Saturday, December 12, 2009

BS5102 Research Method

Cerita ini akan dimulai di waktu jauhhhh sebelum kalian dilahirkan posting ini dituliskan. Saat itu adalah tanggal 11 Agustus 2009. Hari itu, Suhu bekerja keras di lapangannya. Layaknya mandor yang baik, yang tak mengenal lelah (ndak pake lelah langsung ketiduran), Suhu tak pernah mencuri waktu. Tidak seperti asisten-asisten mandor yang kalau atasan cuti tiba-tiba meresmikan pulang pagi. Tidak pula seperti rekan engineer yang kalau atasan tidak ada di tempat mendadak enggan memeras keringat. Bukan. Suhu bukan karyawan seperti itu.

Suhu tipe mandor yang kerja kalau ada kerjaan. Cenderung kerja gila-gilaan kalau ada kerjaan. Dengan tujuan bisa berleha-leha saat semuanya sudah selesai. Tapi. Hari ini berbeda. Suhu pulang awal. Suhu berpamitan pada Mister Hock, manajer nya.

11 Agustus 2009

Hari ini. Suhu. Kembali. Ke Sekolah.

Sambil menggumamkan lagu Ello “aku pergi takkan lamaaa” dengan bekgron sejuta banglanya melambaikan tangan “Goodbye mister adiiii”. Dalam hati kecilnya, Suhu tertawa kecil. It’s been a freedom for all this while. But, once in a while, the offenders still go back to jail. Damn! Lucu. Perasaan itu, seperti belum pernah dialaminya. Kalau mau lebih tepatnya, perasaan pergi ke kuliah pertama. Pengalaman itu terakhir dialaminya sekitar tahun 2003. Semenjak itu, Suhu selalu skip kuliah pertama dan selanjutnya.

Tapi itu DULU! Hari itu Suhu bersumpah berjanji berikrar berkaul berusaha untuk meyakinkan dirinya: TIDAK BOLEH SKIP LECTURE! Suhu sebagai seorang Bujang Teknik (Bachelor of Engineering), tidaklah terlalu bangga dengan reputasinya. Benul. Berikut adalah beberapa trivia tentang Suhu di masa muda. Atau, yang lebih dikenal sebagai adiprawirav1.0.

  • Bolos lecture lebih banyak daripada masuk tutorial. Some of you probably did.
  • Bolos lecture lebih banyak daripada masuk lecture. Few of you probably did.
  • Bolos tutorial lebih banyak daripada masuk tutorial. None of you probably did.
  • Bolos tutorial lebih banyak daripada masuk lecture. Really? No one? FML!

Maka sore itu Suhu pulang awal dari kantor, guna masuk kelas BS5102 Research Method. Seperti yang telah kalian ketahui dari nama subjectnya, mata kuliah ini sampah. BS. Bull Shit. Building Science. Ini adalah mata kuliah untuk para sayentis. Bukan para enjinir. Terbukti dengan betapa banyaknya teori-teori yang dikemukakan oleh dosen. Praktikalnya? Nihil. Kalau saja ini bukan mata kuliah wajib untuk lulus Masterdegri demi mendapat embel-embel Magister Sains, Suhu tidak akan peduli untuk menyentuhnya.

Tepat dugaan kalian. Suhu mulai mengantuk di setengah jam pertama. Berjuang melawan rasa malas pergi kau setan jahat! Suhu mengulangi dan memperkuat usahanya. Tak terasa. Suhu sudah melewati beberapa kuliah. Melewati rintangan assignment pertama. Melewati recess. Melewati rintangan group assignment. Melewati rintangan beberapa assignment. Melewati rintangan kuliah. Suhu. Tidak. Pernah. Bolos. Kuliah.

*di sini waktunya kalian melakukan standing ovation* selamat datang adiprawirav2.0

Tiba-tiba saatnya ujian akhir. Persiapan ujian bukanlah sesuatu yang layak dibanggakan. Kehidupan di tempat kerja tidak bisa dibilang kondusif untuk persiapan exam. Masalah ini akan dibahas di lain waktu. Yang pasti, persiapan exam benar-benar bisa dibilang mendekati enol. Ujian tanggal 25 November, sampai terhitung tujuh hari sebelum ujian, materi hanya nyaris disentuh, hampir dipegang, belum digenggam, apalagi dicengkeram.

150805562_442e39de8fHari minggu sebelum ujian, Suhu pergi ke NTU. Dengan satu harapan. Mengembalikan adiprawirav1.0. Sosok panda supersaiya yang akan berubah menjadi kuat di saat-saat kritis. Terima kasih buat dina yang sudah bantu nge-hog meja Lee Wee Nam dan mute bule-bule ribut di belakang saya. Iya, Dina ini gadis yang predikat manisnya udah diakui seantero jalan tohir adik kelas yang menimba ilmu untuk kesembuhan Apong di masa mendatang. [Dina mahasiswi psikologi Apong psikopat, red.]

Benar saja adanya, belajar di lingkungan NTU khususnya depan LT7 tempat di mana dulu Suhu belajar sebelum exam kalau Suhu belajar. Mujarab! Dulu tempat belajar mujarab Suhu adalah kamar tgwinmg [kalau ketiduran diceplesi], Basement terbawah Library 2 antara rak buku Geoteknik dan Baja [gampang ambil reference book dan gak ada yang tahu kalau tertidur di karpet], atau mana pun asalkan bukan Lab Beton. Itu adalah sanctuary di mana orang yang masuk sana hanya mengerjakan skripsi dan hanya skripsi, efwaipi and only efwaipi. Itu pula yang asal usul pemeo Ora Et Labora yang artinya belajar di mana saja asalkan jangan di Laboratorium.

Dini hari, 25 November 2009

Beberapa jam sebelum ujian, Suhu menemukan kesulitan sebenarnya dari mata kuliah ini.

Bukan rumus statistik. Bukan teori metode hipotesis. Bukan pendekatan sosial pada literature review.

Tapi. Di mana exam nya?

Meskipun Suhu bukan tipe yang rajin kuliah. Tapi Suhu paham kalau Venue Exam itu harus dicari di Exam Seating Arrangement secara online. Dan itu sudah ketemu. SR10-13. Pertanyaannya.

“SR10-13 itu di mana?”

Karena Suhu punya tingkat intelejensia standar bujang teknik, Suhu segera mengecek website facility management NUS. Di situ tertulis letak SR1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 14, 15, 16, 17. Setelah mengublek-ublek Virtual Map NUS dan positif tempat itu belum diciptakan, Suhu mengerahkan bala bantuan jin dan makhluk halus untuk mencarinya. Mbah Google mengembalikan hasil yang cukup memuaskan. Di situ, terletak bahwa SR10-13 terletak di SDE 3 Level 3.

Cukup puas dengan hasil itu. Suhu tidur. Dan bangun pagi di keesokan harinya. Bolos kerja untuk ikut ujian sekolah. Sampai kampus pukul delapan lewat lima belas. Masuk ke ruang ujian pukul sembilan kurang lima. Lima menit sebelum ujian dimulai. P enuh keringat. Nafas tidak beraturan. Keliling kampus mencari SR10-13 yang ternyata tidak sesuai dengan lokasi yang tertera di peta. Ini adalah bagian tersulit dari mata kuliah ini. Mencari tempat ujian.

Dua jam berikutnya. Sama seperti exam-exam sebelumnya.

Suhu,
works incredibly well under pressure.

Sunday, December 06, 2009

Semester Pertama Telah Berakhir

Begitulah.

461661546_545e7952a0_o

Hari-hari ini terasa begitu melelahkan. Pagi kerja. Malam kuliah. Pagi telat datang kerja karena tidur terlalu larut setelah pulang kuliah. Malam telat datang sekolah karena kerja terlalu lembur. Kalau pun ada satu perihal yang bisa Suhu syukuri dalam masa-masa terakhir ini, itu adalah paling tidak aku masih hidup aku dulu mengambil keputusan bijaksana dengan hanya mengambil dua mata kuliah.

Hah? Cuma dua? Cupu.

Dan dua mata kuliah itu sudah cukup untuk membuat Suhu kelabakan. Jadwal sehari-hari selama semesteran adalah. Malam-malam lembur di kamar bikin tugas kantor yang deadline nya besok pagi. Pergi kerja lalu di kantor buat tugas sekolah yang deadline nya nanti malam. Malam pergi kuliah, lalu tidur di kelas. Benar-benar contoh ideal translasi paradigma.

Semester ini Suhu mengambil hanya 2 (dua) mata kuliah. Untuk lulus dan memperoleh gelar sarjana lagi, Suhu perlu menyelesaikan 10 mata kuliah. Ada pilihan lain, yaitu menyelesaikan 8 mata kuliah dan mengerjakan dissertation. Pengalaman membuktikan, 1 dissertation tidaklah sebanding dengan 2 mata kuliah. Maka, berdasarkan pengalaman dan survey, tujuh dari sepuluh wanita Indonesia lebih memilih menjalani 10 mata kuliah. Dari sepuluh ini, terbagi lagi menjadi beberapa kategori. Tiga adalah wajib. Tujuh lainnya … hmmm kita pikirkan belakangan, Suhu sendiri belum baca dengan jelas syarat kelulusannya.

Suhu mengambil dua subject dari tiga yang wajib itu. Benul. Itu adalah keputusan yang jenius karena flexibility untuk memilih mata kuliah lain di masa mendatang meningkat drastis jika mata kuliah yang wajib diambil terlebih dahulu. Masalahnya hanya satu. Suhu baru ingat, mata kuliah wajib itu kan yang biasanya bikin otak mencret?

Dari dulu, Suhu memang bukan tipe pembelajar sejati [tidak seperti tgwinmg]. Mungkin itu sebabnya, Suhu baru ingat kalau mata kuliah wajib itu biasanya sulit. Tanpa bermaksud menghina tingkat intelejensia pembaca, yang Suhu maksud mata kuliah wajib itu adalah mata-kuliah-yang-selaras-dengan-nama-jurusannya. Bukan kewarganegaraan dan pendidikan agama.

Dan dua subject itu adalah Research Method dan Contract Management.

Research Method, kami belajar tentang cara riset banyak hal. Tentang apa yang dipelajari di kelas, tidak akan Suhu cantumkan di sini. Karena beberapa alasan.

  1. Kelas Research Method seminggu sekali tiap Selasa malam jam tujuh sampai sepuluh. Setelah meeting di tempat kerja dengan architect pada hari Senin, tidak banyak informasi yang bisa diserap pada hari Selasa.
  2. Kami belajar hal-hal gaib, yang kalau benar-benar dicantumkan di sini, bisa-bisa kalian mengira Suhu sedang menghina tingkat intelejensia pembaca.
  3. Bagaimana mungkin kamu menulis sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerti?

Singkatnya, kalau teringat kata Research Method, kata-kata yang beterbangan di otak Suhu adalah: hypothesis, research framework, survey type, sampling frame, data analysis, multiple linear regression, t-distribution, chi-distribution hahaha terdengar seperti jurus silat, dan hal-hal yang –percayalah- tidak semudah kedengarannya.

Contract Management, kami belajar bahwa kita tidak boleh sembarangan berjanji. Benul. Itu yang kami pelajari sepanjang setengah tahun terakhir ini. Mulai dari konsekuensi melanggar kontrak, apa yang harus dicantumkan dalam kontrak, apa yang harus diperhatikan saat menandatangani kontrak, dan beberapa hari sebelum ujian semester, Suhu mulai belajar dan sedikit memahami apa itu kontrak. Itu semacam “perjanjian kedua belah pihak pada awal kegiatan, lalu dasar pertengkaran kedua belah pihak tersebut di atas setelah kegiatan selesai”. Semacam itu kira-kira.

Sekedar selingan tentang kontrak, pernah dengar Tongue Twister? Coba yang ini.

Tongkat kontak tongkol tongkat kontak tongkol tongkat kontak tongkol …. terusin sendiri.

Singkatnya ujian semester ini untuk Research Method dan Contract Management telah usai. Pasti akan ada liputan singkat tentang ujian yang telah berlangsung tanggal 25 November dan 3 Desember 2009 itu di blog ini. Entah kapan. Kalau masa berkabung sudah selesai. Menangisi gugurnya Suhu di medan laga. Seperti yang selalu diingatkan oleh Cantika.

Badai pasti berlalu. Meninggalkan korban.

Suhu,
tongkat kontak tongkol tongkat kontak kon…. aaarghhh

Saturday, November 14, 2009

Panda Menguasai Dunia

Kami memang hewan langka.



Tapi,

Fu Long the panda is to leave his home town of Vienna for China next week, the Schoenbrunn Zoo in the Austrian capital, according to http://www.straitstimes.com/BreakingNews/TechandScience/Story/STIStory_453780.html

Dan,

Singapore is getting a pair of black and white furry envoys from China to mark the milestone of 20 years of diplomatic relations, according to http://www.straitstimes.com/BreakingNews/Singapore/Story/STIStory_453259.html .

Dan, Panda Tambun akan pergi ke Kuala Lumpur Malaysia pada tanggal 7 - 9 Desember 2009. Nantikan catatan perjalanan selengkapnya dalam Trip to KL - Truly Asia? . Hanya. di. kisah. di. balik. hutan. bambu.

Suhu,
one more step in my world domination plan.

Tuesday, November 10, 2009

Money Can’t Buy Everything

Oke. Pertama-tama. Buat yang mengikuti blog ini mulai dari season 1 (http://suhu.blogspot.com), tokoh-tokoh di cerita kali ini, mungkin sudah pernah kalian dengar. Karena. Mereka tak lain tak bukan adalah orang-orang yang sama dengan tokoh-tokoh post pertama blog Suhu di tahun 2004. Yes, it’s somewhere around 5 years ago, I know.

K4

Ya, orang-orang ini. Foto ini diambil pada akhir tahun 2003 dan ditampilkan di blog pada awal 2004

Tentu saja mereka sudah tidak lagi dipenjara seperti ini. Lebih dari lima tahun mereka tidak berkumpul bersama. Meskipun terpisah jarak, persahabatan mereka masih tetap kokoh dan solid seperti dulu. Memang kami tidak pernah saling menelepon dan berkirim surat. Tapi mereka senantiasa meng-update satu sama lain dengan menggunakan sandi asap api unggun seperti perkemahan Hiawata SMS untuk berita-berita penting.

Misal, seperti ini:

------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertengahan tahun 2004

Suhu > Tombro : Mbro, aku sekarang jomblo lagi.

Tombro > Suhu : Turut berduka cita. Aku sekarang masih tetap jomblo.

Suhu> Tombro : Turut berduka cita sedalam-dalamnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Awal tahun 2005

Aseph > Suhu : Malam ya say, luv u so much. Sweet dream.

Suhu > Aseph : ???

Aseph > Suhu : Pukimai beta salah sms … matisa besu sondadoi … sms singapur pula puki puki puki

------------------------------------------------------------------------------------------------

April 2006

Kenzy > Suhu : Tombro wis ono gandengan koyok’e

Suhu > Kenzy : Genah’e ? Waaa sopo sopo?

Kenzy > Suhu : April Mop!

------------------------------------------------------------------------------------------------

Ya. Berita-berita penting itu selalu mengingatkan kami satu sama lain. Bahwa kami pernah menjadi lebih dari sekedar teman. Kami punya saudara. Kakak beradik lain ibu beda ayah. Ibaratnya, di saat kamu hampir tepeleset ke kolam renang. Seorang teman akan mengingatkanmu “Awas licin!”. Seorang sahabat akan senantiasa siap untuk mengulurkan lengan membantumu naik tanpa takut ikut basah. Mereka, lebih dari itu. Mereka akan membiarkan aku terjatuh lalu membiarkan aku tenggelam menertawakan kecerobohanku. Lalu tiga dari mereka akan saling dorong, menceburkan satu sama lain, sambil tertawa. Hingga yang terakhir akan melompat sendiri dengan sukarela, dan kami berempat akan bermain air di kolam. What do you call that?

Maka tidaklah aneh jika saat Suhu memasuki kota Malang, mereka adalah orang pertama yang Suhu kontak. Masih berada di mobil bersama Rocky, refer ke cerita di post sebelumnya. Suhu meminta Rocky untuk meminjaminya telepon selular. HP. Henpon. Suhu segera menuju navigasi untuk mengirim pesan pada Tombro. Bukan karena Suhu paling dekat dengan Tombro di antara empat sekawan ini. Alasannya simpel. Kenzy sering tidak membawa HP [telepon genggam dijadikan telepon rumah]. Aseph terlalu sering ganti nomer telepon [terutama setelah menghamili anak orang jika ada promosi-promosi murah dari provider baru]. Tombro, sejak SMA kelas 1, tidak pernah ganti nomer HP. Sekarang, dia sudah bekerja sebagai wiraswastawan yang senantiasa perlu terhubung dengan permintaan pasar [bukan, bukan Germo], jadi koneksi HP nya selalu dalam jangkauan.

Eh ndeng, iki piye sms e? *setelah kebingungan mencari di mana icon SMS*

Hahaha dancok ‘oq HP e. HP cino. Aku pertama yo ra mudeng.

Iki gak enek function SMS?

Enek cok. HP opo ga enek SMS?

Piye aku meh SMS Tombro, meh bilang-bilang aku wes ndek Malang.

Yo. Ijo dua kali.

He? *dituruti juga, dan ternyata ijo dua kali di telepon ini bukan redial*

Atas X bawah B L Y R A Kakarotto … Kanan. Bawah. Cari New Message. Ijo lagi. Masukno nomer sing dituju.

Wes. Terus?

Ketik pesan. Kalau sudah tekan atas atas bawah bawah kiri kanan kiri kanan B A 30 extra lives Contra send.

Sudah. Udah terkirim. Thanks.

Tekan merah.

Merah? Merah ini buat nutup telepon kan?

Iya, kalau nggak tekan merah, telepon masuk nggak bisa bunyi.

Telepon genggam ajaib. Jadi buat kirim SMS, kamu mesti melakukan gestur mengangkat telepon. How intuitive is that?

Suhu sudah meng-SMS Tombro. Mengabarinya bahwa Suhu sekarang sudah di Malang. Sedang dalam perjalanan ke MOG. Dan Suhu akan segera meneleponnya setelah sampai di rumah. Begitu kira-kira. Suhu dan Rocky, melanjutkan perjalanannya ke Excelso MOG. Tiba di sana, menjumpai MC untuk reuni besok malam. Mendiskusikan susu nan empuk susunan acara. Intinya begitu. Setelah apa yang perlu dibicarakan selesai, kami beranjak dari MOG. Rencananya mau cari makan malam. Tidak tahu dengan kondisi topografi dan geografi MOG, Suhu menyerahkannya pada Rocky. Yang tentu saja tidak membantu, secara anak lancong Singapura ini bertanya pada anak rantau Amerika. Si buta menuntun si bingung.

Kami berdua memutuskan untuk memutarinya. Dan mencari tempat layak makan. Siapa tahu kami menjumpai tempat makan yang menarik dan kelihatan lumayan layak santap. Atau siapa tahu kami bertemu dengan orang yang kami kenal, untuk rekomendasi tempat makan di Mall baru ini. Malang kota kecil, besar kemungkinan kami akan ketemu dengan orang yang kami kenal. Seperti hari ini.

SUHU!

HEH? Ngapain kalian di sini?!!??!

Tombro kastau di beta lupisini, be langsung kasi talipun Kenzy kasi jemput beta lalu ketong kebut pi sini sa.

Ya, Tombro telepon Aseph, terus Aseph minta aku jemput, berangkat deh ke sini.

Thanks for the translation, Kenz. Bahasa Kupangku sudah karatan.

Jadi setelah Suhu meng-SMS Tombro. Tombro segera mengabari Kenzy yang memang sedang pergi menjemput Aseph di stasiun. Aseph juga datang dari Jakarta untuk reuni kali ini. Bukannya menaruh barang bawaan, mereka langsung detour ke MOG. Cari makan malam, katanya. Sesampai MOG, Kenzy yang menguasai jagad Malang, mengusulkan untuk makan di Hoka-hoka Bento atau A&W. Bukan karena ini tempat makan terenak, tapi karena Aseph dari tadi sudah gatal ingin menghisap Marlboro Light. Kami pun bergerak menuju A&W yang punya kursi outdoor.

Masih ingat tadi Suhu bilang Malang itu kota kecil?

Cukup kecil buat Tombro yang mantan pembalap untuk menaruh gagang telepon, dan menstarter kendaraannya dan melaju secepat kilat. Dan menjumpai kami di A&W. Reuni SMA memang masih esok malam. Tapi Suhu sudah bertemu dengan Aseph, Tombro, Kenzy. Kami berempat bergandengan tangan saling berpandangan. Diam sejenak. Sampai Suhu berdehem memecah keheningan.

Aku lapar.

Kami pun memilih tempat duduk. Karena Aseph merokok, Aseph duduk luar. Lalu kami duduk di dalam. Lalu kami memesan makanan sembari Aseph menghabiskan rokoknya. Mereka pergi ke Hoka-hoka Bento. Memang kursi ini diperuntukkan untuk pelanggan baik Hoka-hoka Bento maupun A&W. Suhu sedang malas makan makanan Jepang yang tidak seperti makanan jepang, memilih A&W.

P1050010

Hu, jang lu kasi bayar uang singgapur lai.

Haha, iya Seph. Beta masih belum gila.

Rocky sempat menawarkan untuk tukar mata uang Singapore dengan Rupiah. Benar-benar kawan yang baik. Dengan kurs satu banding satu. Keparat. Untungnya Suhu siap dengan uang rupiahnya. Dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah mestinya cukup untuk paket A yang berisi dua potong ayam, kentang goreng, dan softdrink. Suhu merogoh saku belakang celananya. Dompet ada. Suhu pun mengantri.

Tiba gilirannya, Suhu memesan. Wokay, paragraf-paragraf berikutnya akan terdengar sangat memalukan. Tapi, bukankah itu tujuan kalian ke sini? Untuk tertawa di atas penderitaan Suhu? Mari silakan lanjutkan membaca. Siapa tahu bisa jadi hiburan hari ini.

Permasalahan muncul bukan karena Suhu tidak sengaja pesan dalam bahasa Inggris.

Set A, please.

Eh, mas. Set nya cumak ada A, Bei, sama Sei. Ndak ada yang Set Ei.

Oh sorry. Sori, mbak. Maksudku Set Aahhhh. Minum e ndak pakek es ya mbak.

Mbak itu menyebutkan harganya. Sekitar belasan ribu rupiah, Suhu pun lupa pastinya. Tapi Suhu merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan lima puluh ribuan dari dompetnya. Mbak itu menyampaikan pesan ke belakang, tempat para koleganya menyiapkan dua potong ayam goreng dan kentang goreng. Dia sendiri mengambil gelas kertas, menekan keran yang mengucurkan rootbeer khas A&W. Meletakkannya di tray, lalu pergi. Rupanya stok kentang goreng menipis, Mbak itu menyiapkan satu batch kentang goreng. Suhu meletakkan lima puluh ribuan itu di meja. Haus.

Suhu mengambil gelas berisi Root Beer itu. Dan sedotan.

Slurrrpp. Arghhh. Membasahi dahaga. Sembari menunggu Mbak kentang, Suhu bersandar ke meja layan A&W. Lalu meja itu ambruk. Sesekali Suhu meminum Rootbeernya lagi. Dan lagi. Iya. Rootbeer yang belum dibayar. Keputusan yang kurang bijak. Suhu meletakkan gelas yang isinya tinggal separuh itu.

Mbak A&W datang tersenyum dengan dua tangan di balik punggungnya. Madu di tangan kanan mu racun di tangan kiri mu. Ayam di tangan kanan nya kentang di tangan kiri nya. Dia meletakkannya di nampan. Menyodorkan nampannya ke arah Suhu. Suhu menyodorkan uang lima puluh ribuan.

Lalu dia memberi kembalian, dan Suhu kembali ke meja outdoor bersama teman-temannya.

Itu yang seharusnya terjadi. Tapi, seperti yang kalian ketahui, dunia tidak sebegitu bersahabat dengan kita. Cerita ini tidak berakhir dengan indah di sini.

Mbak tadi mengambil uang lima puluh ribuan tersebut. Lalu pergi meninggalkan kasir nya. LHO? WOI MBAK! Mbak ini meninggalkan Suhu berarti ada dua kemungkinan:

1. Di kas dia tidak ada uang kembalian untuk uang lima puluh ribuan.

Hmm … kalau harga satu paket belasan ribu, semestinya uang lima puluh ribuan cukup normal untuk alat pembayaran. Kecuali kalau sejumlah customer di depan Suhu juga membayar dengan pecahan serupa, maka A&W akan mengalami masalah dalam studi kasus ini. Dan Indonesia perlu melakukan kebijakan uang ketat karena terlalu banyak rakyat jelata memegang lima puluh ribuan rupiah.

2. Suhu salah memberi uang lima puluh ribu dolar Singapur, dia langsung ke belakang, menampar managernya, lalu mengundurkan diri.

Mengingat uang lima puluh ribu dolar itu sekitar 400juta rupiah, kalimat di atas tidak melebih-lebihkan jika Mbak itu langsung mengundurkan diri dari A&W dan membuka warung sendiri. Masalahnya, Suhu sendiri tidak punya uang sebanyak itu. Maksud Suhu, tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Rekor terbesar, Tuition Fee Loan NTU, empat puluh dua ribu singapur dolar. Iya, minus. FML.

Lantas, kenapa Mbak itu meninggalkan Suhu sunyi sepi sendiri. Mana uang kembalian saya, Mbak??!!? Mbaaakkk jangan tinggalkan saya!! Ratapan anak Panda. Tapi untungnya makanannya sudah keluar. Sambil menunggu si Mbak datang, Suhu ngemil kentang. Yang belum dibayar. Yang sudah dibayar tapi belum dikasih kembalian. Sambil meneruskan nyeruput rootbeer yang belum dibayar. Yang sudah dibayar tapi belum dikasih kembalian.

Ini bukan rakus, dodol! Ini memang sudah jam makan.

Mbak itu kembali. Senyum sumringah arjunanya pulang tiga tahun berpisah nyari dana di kota. Dia memegang uang dengan kedua tangannya, membungkuk sambil menyodorkannya pada Suhu. Suhu siap menerima uang kembalian dari Mbak itu. Tapi, ada satu keanehan. Ini bukan uang kembalian.

Ini lima puluh ribu.

Mbak itu berkata “Selamat datang kembali ke kota Malang, Panda Tambun! Ini gratis dari A&W, kami semua pembaca blog anda!”

Itu yang seharusnya terjadi. Tapi, seperti yang kalian ketahui, dunia tidak sebegitu bersahabat dengan kita. Cerita ini tidak berakhir dengan indah di sini.

Benul. Seperti yang telah kalian duga. Mbak itu berkata.

rupiah

“Maaf Mas, uang ini sudah tidak berlaku.”

Suhu segera mengambil kembali uang lima puluh ribuannya. Meminta maaf kepada mbak kasir itu. “Oh! Maaf Mbak!” Kali ini Suhu mengecek dompetnya. Suhu mengeluarkan lembaran lima puluh ribuan. Dibolak-balik. Hmm… kayaknya bener ini dah. Suhu memberikan uangnya kepada Mbak A&W. “Ini Mbak, yang ini ndak pake Pak Harto!” Suhu tahu jelas uang lima puluh ribuan lama ada logonya Bapak Mantan Presiden Soeharto. Setelah memastikan ini bukan uang zaman limaribuan Teuku Umar dan limaratusan Orangutan, Suhu menyodorkannya.

“Lho mas, ini kan sama aja?”

“Ha?”

“Uang yang ini sudah tidak berlaku, Mas.”

“Dengkulmu a mbak ndak berlaku semua” “Oh lima puluh ribuan ini sudah ndak bisa dipakai?”

“Iya.”

“Ya sudah saya bayar pakai uang dua puluh ribuan saja Mbak.”

“Ini juga sudah kadaluarsa Mas.”

Mbak itu terheran-heran. Orang ini diawetkan berapa lama ya? Begitu mungkin kira-kira di pikirannya. Suhu mulai berkeringat. Ratusan ribu rupiah di dompetnya, kini tidak bernilai apa-apa. Benar kata mama, Money can’t buy everything. Dia berpikir keras. Bukannya uang lima puluh ribuan lama itu yang gambar Pak Harto? Satu edisi dengan duit-duit bergambar orang utan, lompat batu pulau Nias, dan telaga tiga warna? Jangan-jangan ada kamera tersembunyi.

Suhu nggak akan mengungkit-ngungkit masalah ke-absah-an uang ini dengan Mbak A&W itu. Karena ditafsir dari umurnya si Mbak, sepertinya Mbak ini bahkan tidak tahu kalau dulu uang lembar seratusan itu dulu gambarnya bukan kapal layar, melainkan burung dara. Kalau Suhu ngomong uang seratusan gambar Badak, ntar ketauan dong umur Suhu. Palingan Mbak ini taunya uang seratusan cuma ada koin. Itupun belum tentu dia tahu kalau ada uang cepek’an yang gambarnya candi.

“Mbak, saya mau menjelaskan. Ini uang gambarnya WR Supratman. Beliau pemaen biola yang mengarang lagu Indonesia Raya. Saya paham kalau duit gambar Pak Harto sudah tidak berlaku. Tapi, lihat baik-baik mbak, ini WR Supratman.”

“…”

“Kalau WR Supratman Mbak ndak mau terima, kenapa Ki Hajar Dewantara juga Mbak diskriminasi? Saya paham kalau Tuanku Imam Bonjol tidak cukup Mbak, tapi Ki Hajar Dewantara? Taman Siswa Mbak, demi tuhan 2 Mei Menteri pendidikan Indonesia di kabinet kementerian stabil pertama!”

Namun Mbak tetap tidak tergerak perasaannya. Meskipun Suhu telah menjelaskan perjuangan para pahlawan-pahlawan ini agar namanya bisa dicetak di uang rupiah. Mbak tidak berperasaan. Mbak A&W pula lah yang membuat Suhu sadar. Uang tidak bisa membeli segalanya. Apalagi kalau uangnya kadaluarsa.

Suhu,
money can’t buy everything.

Posting ini didedikasikan untuk Sisingamangaraja & Kapitan Patimura(1000), Teuku Umar & Tuanku Imam Bonjol (5000), Kartini & Cut Nyak Din (10000), Ki Hajar Dewantara (20000), WR Supratman (50000). SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 November 2009.

Thursday, November 05, 2009

Kalo Kangen Tinggal Pulang

Beberapa tahun silam, waktu Suhu masih SMA kelas 3.

Pada saat ini orang-orang kebanyakan mulai bingung masuk ke universitas mana. Begitu banyak pilihan sehingga orang-orang bingung mau milih yang mana. Buat Suhu, pilihannya tidak banyak. Tepatnya, pilihannya cuma dua. Beasiswa atau putus sekolah.

Beasiswa, berarti aku harus menjadi berprestasi, berorganisasi, dan aktif di kegiatan ekstrakurikuler. Yang nampaknya sudah terlambat untuk disesali, karena di kelas tiga SMA, hal-hal kayak gitu sudah terlambat untuk dimulai. Berarti hanya ada satu alternatif. Putus sekolah. Pergi ke luar negeri.

Lho?

Tahukah kamu bahwa studi di luar negeri itu bisa jadi jauh lebih murah daripada studi di dalam negeri? Dengan bukti nyata Papa yang lulus dari Jerman, Mama yang lulus dari Taiwan, dan Cece yang masih memperjuangkan kuliah di Taiwan. Nampaknya satu-satunya jalan keluar untuk menyambung pendidikan demi masa depan yang lebih baik, hanyalah ke luar negeri. Pertanyaan selanjutnya, ke mana?

Saat itu ada salah satu celetukan seorang teman.

"Ke Singapore aja, Hu. Deket. Kalo kangen tinggal pulang."



And that's, kid ,is the beginning of the story of how i met your mother, what this story is all about.

Beberapa tahun kemudian. Hari Jumat tanggal 31 Juli 2009.

Suhu terbang ke Juanda, Surabaya. Berbekal sebuah ransel. Ini pertama kali Suhu terbang tanpa koper. Biasanya kalau pulang indo selalu bawa koper kosong, berangkat dari Indo koper bisa penuh secara ajaib [berisikan beranekaragam hasil bumi, dari manakah datangnya?]. Ransel itu pun juga isinya cuma satu setel baju, plus jaket buat jaga-jaga kalau kedinginan.

Sampai di Juanda sekitar setengah tiga, Suhu mulai merasakan perasaan-perasaan hore-sampai-rumah. Padahal aslinya orang Malang [masih 90km dari Surabaya]. Ternyata di bandara Juanda pemeriksaan Influenza Babi Manusia lebih seru daripada di Singapore. Di Changi Airport, orang-orang hanya lewat, di monitor nampak simbol orang panas, yang mencurigakan ditangkap dan di-delete dikarantina. Di Juanda, setiap orang disuruh mengisi deklarasi saya-sehat-sehat-dan-seminggu-lalu-gak-ke-mana-mana. Lalu, semua orang, tanpa kecuali, sakit gak sakit, semuanya harus antri.

Masuk ke sebuah mesin yang seperti detektor logam. Iya dek, tangannya masuk lobang sana. Tangannya yang kiri juga. Iya, dek. Coba jangan goyang aja. Pandangan lurus ke depan.

BUUUSSSHHHH.

Gila! Apaan tuh tadi Pak?

Tiba-tiba sekujur tubuh serasa gelisah [geli-geli basah]. Rupanya kami disemprot semacam disinfektan. Semoga. Soalnya waktu keluar tangan yang disemprot baunya rada-rada pesing gitu. Terus mesin-semacam-detektor-logam ini letaknya di depan toilet wanita. Ya, semoga saja itu disinfektan. Karena kan kita tahu, amonia juga bisa membunuh kuman.

Keluar dari Gerbang Kedatangan Internasional, ternampak sebiji makhluk jadi-jadian, campuran antara manusia, Yeti, dan Big Foot. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan gaya sedingin [baca:cool] mungkin. Suhu menuju ke sana, ke tempat temannya menunggu. Temannya yang bernama Rocky.

Makhluk ini bernama Rocky

Suhu pun menjumpai Rocky, dan berjalan gontai dengan ranselnya. Saat itu Suhu adalah orang pertama yang keluar dari gerbang kedatangan internasional. Tanpa bawa koper, tidak ada yang perlu diperiksa. Dengan perut tambun mata sipit dan kulit kuning, kayaknya susah bagi Suhu untuk dikira TKW. makjleb, Din?

Setelah mendapat informasi lalu lintas bahwa ternyata Porong macet, kami memutuskan untuk membatalkan acara makan di Bu Kris dan mengganti lokasi makan siang di Warung Tempo Doeloe. Dari sana kami meluncur ke kota Malang melewati wisata Lumpur Sidoarjo.

Kalau kamu ke Tempo Doeloe, pesan Es Kelapa Muda dikasih gelas ini

Sekitar pukul setengah tujuh sore, di tengah-tengah jalan, Rocky mulai membuka pertanyaan yang membingungkan.

"Hu, iki enak'e langsungan ae yo?"
"Langsung piye rock?"
"Yo langsung ke MOG"
"eM Oh Ge?"
"Oh, gak ruh Mall baru yo? Ono Marlboro Mall baru nde sebelah stadion."
"Oh kowe meh mrono? Nang MOG?"
"Iyo, iki lak mau ketemu MC e buat besok toh Hu, aku janjian e jam tujuh."
"Oh mosok sempat?"
"Yo sempat lah. Iki wes masuk Malang koq."
"Wes masuk Malang!?!!"

Masuk Malang dari Hongkong? Sebagai mahasiswa yang asli malang, lahir malang, besar di malang,sekolah di malang, malang benar nasibmu nak, Suhu tidak terima. Bagaimana mungkin jalan yang kiri kanan kosong ini bisa dibilang sudah masuk Malang.

"Oh, pas koe terakhir mrene durung onok yo embong iki?"

Apa-apaan ini. Mall baru. Jalan baru.

Ternyata jalan yang sedang kami lalui ini tak lain tak bukan adalah proyek jembatan masuk kota yang melayang di atas Jalan Ahmad Yani. Tempat ini, terasa asing bagi Suhu. Suhu memang sempat mendengarnya, bahwa ada proyek pembangunan jalan dan jembatan baru untuk masuk kota. Sempat melihat waktu jalanan ditutup untuk membangun fondasi jembatan. Tapi, berada di dalam mobil bersama Rocky, tempat ini tidak terlihat seperti Malang.

Mau Mall lama, mau Mall baru, masuknya tetap diperiksa

Beberapa menit kemudian kami pun sampai di eM Oh Ge. Mal Olimpik Garden. Letaknya di sebelah stadion. Iya, stadion yang megah berdiri di sebelah kolam renang umum. Sekarang nampak mungil di sebelah Mall yang baru dibangun ini. Kami menuju ke Excelso, tempat seperti Starbucks gitu kira- kira. Ada sofa, ada wi-fi, tapi tidak ada nasi pecel. Sambil menunggu datangnya MC buat acara besok, kami memesan minuman terlebih dahulu.

Apa?

Oh iya.

Kami mengadakan reuni SMA. Jadi ceritanya, Rocky yang dulunya ketua OSIS, sekarang studi di Amerika. Jadi selaku kepala negara yang bertanggungjawab, waktu pulang dia mewujudkan sumpah palapa untuk mengumpulkan seluruh alumni-alumni angkatan kita bersatu di bawah kekuasaan Sriwijaya untuk reuni mengenang nostalgia masa-masa SMA.

OSIS

Berdasarkan referensi foto close up di atas, temukan Rocky di foto ini

Karena tidak mungkin membantah titah Rocky, maka semua hampir semua kebanyakan beberapa alumni angkatan kami pulang ke tanah air, untuk menghadiri acara reuni ini. Itu pula sebabnya kenapa Rocky menjemput Suhu dari Lapangan Udara Juanda Surabaya. Memang Suhu tidak dikaruniai transportasi pribadi, di Singapura pakai BMW [Bus MRT Walk], di Indonesia juga BMW [Bondho Manuk Wae Bondho Montor’e Wong]

Selama dalam perjalanan ke MOG, pikiran Suhu terus terngiang-ngiang. Sekarang, hari Jum’at malam dia telah sampai ke kota kelahirannya. Tangannya menggenggam tiket pesawat untuk kembali ke Singapore hari minggu pagi, itu besok lusa. Perjalanan yang singkat, hanya untuk reuni. Hanya untuk menghapus rasa kangen. Saat itu, ucapan itu terngiang-ngiang.

"Ke Singapore aja, Hu. Deket. Kalo kangen tinggal pulang."

Dan orang yang mengucapkan itu sekarang di balik kemudi. Menyetir mobil dari Juanda ke Malang untuk kesuksesan reuni. Karena pasti sedikit yang datang kalau Suhu tidak datang. Karena Suhu sudah membuat syarat, mau datang reuni kalau dijemput di airport. Rocky menjemputnya, meskipun dia tahu. Tidak dijemput pun pasti Suhu datang reuni. Karena Singapore. Deket.

Suhu,
kalo kangen tinggal pulang.

Friday, October 30, 2009

Apalah Arti Sebuah Nama, Dengan Apapun Ini Disebut, Tetep Aja Dodol

 

P1050163Jadi semua ini bermula waktu Suhu masih SMA. Tepatnya waktu Suhu masih SMU. Ya, karena pada zaman Suhu bersekolah dulu, namanya sudah diganti. Bukan lagi SMA [Sekolah Menengah Atas]. Mungkin karena pada waktu itu sudah banyak lulusan SMA, jadi namanya diganti oleh Departemen P&K [ya kamu jadi tau Suhu hidup di zaman Depdiknas belum disebut Depdikbud. Tapi kalau ketemu di jalan manggil ‘Oom’ ta’sambit sendal kamu.] Biar lulusan yang sekarang merasa gak kalah dari lulusan SMA, angkatan sekarang disebut SMU [Sekolah Menengah Uatas]. Bahkan kalau tidak salah, dalam beberapa tahun kita sempat memakai nama SLTP [Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama] dan SLTA [Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir]. Tapi beberapa lama kemudian dihapuskan dan diganti SMU tadi. Jelas saja, habis tingkat pertama langsung tingkat akhir. Who the hell made this, or even thought about it?

Nah, di dalam SMU [Sekolah Menengah Uatas] tadi, ada akronim dan singkatan dodol lain di dalamnya. Misalnya, Pramuka [Praja Muda Karana]. 90% tahu kepanjangannya, 10% mengira itu adalah kata baku. Praja Muda Karana [dari 90% yang tahu kepanjangannya, tidak ada yang tahu artinya] adalah kegiatan berorganisasi. Kegiatan organisasi lain yang acap dikenal oleh siswa adalah OSIS. Biasanya badge OSIS dijahit di saku dada kiri seragam sekolah, berlambangkan semacam tugu/piala/monumen/simbol Paramount Pictures yang bisa diartikan macam-macam. Tapi ada satu yang sama, ada tulisannya OSIS. Singkatan dari Ojo Senggol Iki Susu Organisasi Siswa Intra Sekolah.

Tentu saja ada banyak distro dan varian dari OSIS. Misalnya di sekolah Suhu, SMUK Belakambing [Sekolah Menengah Uatas Katolik Belakang Pasar mBlimbing] namanya adalah OWM singkatan dari Oeniversitas Widya Mandala Organisasi Wiyata Mandala. Benul. Dari namanya kedengaran seperti perusahaan jasa bus lokal saingan KD [KrisDayanti Kramat Djati]. Tapi percayalah, OWM pada hakekatnya adalah OSIS. Dan Suhu, dulu termasuk yang aktif di organisasi waktu studi di SMA.

Sampai waktunya Suhu menginjakkan kaki ke masa-masa jahiliyah. Kuliah. Melihat beban berat yang diberikan oleh sindikat kejahatan berkedok pendidikan, Suhu memutuskan. Sudah saatnya belajar. Tidak lagi ikut berurusan dengan berorganisasi. Tapi bukan berarti Suhu tidak mengikuti perkembangan di sekitarnya. Yang dia lihat, nama-nama di sekitarnya, kian hari kian brutal. Misalnya di universitasnya tempat dia dulu menempuh gelar Sarjana Teknik Sipil, NTU [Ninja Turtles University].

Perlu diingat bahwa, di sini, orang-orang sangat maniak singkatan. Contoh, di sini kalau kamu bilang “Kamu dari ICA Building habis ngurus PR langsung ke LT SADM NTU naek MRT terus oper SBS, kalau sudah sampai NIE bus stop kamu SMS ya, aku masih di TR nih.” kalimat ini sangat terdengar normal. Entah kenapa, mahasiswa indonesia di sini, juga ikut-ikutan suka bikin singkatan. Dan singkatannya, maaf, bikin ilfil.

Bukan ini bukan masalah ospek ceria atawa GTD [Get Together Day yang sering kita pelesetkan jadi Get To-get-her Day]. Ini lebih ke arah kenapa organisasi kita yang namanya PINTU [Pelajar Indonesia NTU]? Apa karena memang kita memang mau menyaingi Jelita [Jendela Informasi Wanita] atau menyaingi Microsoft Windows [Kecil-lembut Jendela]. Suhu tidak mau pergi lebih jauh ke tabloid singkat yang dipublikasi mereka, BUNTU [Buletin PINTU]. Fenomena ini juga ditemukan di ECA [Extra-curricular Activities] yang Suhu ikuti. Guitar Ensemble NTU. Mulai terdengar saru.

Nggak cuma di Ninja Turtles University, tetangga juga punya. Anak-anak Indonesia nya ngumpulnya di PINUS [bandingkan dengan PINTU]. Yang Suhu tidak tahu apakah universitas yang sama mempunyai organisasi khusus untuk para lulusannya. Alumni NUS, gitu? Suhu juga tidak terlalu peduli, karena dia memang sudah malas ikut organisasi-organisasi beginian. Bahkan saat dapat ajakan untuk ikut semacam Sunat Senat Mahasiswa yaitu Ninja Turtles University Students’ Union [NTUSU] yang singkatannya nggak aneh-aneh amat, Suhu juga tetap tidak ikutan.

Ya, buat kalian yang belum tahu, aplikasi yang waktu itu lolos. Sekarang, Suhu kembali masuk ke pertarungan memerangi sindikat kejahatan berkedok institusi pendidikan. Untungnya, setelah empat tahun terbiasa dengan kultur pendidikan Singapura, tuntutan sekolah Ndak Usah Sekarang tidak terlalu berbeda jauh dengan waktu dulu di Nanti Tunggu Urgent. Belum satu semester berlalu di Ninjitsu University of Shogun, hari ini keluar berita tentang akan dibukanya university baru. Samurai University.

Entah apakah Suhu akan melanjutkan studi nya ke sana nantinya, itu masih belum ada di dalam rencana menaklukkan semua Dojo di the littlereddot. Tapi yang pasti, kalau Suhu masuk ke Samurai University, Suhu akan kembali aktif di kegiatan mahasiswa, menjadi pengurus utama di Students’ Union. Dan mencetak badge organisasi secara massal untuk ditempelkan di saku dada kiri. Dan kanan.

Suhu,
bukan SUSU.

Wednesday, October 14, 2009

Tidak Mudah

Kamu pasti tahu, tidak mudah bagi seorang manusia untuk hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Okeh, katakanlah saja, kamu punya seorang sahabat karib. Sangat karib. Makan sama-sama tiap istirahat kelas, pulang sama-sama, bahkan outing juga sama-sama. Klop deh pokoknya.

Tapi.

Pasti ada paling tidak satu kali kamu berselisih pendapat dengannya. Entah karena dia suka pakai kaos kaki beda warna atau kalau kentut lepas kontrol. Seringkali, perbedaan antara dua orang manusia, membuat mereka tidak nyaman hidup di sekitar satu sama lain. Karena betapa pun guru PPKn mu menegaskan bahwa kita adalah makhluk sosial manusia pancasila, kita tetap seorang individual yang sedikit banyak punya rasa egois.

Tradisi, adat, budaya, yang ditanamkan sejak kecil. Membuat secara tidak langsung kita menghakimi mana yang benar mana yang salah. Padahal, yang kamu lakukan sejak kecil, yang kamu tahu karena setiap orang melakukannya, yang kamu tahu karena kamu diajari orang tuamu, itu semua belum tentu benar. Bagaimana jika mereka salah?

Bagaimana jika itu benar, di lingkunganmu. Tapi tidak di lingkungannya?

Benul. Memang tidak mudah. Karena garis-garis norma itu tidak pernah tegas lurus dan tegas lepas. Ilmu sosial selalu saja penuh liukan perkecualian dan garis putus-putus yang tidak jelas artinya. Apalagi yang menyangkut emosi manusia. Makhluk sok sial.

Suhu mulai belajar untuk hidup dengan orang lain sejak SMA. Masuk organisasi, berselisih pendapat dengan pengurus OSIS lain. Mengadu pendapat dengan pembina Koperasi sekolah. Dan berkompromi dengan keputusan teman-teman sekelas di Sidang Permusyawaratan Kelas.

Tahap demi tahap, Suhu belajar makin banyak. Hal-hal sepele. Misalnya. Orang tidak suka menunggu, jangan datang terlambat. Tidak semua orang, suka dikritik. Semua orang kalau ditonjok pas lagi ngupil, marah. Itu kira-kira hal yang penting yang Suhu pelajari di bangku SMA tentang interaksi antar manusia.

Sampai di bangku kuliah, Suhu hidup di asrama. Di antara teman-teman seasrama, ada beberapa fenomena interaksi antar manusia yang Suhu baru ketahui. Misalnya, ada orang yang tidak bisa tidur kalau lampunya mati. WOW! Did you see the light when you close your eyes? Ada juga yang bawa guling dari tanah air tercinta nusa bangsa indonesia karena tidak bisa tidur tanpa guling yang sudah dipakai sejak kecil. Tidak mudah bagi Suhu untuk menerima hal-hal baru seperti ini.

Dan tentu saja masih banyak hal-hal yang tidak mudah dicerna akal sehat. Misalnya, tiga tahun hidup sekamar dengan Bejo, Suhu hanya pernah melihat Bejo tidur KURANG DARI tujuh malam. Mitos mengatakan bahwa kejadian sesungguhnya adalah demikian. Suhu main game, Bejo belajar. Suhu tidur, Bejo belajar. Suhu tidur, Bejo tidur. Suhu tidur, Bejo bangun. Suhu tidur, Bejo doa pagi. Suhu tidur, Bejo sarapan. Suhu tidur, Bejo pergi lecture. Suhu tidur, Bejo belajar. Suhu bangun, Bejo belajar dengan posisi sama saat Suhu mulai tidur.

Yang Suhu lihat: Bejo belajar. Cerita apa pun yang berada di tengah-tengah awal Suhu mulai tidur sampai terbangun, hanya misteri. Bejo berkata bahwa dia tidur seperti manusia biasa. Tidak mudah untuk mempercayainya. Tidak mudah bagi kita untuk hidup berinteraksi dengan manusia yang tidak perlu tidur kebiasaannya tidak sama dengan kita.

Tapi perlahan Suhu dibentuk untuk mengetahui. Bahwa tidak mungkin bagi kita untuk hidup tanpa sesama. Begitu banyak petunjuk bahwa Suhu harus hidup dengan manusia lain. Misalnya. Diberi seorang kawan bernama Apong yang suka menyiksa kucing, yang berteman dengan Bhro yang takut kucing. Such a happy couple. Diberi kawan seperti Andre yang pura-pura bisa bahasa Kanton dan teman seperti Welli yang pura-pura mengerti apa yang diucapkan Andre.

Dari situ Suhu mulai sadar. Tidak mudah hidup dengan orang lain. Tapi, masih mungkin.

But since I know you.



Aku jadi tahu, lebih tidak mudah hidup tanpa orang lain.

Suhu,
happy 4th Anniversary, tgwinmg.

Thursday, September 24, 2009

Koh Samui: Mortal Paradise (Trip to Thailand – Part 11 – Tamat)

Koh Samui. Akhirnya kami sampai juga di Koh Samui. Di atas kapal, kami ditawari oleh beberapa orang setempat, jasa transportasi menuju hotel kami. Setelah tawar menawar, kami mendapat harga 300 Baht untuk berdua. Diantar sampai depan hotel. Sebelumnya kami sudah mengecek di internet, kami bisa naik kendaraan umum, seharga 60 Baht per orang, tapi masih harus berjalan kaki cukup jauh. Dan masalah utamanya, kami tidak tahu turunnya di mana. Ya, kendaraan umum di sini semacam di Malang, di mana kamu hendak turun, kamu berkata “kiri pakkkk”

P1030622

Koh Samui dari atas kapal nampak menjanjikan. Sebuah pulau yang jauh dari peradaban. Air lautnya jernih. Langit pun setuju. Awan berkejaran. Angin laut menghembus menerpa wajah para turis yang mendengarkan debur ombak byur byur byur toloooong kami turun dari kapal. Melihat sekeliling.

Saat kami menjejakkan kaki di Koh Samui, badan kami terasa masih limbung dan sedikit bergerak-gerak. Normal. Mungkin ini efek orang yang baru perjalanan panjang sekitar 19 jam. Dan kami berangkat dari kemaren sore pukul enam. Berarti sekarang, waktunya makan. Ada berbagai macam makanan di Koh Samui. Orang awam pasti bingung memilihnya. Tapi tidak demikian dengan Suhu yang sudah berpengalaman dengan ilmu Tata Boga spesialis Uji Coba.

 

Jika kamu dihadapkan pada permasalahan serupa, jangan panik. Kamu lapar, dan ada banyak makanan, tapi kamu tidak tahu apa yang harus kamu pilih. Solusinya hanya satu. Coba semua.

Lalu dari yang semua yang kamu coba, pilih yang kamu suka. Lalu pesan porsi kedua. Mudah?

Tidak semudah kelihatannya, bung. Perlu hati suci dan perut karet.

Siang itu kami habiskan dengan menyusuri sepanjang Pantai Chaweng. Mulai dari tempat makan, sampai mencari tempat-tempat potensial buat main-main di pantai seharian di keesokan hari. Benar, ini adalah mental kiasu Singapura yang kami bentuk selama menimba ilmu di sana. Dengan semangat tidak mau kalah, kami akan memantau tempat-tempat strategis, dan besok bangun pagi-pagi untuk duduk di sana.

Contoh tempat strategis misalnya:

P1030658

Tempat yang ada pohonnya buat berteduh.

Tempat ini adalah tempat favorit buat orang-orang yang takut item. Pantai Chaweng yang disirami sinar matahari secara brutal, diselamatkan dengan pohon-pohon rindang yang bisa menjadi tempat persembunyian para turis dari ganasnya sang surya. Di atas pasir pantai yang lembut, menghamparkan handuk hotel untuk dijadikan tikar. Ingat, harus handuk hotel. Alasannya sederhana. Kalau handuk sendiri susah bersihin pasirnya.

Berbekal novel setebal empat ratus halaman, sekantong keripik kentang, sebotol minuman dingin, Ditemani dengan tiupan angin pantai yang semilir, bau air laut yang tidak sekeras amis dermaga, membius dengan aromanya yang erotis eksotis. Pengalaman bersantai di pantai tidak akan terlupakan.

 

P1030655 Tempat yang tidak ada apa-apa buat berteduh

Tempat ini adalah tempat favorit buat orang-orang yang mau ke pantai untuk berjemur. Biasanya orang-orang ini nggak takut item. Entah karena memang tujuan utamanya untuk membuat kulit mereka hitam [bule-bule], ATAU, memang di tempat kerjanya terjemur matahari sudah biasa [mandor].  Beberapa orang memilih untuk duduk di kursi pantai yang disediakan hotel-hotel sepanjang pantai.

Tapi terkadang, tempat terbaik untuk memperoleh sinar matahari bukanlah di sana. Tapi. Di tengah laut. Jangan yang terlalu dalam. Daerah dangkal saja. Tempat di mana kamu berdiri permukaan air cuma sampai sekitar pusar. Deburan ombak kecil menghambat gerakanmu, tapi tidak sampai menyapumu ke tengah samudera. Sinar matahari yang terik akan membuat air laut di permukaan terasa hangat. Semakin dalam ke arah telapak kakimu temperatur air semakin dingin karena panas matahari sudah terserap sebelum sampai ke dasar. Hangat di atas, perlahan makin lama dingin di bawah. Seperti sensasi pipis di kolam renang.

P5071648

Ini bedanya orang yang berada di tempat strategis tipe satu dan tipe dua.

 

P5071689Pemandangan di Koh Samui, sangat susah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Di satu sisi kamu melihat gunung, menoleh sedikit kamu melihat laut kadang kala kamu melihat bule bugil. Selepas mata memandang hanya biru, garis cakrawala ibarat menyatu antara langit dan lautan. Deburan ombak yang terpecah saat menyapu pasir-pasir basah di tepi pantai.

Saat-saat seperti itu di mana kamu terdiam sejenak.

 

Merasa kecil.

Kembali diingatkan, while you’re in paradise, you are still a mortal.

Merasa beruntung.

Mendapat kesempatan berbagi pemandangan ini.

P1030702

Dengan orang yang berarti.

Aku berdiri di sini. Mengintip dari balik layar kaca kamera.

Menatap indahnya langit. Menatap indahnya awan. Menatap indahnya matahari. Menatap indahnya cakrawala. Menatap indahnya laut. Menatap indahnya pantai. Menatap indahnya pasir.

koh samui HDRI

Suhu,
menatap indahnya cinta.

Sunday, September 06, 2009

Short Road, Long Journey (Trip to Thailand – Part 10)

Kami kembali ke Bangkok. Dari sana kami memutuskan perjalanan selanjutnya. Kami akan menyusuri daerah Setan Selatan Thailand. Sebuah pulau yang terpisah dari daratan utama Thailand. Destination: Koh Samui.

Ada dua pilihan, jalur udara: dengan pesawat terbang dari bandara Svarnabhumi Bangkok ke bandara Samui di pulau Koh Samui. Pilihan kedua, yang lebih menantang, galak, dan selera pemberani. Dengan bus dari Bangkok, turun di Suratthani, naik Ferry ke Nathon, naik mobil ke Chaweng. This is true, I don't make this shit up.

Tentu saja ada pilihan lebih galak lainnya, terbang ke Kuala Lumpur, lalu naik kereta dan ke Suratthani lewat Hatyai. Tapi itu bukan selera pemberani, itu gila.

Langkah pertama. Kami perlu mencari tiket bus ke sana. Di manakah tempat mencari bus malam? Sebelumnya kami sudah berpengalaman membeli tiket bus langsung ke Pattaya di Ekkamai Tai. Sekarang, benar-benar berbeda. Ini bukan perjalanan Bangkok-Pattaya yang seperti Jakarta-Bandung. Ini adalah perjalanan panjang seperti Anyer-Panarukan.

Untuk perjalanan ke Koh Samui, kami perlu mencari Travel Agent. Benar. Suhu pun perlu Travel Agent. Suhu bukan Andreas Li yang bisa keliling Eropa dengan sebuah ransel. Suhu juga bukan Alphonso Hartanto yang merencanakan semua rute perjalanan dengan matang jauh sebelum berangkat. Suhu adalah Suhu, yang pergi ke mana-mana mau gampang dan murah tapi ndak mau ikut tour.

Sampai di mana kita tadi?

Oh iya. Travel Agent.

P1030552Di mana letak Travel Agent di Bangkok? Meskipun semua backpacker yang pernah ke Bangkok pasti sudah tahu, belum tentu semua pembaca blog tahu. Tempat ini adalah Khao San Road. Di sepotong jalan ini, mungkin satu-satunya tempat di Thailand, di mana populasi turis mencapai sepuluh kali populasi orang lokal. Selepas mata memandang, bule bertebaran di mana-mana. Kalau saja tidak ada bendera-bendera Thailand digantung di jalanan, mungkin kami sudah mengira ini Liverpool.

P1030550

P1030606Di tempat ini para pengusaha lokal mengadu nasib. Menjajakan barang dari yang tidak masuk akal sampai yang tidak pernah terpikir untuk diciptakan umat manusia. Mereka menjual berbagai macam barang dagangan. Yang paling utama adalah T-shirt dengan kata-kata lucu / provokatif. Misalnya tulisan pada kaos yang digantung di kanan bawah pada foto di samping ini. Klik untuk gambar lebih besar.

P1030553

THEY SELL PORNS HERE!

Demikian kami adalah dua turis kesasar di daratan Bangkok. Khao San Road. Seutas jalan yang pendek. Bahkan tempat ini di-cover di Lonely Planet , sebuah Traveller’s Guide. Dengan bar untuk minum minuman keras di gedung yang berhadap-hadapan. Gang-gang kecil berisi travel agent yang klien utama nya adalah para bule luar negeri yang ingin menikmati petualangan keliling Asia. Kami pun masuk ke salah satu kantor kecil Travel Agent.

Di sana lah kami baru menyadari betapa penting nya uang. Ada dua alasan kenapa Suhu berkata seperti itu. Pertama, untuk pergi ke Koh Samui perlu uang. Kedua, uang kami habis.

“Yang, uangku habis.”

“Uangku juga.”

Kami berpandang-pandangan.

“Kita akan mati di sini yang”

“Kalau aku mati duluan … “

“Ssshhh …”

Kami sudah putus asa. Tapi. Tiba-tiba burung burung putih beterbangan di background. VISA! Semua travel agent menerima credit card. Dan bukan kebetulan, Suhu memiliki sebuah Credit Card. Cara pakainya mudah, sederhana. Sebenarnya ini adalah tipe modern daripada Jin Lampu Aladdin. Digesek-gesek, VISA akan mengabulkan keinginanmu.

Singkat kata, Suhu dan tgwinmg memegang dua tiket bis privat menuju ke Koh Samui dengan jalan halal.

Tapi!

Kami masih perlu uang tunai!

Nggak mungkin beli bakmi goreng di pinggir jalan Koh Samui pakai MasterCard kan? Bahkan bagaimana Richard Gere bisa gesek MasterCard di pasar burung India itu masih misteri bagi umat manusia.

Sudah biasa bagi Suhu, untuk menjadi super-observant selama perjalanan di negara asing. Karena dia tahu bahwa memperhatikan keadaan sekitar adalah sesuatu yang sangat berguna terutama di daerah yang tidak kamu kuasai. Bakat alam seperti fotografik memori dan analitical mind bisa menjadi sahabat baik mu.

Itu pula sebabnya Suhu tahu, dan meyakinkan tgwinmg. Bahwa, dan hanya bahwa, tidak ada ATM bank yang kita kenal dalam radius dua kilometer. Dan Suhu meyakinkan kekasihnya bahwa percuma kita menyusuri Khao San Road sekali lagi karena Suhu yakin bahwa tiga ATM yang ada di jalan yang barusan kita lewati itu bukan kombinasi dari ATM Bank-bank yang kita punya. Yaitu POSB, DBS, UOB, OCBC, BCA, Bank Mega, dan Koperasi Karyawan Kolese Santo Yusuf.

Jadi, sekali lagi, tidak ada gunanya kita kembali ke jalan yang tadi. Karena tidak ada ATM Bank-bank tersebut di sana. KECUALI TIBA-TIBA ADA ATM NONGOL DI TENGAH JALAN!


P1030549Ibarat fatamorgana kami menemukan ATM berjalan, I swear to God it was not there yesterday


Kami segera menguras isi ATM tersebut. Kalau kamu punya keahlian mencuri kendaraan bermotor. Di Thailand ada kombinasi curanmor, bajak laut, dan merampok bank. MEMBAJAK MOBIL ATM. Saat Suhu melihat mobil ATM ini, Suhu kembali tersadar bahwa dirinya sangat kecil dibandingkan alam semesta ciptaan Tuhan. Giliran liat duit langsung jadi relijius impulsif.

P1030551

Perjalanan kami mulai dari sini. Khao San Road. Dari gang kecil di Khao San Road, saat itu kira kira pukul enam sore waktu setempat. Benar. Itu adalah jam makan. Suhu dan tgwinmg, bersama dengan segenap bule dari negara Mr Bean. Terdengar dari logat mereka yang sangat keras dan baru menelan permen karet secara tidak sengaja. Usianya sekitar early 20 sampai late 30. Kemudian ada grup lain dengan nada bicara serupa. Kami dibawa berjalan kaki sekitar lima belas menit. Cukup jauh mengingat pemimpin rombongan ini adalah seorang Thailand lokal yang bulet bulet lincah. Rupanya kami masih menjemput rombongan lain di gang yang lain. Rupanya travel-travel agent itu saling mengabari dan kontak satu sama lain agar bus yang pergi selalu penuh. Cerdas. Belajar dari cina ya? Kami diminta menunjukkan slip tiket dari travel agent, dan koper kami dimasukkan ke bagasi bus privat itu.

P1030613

Kami naik bus itu. Lumayan. Bus nya ber-AC. Tempat duduknya bisa direcline untuk posisi tidur. Lumayan luas. Satu bus berisi kurang lebih 30 an orang. Ada toilet dalam bus. Ideal buat yang hobi eek sambil lihat pemandangan.

Yang jadi masalah, sopir bis ini rupanya baru minum Kratingdaeng dioplos sama bodrex dan kemenyan. Dengan refleks superhero dia berhasil melakukan manuver-manuver berbahaya. Dan. Rem mendadak di saat diperlukan. Untuk Suhu yang sudah biasa menerima getaran-getaran tidak terduga saat konstruksi fondasi, goyangan ini mah bikin ngantuk. Tapi untuk tgwinmg, bikin muntah. Memang kami adalah pasangan yang kompak. Di saat tgwinmg menahan rasa pusing mual mabuk darat, Suhu sudah ngiler-ngiler mimpi makan Tomyam di Koh Samui.

Bus itu berhenti di Chumphon untuk makan malam pukul setengah dua belas malam waktu setempat. Ya, benul. Orang Thailand punya waktu yang aneh untuk makan malam. By the time saat itu, bule-bule kelaparan itu sudah belingsatan tidak karuan.

Tempat ini adalah persimpangan jalan untuk orang yang ingin ke Koh Tao dan ke Koh Samui. bule-bule yang ingin snorkling di Koh Tao, semuanya diturunkan di sini. Dengan backpack yang ukurannya dua kali tgwinmg, mereka melambaikan tangan pada kami yang meneruskan perjalanan kami ke Koh Samui.

Akhirnya pukul delapan pagi kami sampai di Suratthani. Di Suratthani terjadi hal-hal yang lebih mustahil. Ya, tentu. Delapan pagi. Kami berangkat jam enam sore. Itu terasa seperti empat belas jam yang lalu. Yeah, repeat after me. F*in' fourteen hours ago. Dan antara Bangkok dan Suratthani, tidak ada perbedaan zona waktu. Tentu saja empat belas jam kurang kalau dihitung pemberhentian di Chumphon. Tapi berhenti di Chumphon itu tengah malam. Bahkan beberapa dari kami percaya perhentian di Chumphon itu hanya mimpi.

Kami diturunkan dari bus dalam keadaan ngantuk. Katanya ini Suratthani. Pelabuhan yang terletak di daratan utama Thailand. Tempat di mana ferry kami akan berangkat ke Koh Samui. Tetapi selepas mata memandang, tidak ada laut.

Dua orang asia [Suhu dan tgwinmg] diturunkan bersama bule-bule bau keju. Lalu ada seorang bapak-bapak bercelana pendek dan berkaos T-shirt putih dengan tampang Benyamin Sueb baru bangun. Dia meminta kami untuk menunjukkan tiket yang tadi kami peroleh dari Travel Agent. Kami menunjukkan. Lalu kami diberi stiker bertuliskan SAMUI.

Bule-bule itu juga diberi stiker. Sampai ada seorang bule. Yang kehilangan tiketnya. Orang itu tidak mau memberikan stiker. Terjadi perselisihan. Dari ukuran, jelas Benyamin Sueb kalah telak. Tapi mengingat bahwa di perkampungan sini semuanya pasti teman Benyamin Sueb, bijak bagi Arnold Swasanazeger untuk mengalah. Akhirnya, bule itu mengalah. Dan membayar 350 Baht! Benar-benar pemerasan! Buat yang mau ke Thailand, WASPADALAH!

Lalu satu persatu dari kami dipanggil oleh si Benjamin Sueb masuk ke sebuah bilik yang mencurigakan. Di dalam bilik itu ada seorang pria berkacamata kurus sayu [primata kuyu], yang mengaku sebagai pihak semacam imigrasi Suratthani. Suhu sudah lumayan ragu saat orang itu meminta untuk lihat paspor. Lagian mana ada kantor imigrasi di sebelah kandang ayam dekat sumur?

Tapi, setelah empat belas jam di atas bus yang ngebut terus ngerem ndadak tiap dua menit sekali. Kamu akan melakukan hal yang sama. Berikan paspormu. Primata kuyu mulai mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa mandarin, korea dan jepang. Sampai Suhu menyodorkan Garuda emas di sampul hijau.

You must buy ferry return ticket from here.

No need. I'll buy from Nathon.

No no no you can not buy from Nathon. Only can buy here.

Yes, I can.

Primata kuyu terus mengeluarkan fakta-fakta yang condong ingin memaksa turis yang tidak berpengalaman untuk membeli jasa transportasi darinya. Tapi Suhu, meskipun ngantuk, tidak termakan tipuannya.

I will not be coming back to Suratthani.

How will you go back to Indonesia?

Thats none of your fucking business.

I will fly from Samui to Singapore.

But it's very expensive.

Yap, NO PROBLEM.

You also can take flight from Suratthani Airport.

Primata kuyu terus melancarkan tipu muslihatnya. Suhu yang sudah sering nipu orang, tahu jelas bahwa orang nipu itu selalu takut ketahuan. Suhu sudah siap mempercepat proses ini dengan mencengkeram kerahnya. Tapi tgwinmg memegang lengan Suhu penuh arti "Jangan, biar aku aja." "Sudah, sabar. Ndak usah diladeni."

Akhirnya primata kuyu memberikan tiket one-way ke Koh Samui dari Suratthani. Tapi kami tidak langsung berangkat. Kami masih harus menunggu primata kuyu itu nipu bule-bule yang gampang dipengaruhi. Suhu terus memperhatikan bilik itu. Rupanya mereka sengaja dipanggil satu-persatu agar lebih mudah ditipu. Busuk. Ternyata memang negara dunia ketiga seperti ini, cari uang memang susah. Seperti Indonesia, seperti Malaysia, cari uang memang tidak mudah. Ini sudah mensunnahkan segala cara.

Saat-saat seperti ini, Suhu merasa bersyukur menjadi warga negara Indonesia. Bukan hanya garuda emas di sampul hijau yang bisa membuat orang negara lain takut. YEAH, WE BOMB EACH OTHER WHEN WE FEEL UNHAPPY. Tapi juga karena terbiasa di kehidupan yang keras. Apalagi menjadi minoritas di negara yang semuanya serba mungkin. Kami sudah terbiasa untuk expect the unexpected.

Sekitar pukul sembilan, sebuah bus reyot. Tanpa jendela, sudah lepas semua. Tanpa pintu, sepertinya sengaja dilepas. Kaca spion tinggal satu. Menjemput kami. Enam belas orang diberangkatkan ke pelabuhan Suratthani. Lumayan dekat. Kurang lebih setengah jam kami sudah sampai. Di situ lah kami melihat. Kesalahan kami.


P1030616

Stiker kuning itu harganya 350 Baht!

P1030617P1030615

Wajah gembira penuh keceriaan seolah-olah sudah sampai di tujuan. Padahal masih perlu empat jam naik Ferry

P1030618 P1030619

Setelah memastikan bahwa tidak ada barang bawaan yang tercecer dan pacar tidak tertinggal, kami melanjutkan petualangan menuju ke Koh Samui. Naik ferry selama empat jam. Jangan bayangkan ferry yang besar dan leluasa seperti Ketapang-Gilimanuk.



Jam pertama, berada di dalam kabin. Tidak kelihatan apa-apa. Mulai ada beberapa orang muntah-muntah. Kebanyakan yang muntah adalah perempuan. Atau tipe-tipe pria yang kelihatannya lemah.

Jam kedua, bosan di dalam kabin. Naik ke atas. Angin sepoi-sepoi. Selepas mata memandang hanya ada susu bule dijemur laut. Laut. Laut. Andaikan manusia belum menciptakan kompas, mungkin tiga hari lagi kita sampai Sulawesi. Halo pong!

Jam ketiga, mulai pusing. Gelap. Kayaknya sempat ngiler-ngiler agak banyak. Dan rasanya agak aneh. Dan kayaknya kena bule sebelah. Soalnya dia bilang "Stop puking on me!". Gelap.

Jam keempat. Lho? Sampai?

P1030621

Empat jam, tiga kresek cairan lambung, dua insan, satu tujuan. Koh Samui.

Suhu,
hoeekkkk...

---------------------------

Apakah perjalanan empat belas jam bus malam, setengah jam bus reyot, empat jam ferry antar pulau. Pantas? Layak? Posting berikutnya akan dipenuhi dengan foto-foto yang kami ambil di Koh Samui. Nantikan di kisah di balik hutan bambu. Koh Samui, Lagi-lagi Dikompas Banci. Koh Samui: Mortal Paradise.

Tuesday, August 18, 2009

Pattaya, Nggak Cuma Banci (Trip to Thailand - Part 9)

Hari-hari di sana bukanlah hari yang penuh tekanan seperti layaknya di Singapore. Semua orang bergerak dengan lebih lambat daripada orang-orang Singapore pada umumnya. Hidup mereka lebih … santai. Meksipun sama-sama panas, seperti layaknya di Singapore, tapi tetap saja hawa di daerah ini berbeda. Mungkin inilah kehidupan pantai.

Kami berdua pergi menyusuri pantai, menikmati hembus summer breeze yang sepoi-sepoi asoy geboy. Semua orang nampak menikmati hidup. Sepanjang pantai hanya ada turis-turis bersantai di kursi-kursi yang disewakan. Benar-benar daerah pariwisata, semuanya pakai uang. Satu kursi bertarif 30 Baht untuk sepanjang hari.

Mau kamu disuruh bayar 30 Baht seharian buat duduk di kursi kayak gini?

Berbekalkan buku bacaan yang kami bawa dari hotel, kami bermalas-malasan di kursi itu. Matahari datang dari arah depan kami. Tentu saja kalau kamu cermat melihat foto di atas, kamu sudah tahu hal ini. Chapter demi chapter buku bacaan kami lewatkan. tgwinmg meletakkan bukunya di meja. Mengambil sebotol air mineral gratisan yang kami dapat dari kamar hotel. Suhu melakukan tindakan serupa.

Dia sangat cantik. Gumam Suhu dalam hati.

Pacarku bulet. Gumam tgwinmg dalam hati.

Dan mereka saling jatuh cinta.

Tiba-tiba Suhu menemukan sebuah ide yang cemerlang.

“Eh yang, kamu masih inget gak? Kamu kan sering tanya, kerjaanku itu ngapain aja. Dari Senin sampe Sabtu, kadang lembur. Ngapain di kantor?”

“Iya, kenapa?”

“I’ll show you.”

Suhu berjalan menjauh dari kursi itu. Mengambil gelas air mineral yang hanyut disiram ombak. Menggenggam pasir. Membiarkan pasir yang ukurannya kecil melewati sela-sela jarinya. tgwinmg membiarkannya, bingung apa yang dilakukan oleh Suhu. Suhu meraup air laut dengan genggaman tangannya.

Pasir, Air, Mould. tgwinmg mulai menyadari apa yang dilakukan kekasihnya. He was doing the only thing he’s doing in his life. Building things. Jauh dalam hatinya tgwinmg tahu Kalau di sini ada semen, bisa-bisa sampai besok kita gak balik ke hotel  bahwa Suhu sangat enjoy melakukan hal yang di depan matanya.

Gelas sebagai mould, pasir sebagai aggregates, air laut sebagai binder, sandal jepit sebagai extractor

tgwinmg mendapat kursus kilat bagaimana membuat bangunan simetris semi-cor

 

hueco Kebanyakan orang ke pantai untuk membuat istana pasir. Tapi tidak sama halnya dengan kami. Kami bukan orang kebanyakan. Suhu adalah seorang sarjana teknik sipil dengan pengalaman kerja yang lebih dari orang kebanyakan. Maka. Kami. Memutuskan untuk membuat sesuatu yang lebih menantang.

 

 

 

 


P5041581 P5041582

Ya. Kami membuat replika Hueco Mundo. (虚圏, ウェコムンド, Weko Mundo; Spanish for "Hollow World", Japanese for "Hollow Sphere").

 

Tak terasa, hari perlahan mulai berlalu. Sang surya pun mulai kembali ke peraduan. Matahari pun bisa lelah. Waktunya ganti shift dengan rembulan. Menandakan waktunya umat manusia untuk kembali. Beristirahat. Pulang. Ke orang-orang yang dicintainya. Dan meluangkan waktu bersama mereka.

 

Suhu pun tersadar. Mungkin. Pattaya cuma banci. Mungkin. Tempat ini nggak ada apa-apanya dibanding pantai-pantai di pulau dewata. Suhu sadar saat melihat bahwa matahari terbenam di sini tidak seindah di Tanah Lot. Mungkin tempat ini tidak seindah yang di iklan pariwisata. Suhu mendadak tersadar.


Maybe. It’s not the place. Maybe, it’s the one who you’re with.

If I Aint Got You - Alicia Keys

P5041569

Suhu,
will not be complete without you.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu: Short Road, Long Journey.