Thursday, October 16, 2008

Fortress Hill: Yang, Ini Mustahil!

Seperti yang telah dibahas di posting sebelumnya, kami berangkat naik pesawat. Tepatnya SQ. Agar tidak terlalu panjang buat pembaca, bagian ngusilin bule di atas pesawat akan kita persingkat.

Bule tidur - colek - tampang innocent dengerin musik - bule pissed off - ulangi sampai landing di Hongkong.


Turun dari pesawat, matahari Hongkong menyengat terik. Menyiksa dua orang turis berkewarganegaraan Indonesia yang mengadu nasib di Singapura. Harahkono bingung gak kon. Kami langsung mencari jalan menuju ke Roma Fortress Hill, tempat di mana penginapan kami telah dipersiapkan.

Yang, ini mustahil!
Apanya?
Tempatnya, sistem transportasinya, orang-orangnya. Ini persis seperti Singapore.
Iya!

Dan kami tidak berlebihan. Saat kami melihat sekeliling, terlihat mesin-mesin pengisi kartu Octopus Card [di Singapore disebut EZlink]. Counter informasi yang dijaga bapak Cina tua berkacamata omaigat seragamnya sama dengan pegawai SMRT. Lalu kami melihat peta rute MRT, sistemnya sama dengan Singapore. Bahkan nama Airport juga Changi Airport, ternyata pesawat kami salah mendarat.

Somebody, please tell me. Isn't it supposed to be Guardian? Iya yang di atas Taxi TransCab itu. Omaigat! TransCab?

Menggunakan kartu 3-days-unlimited kami langsung menggunakan intelektualitas kami untuk naek kereta bulat peluru [bullet train]. Lalu kami ditembakkan dari Hongkong International Airport ke pusat kota.

Dua turis sok manis, sepasang petualang dari Malang.

Sesampai di pusat kota. Menurut salah seorang kawan Suhu, Hongkong adalah tempat di mana orang tidak bisa tersesat, asalkan tidak buta huruf. Sejak saat itu, Suhu putus hubungan kawan dengan orang tersebut di atas. Kami sempat sedikit tersesat di Interchange [baca:tempat oper angkot]. Maklum, stasiun kereta di sini agak biadab. Memang benar ada rambu-rambu petunjuk dan panah-panah direksional yang menunjukkan arah. Tapi. Terlalu banyak. Laknat.

Seingatku di Singapore maksimum kita cuma exit F dan itu pun ga ada 123 nya


Akhirnya dengan kekuatan bulan kami berhasil kembali ke jalan yang benar dan menuju ke Kanaan meskipun harus beberapa kali jalan putar balik. Sejenak kemudian, sekitar satu jam gitu, kami sudah sampai ke Fortress Hill dengan naik MTR [bukan salah ketik, MRT di Hongkong namanya MTR]. Singkatan dari Mass Transit Rapid.

Gantungan tangan di kereta Hongkong ada di dua lajur, berbeda dengan Singapore yang hanya di tengah


Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Gak keliatan pintu keluarnya!

Kami melalui lorong bawah tanah seperti Underpass Orchard Road tanpa pengamen dan penerangan minimum. Kami harus mengandalkan indra pendengaran dan penciuman untuk mengikuti orang keluar dari stasiun. Setelah mengikuti arus-arus penumpang yang keluar, kami baru bisa keluar dari Stasiun Fortress Hill.

Penerangan minim dan turis bingung.


Tapi. Astaga. Pantesan koq gelap banget. Kita berada di kedalaman beberapa meter di bawah tanah. Bodoh. Ini akibat skip lecture Geotechnical Engineering kebanyakan. Bagaimana mungkin seorang Mandor lulusan Civil Engineering nggak merasa bahwa dirinya sedang ada di dalam tunnel? Bukan rahasia bahwa Hongkong memang jago membuat bangunan-bangunan di bawah bangunan-bangunan [baca: Tunnel Engineering]. Tapi suejuknya tempat ini benar-benar menunjukkan tingkat engineering knowledge yang sudah melampaui ilmu pengetahuan manusia biasa. Pasti mereka sudah menguasai barak musuh dan advancement teknologi mereka sudah maksimal dengan bangunan-bangunan technology enhancement.

Sejuknya tempat ini. Ventilasi sempurna. Tidak terasa pengap sama sekali. Mungkin kita cuma ada di sekitar basement B1. Satu lantai di bawah tanah. "Gini mah cemen!" [Rezaditya, 2007]. Lalu Suhu mulai memperhatikan.

Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Escalator ini gak kelihatan ujungnya.

Stairway to Heaven kira-kira setinggi tangga di belakang Chinese Heritage Center untungnya ada eskalator.


Kalau kamu pernah ke Johor Bahru dari Singapore stasiun Kranji dengan berjalan kaki. Kamu pasti tahu ada eskalator tinggi dari lantai satu untuk ke tempat imigrasi/checkpoint. Ya, eskalator itu gak ada setengahnya dari yang di Hongkong ini.

Stairway to heaven sepanjang kira-kira dari Nanyang House ke SRC untung ada eskalator.


Dua turis ini ter-amazed-amazed. Suhu terkagum-kagum atas keindahan struktur bawah tanah, tgwinmg terkagum-kagum atas bagaimana Suhu bisa kagum pada hal-hal yang tidak dikagumi orang waras pada umumnya. Kami naik eskalator. Dan.

Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Escalator ini bukan satu-satunya.

Kami melihat escalator lagi menuju ke atas. Panjangnya kira-kira sama dengan yang ada di City Hall Station di Singapore. Berarti itu 3 lantai. Tadi kira-kira 3 lantai lebih. Berarti kereta itu ada di ... Basement B6? 6 lantai di bawah tanah? Dan hawanya suejuk seperti di Tretes? Proyek pembangunan stasiun ini pasti membutuhkan campur tangan jin botol dan tuyul toples.

Sebelum pembaca blog ini pindah blog lain dan blog ini menjadi milis Mandor, mari kita cerita dengan jargon-jargon yang lebih dimengerti orang-orang yang tidak bisa memahami keajaiban jin botol oleh awam.

Setelah eskalator tak berujung itu, dua turis ini dihadapkan ke cobaan pertama dari sembilan puluh delapan cobaan sisanya. Dua pintu keluar. DHUWAAA. Exit A. Dan Exit B. Apa yang akan dilakukan oleh kaum cendekia saat dihadapkan kasus demikian.

Ide kami pertama adalah. Berpencar. Siapa yang menemukan penginapan terlebih dahulu bisa beristirahat dan yang terakhir menemukannya akan dieliminasi akan menelepon pihak satunya. Ide ditolak. Kami tidak punya SIMcard yang bisa bekerja di Hongkong. Kalaupun kami punya, kami juga tidak bisa memberikan arah yang jelas. Sekarang ketemu belum tentu suruh kembali ke stasiun tidak kesasar.

Ide kedua. Duduk di sini. Suruh satu orang pergi nyari sampe ketemu dan kemudian menjemput yang satunya yang sedang jaga koper. Ide ditolak. Karena kami berdua adalah pasangan kembar siam mesra yang tak dapat dipisahkan.

Ide ketiga. Salah satu metode yang paling sering dipakai oleh anak-anak informatika. Brute Force. Exit B. Naik. Cari. Tidak ketemu. Kembali ke stasiun. Exit A. Cari. Tidak ketemu. Alt+Ctrl+Delete. Ulangi sampai ketemu.

Lalu kami keluar Exit B. Kami berusaha menarik belas kasihan penduduk setempat dengan memasang tampang pura-pura tersesat. Sangat mudah bagi kami, karena kami memang tersesat. Tapi jauh di lubuk hati kami, kami tahu. Tersesat di tempat semacam ini, kami tidak akan mati. Ini bukan Survivor:Cook Islands ataupun Survivor:Gabon. Tapi bagaimanapun juga kami tetap harus menemukan penginapan itu.


Dengan McD dan 7-Eleven, orang buta huruf pun tak bisa mati kelaparan.


Lalu kami keluar di Exit B. Mencari dan mencari. Tanya pada orang di jalan. Dijawab dengan bahasa Cantonese. Lalu kami bilang terima kasih dalam bahasa Rusia. Yeah that's SvasIbo. Setelah puas bertanya-tanya jalan dan dipandang seperti peserta Amazing Race tanpa diikuti kameramen. Kami kembali ke stasiun. Ya, turun tangga itu tadi. Lalu naik tangga lain lagi, keluar di Exit A.

By the time kami melihat cahaya di ujung pintu keluar Exit A, kami sudah luar biasa lelah dan yang tersisa dari raga kami hanya "tinggal kentut dan dosa". [Atalya, 2008]. Lalu kami menyeberang jalan. Membuka peta lebar-lebar di lantai. Dan memutarnya sesuai dengan orientasi Jarum Utara.

Kita perlu nyari Utara, yang.
Okeh. *muter peta*
Menurut Kahitna, mentari terbit di utara.
Okeh. *mengorientasikan peta pada posisi berdiri*
Yang bener ah petanya. Utara.
Mataharinya ada di atas ubun-ubun.

Siang-siang. Untung bawa kompas. Setelah menunjukkan kemampuan dasar Praja Muda Karana dan Karang Taruna serta Gugur Gunung Muda Mudi Katolik, kami berhasil meletakkan peta pada posisi yang benar. Setelah itu semuanya jelas. Karena tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya mendekati kami.

You ... do need any help? Do you need any help?
You can speak English?
No.
Dia barusan ngomong Inggris.
Swahili?
We are looking for this place. *menunjukkan alamat*

Wanita setengah baya itu melihat sekeliling. Melihat alamat itu lagi. Melihat sekeliling. Menanyakan alamat itu pada orang lewat pada bahasa Alien. tgwinmg bisa bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Jawa dan Indonesia. Sementara Suhu bisa bahasa Inggris, Kupang, Swahili, Tamil, Morse dan Braille dasar [timbul dan tenggelam]. Dan kami berdua positif wanita itu tidak bercakap dalam bahasa tersebut di atas. Pasti dia bercakap dalam bahasa Sunda Cantonese. Andai saja Andreas Lee ada di sini, batinku.

Okay. You go theeeeere. And then KROS the road. Turn. And Goooo.

Kami sangat mengerti. Karena saat mengatakan 'turn' ada gestur ke arah mana kami harus berbelok. Dan panjangnya kata yang dipakai, mewakili jauhnya kami harus berjalan. Misalnya, 'Gooooooooooooooooooo...' selama tiga jam berarti kami harus jalan kaki sampai ke airport.

Akhirnya ketemu juga penginapan kita. Tapi. Ini bukan akhir dari perjalanan kami. Ini. Baru. Awal.

"Yang, sudah kuduga. Pasti ada sebabnya dinamain Fortress Hill."



Suhu,
unpacking lalu berangkat menuju petualangan selanjutnya.

Selanjutnya di Kisah di Balik Hutan Bambu.
Cita-Cita Mulia: Para Pahlawan Devisa.

5 comments:

konnyaku said...

terinspirasi untuk jalan-jalan ke hongkong bersama pacar.
*harus belajar bahasa canton dl kyknya*

spider_alf said...

hahahah hebat2 hu.. msh ingat semua petualangannya dan masukin di blog.


singapore, hong kong, thailand.. all same same...

tgwinmg said...

spt kata kamu, pong. Hongkong itu kyk makasar 20 taon yg lalu. Aku jg sempet merasa Hongkong kok mirip Malang 20 taon yg lalu =p

larissafhp said...

ke avenue of stars and madame tussaud dunggg! pengen liat foto2nya nii~

suhu said...

#konnyaku:
em khoi...

#apong:
catatan perjalanan thailand mu mana? katanya mau numpang di blog ini.

#tgwinmg:
37 tahun yang lalu tepatnya. makasar 20 tahun lalu sama dengan malang 37 tahun yang lalu. Makasar sampai sekarang masih lebih terbelakang menurut Alfonso. Mereka masih sering makan [sop] saudara.

#larissafhp:
Madamme Tussaud di next post. Avenue of Stars nya silakan ditunggu.