali / tidak enak / gagal total , kami akan tertawa sambil menertawakan pasangan kami masing-masing karena telah membuat raut muka lucu akibat indra pengecap yang tersiksa.

Kalau rasanya nikmat / enak / sedap /surgawi, kami akan saling memandang. Lama. Berpandangan sangat lama. Menatap dalam ke dalam matanya. Lalu berebut piring yang berisi sisanya. Lalu merasa bersyukur bisa berbagi rasa bahagia ini.



It doesn't matter how the food taste


Suhu,
Pad thai, cuang'ok mai ow.

Getting Around in Thailand (Trip to Thailand - Part 1)

Yow sobat muda di mana pun anda berada, seperti yang telah anda ketahui, Suhu baru saja melarikan diri dari kejam nya dunia kerja. Menuju sebuah tujuan yang sangat kental dengan budaya dan tradisi. Sebuah negara yang kerap dikenal dengan Kerajaan Gajah Putih. Tak lain tak bukan adalah United States of America!!! Thailand. Pada kesempatan kali ini, Panda Tambun akan mengulas satu demi satu tempat-tempat yang dikunjungi di Thailand.

Disclaimer: Ini bukan review tentang tempat wisata, bukan pula pelajaran geografi mengenai tempat-tempat tradisi dan budaya, tidak juga promosi dari pemerintah Thailand. Ini cuma catatan perjalanan semata, dengan tips-tips sederhana belaka, tanpa tujuan tersembunyi. Hanya untuk dibaca lagi di kemudian hari untuk sekian kalinya. Sambil tersenyum dan berkata "Dulu aku pernah muda".

Oke, sebelum lanjut membaca. Siapkan camilan dan minuman. This is going to be a long story.

Pagi itu, Suhu berangkat pagi-pagi ke Changi Airport. Dengan satu alasan yang pasti. Benul. Flight nya pagi. Kami naek budget flight JetSavers dari JetstarAsia, untuk membuktikan bahwa kami adalah cina sejati pelit tak tertandingi well-informed-travellers. Ya, kami. Suhu berangkat bersama tgwinmg.


Memastikan pacar sudah dibawa sebelum dimasukkan memasukkan bagasi


Total waktu penerbangan dari Changi Airport Singapore sampai Suvarnabhumi Airport Thailand sekitar 2 jam, tapi karena perbedaan Zona waktu [dikarenakan Singapura mengadopsi tata waktu yang biadab], waktu perjalanan relatif kami adalah satu jam. Alasan serupa yang akan membuat penerbangan pulang memakan waktu relatif tiga jam.

Dalam sunyi senyap henyakku dalam tidur, mimpiku terusik suara yang telah diamplifikasi secara digital dari speaker internal pesawat.

Krosakkkk krosaakk Bbzzz *nguing* Good morning this is your captain speaking ... bla bla bla ... Krosak Bzzz Blip.

Inti dari informasi kapten ini adalah kita sudah hampir mendarat. Maka kami pun melihat ke arah luar jendela.

Yang, ini koq kayak surabaya ya?
Iya, itu kali Brantas bukan?


Sama seperti Indonesia, Thailand juga menghasilkan beras dari sektor persawahan yang kuat. Maka tidak heran jika dilihat dari angkasa, daerah sekitar Airport Suvarnabhumi Bangkok tidak jauh berbeda dengan Landasan Udara Angkatan Laut Juanda Surabaya.


Yang, ini kayaknya flight ke Surabaya deh. Itu Kali Brantas kan?


Parahnya, setelah kami mendarat, samar-samar kami melihat tulisan-tulisan aksara Jawa seperti yang biasanya terukir di gapura-gapura antar kabupaten di Jawa Timur. Sesaat kami sempat yakin bahwa kami salah flight ke Surabaya. Tapi setelah mengamati ukir-ukiran itu dengan cermat, nampaknya aksara Jawa itu salah cetak. Atau, lebih tepatnya, itu aksara Thailand.

Saat itu kami berpikir dalam hati. Datang ke sebuah negara yang bahasanya tidak kami mengerti, tulisannya tidak kami kenali, budayanya tidak kami pahami. Holy crap we are awesome in deep shit!. Dan sekedar untuk informasi para pembaca, liburan kali ini, seperti liburan-liburan sebelumnya. Adalah liburan yang kami rancang sendiri. Bukan pake tour, bukan pake travel agent, tanpa dibarengi serombongan tante-tante bertopi seragam yang dipimpin anak muda berbaju kuning menyala membawa bendera. Ya, tour guide selalu saya konotasikan dengan baju berwarna terang dan bawa bendera.

Setengah menghibur diri, setengah mengandalkan pengalaman. Suhu berkata pada dirinya sendiri. "How bad can it be?" Kami berdua sudah survive Hongkong tanpa bisa cantonese. Suhu sudah pernah sendirian ke Taiwan di mana supir taxinya ga ngerti artinya airport. tgwinmg sudah ke tembok besar cina berbekal keberanian belaka. Seriously, how bad can it be? Lagipula, di Thailand ada 7-eleven dan fast food, kan? Pasti menunya nggak jauh beda dengan yang di Singapore, kan? Betul?


Salah.


Tapi sudah terlambat untuk menyesali semua ini. Nasi sudah menjadi dubur bubur. Mari kita makan bubur nya selagi masih hangat. Kami berjalan ke arah pintu keluar airport. Segera berhamburan para sopir taxi yang mencari mangsa turis-turis tak berpengalaman. Sayang seribu sayang, Suhu dan tgwinmg sudah melakukan research di internet mengenai sarana transportasi di Bangkok.

Mari Suhu share dengan kalian tentang sarana transportasi di Bangkok. Basically, untuk setiap tempat yang kalian kunjungi untuk liburan, transportasi setempat adalah hal terpenting yang perlu diketahui. Tapi acapkali kita sering melupakan aspek ini, dan sudah lega saat Tiket Pesawat dan Kamar Hotel sudah selesai diurus. Padahal transportasi DALAM tempat wisata tidak kalah penting daripada transportasi DARI & KE tempat wisata.

Karena Thailand merupakan negara besar, antara satu tempat dan tempat lain, sarana transportasi efektif nya pun berbeda. Di tempat-tempat seperti Pattaya, Koh Samui, dan daerah pantai-pantai lainnya, menyewa sepeda motor atau mobil dan mengemudinya sendiri bisa jadi alternatif yang lebih asyik. Tapi di Bangkok, menyetir sendiri dengan mobil rental, bisa kalian lupakan.


Ya, lupakan.


Nadi utama lalu lintas Bangkok dilintasi oleh BTS, yang tidak jauh beda dengan MRT [Singapore], atau MTR [Hongkong]. Sebuah sistemm kereta modern yang mondar-mandir di jalur itu-itu saja tanpa terpengaruh kemacetan kota. Sayang sekali, karena masih dalam tahap pembangunan, masih banyak tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh BTS. Sehingga dari stasiun BTS terdekat, kita masih harus mengandalkan sarana transportasi lain. Dan karena bus kota hanya menunjukkan arah dalam bahasa krama inggil salah cetak aksara Thailand, para turis harus mencari alternatif lain.


Tuktuk dan taxi merah jambu

Tuktuk, bisa dibilang sarana transportasi yang masih mengandung nilai budaya. Pada umumnya tarif tuktuk lebih murah daripada taxi. Pada jam-jam macet, tuktuk bisa menyusup masuk ke celah-celah sempit, dan nrabas gang-gang gak jelas. Tapi sayangnya, tuktuk juga punya kelemahan. Sebagai kendaraan terbuka, dikombinasi dengan matahari Bangkok yang kurang bersahabat, tuktuk sangat tidak cocok untuk perjalanan jarak jauh.

Tips untuk naek Tuktuk: Tawar menawar harga SEBELUM naek tuktuk. Jangan mau kalau diajak mampir ke tempat-tempat lain selain tujuanmu. Jangan banyak bicara, tidak usah pasang tampang bersahabat. Tawar, duduk, turun, bayar. Kalau kamu sudah tau kira-kira tarif perjalanannya, jangan takut untuk menawar. Meminjam istilah di salah satu travel guide: Haggle furiously. Mereka selalu charge overprice untuk tampang-tampang turis culun. Dan kalau mereka tidak mau, beranjaklah ke tuktuk berikutnya.

Selain tuktuk, ada pula taxi merah jambu. Taxi-taxi dengan bahan bakar LPG ini, pada dasarnya semua memiliki meter, tapi mereka tidak akan menyalakannya jika tidak diminta. Sebelum naek ke atas taxi, bilang tujuan kamu. Untuk lebih mudah nya, tunjukkan kartu nama hotel, atau nama tempat-tempat wisata atau foto yang sudah kamu print sebelumnya. Mereka kadang agak susah mengerti bahasa Inggris kita, karena bahasa inggris kita mengandung aksen campuran antara British, Eropa, dan Madura.

Tips naek taxi: Selalu meminta untuk memakai meter SEBELUM naek ke atas taxi. Jika sopir beralasan meter rusak atau dia menge-charge harga lebih murah daripada pakai meter, jangan mau. Kalau sopir tidak mau pakai meter, silakan lanjut ke taxi berikutnya. Kalau kamu wanita, tutup pintunya keras-keras sambil bilang "kamu pikir cuma kamu satu-satunya pria di dunia ini? Aku masih bisa mencari taxi lain!"

Studi kasus:

Setelah keluar dari Gate 3 [International Arrival], Suhu naik public taxi yang sudah mangkal di airport [berbeda dengan taxi airport - limousine]. Untuk taxi-taxi ini, ada surcharge 50 baht yang akan dibebankan ke penumpang.

Sesaat setelah naik taxi, meskipun sudah setuju untuk memakai meter, sopir taxi itu tidak menyalakan argo nya. Maka Suhu pun menegurnya.

"Excuse me. Meter please."
"Kheepunjap Ow nut khap."
"English please. Thai mai kao chai."
"You go. Surcharge I pay. Highway I pay. All I pay."
"Thank you." *di mana lagi kamu bisa menemukan keramahtamahan warga lokal semacam ini*
"Ha loi baaaht. Five hundred baht."
"No thank you. Meter please."

Sopir itu pun enggan menyalakan meter. Setelah menjelaskan bahwa kalau pakai meter akhirnya jatuhnya bakal lebih mahal. Dan dia menjelaskan seolah-olah turis nya gak paham bahasa Inggris. Mungkin karena tampang kami bukan tampang-tampang bule yang inggrisnya cas-cis-cus. Maklum mata kami jauh dari warna biru, rambut kami jauh dari warna pirang, dan hidung kami jauh dari definisi mancung.

"Meter." *sopir taxi tepuk-tepuk argo, seolah ini teknologi yang baru diciptakan Thailand*
"Ya meter."
"Meter expensive more."
"It's okay. Meter."
"Noooo. Meter more money."
"It's okay. Money is not an issue."
"No no no."
"Mai aw. Mai aw. No meter I go down."

Supir taxi menyalakan argonya. Beberapa supir taxi memang masih nakal meskipun sudah berunding sebelum naik mobil. Beberapa simply menolak pakai meter sebelum kamu naik. Tapi mayoritas mau memakai meter saat diminta dan kalau kamu berbeda pendapat dengan supir taxi, menolak dengan tersenyum sangat dianjurkan. Mereka generally friendly dan tidak menggigit bermaksud jahat.

Setelah sampai di hotel, kami hitung. Surcharge airport 50 baht. Masuk dua jalan tol masing-masing 25 baht dan 45 baht, tarif tol dibayar oleh penumpang. Dan angka yang tercantum di argometer 225 baht. Total 345 baht. Menurut yang kami baca di travel guide di internet dari airport ke pusat kota sekitar 300 Baht. Mungkin karena hotel kami jauh atau sopir taxi nya muter-muter kami kena 45 baht lebih mahal. Tapi masih jauh lebih murah daripada harga package yang ditawarkan, 500 Baht.

Sesampainya di hotel, kami segera check-in. Ingin segera memulai petualangan kami. Menimbang kami sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Bangkok, tampaknya tour lokal adalah pilihan yang bijaksana. Mengikuti nasihat petualang yang sudah merambah Bangkok beberapa bulan yang lalu, Alfonso sang psikopat dan pacarnya, kami mencari lokal travel agent yang bisa meng-arrange city tour ke tempat-tempat wisata sekitar Bangkok.

Untung bagi para turis yang ingin memakai metode ini, di Thailand hampir setiap hotel bekerja sama dengan satu atau lebih travel agent. Jadi mereka biasanya punya representatif yang deployed di hotel bersangkutan. Setelah resepsionis menujukkan ke arah sebuah meja kecil di mana seorang lelaki setengah baya sedang bekerja, kami menuju ke sana.

Kami melihat mejanya. Kecil. Seperti exam table NTU. Di sampingnya, ada poster sederhana dengan foto-foto tempat wisata. Lalu di mejanya ada kumpulan kertas-kertas di-laminating dengan foto album. Kami mendekat ke arahnya, sembari melihat-lihat foto yang ada di poster nya. Pemuda itu terkesiap, rupanya dia tidak menyadari kehadiran kami.

"Sawadeekarp. Good morning can I help you? My name is Mimi."

- bersambung -





Apakah Suhu jadi mengikuti city tour? Ataukah jiwa petualangannya yang menggebu-gebu memutuskan untuk pergi menjelajah Bangkok tanpa bantuan guide? Tour seperti apakah yang ditawarkan oleh Mimi? Benarkah Mimi ternyata agen tunggal tiket Tiger Show?

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Thailand WTF!!!