Tuesday, April 28, 2009

Saatnya Memanggil Megazord

Setelah Ranger kuning dan Ranger biru terluka parah, Ranger hitam mencoba menyerang. Saat itu lah Ranger merah berhasil menemukan kelemahan monster ciptaan Goldar dan menyerangnya. Monster itu selalu bergerak tiga langkah ke kiri lalu berputar searah jarum jam tiap selesai melakukan serangan. Ranger merah menyadari hal ini, dan menggunakan strateginya sebelum terlambat. Bersama-sama dengan Ranger pink, Ranger merah memasang perangkap dan.

DHUARRRR.....




Power ranger, yang resminya dikenal dengan nama The Mighty Morphin Power Rangers, sudah menjadi bagian dari masa kecil kita. Yeah, kalian yang aku maksud, kalian yang merengek-rengek sama mama untuk bolos sekolah minggu buat nonton Jason memimpin kawan-kawannya menyerang Rita Repulsa. Plotnya sangat simpel. Bahkan, kadang, terlalu simpel. Sampai kita bisa menebak apa yang terjadi sehabis ini.

Setiap episode demi episode selalu saja ada permasalahan baru. Tapi semua persoalan ini selalu bisa diselesaikan saat jam tayang hampir habis. Entah dengan senjata baru, strategi baru, mesin tunggangan baru, atau Ranger baru. I'm totally against Ranger putih by the way.

Aneh bin ajaib tapi kita bisa mengkaitkan Power Ranger dengan kehidupan kita sehari-hari. Pernahkah kamu berpikir, bahwa episode kehidupan kita ini, tidak jauh berbeda dengan Power Ranger. Tiap pagi, kamu diberi satu set persoalan. Mau tidak mau, suka atau tidak, kamu harus menyelesaikannya. Baik itu dengan strategi baru, teknik baru, atau bahkan Rekan kerja baru. Meskipun kadang setelah kamu selesaikan, kamu baru teringat. Akan datang masalah lain yang perlu diselesaikan besok.

Masih ingat betapa bencinya Suhu pada sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan? Iya, sekolah. Sekolah juga tidak jauh berbeda. Setiap periode berkala, katakanlah satu semester, Rita Repulsa akan mengirimkan monster-monster berbentuk Exam Paper. Tak jarang kita membutuhkan bantuan Zordon dan Alpha 5 untuk mencari tutorial dan past year exam solution. Bahkan saat menghadapi exam tiap episode, kita perlu benching bareng Ranger-ranger lain.

Ya, memang semua itu sudah berlalu untuk Suhu. Seorang Bujang Teknik [Bachelor of Engineering]. Masa-masa itu sudah lewat. Begitu yang Suhu pikir saat kelulusan Juli dua tahun lalu.

Itu pula yang dipikirkan Power Ranger saat mereka berhasil mengalahkan monster ciptaan Goldar dan Finster. Mereka pikir semua itu sudah berakhir.




Little do they know, semua itu belum berakhir. Masih ada Rita Repulsa yang tidak akan membiarkan hidup mereka tenang. Rita Repulsa akan menggunakan kekuatannya yang sudah tersimpan selama puluhan ribu tahun lamanya. Dan membangkitkan monster yang baru saja kalian kalahkan. Dan monster itu akan menjadi besar. Besar. Dan sangat besar. Ini ngomongin Rita Repulsa atau Mak Erot?

Power Rangers hanya bisa panik. Karena mereka tahu. Karena Suhu tahu. Ini belum berakhir.

Saatnya memanggil Megazord.

Suhu,
pursuing Master Degree.

Thursday, April 23, 2009

It's Been a While

He went back to his construction site, the secondary school under renovation. His long working hours had grown tiresome. Even the excitement of waiting the paydays and of playing hide-and-seek with the bangla workers, even the delight of being promoted to higher position without higher pay did not make up for the long, lonely hours especially when the rain was pouring down like mad at him.

His life had been miserable. "Blame it to the society who portrays construction people as the lowest class of humankind", said him in whisper. In anger. He was standing outside the school General Office door. "Don't go inside, your shoes are dirty", he recalled what the receptionist had said to him. A simple truth that can scar a deep wound in his heart. His shoes were dirty, as always. As part of his job. Yeah it's clearly written in his contract, "to wear dirty shoes".

He patiently waited. His slot was supposed to be 1 o'clock. He was there 10 minutes beforehand despite always being late whenever meeting his girlfriend it's his precious lunchtime. "As long as the jobs get done", that's what he always said to his subordinates. He sacrificed his own lunchtime to arrange the items to be discussed in the meeting. The meeting which had not start even though 1 o'clock had long gone.

He didn't surrender. No signs of giving up, being treated like that. In his lonely waiting, he had fun by having intellectual conversation, with himself. Kind of pathetic, he knew. But he was the only person he can share his views with, for his harsh working environment didn't really require the brain. People saw him smiling at nothing. He was laughing at the sentence he had just made. A mind-tickling question. "Who educates the educators?"

He was disappointed with the teachers, the ministry, the whole structure of educated people who runs the system. Developing their future leader, as they may said. How could people expect our future leader to be responsible if their educator doesn't even know how to spell punctuality. It was not his first appointment. Many of the previous appointments was either delayed or cancelled last minute. Those prior succesful meetings were also not fruitful despite long hour waiting before he can even met the person-in-charge.

The reason was simple. The teacher got more important things at hand than meeting the contractor. It had always been that way. The respect he earned in his construction site didn't expand to the educated community. Apparently the uneducated ones knew more about manners. His workers understood that when somebody make a promise, he/she should kept it. If for whatsoever he/she can't fulfill it, an apology is a compulsory. But, it seemed that the educator always replaced "I'm sorry" with "I'm very busy today, can you come another time?" plus a fake smile.

He would love to erase that smile with a good smack. Smacks, if the needs arise.

Had he known that the meeting will be postponed again, he won't stand there patiently. Before he knew it, the skies were already dark. He sat supervising the ongoing construction. A task so complicated not a normal man can handle, yet still the society portray the construction as one of the lowest class job possible. He smiled, beaming that looks that every single of his workers understood. "If not us, who else?"

Above him the dark sky glittered and sparkled with thousands of stars hidden among the thick red clouds. The milky way was a broad, white path hidden behind the reddish sky. There was the twinkling star and another star which he noticed because it was so bright. He did not know its name but he felt dumb for not realizing it was a plane passing-by.

Here under the bright stars, while the bangla workers worked and sang, Suhu knew that his old well respected life was ended. But suddenly he knew, too, that he wanted the future, whatever it might hold, to be here in the workplace that he loved and not among the educated ones in an educated society.



Suhu,
it's been a while since he took shelter.

Thursday, April 09, 2009

The Getaway

Seperti yang telah kita ketahui di posting sebelumnya, Suhu sedang dalam masa gembira karena secara ajaib bunga bank berhenti sejak bulan ini. Mungkin ini tidak terlalu berarti buat kalian yang belum pernah pinjam ratusan juta rupiah ke bank. Tapi buat orang-orang yang bernasib serupa dengan Suhu, yang ditipu oleh sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan, pinjaman tanpa bunga bisa membuat orang-orang tertentu menggelinjang.

Sekedar cuplikan tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini.

Mister adi, have mister Hock informed you?
About what?
About ... you know .. the table.
No, I don't know.
The library that one. The table. You know glass fixing the table.
Nope.
Oh mister Hock asked me to talk to Ah Mao.
Oh okay.
You know already ah?
No.
The table. That one lah. Library one.
Ya, what's with the table?
Glass fixing.
What glass fixing?
Mister Hock asked me to talk to Ah Mao.
About what?
The table.
Okay. Then you talk to Ah Mao, what for you talk to me?
No, I want to ask you.
Why?
That one lah. The table. You aware or not.
No, I'm not aware.
The table with the glass fixing.
Oh okay.
Mister Hock talk to me one. You aware ah?
No.

Bayangkan kalau kamu terjebak dalam percakapan seperti ini setiap hari. Setiap hari. Tanpa kecuali. Sudah hampir dua tahun aku bekerja bersama dengan Martin, asisten Mandor dari Filipin. Tapi hingga sekarang, aku masih belum menemukan apa masalahnya. Kendala bahasa atau lemah logika. Sempat terpikir untuk mendaftarkan Martin ke kursus Mental Aritmatika. Tapi ternyata kursus-kursus demikian lebih ke arah mencerdaskan Aritmatika. Padahal yang kami butuhkan yang mencerdaskan mental, jadi niat baik kami terpaksa diurungkan.

Percakapan dengan para bangla juga tidak lebih menggembirakan. Yang ada habis ngomong jadi capek. Bukan cuma capek hati karena ngomong nggak ada yang ngerti, tapi juga karena bahasa inggris kami mesti diselipi bahasa Perancis bahasa Tarzan.

You go there help Saiful cleaning the pipe.
Okay. *diam di tempat, memandang pembicara*
Go go go. *tangan bergerak searah memperagakan cara ngusir bebek*
Where go?
There. *Menunjuk bangla lain bernama Saiful di kejauhan.*
Go?
Go.
... *diam memandang pembicara*
Go. Go Saiful. *menunjuk kejauhan*
Okay. *pergi ke kejauhan*
*melihat dari kejauhan*
*berjalan sambil bersenandung lagu daerah mereka*
*lega karena banglanya berjalan ke tempat yang benar*
*menuju ke tempat yang ditunjuk lalu berdiri sikap sempurna di bawah terik matahari*
*sadar ternyata dia cuma ngerti instruksi pertama*
*berdiri diam TIDAK MELAKUKAN APA APA*
*menyusul ke kejauhan*

Good morning!
Ya ya now afternoon already! Eh you help Saiful! *mulai putus asa*
Yes? *muka polos*
You. Saiful. Help. Do. Go go! *menunjuk bangla1, bangla2, pipa PVC secara bergantian*
What do?
Help Saiful. Cleaning the pipe. *menunjuk bangla2 dan pipa PVC, melakukan gerakan-gerakan yang terlihat saru dan tabu*
...
Yesterday. *menunjuk belakang dengan ibu jari*
...
Raining. *menunjuk langit, membuka tutup jari jari tangan melambangkan hujan*
...
Stagnant water many many. *menunjuk kubangan air di mana-mana*
...
Moquito breeding. *mengepak-ngepakkan tangan sambil unjuk gigi taring*
...
Bite you, you die. *memperagakan menggorok leher dengan ibu jari sambil menjulurkan lidah*
Noooo I no die. Die no. *panik dan cepat-cepat membersihkan pipa PVC*

Satu bangla satu instruksi perlu menghabiskan sekian kalori. Satu lapangan sekian banyak bangla sekian banyak instruksi, sudah sama dengan Free membership kalifornia fitness.

Bekerja di lingkungan seperti ini. Perlu ketahanan fisik dan mental. Berada di tingkat intelejensia yang berbeda dan menggunakan medium yang bebeda dengan orang-orang di sekitar anda. Pengalaman ini bakal susah untuk terlupakan. Emosi dan perasaan ini. Perasaan pingin bunuh orang pake alat tulis, seperti kata pepatah pena lebih tajam daripada pedang.

Tidak adanya seorangpun yang bisa diajak bercakap-cakap membuat Suhu sering merasa dijadikan lakon lagu Dewa - Kosong yang berbunyi ~~di dalam keramaian aku masih merasa sepi~~. Giliran ada yang bisa diajak bicara, isi percakapan biasanya menambah stress. Karena biasanya percakapan yang bermakna terjadi satu arah. Dan Suhu menjadi pihak pendengar yang diomeli. Entah kenapa negara ini menggalakkan komplain menjadi sebuah kebiasaan.

Berdasarkan kebutuhan mencari teman dengan IQ sepadan beserta rasa ingin mengakhiri hayat orang lain, DotA pun menjadi pelampiasan setiap malam. Game-game dunia maya di mana membunuh tidak perlu berurusan dengan polisi dan malah bisa dijadikan sumber penghasilan [angka +100 berwarna kuning di atas kepala pecah]. DotA menjadi sebuah solusi. Sebuah jalan keluar. Dan bukan hanya sekedar game biasa yang dimainkan oleh mahasiswa Ninja Turtles University yang stress karena skripsi.

Begitulah kira-kira kisah Suhu sehari-hari bekerja dengan orang yang tidak mengerti bahasa Inggris. Ketahanan fisik, ketahanan mental, kesabaran, dan fluently speaks bahasa Tarzan. Skill-skill ini lah yang dirasa akan membuat Suhu menjadi unggul dalam seri petualangan selanjutnya.

Nantikan. Hanya di Kisah di balik hutan bambu. Lanjutan dari catatan perjalanan yang tak pernah tamat. Lanjutan dari liburan ke Bali dan ke Hongkong.

Panda Tambun @ Thailand 2-8 May 2009.

Suhu,
Sawadeekarp.

On the side note, dina ultah. Meskipun dia telah mematikan birthday reminder di Friendster dan mengganti hari ultahnya di Facebook, bukan berarti dia tidak mau diberi ucapan selamat.

Btw,
Bhro mau nikah. Yeah, siapa yang gak mau?