Friday, February 20, 2009

The Time Machine - The Curse of The Yellow Tiles

Tokoh utama kisah di balik hutan bambu, tak lain tak bukan adalah Suhu. Sebutlah dirinya Panda Tambun, sebutlah dirinya Mandor Jagoan. Tetaplah dia adalah manusia biasa yang tak lepas dari dosa, dusta, dan tentunya tak lepas dari MASALAH.

Masih berkaitan dengan tidur siang sebelumnya. Tidur siang itu bisa dibilang tidur nyenyak terakhir yang dimilikinya, sebelum mimpi buruk menghantuinya. Hingga ke alam nyata. Apa yang terjadi? Mari kita simak kelanjutannya.

Tegel kuning tinja itu memang belum di sini. Tapi dengan ketegasan seorang Mandor untuk meng-order darurat dari Malaysia, dengan kelengkapan yellow pages, dan dengan ketertiban seorang Mandor membayar tagihan telepon, Suhu berhasil mengontak supplier di Malaysia untuk men-secure stock dan mengirimkannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnja. Memang belum di sini, tapi kita punya kepastian. Dan itu yang paling penting di dunia konstraksyen. Kepastian. Seperti pasti datang dalam minggu ini. Atau pasti selesai ditegel dalam bulan ini. Atau pada akhirnya kita semua pasti akan mati.

Kepastian macam itu lah yang bisa membuat tidur siang nya nyenyak. Tak risau akan masalah. Tak terusik dari mimpinya. Sampai.

Tok tok tok *demikian suara pintu diketuk*

"Come in, not locked" *dengan suara setengah sadar*
"Mister Adi, the school men want to see you."
"Okay okay lah. Later lah." *dengan suara bete karena terganggu tidur nya*
"Now they waiting Block C."

Sambil bertanya dalam hati kenapa orang-orang berpendidikan ini tidak mengerti arti kata appointment dan prior notice, Suhu bermalas-malasan memakai sepatu kerja nya. Menyeret langkahnya ke Block C, sebuah gedung tata usaha yang sedang dibangun. Di mana di dalamnya terdapat General Office, Staff Office, Oval Office Principal Office, dan kesemuanya diubin warna kuning tinja. Oh maaf, belum semuanya, masih ada yang belum ditegel karena kelucuan asisten Mandor.

Sesampainya di Blok C, Mandor sudah melihat ada sekitar belasan orang. Apa-apan ini? Orang-orang ini masuk ke WILAYAHKU. Tanpa safety shoes, tanpa helm, dan tanpa izin? Bangsat semua orang-orang ini. Aku mengenali wajah mereka semua meskipun aku tidak tahu nama mereka. Mereka adalah pemilik paras yang terpampang di foto-foto jajaran petinggi sekolah SLTP Sukamaju yang sedang dibangun PT Bangun Subangkit, lahan di mana aku bekerja, tempat di mana aku mencari sesuap nasi, dan sebakul lauk.

Ada Principal [orang yang berprinsip Kepala sekolah], ada Vice Principal [Wakasek], ada HoD yaitu adalah singkatan dari Head of Department [gak tahu apa indonya, mungkin kepala jurusan? kepala bidang/mata pelajaran?], ada AM alias Admin Manager [Kepala Tata Usaha], ada OM alias Operation Manager [kalau di Indo, uhmmm... Sarana Prasarana? Pokoknya yang ngurus kerjaan yang gak ada orang yang ngurus]

Mereka-mereka ini bertugas mulia mendidik anak-anak SMP ini biar bisa menjadi orang yang bertanggung jawab, dan menjadikan mereka Singapore Future Leader. Tapi apa yang diharapkan kalau mereka ini buta huruf? Eh, ini bukannya melebih-lebihkan. Sudah jelas belasan orang itu nggak mungkin melewatkan papan besar yang tulisannya "INI AREA KONSTRUKSI, KAWASAN HELM DAN SEPATU SAFETY". Kalaupun misalnya mereka benar-benar melewatkan tanda di pintu tadi, ngapain sekarang mereka ada di jarak radius satu meter sebuah papan bertuliskan BAHAYA JANGAN DEKAT! FONT SIZE 400 BOLD MERAH DITULIS DALAM EMPAT BAHASA DITAMBAH SIMBOL TENGKORAK.

Kontan saja Suhu sudah tidak tahan dengan segala eek sapi ini [terjemahan bebas dari bullshit]. Suhu segera mengambil orang yang paling belakang, lalu mematahkan tulang keringnya. Lalu menjambak orang berikutnya sampai terjengkang ke belakang. Mengayunkan linggis ke tengkuk tiga orang berikutnya dan meneruskannya membabi buta sampai tinggal tiga orang terakhir yang membelakanginya dan sibuk menaruh perhatian penuh pada Kepala Sekolah yang sedang tebar pesona. Lalu Suhu mengaum keras-keras pada mereka "DHHUUUWAAAAA". Kepala sekolah dengan ketakutan berkata.


"Hey you! Come here!"

Buyar sudah lamunan satu paragraf tadi. Mandor jagoan yang membara besar di halaman sebelumnya, kini menjadi seekor bayi Panda kecil yang lagi pilek. Alasannya cuma satu, suara dan wajah principal ini sangat mirip dengan kepala sekolah SD Suhu yang dulu. Iya, kepala sekolah yang pernah menghukum Suhu berdiri tegak di depan tiang bendera sambil pegang telinga dan disetrap tidak boleh pulang sampai jam tiga sore.

"We are supposed to have a glass panel here. Where is the glass panel?"
"I have no idea, Mam. I have nothing whatsoever here in my drawing."

Suhu menunjukkan gambar konstruksi pada Principal, dengan tatapan mata look!-there's-nothing-here-i'm-not-lying-please-don't-eat-me.

Tangan Principal menunjuk sebuah dinding yang sudah indah dicat, seraya menatap mata tokoh protagonis kita dalam-dalam, dengan tatapan mata cek-lagi-pasti-ada-dan-kamu-lupa-masang-glass-panel.

Vice Principal menatap Mandor dengan pandangan bagaimana-kamu-bisa-lupa sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan menyilangkan tangannya menumpu berat badan pada kaki kirinya mengangkat sedikit bahu kanannya iyak manisss *cepret* sekali lagi *cepret* sempurna. Berdecak tanda kecewa, mengeluarkan suara cicak, hanya sekedar cari muka di depan atasannya. Anjing!

Operation Manager SLTP Sukamaju tersenyum sambil menatap Mandor penuh arti, seolah hendak berkata tenang-anak-muda-ini-baru-pertama-kali-kamu-mengalaminya-aku-sudah-dua-tahun-diperlakukan-seperti-ini-setiap-hari.

Admin Manager SLTP Sukamaju, seorang ibu yang baik hati melangkah maju untuk membelaku. Dia sekarang berdiri di antara aku dan Principal, dan ribuan peluru menghujaninya dia berkata pada Principal, "Maybe he need to check his revised drawing. The drawing he had might not be the most updated one." Lalu dia melangkah mundur memegang bahu Suhu dengan keibuan.

Suhu menepis tangan Admin Manager spontan berkata "Apa seh pegang-pegang?".

"No. There is nothing wrong with my drawing. I'm sure with my drawing. It IS the latest drawing. And we are not aware that there is A GLASS PANEL here."

Semua terhenyak kaget. Mungkin karena terbiasa bicara di depan mimbar di depan jutaan figuran felem Bollywood, suara Suhu agak sedikit terlalu lantang. Tatapan mata mereka semua mendadak berbeda. Operation Manager kini tersenyum bermakna akhirnya-ada-yang-membela-kaum-tertindas. Admin Manager membuat tanda salib dan komat-kamit. Vice Principal jongkok di belakang Principal. Dan Principal mendelik.

Suhu segera mencari tiang bendera, berdiri tegak dan pegang telinga.

Lalu Mandor kita menyadari bahwa hal kedua yang paling memakan banyak korban setelah bencana alam adalah wanita karier yang sedang PMS. Dan nampaknya skala kerusakan yang akan diakibatkan tidak akan berbeda terlalu jauh.

"I say, we're going to have a glass panel here. If your drawing don't have it, now I'm telling you, I want a glass panel here."

Semua orang yang ada di ruangan itu terhenyak diam. Belasan petinggi sekolah. Dan seorang mandor. Jancok. Kenapa ini terjadi saat jam makan siang. Waktu di mana semua worker ku sedang tidur siang dan gulung-gulung gaya anjing laut di bawah tangga. Dan kenapa tinggal aku seorang di sini. Sembari memikirkan bagimana cara memikirkan tawuran yang jelas-jelas kalah jumlah ini, Suhu mencoba mengajukan cara diplomatis. Yaitu. Menyerah.

"Madam, it's not for me to say whether I can do the glass panel here or not. There are cost implication here. Since the wall is already constructed, and it's even painted, if we need to install the glass panel here, we need to hack off the wall. Which will result in an abortive cost, because ..."

"Enough. I don't want to know all this cost this and that. All I want to know is at the end of the day, I'm going to have a glass panel here. And you can not charge anything to the school, because it's you in the first place who missed it."
"No, it's not even in the drawing. I never, I repeat, NEVER, miss anything in the drawing."
"This glass panel has been requested so many times, I still can remember I specifically ask for it to be here. And I'm going to have it installed here."

"Mam, this is not what stated in my contract. My contract have nothing to do with this drawing. The fact that you requested to hack off this wall is unfair for me if I am unable to claim any abortive cost."

"Tell me what is unfair. Besides, you all have never informed us about the progress of the building. It's lucky that today we came here and we found out that you actually never do the work properly. Like this glass panel for example. And who choose this tile? I don't like this colour. I want it to be changed."
"But mam, we have no obligation whatsoever to let you know about the construction progress. Our client is Depdiknas, not you."

"I know Depdiknas is the client. But I'm the end user. Doesn't it make me equally important? I. Don't. Care. I want the tiles to be changed. I just don't like the colour. And the fact that I'm going to work in this office five days a week with the colour I don't like is really off putting."

Merasa kalah dalam berdebat dengan orang yang jelas-jelas kurang bisa diajak berunding, Suhu tidak kehabisan akal. Suhu mulai menyerang hal-hal di mana sudah jelas-jelas dia menang dari Principal, yaitu tanding panco kekuasaan lapangan. Seperti yang kita ketahui. Di lapangan, semua turut pada kehendak Tuhan. Setelah Tuhan, Mandor.

"EVERYBODY. I can't allow anyone without Personal Protective Equipment to be wandering around here. Please make a move, get your safety shoes and helmet at the security guard before you come in next time. Thank you for visiting our site."

"But, I'm not finished yet. I will ..."

"Mam, it's for your own safety." *sambil mendorong punggung Principal secara tidak sopan*

Dalam hatinya, Suhu menggeram. Dia benci principal yang mau menang sendiri. Dia benci arsitek yang seharusnya sudah membuat persetujuan dengan end-user atau klien atau siapa pun sebelum memutuskan memilih warna kuning tinja ini. Dia benci pada Vice Principal yang sepertinya banci. Dia benci pada kenyataan dia tidak punya mesin waktu yang bisa merubah semua ini.

Andai aku punya mesin waktu.

Suhu,
akan menyalib worker yang membangunkan orang saat jam makan siang.

Bagaimana nantinya Mandor Jagoan menyelesaikan perselisihannya dengan Principal. Apakah dia akan mengganti semua Yellow Tiles? Bagaimana dengan kiriman tegel kuning tinja dari Malaysia? Apa cara Suhu kali ini mengakali masalah ini? Nantikan kelanjutannya hanya di kisah di balik hutan bambu dot blog spot dot kom.

3 comments:

PHY said...

Wah, seru nih!! *seseru konfrontasi antara peter dan nathan* Gak sabar nunggu lanjutannya, haha...

nCy . vLa said...

huaa!!!
asli seruuuuuu....
cepetan diupdateeeeee.....

suhu said...

#phy:
giliran ada gebug2an tulang kering aja ni orang semangat. gara2 blog sebelah ndak ngapdet cerita yoko keri keri gogomi ya?

#ncy:
hahaha ini lagi, malah ikutan.