Tuesday, January 20, 2009

Tentang Sebuah Kepergian

Keringat kita bercucuran di bawah teriknya matahari. Monsoon. Paceklik. Pergantian musim. Sang surya menggagahi dunia menyinari dunia dengan gagahnya. Suhu menelepon salah seorang yang seharusnya sudah ada di hadapannya saat itu.

"Ke mana supir itu?@!$!#^"

Si supir itu seharusnya sudah tiba setengah jam yang lalu. Diselingi dengan beberapa kali Suhu mengontak walkie-talkie nya yang selalu menjanjikan ketibaan dalam lima menit. Tak heran siang itu Suhu merasa sangat jengkel. Menunggu kiriman barang bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Tepatnya, menunggu bukanlah suatu kegiatan yang menyenangkan.

Tiba-tiba hape Suhu berdering. Bukan telepon. Dari ringtone nya Suhu tahu, itu adalah sebuah sms. Setelah memanjat turun tumpukan scaffolding itu, dan memastikan dirinya berada di tempat yang aman. Suhu mengeluarkan hape nya. Lalu membaca pesan yang diterimanya. Dia menghempaskan dirinya ke rerumputan. Merebahkan diri.

Menutup teleponnya. Lalu memasukkannya ke saku seragamnya. Lalu mengeluarkannya lagi. Membuka lagi pesan itu. Setengah berharap itu hanya halusinasi semata. Sedikit berharap pesan itu akan terbaca lain saat dibuka untuk kedua kalinya.

Dia telah pergi.

Suhu tidak seberapa mengenalnya, meskipun dia pernah tidur serumah. Bahkan bisa dibilang tidak kenal, hanya tahu saja. Apa kebetulan atau memang takdir, bahwa aku dan dia seprofesi meskipun beda generasi. Suhu beda pola pikir dan Suhu kalah pengalaman itu pasti, tapi Suhu masih tetap merasa bahwa figur nya adalah seorang yang hebat. Dari percakapannya, dari pertanyaannya, dari penjelasannya, tersirat jelas bahwa dia adalah true-blue kontraktor. Hidup dari pembangunan, hidup oleh pembangunan, dan hidup untuk pembangunan.

Satu per satu dialog dengannya tiba-tiba terbayang dan terngiang sekali lagi. Mungkin hanya sempat satu kali duduk dan berbincang. Aku masih belum sempat bertanya banyak belajar banyak berdiskusi banyak. Tapi siapa aku ini untuk melarang dia pergi sebelum aku sempat belajar darinya? Siapa aku ini untuk berkata 'Tunggu!' kepadaNya?

Mungkin. Surga membutuhkan kontraktor untuk membangun bait Allah di sana. Karena Tuhan selalu memakai yang terbaik untuk anak-anak Nya. Dia membutuhkan builder terbaik di sana. Dan, Tuhan mungkin tidak mau menunggu. Karena. Menunggu bukanlah suatu kegiatan yang menyenangkan.

Suhu,
selamat jalan Oom.

Semoga yang ditinggalkan dikuatkan dan senantiasa diingatkan bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi umatNya.

3 comments:

nCy . vLa said...

wah sedih deh post kali ini :(

Arianto said...

Terima Kasih Suhu..

dina.. said...

hari ini adek kelas smax ada yang meninggal juga hu
baru kelas 2 sma..

ga kebayang..
ga kebayang.. T_T