Friday, February 20, 2009

The Time Machine - The Curse of The Yellow Tiles

Tokoh utama kisah di balik hutan bambu, tak lain tak bukan adalah Suhu. Sebutlah dirinya Panda Tambun, sebutlah dirinya Mandor Jagoan. Tetaplah dia adalah manusia biasa yang tak lepas dari dosa, dusta, dan tentunya tak lepas dari MASALAH.

Masih berkaitan dengan tidur siang sebelumnya. Tidur siang itu bisa dibilang tidur nyenyak terakhir yang dimilikinya, sebelum mimpi buruk menghantuinya. Hingga ke alam nyata. Apa yang terjadi? Mari kita simak kelanjutannya.

Tegel kuning tinja itu memang belum di sini. Tapi dengan ketegasan seorang Mandor untuk meng-order darurat dari Malaysia, dengan kelengkapan yellow pages, dan dengan ketertiban seorang Mandor membayar tagihan telepon, Suhu berhasil mengontak supplier di Malaysia untuk men-secure stock dan mengirimkannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnja. Memang belum di sini, tapi kita punya kepastian. Dan itu yang paling penting di dunia konstraksyen. Kepastian. Seperti pasti datang dalam minggu ini. Atau pasti selesai ditegel dalam bulan ini. Atau pada akhirnya kita semua pasti akan mati.

Kepastian macam itu lah yang bisa membuat tidur siang nya nyenyak. Tak risau akan masalah. Tak terusik dari mimpinya. Sampai.

Tok tok tok *demikian suara pintu diketuk*

"Come in, not locked" *dengan suara setengah sadar*
"Mister Adi, the school men want to see you."
"Okay okay lah. Later lah." *dengan suara bete karena terganggu tidur nya*
"Now they waiting Block C."

Sambil bertanya dalam hati kenapa orang-orang berpendidikan ini tidak mengerti arti kata appointment dan prior notice, Suhu bermalas-malasan memakai sepatu kerja nya. Menyeret langkahnya ke Block C, sebuah gedung tata usaha yang sedang dibangun. Di mana di dalamnya terdapat General Office, Staff Office, Oval Office Principal Office, dan kesemuanya diubin warna kuning tinja. Oh maaf, belum semuanya, masih ada yang belum ditegel karena kelucuan asisten Mandor.

Sesampainya di Blok C, Mandor sudah melihat ada sekitar belasan orang. Apa-apan ini? Orang-orang ini masuk ke WILAYAHKU. Tanpa safety shoes, tanpa helm, dan tanpa izin? Bangsat semua orang-orang ini. Aku mengenali wajah mereka semua meskipun aku tidak tahu nama mereka. Mereka adalah pemilik paras yang terpampang di foto-foto jajaran petinggi sekolah SLTP Sukamaju yang sedang dibangun PT Bangun Subangkit, lahan di mana aku bekerja, tempat di mana aku mencari sesuap nasi, dan sebakul lauk.

Ada Principal [orang yang berprinsip Kepala sekolah], ada Vice Principal [Wakasek], ada HoD yaitu adalah singkatan dari Head of Department [gak tahu apa indonya, mungkin kepala jurusan? kepala bidang/mata pelajaran?], ada AM alias Admin Manager [Kepala Tata Usaha], ada OM alias Operation Manager [kalau di Indo, uhmmm... Sarana Prasarana? Pokoknya yang ngurus kerjaan yang gak ada orang yang ngurus]

Mereka-mereka ini bertugas mulia mendidik anak-anak SMP ini biar bisa menjadi orang yang bertanggung jawab, dan menjadikan mereka Singapore Future Leader. Tapi apa yang diharapkan kalau mereka ini buta huruf? Eh, ini bukannya melebih-lebihkan. Sudah jelas belasan orang itu nggak mungkin melewatkan papan besar yang tulisannya "INI AREA KONSTRUKSI, KAWASAN HELM DAN SEPATU SAFETY". Kalaupun misalnya mereka benar-benar melewatkan tanda di pintu tadi, ngapain sekarang mereka ada di jarak radius satu meter sebuah papan bertuliskan BAHAYA JANGAN DEKAT! FONT SIZE 400 BOLD MERAH DITULIS DALAM EMPAT BAHASA DITAMBAH SIMBOL TENGKORAK.

Kontan saja Suhu sudah tidak tahan dengan segala eek sapi ini [terjemahan bebas dari bullshit]. Suhu segera mengambil orang yang paling belakang, lalu mematahkan tulang keringnya. Lalu menjambak orang berikutnya sampai terjengkang ke belakang. Mengayunkan linggis ke tengkuk tiga orang berikutnya dan meneruskannya membabi buta sampai tinggal tiga orang terakhir yang membelakanginya dan sibuk menaruh perhatian penuh pada Kepala Sekolah yang sedang tebar pesona. Lalu Suhu mengaum keras-keras pada mereka "DHHUUUWAAAAA". Kepala sekolah dengan ketakutan berkata.


"Hey you! Come here!"

Buyar sudah lamunan satu paragraf tadi. Mandor jagoan yang membara besar di halaman sebelumnya, kini menjadi seekor bayi Panda kecil yang lagi pilek. Alasannya cuma satu, suara dan wajah principal ini sangat mirip dengan kepala sekolah SD Suhu yang dulu. Iya, kepala sekolah yang pernah menghukum Suhu berdiri tegak di depan tiang bendera sambil pegang telinga dan disetrap tidak boleh pulang sampai jam tiga sore.

"We are supposed to have a glass panel here. Where is the glass panel?"
"I have no idea, Mam. I have nothing whatsoever here in my drawing."

Suhu menunjukkan gambar konstruksi pada Principal, dengan tatapan mata look!-there's-nothing-here-i'm-not-lying-please-don't-eat-me.

Tangan Principal menunjuk sebuah dinding yang sudah indah dicat, seraya menatap mata tokoh protagonis kita dalam-dalam, dengan tatapan mata cek-lagi-pasti-ada-dan-kamu-lupa-masang-glass-panel.

Vice Principal menatap Mandor dengan pandangan bagaimana-kamu-bisa-lupa sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan menyilangkan tangannya menumpu berat badan pada kaki kirinya mengangkat sedikit bahu kanannya iyak manisss *cepret* sekali lagi *cepret* sempurna. Berdecak tanda kecewa, mengeluarkan suara cicak, hanya sekedar cari muka di depan atasannya. Anjing!

Operation Manager SLTP Sukamaju tersenyum sambil menatap Mandor penuh arti, seolah hendak berkata tenang-anak-muda-ini-baru-pertama-kali-kamu-mengalaminya-aku-sudah-dua-tahun-diperlakukan-seperti-ini-setiap-hari.

Admin Manager SLTP Sukamaju, seorang ibu yang baik hati melangkah maju untuk membelaku. Dia sekarang berdiri di antara aku dan Principal, dan ribuan peluru menghujaninya dia berkata pada Principal, "Maybe he need to check his revised drawing. The drawing he had might not be the most updated one." Lalu dia melangkah mundur memegang bahu Suhu dengan keibuan.

Suhu menepis tangan Admin Manager spontan berkata "Apa seh pegang-pegang?".

"No. There is nothing wrong with my drawing. I'm sure with my drawing. It IS the latest drawing. And we are not aware that there is A GLASS PANEL here."

Semua terhenyak kaget. Mungkin karena terbiasa bicara di depan mimbar di depan jutaan figuran felem Bollywood, suara Suhu agak sedikit terlalu lantang. Tatapan mata mereka semua mendadak berbeda. Operation Manager kini tersenyum bermakna akhirnya-ada-yang-membela-kaum-tertindas. Admin Manager membuat tanda salib dan komat-kamit. Vice Principal jongkok di belakang Principal. Dan Principal mendelik.

Suhu segera mencari tiang bendera, berdiri tegak dan pegang telinga.

Lalu Mandor kita menyadari bahwa hal kedua yang paling memakan banyak korban setelah bencana alam adalah wanita karier yang sedang PMS. Dan nampaknya skala kerusakan yang akan diakibatkan tidak akan berbeda terlalu jauh.

"I say, we're going to have a glass panel here. If your drawing don't have it, now I'm telling you, I want a glass panel here."

Semua orang yang ada di ruangan itu terhenyak diam. Belasan petinggi sekolah. Dan seorang mandor. Jancok. Kenapa ini terjadi saat jam makan siang. Waktu di mana semua worker ku sedang tidur siang dan gulung-gulung gaya anjing laut di bawah tangga. Dan kenapa tinggal aku seorang di sini. Sembari memikirkan bagimana cara memikirkan tawuran yang jelas-jelas kalah jumlah ini, Suhu mencoba mengajukan cara diplomatis. Yaitu. Menyerah.

"Madam, it's not for me to say whether I can do the glass panel here or not. There are cost implication here. Since the wall is already constructed, and it's even painted, if we need to install the glass panel here, we need to hack off the wall. Which will result in an abortive cost, because ..."

"Enough. I don't want to know all this cost this and that. All I want to know is at the end of the day, I'm going to have a glass panel here. And you can not charge anything to the school, because it's you in the first place who missed it."
"No, it's not even in the drawing. I never, I repeat, NEVER, miss anything in the drawing."
"This glass panel has been requested so many times, I still can remember I specifically ask for it to be here. And I'm going to have it installed here."

"Mam, this is not what stated in my contract. My contract have nothing to do with this drawing. The fact that you requested to hack off this wall is unfair for me if I am unable to claim any abortive cost."

"Tell me what is unfair. Besides, you all have never informed us about the progress of the building. It's lucky that today we came here and we found out that you actually never do the work properly. Like this glass panel for example. And who choose this tile? I don't like this colour. I want it to be changed."
"But mam, we have no obligation whatsoever to let you know about the construction progress. Our client is Depdiknas, not you."

"I know Depdiknas is the client. But I'm the end user. Doesn't it make me equally important? I. Don't. Care. I want the tiles to be changed. I just don't like the colour. And the fact that I'm going to work in this office five days a week with the colour I don't like is really off putting."

Merasa kalah dalam berdebat dengan orang yang jelas-jelas kurang bisa diajak berunding, Suhu tidak kehabisan akal. Suhu mulai menyerang hal-hal di mana sudah jelas-jelas dia menang dari Principal, yaitu tanding panco kekuasaan lapangan. Seperti yang kita ketahui. Di lapangan, semua turut pada kehendak Tuhan. Setelah Tuhan, Mandor.

"EVERYBODY. I can't allow anyone without Personal Protective Equipment to be wandering around here. Please make a move, get your safety shoes and helmet at the security guard before you come in next time. Thank you for visiting our site."

"But, I'm not finished yet. I will ..."

"Mam, it's for your own safety." *sambil mendorong punggung Principal secara tidak sopan*

Dalam hatinya, Suhu menggeram. Dia benci principal yang mau menang sendiri. Dia benci arsitek yang seharusnya sudah membuat persetujuan dengan end-user atau klien atau siapa pun sebelum memutuskan memilih warna kuning tinja ini. Dia benci pada Vice Principal yang sepertinya banci. Dia benci pada kenyataan dia tidak punya mesin waktu yang bisa merubah semua ini.

Andai aku punya mesin waktu.

Suhu,
akan menyalib worker yang membangunkan orang saat jam makan siang.

Bagaimana nantinya Mandor Jagoan menyelesaikan perselisihannya dengan Principal. Apakah dia akan mengganti semua Yellow Tiles? Bagaimana dengan kiriman tegel kuning tinja dari Malaysia? Apa cara Suhu kali ini mengakali masalah ini? Nantikan kelanjutannya hanya di kisah di balik hutan bambu dot blog spot dot kom.

Saturday, February 14, 2009

The Time Machine - The Efforts and The Yellow Tiles

Sambungan dari posting seri The Time Machine yang lalu. Tandanya bahwa Suhu masih ingat akan janji nya pada pembaca yang dibuat saat tutup tahun 2008.

Mandor kita pun seperti hari-hari biasanya. Terlelap. Jam makan siang biasanya selalu dipakai untuk tidur kalau tidak ada aktivitas ngecor. Kenapa ngecor tidak bisa ditinggal tidur, tentu pembaca sudah lebih tahu alasannya. Jika belum, baca Seri Edukasi Mandor [lihat Referensi di bawah]. Tidurnya sangat lelap, seolah tak ada apa pun di dunia ini yang akan membuatnya terjaga. Jancok lek kui jeneng e mati cok. Senyum yang tersungging di bibirnya, seolah mencerminkan semua masalah di dunia ini telah sirna dan dia siap berangkat ke surga.

Pagi ini. Semua selesai. Semua. Semua masalah yang menghantuinya setiap malam. Masalah besar.

Oh? Apa? Maaf maaf? Para pembaca bingung. Flashback bentar.

Masih ingat cerita tentang Xtra5 tegel yang dulu kan? Oke. Sudah ingat ceritanya? Setelah gagal menciptakan mesin waktu untuk membuat asistennya yang bernama Martin tidak pernah dilahirkan, Suhu mencari solusi alternatif berikutnya yang lebih masuk akal.

Order ekstra ubin berwarna kuning. Dan tidak boleh sembarang kuning. Kuning yang sudah dipesan oleh asisten kita tercinta bernama Martin ini, adalah sebuah kuning yang netral. Sebut saja nama kuning nya kuning tai. Hush, gak sopan amat. Okeh, okeh. Kita ganti sebutannya menjadi kuning tinja. Yang memilih warna ini adalah arsitek. Arsitek. Orang-orang yang mengira dirinya bisa membangun.

Untuk catatan, warna yang dipilih arsitek itu sebenarnya kuning yang netral dan baik-baik saja. Tapi karena berdasarkan pengalaman buruk dengan arsitek, dan afiniti negatif pada orang-orang yang mau menang sendiri, kita akan menyebut kuning tersebut di atas dengan referensi kuning tinja. Titik. Ini blog gueeee, semau gueee dodollll wtfbbq! Cok, wong iki stress kakehan kerjo.

Oke. Ubin kuning tinja yang dipesan Martin sesuai pilihan arsitek, kini telah terpasang di lantai General Office. Di lantai Staff Room. Di lantai Principal Room. Di lantai Vice Principal Room. Di Sickbay [di Indo disebut UKS]. Dipasang di sini, di sana, dan di mana mana hingga di pucuk pohon cempaka. Tapi saudara saudara sekalian yang terkasih, nampaknya entah kali ini Tuhan sedang sibuk menolong korban perang atau memang Tuhan menikmati cobaan yang diberikan pada umatNya, Mandor menghadapi masalah yang cukup besar.

Buat yang menebak tegel nya kurang, selamat. Anda benar.

Jadi mister adi, berita buruknya, tegelnya tidak cukup.



Kabar baiknya, kita sudah setengah jalan. Jadi kita sudah tidak punya jalan keluar selain mengundurkan diri dari perusahaan ini.


Jadi ceritanya di satu hari hujan yang cukup lebat. Tumpukan kardus berisi tegel itu tidak ditutup oleh terpal. Yang berarti kardus-kardus itu diterpa hujan. Yang berarti kardus yang secara natural berbahan dasar kertas, menjadi bubur kalau disikat hujan. Yang berarti tegel yang ditumpuk maksimum 8 [delapan] kardus itu. Sebentar. Apa kata yang tepat? Yak. Longsor.

Jancok. Dan tidak ada seorang pun yang memberi tahu aku. Jancok. Jancok. Jancok. Seribu kali Jancok. Tarik nafas dalam-dalam. Hembuskan. Iya. Mengucapkan kata Jancok jauh lebih membantu mengurangi tekanan darah. Jadi ceritanya General Office kita sudah ditegel tapi ndak selesai. Begitu pula dengan Staff Room. Sudah ditegel tapi ndak selesai.

"I am very very totally super disappointed."
"What is it mister adi."
"You all never told me you broke so many tiles."
"Oh that one."
"What's with 'oh that one'?"
"Relax Adi, relax. They tell you for whaaaatt? For what? You tell me, bro. Given the case they told you earlier, 100% you will scold them. But, if, once again, if, they didn't tell you. They had the chance of 50% you will never know. Hence they are safe. Or 50% you will eventually know, and you will scold them. So, 100% kena fuck, or 50% kena fuck?"

Setelah memikirkan dan mengiyakan bahwa perkataan Calvin ada benarnya juga, Suhu melampiaskan amarahnya ke kardus di sebelahnya. Brakkkk. Bogemnya cenut-cenut. Tangannya berdarah-darah, Nakadakaken telah merusakkan struktur persendiannya. Kardusnya nggak kosong. Dalamnya ada tegel. Warna kuning. Tinja. Pecah tiga kena bogem.

"Wow! Mister adi found the missing box!"
"And he broke three of the good ones."

Setelah membuat mental notes untuk membunuh Martin dan Calvin. Yang satu karena kepolosannya, yang satu lagi karena kepandaiannya. Tapi sayangnya, masih tidak cukup. Suhu mencari informasi di label kardus itu. Supplier. Nomer telepon.

Berikut adalah langkah-langkah penyelesaian masalah.
1. Menelepon supplier.
2. Terkejut karena kata supplier stok untuk warna kuning tinja tidak banyak.
3. Menyuruh Martin untuk menghitung jumlah tegel kuning tinja yang diperlukan.
3. Menghitung jumlah tegel kuning tinja yang diperlukan karena tidak percaya sama Martin.
4. Mengancam akan membunuh Calvin karena menertawakan Suhu yang menghitung tegel karena tidak percaya sama asisten sendiri. "Mwahahaha like that better you give your assistant to me lah, have also you don't trust. For whaaatt???"
5. Mengontak supplier dan memberikan jumlah yang diperlukan.
6. Membanting telepon karena ternyata supplier tidak punya jumlah yang cukup.
7. Menelpon supplier mengenai produksi selanjutnya.
8. Bingung karena ubin ini tidak diproduksi lagi.
9. Bunuh diri.
9. Panik.

Setelah pergi ke toko-toko bangunan dan mengontak nyaris semua supplier di negara ini [Sangat mudah dilakukan di negara ini, yang yellow pagesnya halamannya bisa dihitung]. Suhu menemukan toko lain yang menjual tegel kuning tinja. Tapi toko ini juga tidak punya stok, tapi dia bisa membantu memesankan dari production plant. Di Kuantan, Malaysia. Okeh deh koh, lai. Lonzhong lai lai, mai khai khai. Ndak ada transport ta'ambil sendiri. Pokoknya apapun akan kulakukan demi mendapatkan tegel kuning tinja. Abraham mengorbankan Ishak, aku mengorbankan Martin.

Kadang aku berandai. Berandai-andai. Andai aku punya mesin waktu.

Suhu,
Aku bakal menelepon supplier Malaysia langsung biar bathi lebih besar dan minta nota palsu. Aku bakal mengecek kardus sebelum kubogem. Aku bakal mengatur semua ruangan agar tegel kuning dipakai menutup area yang lebih besar terlebih dahulu, agar yang tidak cukup tersisa pas satu ruangan kecil seperti UKS dan kuganti dengan tegel putih biar tidak ketara kalau salah. Aku bakal menghitung kalau masih tidak cukup, bagian yang tidak kebagian ubin akan kututup pakai lemari dan keset bertuliskan Welcome toh tidak bakal ada yang tahu. Aku bakal menghitung sendiri sebelum order tekel kuning tinja. Aku bakal mencari pekerjaan lain selain jadi Mandor. Andai. Aku. Punya. Mesin. Waktu.



Referensi:

Seri Edukasi Mandor Ngecor, Lagi, dan Lagi.

Selamat Hari Valentine

Rasanya Suhu sudah tidak senganggur dulu untuk bisa menulis panjang lebar tentang Valentine seperti dulu. Tetapi, bagaimanapun juga, nevertheless.

Biar ngecor di hari Sabtu.

Biar ngecor di hari Valentine.

Biar disengat panas disiram hujan.



The love is in the air !!!

Suhu,
tanpa mengurangi rasa hormat pada para jomblo sekalian.

Wednesday, February 04, 2009

a post about http://girlonbus.com/

So I just happened to visit this website. And somehow, I decided to help.

Please visit http://girlonbus.com/ so that you know what I'm talking about in the rest of the entry.

For the guys outta there, there are few lessons and morals of the story you can take from this website.

1. Love at the first sight, do exist. But normally, there is no second sight.
If you love a girl at the first sight, and you didn't express it right away, most probably you will miss her this life. Like this guy on http://girlonbus.com/. Maybe next life, dude. But for those inexperienced guys, don't take the quick steps. Even if you manage to express your love at the first sight, there is no warranty there will be second sight. If you express it wrongly, you might be blinded. It's just simple connection between girls nowadays with pepper spray.

2.Love the lover, keep the friends.
Despite being totally straight, Suhu wants to remind you that friendship with the guys is equally important. Spending so much time with your better half does not necessarily sacrifice your time with your buddies. You won't know when you will need your friends. Because sometime your friends can help you doing brutally stupid things without asking single question. This dude on http://girlonbus.com/ has one friend who can draw proportionally [I'm not specifically mentioning about the boobs' size] and another friends who has a credit card to pay on his behalf.

3. Be a man, do the right thing.
No matter how romantic you are, unusual ways of approaching girl are bound to have identified as creepy. But even if you are a stalker, if the girl find you attractive, both party win. I mean, in almost any case in this world, there will be more than one point of view. So, why bother what people say? Just be a man, do what you think is right. Don't listen to people who say you are creepy. Don't listen to people who say you are stalker. You are what you think you are. Unless you think you are God, you are most probably not.

4. The power of internet.

4a."Please help to make GIRLONBUS.COM known to as many people as possible"
Why China overpowered GLA and USA in C&C General Zero Hour? The reason being are greatness in numbers. By posting this website to the internet. This guy has amazingly alerted a handful of bo liao bloggers, who subsequently post some random updates containing his effort to see this girl.

4b."I'm contactable at email@girlonbus.com"
By putting the email address over the internet, he managed to absorb all the information from the visitors. By putting new account inside of his own personal email address, he could easily back off anytime if he found more suitable candidate. Smartass.

4c.Keywords
If you saw the words on the bottom most of the page, then you will know what does it mean. Those words help him to be crawled by Search Engine like Google. By knowing the girl's interest, he's pushing his luck to the brighter side to include this few keywords.

5.Worth Fighting For
If you are the founder of girlonbus.com . Good luck. I don't know whether this is the right thing to help you distribute this website. But from the effort, I think you think this girl is worth fighting for.

Suhu,
have found the girl worth fighting for.

Tuesday, February 03, 2009

Mukabuku

Suhu lagi keranjingan mukabuku. Mukabuku.

Ya, sebuah social networking yang lagi marak di dunia maya. Jadi ceritanya seperti ini. Pertama Suhu membuat sebuah akun. Lalu sebuah akun itu waktu baru saja buka, sudah punya dua undangan dari dua orang teman.

Apakah orang ini temanmu? Accept.

Apakah orang ini temanmu? Accept.

Dan Suhu pun beranjak dari kursinya untuk ronda rutin lapangan. Menangkap basah Bangla73 sedang bermalas-malasan. Mengingatkan Bangla73 bahwa zaman sekarang susah cari kerja. Tersenyum melihat Bangla73 tiba-tiba sopan dan bekerja keras. Lalu kembali ke kantor.

Lalu memulai navigasi pada halaman yang disebut "Home". Di sisi kanan bawah nampak tulisan People You May Know dengan tiga foto manusia yang dua di antaranya nampak familiar. Klik 'Add as Friend' membawa halaman menuju ke sebuah pesan yang mengatakan 'Temanmu-harus-mengakui-bahwa-kamu-adalah-temannya-terlebih-dahulu'. Demikianlah terjadinya 'Friend Requested' berwarna abu-abu tanda bahwa persahabatan kami masih pending approval.
Kemudian Suhu menelepon supplier yang masih belum mengantarkan Chemical untuk Cement Removal padahal sudah order dari beberapa minggu yang lalu. Melampiaskan angkara murka karena supplier menyanyikan Balada Esok Pagi untuk kesekian kalinya. "Tomorrow, tomorrow. Everytime tomorrow. Tomorrow also say tomorrow. I want it by today. Fullstop."

Lalu di profil nampak bahwa seorang teman SMA telah di-tag di sebuah foto. Foto tersebut di mana menunjukkan foto SMA nya yang diabadikan bersama teman-teman sekelasnya. Sudah jelas bahwa latar belakang album foto tersebut. Adalah SMA belakambing [belakang pasar Blimbing]. Meskipun dirinya tidak ada dalam foto tersebut, tapi Suhu hampir mengenal semua orang dalam foto tersebut. Ada yang bekas teman sekelas, ada yang bekas tetangga kelas, ada yang merah dan ada yang putih. Setiap hari kusiram semua.

Kemudian ada orang mengontak walkie talkie Suhu untuk mengabarkan bahwa Cement Removal liquid sudah datang sebanyak dua belas gentong. Untuk informasi pembaca, satu gentong cairan kimia tersebut isinya dua puluh liter. Setelah meyakinkan seluruh umat manusia bahwa Yesus bangkit di hari ketiga dan Suhu hanya memesan dua gentong, Suhu mulai menelepon supplier.
Lantas ada layar kecil muncul dari layar Profile, bertuliskan nama salah satu teman yang baru saja meng-accept invitation. "Selamat datang di mukabuku!!!", begitu katanya. Setelah mengobrol ngalor ngidul ngulon ngetan, kami pun mengakhiri percakapan kami dengan janji akan saling mengabari meskipun tahu janji itu palsu karena terakhir kali kami bilang begitu adalah saat dia baru bikin account friendster.

Akhirnya supplier dari toko bahan bangunan itu mengangkat telepon. Dia berkata bahwa kantor kami memesan dua belas tong yang tidak lain tidak bukan adalah dua ratus empat puluh liter cairan asam pekat yang bisa menguapkan keramik. Tsscsss ... begitu kira-kira kalau tertetes di kulit. Dan kamu bisa mengecek warna tulangmu sendiri.

Tanpa di sadari di sisi kanan atas ada tujuh orang yang minta persetujuan untuk menjadi teman. Enam di antara nya adalah teman waktu kuliah, dan satu di antaranya adalah nama tak dikenal dan tanpa foto. Kuterima enam. Kubiarkan satu. Lalu aku disuguhi beberapa foto mini untuk masing-masing orang yang baru saja menjadi teman.

Saat itu aku baru sadar bahwa telepon masih tersambung dengan supplier toko bahan bangunan karena dia berteriak-teriak 'Hallo ... hallo ... anybody there?'. Aku pun menanggapinya dengan tidak kalah galak dan bersikeras bahwa aku memesan hanya dua gentong. Silat lidah adu mulut pun tak dapat dielakkan dan siapa yang kalah harus menelan sepuluh gentong yang tidak tahu dari mana asalnya.

Tapi pandangan Suhu tersilap sebuah keanehan. Kenapa ada foto bayi di layar monitor. Bahkan nama pemilik bayi itu adalah teman SMP nya. Jangan jangan. Sudah menikah dan berkembang biak. Ini benar-benar tidak dapat dimaafkan. Kenapa tidak undang-undang? Klik. View photos. Oh, ternyata ini foto dia waktu kecil. Lho, ada yang komen. Ini kan teman SMP ku juga. Add as Friends. Masukkan kata-kata yang sulit diketik sebagai captcha, lalu Friend Requested.

Pokoknya Suhu tidak mau tahu. Suhu merasa cuma pesan dua gentong. Suhu cuma mau bayar dua gentong. Tapi supplier ngotot bahwa pesan dua belas gentong. Suhu mencoba memberikan jalan keluar. Dua gentong diterima dan dibayar TUNAI, sepuluh gentong silakan bawa kembali ke toko kan masih bisa dijual lagi toh belum dibuka. Supplier tidak terima dengan alasan jenis ini tidak banyak orang beli. Supplier harus spesial order karena itu memakan waktu berminggu-minggu dan sekarang Suhu tidak mau terima.

Temen laen has wrote on my Wall. Sekedar basa-basi atau memang ingin jumpa lagi. Suhu pun tak kuasa menolak dan ikutan menulis di Wall nya. Lalu melihat komen di Profile teman, hasrat tak terbendung untuk ikut clometan mengomentari Status nya.

Akhirnya percakapan diakhiri dengan banting telepon dan sumpah serapah mandul tujuh turunan. Menjadi mandor adalah salah satu terapi anger management yang bagus. Kalau kamu jadi Mandor dan bisa gak misuh dalam satu hari, kamu telah mencapai penerangan sempurna dan siap menjadi Budha.

Menutup windows internet explorer dan shutdown komputer. Cukup untuk hari ini.

Saatnya pulang. Nampaknya Flatmate belum pada pulang. Sambil membuka bungkusan makan malam, menyalakan komputer. Setelah menyalakan beberapa account messenger, mengecek email pribadi. Mengecek email kantor. Membalas email kantor yang tadi pagi lupa dicek karena maen mukabuku. Nampaknya ada email kantor penting yang perlu dibalas.

Tapi sebelas orang telah menerimaku menjadi temannya. Aku melihat siapa saja yang telah menerimaku. Mereka sudah banyak berubah. Ada yang rambutnya sekarang dikeriting, ada yang rambutnya sekarang diwarna, ada pula yang rambutnya berkurang. Teringat foto yang tadi, Suhu pun mencoba meng-upoad foto kolosal zaman dia masih muda dahulu.

Suhu pun melahap makan malamnya. Sembari melihat-lihat foto-foto teman-teman yang sudah lama dia tak bersua. Wahhhh gila yang ini sudah punya pacar, padahal dulu kan gosipnya dia homo. Anjrit, yang tunangan??!!!? Mampus, ini koq mukanya jadi gini? Oh salah orang.

Tiba-tiba muncul belasan notification. Foto yang barusan di-upload mendadak di-tag secara massal oleh salah seorang teman. Yang membawa Suhu menemukan lebih banyak lagi teman yang belum di-add. Perjalanan Suhu menge-add semua teman-teman di Facebook ternyata masih panjang. Bersemangat! Darah itu merah, jenderal!

Setelah selesai menge-add semua orang yang bisa ditemukan, mengecek foto teman-teman, membaca komentar, dan membalas komentar, mengecek beberapa application, Suhu menelepon supplier toko bahan bangunan.

Ya, tiba-tiba sudah pagi, dan Suhu sudah di kantor lagi.

Mukabuku. Benar-benar. Mengerikan.

Suhu,
kecanduan mukabuku.