Saturday, January 24, 2009

The Time Machine - The Tiles and The Imperfections

Suhu, si Mandor jagoan, selalu mempunyai firasat akan hal-hal yang tidak baik. Terutama pada hal-hal yang sepertinya akan bermasalah di masa yang akan datang. Firasat ini telah menyelamatkan Suhu berkali-kali. Terutama saat duduk di bangku sekolah.

"Hummm... aku punya firasat exam bakal keluar dari chapter ini."

Entah karena keberuntungan atau karena banyaknya amal, firasat Suhu jarang gagal. Setengah hoki setengah nujum, mungkin itu juga asal nama Suhu melekat sebagai nama panggilan. Firasat akan hal-hal yang tidak baik ini lah yang akhirnya meneruskan menjaga karir Suhu sebagai Mandor di lapangan PT Bangun Subangkit. Katakanlah skill ini adalah Insting Mandor.

Contohnya adalah kejadian di siang itu.

*Layar mulai bergelombang remang, lalu berubah menjadi warna sephia coklat putih, menandakan alur flashback*

Suhu duduk bersandar di office chairnya sambil memejamkan mata. Sambil menendang-nendangkan kakinya di dinding, kursi yang didudukinya maju mundur. Sedikit berdendang lagu-lagu yang bernada patriotisme pembangunan, Suhu melakukan aktivitas rutin. Tidur siang. Saat memasuki bait refren, kakinya menendang lebih keras. Roda kursi kantor yang berjumlah lima itu masuk ke sela-sela antar ubin, yang lebih besar dari tile gap pada umumnya. Kursi itu hilang keseimbangan.

Tiba-tiba terdengar suara "Gedubrak" diikuti dengan bahasa baku Jawa Timur yang sering diucapkan Suhu. Dan Mandor yang semestinya sudah tertidur lelap itu terjaga sepenuhnya. Dan selalu gagal tiap kali mencoba tidur lagi. Pikirannya melayang-layang. Andai dia punya mesin waktu, dia akan lebih perhatian waktu mengawasi proses pengubinan kantor nya yang sekarang.

Ubin di kantor memang hanya pakai sisa ubin dari proyek lalu.

Adegan berikutnya adalah mandor mengambil semen di gudang dan memoles lantai kantor yang jarak antar ubinnya segedhe Megazord. Sudah bukan rahasia kalau ubin di kantor Suhu tidak sempurna. Karena kita memasang tegel di sini dengan ubin-ubin sisa proyek yang lalu. Jadi lantainya berwarna-warni, dan ukurannya pun tidak semua sama. Imperfeksi itu lumrah. Tidak ada yang sempurna. Sebenarnya bukan hanya ubin. Pintu dan jendela pun agak sedikit random ukurannya. Lagipula yang membangun kantor saat itu baru lulus dari Ninja Turtles University.

"Laknat, lagipula siapa dulu yang order ubin ini? Kenapa size nya nggak sama semua?"
"Entahlah mister Adi. Waktu itu saya belum masuk PT Bangun Subangkit."
"Ya. Jancok waktu itu yang order pasti nggak mikir kalo ubin itu harus order lebih."
"Ya mister Adi."
"Nggak boleh ngepas. Belum kalau datang dari supplier mesti ada yang sudah retak, sudah pecah. Jancok supplier mana mau ngganti."
"Ya mister Adi."
"Jadi kamu sudah order ubin buat Blok C belum, Martin?"
"Sudah mister Adi."
"Sudah order lebih?"
"Sudah."
"Kamu ekstra berapa?"
"Dua puluh."
"BANYAK SEKALI? KAMU PIKIR UBIN ITU GRATIS?"
"Oke mister Adi nanti saya ganti ordernya."

Memesan ubin. Memesan ubin adalah hal yang mudah. Biasanya kita memesan ubin setelah bangunannya selesai dibangun. Memasang ubin termasuk salah satu aktivitas mendasar yang dilakukan hampir setiap proyek. Ubin/Tegel/Tile pada umumnya mempunyai ukuran standar. 300mm x 300mm. Katanya. Tapi kalau kamu amati benar-benar, setiap tegel hanyalah 297mm, di mana ada allowance untuk tile gap pada saat memasang ubin agar ada kesan lurus dan siku-siku. Tile gap ini biasanya 3mm, which makes up for the balance from the 300mm.

Cara menghitung jumlah pesan ubin adalah. Hitung luas area. Dibagi dengan 0.09 meter persegi [Luas ubin]. Lalu dikalikan dengan ekstra order. Untuk tegel 300x300mm biasanya kita memakai Extra-five atau extra-ten. Artinya order 5% ekstra. Atau order 10% ekstra. Misalnya kamu perlu 100 buah ubin untuk kamarmu, kamu order 110. Itu tergantung Mandor. Kalau punya confident pada anak buahnya, workernya sudah ahli dan tidak pernah ndak sengaja memecahkan ubin waktu kerja, bisa memilih Xtra5. Kalau suppliernya curang sering ngirim ubin retak-retak dan malas berselisih pendapat, ya main aman order Xtra10. Kalau Mandornya lapar dan suka makan beling, ya Xtra15.

Tapi seperti biasa, tidak semuanya semudah kedengarannya. Ubin ini. HARUS HABIS. Karena kita di lapangan dipandang tinggi oleh semua orang. Terutama Boss. Boss besar selalu memandang kita sempurna dan tak pernah salah. Maksudku, tak boleh salah.

"Gimana sih koq bisa order kelebihan? Ini semua uang, tahu? Uang. Terus sisa segini banyak ubin mau dikemanain? Mau dikemanain hayo? Kamu jawab."

Tentu saja Mandor yang cerdas akan menjawab "Buat kantor baru boss, biar saya gak jatuh lagi gara-gara ubinnya jelek." Tapi Mandor yang bijaksana akan menunduk dan diam seribu bahasa.

Kita harus order ekstra agar ubin ini cukup, tapi juga harus order ngepas agar tidak banyak waste. Afterall, semua uang yang bisa kita simpan untuk proyek ini yang nantinya akan berpengaruh ke kualitas gaji kita. Maka dari itu, Suhu sempat memberikan amarah nafas naga ke Martin saat tahu dia order Xtra20.

Tiga minggu berselang.

Truk-truk besar mengantarkan bahan bangunan. Satu lori mengantarkan ubin berwarna kuning. Mandor menghitung. Jumlah yang ada di nota sama dengan jumlah yang ada di truk. Oke. Tanda tangan. Lalu sopir lori itu kembali ke belakang setir. Rupanya dia mengambil sesuatu.

"Boss, ini ada titipan dari pabrik. Katanya ini yang gratis."
"Ha? Buat apa ini?"
"Nggak tahu katanya suruh ngasih ini ubin lima biji gratisan."

Emangnya aku kuda lumping? Tapi ya seperti kata pepatah, tidak ada apa pun yang gratis. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Ting ting ting. Insting Mandor. Suhu pun langsung memanggil Martin. Asistennya yang menangani bagian arsitektural, antara lain, ubin.

"Aku koq dikasi ubin gratisan ini apa ya."
"Oooohhh dikasi ke mister adi toh sama supirnya. Pantas aku cari-cari gak ada."
"Lho kamu order? Buat rumahmu?"
"Nggak, buat Blok C."
"Lah? Ngapain order lima."
"Lho? Kan kata mister Adi dua puluh kebanyakan."
"He?"
"Waktu itu tanya mau order extra berapa, katanya Xtra five aja kan?"
"...."

Ya Tuhan apa salah dan dosaku bisa dapat asisten kayak gini? Dari dulu sampai lima ratus tahun lagi mana ada orang beli ekstra lima biji. Suruh order lima persen malah order lima biji. Kadang aku berandai. Berandai-andai. Andai aku punya mesin waktu.

Suhu,
aku bakal ke Filipin waktu asistenku dilahirkan dan meminta bapaknya bersumpah bayi ini gak akan dijadikan asisten Mandor.

6 comments:

nCy . vLa said...

wakakakakkakakaa
misunderstanding yak..

dina.. said...

ubin o ubin

pulo kecil di selatan itu bukan si?

lita said...

hadhuh... aku kok pertamane jg ngira km mek minta 5 biji extra ya? sampe takbatin kok ngirit amat huehehe....
*ngerasa sebego asistenmu*

suhu said...

#ncy:
beyond... beyond misunderstanding

#dina:
itu si brani

#lita:
pake topi kerucut dan jongkok di ujung kelas!

mukuge said...

Suhu, ubin yg pecah dibikin jd mosaik blok C aja. Siapa tau bisa buat minta award apa kek... spt award "Pemilik Asisten Tulalit" se-PT Bangun Subangkit. Habis itu charge lebih ke client.
(Mimpi kali yah.) Will that work?

Lima biji. Oh my.

suhu said...

#mukuge:

akhirnya itu ubin kita pecah-pecah jadi remah-remah, lalu kita jadikan biskuit.

about the idea charge lebih ke client, very interesting. should try that next time.