Tuesday, March 03, 2009

Iya, Seperti yang Sudah Kamu Duga, Suhu Akan Membahasnya

Mohon maaf untuk para pembaca yang ingin tahu kelanjutan serial The Time Machine, kali ini Suhu punya posting lain yang tidak berhubungan sama sekali. Karena nampaknya post ini memang sudah tidak bisa menunggu.

Kemarin, tanggal 2 Maret 2009. Seorang anak Teknik Elektro dari Ninja Turtles Universiti, bekas anak SMUKI, pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Matematika. Telah mati bunuh diri. Bukan, bukan Septian. Namanya David Hartanto, begitu yang disebutkan suratkabar. Suhu sendiri masih tidak tahu siapa itu David Hartanto Widjaja sampai Bhrosodaro mengabari dari sms.

"Tera_majin bunuh diri."

Ya, kini aku tahu orangnya. Orang yang bisa menghitung last hit creep, mendeny creep sendiri, jungling saat luang, rune hunting bila diperlukan, ganking saat ada kesempatan, dan tower diving dengan persiapan yang matang.

Suhu mengenalnya saat zaman-zaman skripsi. Tugas Akhir. Efwaipi. Dia pernah berada di server 12.101, saat Suhu melepas segala beban efwaipi ke sebuah game bernama DotA. Di situ Suhu mengenalnya. Tatap muka pun tak pernah, apalagi jabat tangan. Tera_majin. Demikian namanya di komunitas dunia maya.

Singapore adalah negara yang kecil, jadi berita seperti ini menyebar sangat luas. The Straits Times, ChannelsNewsAsia, Yahoo!SG, SG.MSN, berbondong-bondong memberitakan berita ini, menenggelamkan berita kejayaan Slumdog Millionaire. Tak lama kemudian, Detik pun turut serta. Maklum, nggak mau kalah sama Kompas.

Suhu membaca semua artikel itu. Inti ceritanya hampir sama. Tapi satu sama lain saling menambahkan the missing link. Membentuk sebuah cerita yang terlalu drama untuk jadi nyata. Sayangnya, ini nyata. Ada murid yang tergeletak tak bernyawa setelah percobaan membunuh dosen pembimbingnya itu nyata. Teman-temannya diciduk polisi buat ditanya-tanyai itu juga nyata.

Apa penyebabnya, manusia hanya bisa menduga. Ya terang, lha mau tanya sudah nggak bisa. Keburu meninggal. Tapi ada analisa menarik dari Mbak Margie, yang menurut saya cukup memungkinkan. By this, yang saya maksud adalah bunuh diri karena tuntutan yang terlalu berat, bukan karena pacar diambil profesor seperti yang Mbak Margie sebut. Memungkinkan, cukup sampai di sana saja.

Begitu banyak tanya yang Suhu tidak tahu jawabnya. Kenapa dia menikam profesornya. Kenapa dia bunuh diri setelah menikam profesornya. Kenapa dia melompat ke atap jembatan dulu sebelum bunuh diri. Apa pisau itu sudah ada di TKP atau memang bawa dari rumah. Apa ini sudah terencana atau inisiatif sesaat karena mata gelap. Suhu tidak tahu. Dan Suhu tidak berminat untuk mencari tahu dengan cara apa pun. Karena apa pun kata media, itu hanya rekaan belaka. Yang tahu jawaban sebenarnya, cuma satu orang. Dan orang itu telah meninggalkan kita.

Aku terhenyak saat membicarakan perihal ini dengan beberapa teman. Teman-teman NTU yang bukan jurusan Teknik Sipil tentunya, karena memang nggak punya teman sejurusan. Mengejutkan sekali pembicaraan dengan mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat, berikut adalah cuplikan percakapan dengan salah seorang teman.

"Honestly, aku sempat beberapa kali kepikir buat gantung diri."

Lalu ada pula facebook status daripada seorang teman "Try being a final year engin student in NTU and you'll know how it feels..."

Saat salah seorang adek kelas bertanya "Emang efwaipi sengeri itu ya Hu?", Suhu hanya bisa menjawab "I think there were times every single one of us want to do it, but we're too busy to finish the report we don't have the chance to perfect our plan. when we are not in the correct state of mind."

Katakanlah kita sekarang bukan membahas kasus tersebut di atas. Ambil contoh. Suhu. Dua tahun silam, Suhu menjalani efwaipi. Tentang berapa berat dan intensif efwaipi Suhu, bisa dilihat dari catatan harian yang ada di blog ini dalam arsip dua tahun silam. Wajar saja kalau semua tebak-tebakan itu mengarah ke beratnya Efwaipi. Suhu boleh menerima kelogisan umat manusia untuk menyimpulkan dari fakta-fakta yang ada. Sekarang, pertanyaannya.

"Kalau memang tebakan itu benar, terus kenapa?"


Pemberitaan kasus ini sudah terlalu kelewat batas. Bahkan ada beberapa media yang ceritanya jelas-jelas nguawur biar jadi seru. Semata-mata hanya untuk memuaskan dahaga para pembaca untuk berita. Rasa keingintahuan. Untuk ekstrimnya, silahkan liat felem Untraceable.

Mungkin memang susah ya untuk duduk diam membaca bahwa salah satu orang yang kita kenal telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Tanpa tahu alasannya. Dan tahu bahwa kita tidak akan pernah tahu pasti alasannya. Mungkin memang susah. Tapi marilah kita mencoba. Mari mencoba untuk menerima tanpa terlalu banyak bertanya.

Seperti kata seorang teman di status facebook, "turut berduka cita. I may not know you all that well, but you sure are a nice guy. Selamat jalan teman."

Cukup.

Matahari mulai naik, sekitar tiga lingkaran di atas lambang sang surya. Hero lain yang ditahbiskan di depan Ancient Tree sibuk dengan perangnya masing-masing. Berusaha mengambrukkan garis pertahanan lawan. Hanya terdengar dari kejauhan, berita yang dikabarkan. Berbekal Kellen's Dagger, arwah seorang pejuang telah kembali ke fountain sentinel. Tera_majin kini telah meninggal, tak cukup mana untuk reincarnation, tak cukup gold untuk revive.

pandatambun,
server 12.101

2 comments:

dina.. said...

you know hu,
saya menyesalkan pernyataan pihak pihak yang memojokkan kedua pihak: NTU dan David. sangat disesalkan, pernyataan yang menyiratkan kesembronoan itu dilontarkan oleh KBRI selaku wakil pemerintah indonesia di singapura (menyimpulkan motivasi padahal yang sudah terlibat tidak dalam posisi mampu membela diri lagi).

dan makin melihat media indonesia yang nyari rating, makin muak rasanya melihat berita sembarangan dipos bebas dimana-mana...

suhu said...

#dina:

ho'oh din. namanya juga gosip, makin digosok makin sip. berita-berita yang kayak gitu itu yang bikin karyawan tiba-tiba didatangi Direktur, ditanyai, "ya nak, kamu baik-baik saja?"