Saturday, February 14, 2009

The Time Machine - The Efforts and The Yellow Tiles

Sambungan dari posting seri The Time Machine yang lalu. Tandanya bahwa Suhu masih ingat akan janji nya pada pembaca yang dibuat saat tutup tahun 2008.

Mandor kita pun seperti hari-hari biasanya. Terlelap. Jam makan siang biasanya selalu dipakai untuk tidur kalau tidak ada aktivitas ngecor. Kenapa ngecor tidak bisa ditinggal tidur, tentu pembaca sudah lebih tahu alasannya. Jika belum, baca Seri Edukasi Mandor [lihat Referensi di bawah]. Tidurnya sangat lelap, seolah tak ada apa pun di dunia ini yang akan membuatnya terjaga. Jancok lek kui jeneng e mati cok. Senyum yang tersungging di bibirnya, seolah mencerminkan semua masalah di dunia ini telah sirna dan dia siap berangkat ke surga.

Pagi ini. Semua selesai. Semua. Semua masalah yang menghantuinya setiap malam. Masalah besar.

Oh? Apa? Maaf maaf? Para pembaca bingung. Flashback bentar.

Masih ingat cerita tentang Xtra5 tegel yang dulu kan? Oke. Sudah ingat ceritanya? Setelah gagal menciptakan mesin waktu untuk membuat asistennya yang bernama Martin tidak pernah dilahirkan, Suhu mencari solusi alternatif berikutnya yang lebih masuk akal.

Order ekstra ubin berwarna kuning. Dan tidak boleh sembarang kuning. Kuning yang sudah dipesan oleh asisten kita tercinta bernama Martin ini, adalah sebuah kuning yang netral. Sebut saja nama kuning nya kuning tai. Hush, gak sopan amat. Okeh, okeh. Kita ganti sebutannya menjadi kuning tinja. Yang memilih warna ini adalah arsitek. Arsitek. Orang-orang yang mengira dirinya bisa membangun.

Untuk catatan, warna yang dipilih arsitek itu sebenarnya kuning yang netral dan baik-baik saja. Tapi karena berdasarkan pengalaman buruk dengan arsitek, dan afiniti negatif pada orang-orang yang mau menang sendiri, kita akan menyebut kuning tersebut di atas dengan referensi kuning tinja. Titik. Ini blog gueeee, semau gueee dodollll wtfbbq! Cok, wong iki stress kakehan kerjo.

Oke. Ubin kuning tinja yang dipesan Martin sesuai pilihan arsitek, kini telah terpasang di lantai General Office. Di lantai Staff Room. Di lantai Principal Room. Di lantai Vice Principal Room. Di Sickbay [di Indo disebut UKS]. Dipasang di sini, di sana, dan di mana mana hingga di pucuk pohon cempaka. Tapi saudara saudara sekalian yang terkasih, nampaknya entah kali ini Tuhan sedang sibuk menolong korban perang atau memang Tuhan menikmati cobaan yang diberikan pada umatNya, Mandor menghadapi masalah yang cukup besar.

Buat yang menebak tegel nya kurang, selamat. Anda benar.

Jadi mister adi, berita buruknya, tegelnya tidak cukup.



Kabar baiknya, kita sudah setengah jalan. Jadi kita sudah tidak punya jalan keluar selain mengundurkan diri dari perusahaan ini.


Jadi ceritanya di satu hari hujan yang cukup lebat. Tumpukan kardus berisi tegel itu tidak ditutup oleh terpal. Yang berarti kardus-kardus itu diterpa hujan. Yang berarti kardus yang secara natural berbahan dasar kertas, menjadi bubur kalau disikat hujan. Yang berarti tegel yang ditumpuk maksimum 8 [delapan] kardus itu. Sebentar. Apa kata yang tepat? Yak. Longsor.

Jancok. Dan tidak ada seorang pun yang memberi tahu aku. Jancok. Jancok. Jancok. Seribu kali Jancok. Tarik nafas dalam-dalam. Hembuskan. Iya. Mengucapkan kata Jancok jauh lebih membantu mengurangi tekanan darah. Jadi ceritanya General Office kita sudah ditegel tapi ndak selesai. Begitu pula dengan Staff Room. Sudah ditegel tapi ndak selesai.

"I am very very totally super disappointed."
"What is it mister adi."
"You all never told me you broke so many tiles."
"Oh that one."
"What's with 'oh that one'?"
"Relax Adi, relax. They tell you for whaaaatt? For what? You tell me, bro. Given the case they told you earlier, 100% you will scold them. But, if, once again, if, they didn't tell you. They had the chance of 50% you will never know. Hence they are safe. Or 50% you will eventually know, and you will scold them. So, 100% kena fuck, or 50% kena fuck?"

Setelah memikirkan dan mengiyakan bahwa perkataan Calvin ada benarnya juga, Suhu melampiaskan amarahnya ke kardus di sebelahnya. Brakkkk. Bogemnya cenut-cenut. Tangannya berdarah-darah, Nakadakaken telah merusakkan struktur persendiannya. Kardusnya nggak kosong. Dalamnya ada tegel. Warna kuning. Tinja. Pecah tiga kena bogem.

"Wow! Mister adi found the missing box!"
"And he broke three of the good ones."

Setelah membuat mental notes untuk membunuh Martin dan Calvin. Yang satu karena kepolosannya, yang satu lagi karena kepandaiannya. Tapi sayangnya, masih tidak cukup. Suhu mencari informasi di label kardus itu. Supplier. Nomer telepon.

Berikut adalah langkah-langkah penyelesaian masalah.
1. Menelepon supplier.
2. Terkejut karena kata supplier stok untuk warna kuning tinja tidak banyak.
3. Menyuruh Martin untuk menghitung jumlah tegel kuning tinja yang diperlukan.
3. Menghitung jumlah tegel kuning tinja yang diperlukan karena tidak percaya sama Martin.
4. Mengancam akan membunuh Calvin karena menertawakan Suhu yang menghitung tegel karena tidak percaya sama asisten sendiri. "Mwahahaha like that better you give your assistant to me lah, have also you don't trust. For whaaatt???"
5. Mengontak supplier dan memberikan jumlah yang diperlukan.
6. Membanting telepon karena ternyata supplier tidak punya jumlah yang cukup.
7. Menelpon supplier mengenai produksi selanjutnya.
8. Bingung karena ubin ini tidak diproduksi lagi.
9. Bunuh diri.
9. Panik.

Setelah pergi ke toko-toko bangunan dan mengontak nyaris semua supplier di negara ini [Sangat mudah dilakukan di negara ini, yang yellow pagesnya halamannya bisa dihitung]. Suhu menemukan toko lain yang menjual tegel kuning tinja. Tapi toko ini juga tidak punya stok, tapi dia bisa membantu memesankan dari production plant. Di Kuantan, Malaysia. Okeh deh koh, lai. Lonzhong lai lai, mai khai khai. Ndak ada transport ta'ambil sendiri. Pokoknya apapun akan kulakukan demi mendapatkan tegel kuning tinja. Abraham mengorbankan Ishak, aku mengorbankan Martin.

Kadang aku berandai. Berandai-andai. Andai aku punya mesin waktu.

Suhu,
Aku bakal menelepon supplier Malaysia langsung biar bathi lebih besar dan minta nota palsu. Aku bakal mengecek kardus sebelum kubogem. Aku bakal mengatur semua ruangan agar tegel kuning dipakai menutup area yang lebih besar terlebih dahulu, agar yang tidak cukup tersisa pas satu ruangan kecil seperti UKS dan kuganti dengan tegel putih biar tidak ketara kalau salah. Aku bakal menghitung kalau masih tidak cukup, bagian yang tidak kebagian ubin akan kututup pakai lemari dan keset bertuliskan Welcome toh tidak bakal ada yang tahu. Aku bakal menghitung sendiri sebelum order tekel kuning tinja. Aku bakal mencari pekerjaan lain selain jadi Mandor. Andai. Aku. Punya. Mesin. Waktu.



Referensi:

Seri Edukasi Mandor Ngecor, Lagi, dan Lagi.

5 comments:

nCy . vLa said...

hwuahahhahaha...

kasian banget kamu hu..
kayanya kok stres banget ngurusin ubin ini...

suhu said...

#ncy:
ah nggak koq. biasa aja. *gaya cool pake kacamata las*

PHY said...

kayaknya menyenangkan sekali jadi mandor..=P

Reza de Bhro said...

Ibrahim mengorbankan Ismail Hu...

suhu said...

#phy:
menyenangkan atau tidak itu semua kembali ke dari sisi mana kita melihat suatu persoalan. Dan dari ketebalan gaji, tentunya.

#bhro:
lho? Bukannya terus ndak jadi, bhro? Yang tiba-tiba ada suara dari langit, "Just kidding."