Thursday, December 25, 2008

Hongkong Snacks: The Taste Beyond Your Sky

Kalau di posting yang lalu kita membahas makanan sehat yagn selayaknya dimakan tiga kali sehari. Kali ini kita akan membahas kudapan alias snack yang sewajarnya disantap sepanjang hari.

Membahas makanan yang ada di Hongkong, sebenarnya kita bisa mengklasifikasikan makanan ke dua golongan besar. Yaitu adalah makanan enak, dan makanan sangat enak. Makanan yang enak, seperti telah dibahas di posting perjalanan Hongkong sebelumnya, sangat menggoyang lidah dan menggugah selera. Tapi hanya ada satu masalahnya. Porsi.

Bagi kaum Hawa, porsi makanan di Hongkong ini biasanya agak sedikit terlalu banyak untuk dicerna. Bagi kaum Adam, porsinya banyak tapi sah-sah saja. Sedangkan bagi kaum Panda, porsi tidak pernah menjadi masalah. Tapi itu dia pokok permasalahannya. Apapun yang terlalu banyak itu selalu tidak baik. Demikian pula dengan makanan enak di Hongkong. Mengingat apa yang selalu dikatakan ayah, saat Suhu masih berusia dini.

Makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang.


Nampaknya umat manusia di Hongkong juga tau pemeo ini, dan mereka menciptakan solusi untuk berhenti sebelum kenyang. Snacks. Kudapan. Camilan. Luar biasa.

Camilan pertama perjalanan dari Singapore ke Hongkong, kita dapatkan dari pesawat. Iya, kami naik Singapore Airlines karena kami orang cina berduit ada promo dan harganya lebih murah dari Jetstar.


Cake dari Singapore Airlines. Memang beda ya budget airlines sama airlines bermutu.

Cake ini menjadi teman terbang kami selama sekitar tiga jam. Di pesawat kami menonton film Meet Dave dan Get Smart, juga beberapa iklan Singapore Airlines yang menurut kami kurang efektif. Sebaiknya iklan Singapore Airlines ditujukan pada orang-orang yang masih bisa memilih antara Singapore Airlines dan tidak. Bukan orang-orang yang sudah terikat sabuk pengaman kursi pesawat.

"Ah nggak enak deh pesawat ini ... mbak pramugari, bisa pinjam parasut? Saya mau turun." adalah salah satu kalimat yang belum pernah terdengar di sejarah civil aviation.

Cake yang disediakan oleh Singapore Airlines rasanya enak. Dan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa cake ini disajikan oleh pramugari yang sudah keliling dunia. Seandainya saja, kami tidak melakukan kesalahan kecil itu, pasti rasa enak cake ini masih kami ingat. Tapi apa boleh buat, kami melakukan sebuah kesalahan kecil yang membuat kami melupakan rasa cake itu. Kesalahan kecil. Kami mendarat di Hongkong.

WARNING! Not for the faint-hearted. Beberapa makanan berikut mengandung babi. Sisanya mengandung alkohol. Atau apapun isinya, yang pasti bisa membuat kamu high.

Sajian #1 : Sabu-sabu. Sarapan Bubur.

Makanan berikut ini, mungkin sudah wajar di mata kalian. Bubur. Tapi jangan salah. Bubur sendiri ada berbagai macam. Mulai dari Teochew Porridge, Damizhou, sampai bubur porsi kuli kantin satu stallnya namanya Best Porridge kalau beli di sana titip salam buat auntie nya dari Suhu forever frenzzz metallica yeah salah satu versi bubur di Hongkong yang tampak di foto ini.

Namanya, maaf, Sampan Cok. Beneran namanya itu, tidak dibuat-buat. Orang setempat menyebutnya Tang Chai Chook alias Bubur Sampan. Bermula di salah satu daerah di Cina di mana para penjual buburnya menjajakan bubur dari atas sampan, resep bubur ikan ini bertahun-tahun diturunkan ke anak cucu nya yang menjadi Cina perantauan. Berbekalkan resep dari leluhur mereka membuka kedai bubur, dan memuaskan lara dahaga sesama cinta perantauan akan rindu pada citarasa kampung halaman.

Satu seruputan Sampan Cok, lidahmu akan mengirimmu kembali ke beberapa zaman silam. Di mana para engkoh-engkoh cina kurus bertelanjang dada mengarahkan sampannya menghindari sampan penjual lain sambil berusaha menyeimbangkan mangkok kecil berisi bubur ikan. Ya, rasanya seenak itu. Bisa membuatmu berhalusinasi. High-nya setinggi itu.

Untungnya bepergian bersama pacar adalah para wanita tidak bisa makan terlalu banyak dan kita mendapat jatah lebih banyak kita bisa memesan beberapa jenis makanan untuk kemudian di-share. Karena di Asia, dinilai agak kurang sopan kalau ngajak nge-share sama orang meja sebelah yang baru ketemu lima menit yang lalu. Di mana yang nggak?

Sajian #2: Namanya pakai bahasa piktograf. Kami bukan bermaksud merahasiakannya, tapi kami memang tidak tahu.

Barusan adalah paragraf pembuka yang akan mengantarkan kita ke sajian selanjutnya. Karena bubur bukanlah hidangan normal untuk porsi dua orang dewasa, kami membeli snack lain. Yang ini harganya 12 HKD tapi aku lupa namanya apa. Karena namanya berupa sandi gores. Jangan khawatir, meskipun tidak tahu namanya, Suhu dan tgwinmg tahu pasti kalau kita sedang membicarakannya. Karena kami memberinya nama sendiri. Makanan ini kami sebut. Paradise.

Lapisan putih yang kalian lihat di foto itu terbuat dari beras. Rasanya seperti nasi, lontong, ketupat, dan handai taulannya. Karbohidrat murni. Saat kamu gigit. Lumer di lidah. Lalu perlahan keluar rasa manis yang lembut. Seperti kalau kamu ngemut tiga butir nasi selama lebih dari lima menit. Oh oke, buat yang gak tahu rasanya, silakan dicoba habis ini. Tapi prosesnya jauh lebih cepat daripada ngemut nasi selama lima menit.

Rasanya yang subtle mengizinkan kita untuk lebih ingin tahu, apa yang terjadi kalau gigitan kedua kita lebih besar. Ternyata rasa manisnya tidak bertambah. Tidak menjadi terlalu jenuh di lidah. Mengundang rasa ingin tahu. Kalau kulitnya saja seenak ini. Apa kira-kira isinya. tgwinmg memberanikan diri untuk mencobanya terlebih dahulu. tgwinmg terdiam selama beberapa detik. Tidak menjawab pertanyaan Suhu tentang bagaimana rasanya.

Suhu menyusul untuk mencoba. Sebuah reaksi yang sangat aneh mengingat biasanya orang cenderung panik dan curiga kalau kalau lawan bicaranya keracunan. Tapi Suhu bukan orang biasa, dan dia sudah terlanjur menggigitnya. Terjadi sensasi luar biasa di dalam mulutnya. Cairan berwarna merah itu mengalir di antara sela-sela giginya. Inikah rahasia yang dibalut oleh selaput karbohidrat yang murni tanpa noda.

Charsiew.

Jenius. Dagingnya tidak terlalu keras, empuknya merata di seluruh bagian, menunjukkan kalau sebelumnya sudah dimandi uap layaknya presto, bukan dipukuli palu daging secara brutal. Saat digigit intisari minyak babinya menyeruak ke semua tonsil indra perasa, mengalir deras ke tonsil faring, dan menggelitik epiglotis. Dan dalam sekejab liputan wisata kuliner menjadi diktat Biologi.

Apa itu yang di sebelahnya. Cairan hitam itu masih misterius sampai sekarang. Bayangkan rasa nikmat charsiew dibungkus macam lumpia tebal. Katakanlah rasa enaknya, dalam skala satu sampai sepuluh, ya kira-kira sembilan belas delapan setengah. Setelah dicelupkan cairan hitam misterius ini, nilainya menjadi tigapuluhtujuh. Bukan kecap asin, bukan tauco, bukan cuka, dan bukan kecap manis. Berdasarkan deduksi kami berdua dari efeknya. Dugaan sementara kami, minyak mariyuana.

Kami tahu apa pertanyaan para pembaca yang penuh rasa ingin tahu. Apa yang ada di sebelah makanan dewata itu. Sudah kami bilang, cairan hitam itu kami tidak tahu. Oh sebelahnya? Heran, kalian koq bisa lihat. Padahal sudah kututup-tutupi. Oke, untuk beberapa pembaca yang kurang lapar dan tidak bisa melihat. Suhu berikan foto yang mencakup makanan dewata bersama temannya.

Makanan dewata tidak datang sendirian. Sajian #3: Bakcang

Bakcang ini sebenarnya cukup umum di Indonesia. Makanan tradisional orang Cina yang kaya akan sejarah. Bakcang pertama sebenarnya dibuat bukan untuk manusia. Tapi untuk ikan-ikan. Alkisah Qu Yuan yang dicintai masyarakat mati bunuh diri loncat ke sungai Mi Luo. Agar ikan-ikan tidak makan jasadnya, masyarakat melempar bakcang ke dalam sungai. Begitulah sejarahnya. Tapi manusia modern semakin pandai. Mereka tahu jazad manusia pada akhirnya akan mengapung kalau masih tersisa setelah dimakan ikan-ikan karnivora. Dan mereka tahu kalau ikan-ikan karnivora jelas lebih suka daging lima puluh kilo daripada lemper buatan orang sipit. Maka akhirnya makanan ini tidak lagi mereka buang ke air, tapi dimakan sendiri.

Sajian #4: Herbal Chicken

Mungkin waktu kalian lihat fotonya, reaksi pertama kalian adalah Edan, gigi Suhu koq ga rata banget ya? Itu ayam??? Oke. Meskipun Suhu tidak bisa baca tulisannya. Tapi Suhu jelas secara mental dan spiritual bahwa itu ayam. Sebelum menjelma menjadi makanan enak, ayam ini sempat jacuzzi di kolam ginseng dan lulur TOGA [tanaman obat keluarga, bukan baju badut yang dipakai sarjana] di Spa Tataboga. Meskipun Suhu tahu dalam benak kalian ada yang bertanya-tanya "Sejak kapan Half Chicken masuk kategori cemilan?". Anyway, ayamnya rasanya seperti ayam kampung Bu Sri di Pandaan [Ini nama tempat, beneran ada, bukan dibuat-buat biar kedengeran seperti kampung halaman Panda Tambun].

Kalau kamu sempat mencoba ayam kampung Bu Sri [di Pandaan, bukan di Hongkong], jangan sisihkan kulitnya. Aku tahu beberapa orang menyisakan kulit ayam karena menurut majalah-majalah kurang sehat dan bisa mengurangi usia di dunia. Tapi jangan lewatkan kulit ayam Bu Sri, karena eh karena, menurut Suhu terlalu enak untuk dilewatkan. Peduli setan nggak sehat, hidup cuma sekali kulit ayam tidak dibawa mati. Kalau memang benar kulit ayam segitu tidak sehat, tentu kita sudah melihat "Peringatan Pemerintah: Ngemil kulit ayam dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan kesehatan janin" di mana-mana. Tapi nyatanya, Matos hypermart masih menjual kulit ayam goreng per 100 gram. Iya, dari kasir 15 lurus belok kiri, bu.

Sajian #5: Kerupuk (kulit) ikan

Bicara tentang kulit, bagaimana dengan kulit ikan? Ada yang suka kulit ikan? Pernah makan ikan goreng pakai tangan? Kalau megang kulit ikan goreng secara langsung dengan tangan, ujung jari bisa berwarna keperak-perakan kaya protein. Pernah beli krupuk ikan di Singapore? Yang sebungkus dua dolar satu sisi plastik transparan satu sisi grenjeng warna perak? Iya, yang amis itu. Yang di Hongkong, rasanya tetap seperti ikan, tapi minyaknya tidak berlebihan, baunya tidak amis, renyah di lidah tapi tidak terlalu keras untuk digigit.

Kerupuk ikan bersama fishball beehoon

Benar-benar pasangan sejati untuk makanan berkuah panas seperti fishball beehoon. Meskipun belum dicoba secara pribadi, tapi rasanya cocok juga dimakan bersama bubur. Seperti pengganti cakwe [gorengan panjang-panjang yang dijual berpasangan]. Memang dalam masalah kuliner bukan hanya rasa makanan individual yang penting. Kombinasi dengan makanan lain juga penting untuk mencapai rasa yang maksimal.


Sajian #6: Western Food

Satu yang jangan kamu coba saat pergi ke negara-negara di Asia. Jangan berlagak bule. Kami mencoba Western Food bukan atas dasar ingin sok bule. Tapi karena kami ingin memberikan ulasan secara meluas tentang berbagai macam masakan di Hongkong, baik oriental maupun kanibal kontinental. Salah satu alasan lain, Western Food ini letaknya di bawah penginapan kami dan kami bangun kesiangan buat cari tempat sarapan. Seperti yang bisa kalian lihat di foto, kami memesan Macaroni [makanan yang selama ini aku kira namanya Macarena] dan sliced ham. Ditemani dengan sandwich dan telur. Sarapan gaya bule di negara yang mayoritas umat penduduknya ngomong bahasa unggas.

Western Beverages hee hee hee *hiks* heee ...

Ngomong tentang orang Barat belum lengkap tanpa minuman beralkohol yang bernama Bir. Bahkan di beberapa tempat di Eropa, harga bir lebih murah daripada air mineral. Di Hongkong, harganya lebih murah daripada harga di Singapore. Orang suka mminum bir, dikurung di Singapore bertahun-tahun, dilepas di Hongkong, harga bir lebih murah daripada di Singapore. Hasilnya? Do the math.

Corona botol di Hongkong harganya kayak Tiger kaleng di Singapore

Sudah bukan rahasia kalau Suhu makan babi dan minum-minuman memabukkan secara teratur dan berkala. Tidak pernah mendapat souvenir dari Coca-cola atau gantungan kunci dari minuman isotonik berkarbonasi. Tapi tersebar di seluruh penjuru kamar adalah bantalan kursi berlogo Carlsberg, kartu poker bergambar Tiger, payung berlogo Heineken dan Tshirt dengan logo bir Bintang. Hongkong, mungkin benar-benar tempat wisata kuliner ideal untuk Suhu. Sebuah tempat di mana kita bisa mengeksploitasi kenikmatan duniawi.

Ibarat makan cakwe ditemani tenggakan bir.

Tentu saja, selama kita tidak menutup diri sendiri terhadap petualangan. Berani berbeda. Berani mencoba sesuatu yang lebih. Misalnya mengkombinasikan adat barat dan Timur. Ibarat makan cakwe ditemani tenggakan bir.

Suhu,
hee hee *hiks* hee .... *sempoyongan*

4 comments:

Gita Arimanda said...

terbaik nih postingan
top gan! *kaskus mode

Anonymous said...

itu sajian #2 mungkin chee cheong fun? keliatannya mirip =)
Bisa diliat fotonya ato dicocokin tulisan piktografnya di wiki:
http://en.wikipedia.org/wiki/Rice_noodle_roll

suhu said...

#gita:
haha ga sekalian 'pertamax!!!!11' ?

#ano:
masalahnya, no. Kita sudah pernah makan Chee Cheong Fun di Singapore, tapi nggak terbang.

PHY said...

keep posting, gan! =D

*gak repost kok*