Monday, October 20, 2008

Cita-Cita Mulia: Para Pahlawan Devisa

Setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu kita masih kecil dan belum sekolah, satu-satunya panutan yang ada di rumah hanya orang tua. Sehingga sebagian besar anak kecil berusia dua sampai lima tahun, jika ditanya "Uda gede nanti mau jadi apa?" mereka akan menjawab "Mau jadi seperti papah/mamah!".

Kemudian, setelah mereka beranjak masuk sekolah, tiba-tiba akan ada trend semua ingin jadi guru. Karena guru adalah orang pertama yang mereka jumpai di luar rumah selain tukang kebun dan bapak becak. Karena di mata mereka, guru adalah seorang suri tauladan yang tahu sangat banyak hal yang mereka tidak tahu. Little do they know bahwa sebenarnya sekolah adalah sindikat kejahatan berkedok pendidikan.


Kebanyakan pingin jadi guru, dosen, tutor, atau apapun yang otaknya kayak Einstein.

Lalu mereka beranjak lebih dewasa dan pelajaran sekolah mulai membahas tentang Occupation atawa mata pencahar pencaharian. Cara-cara mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situ mereka mulai menetapkan cita-cita mereka. Selain sebagai pemicu motivasi mereka untuk menggapai aspirasi itu, juga biar bisa ditulis di buku memo teman sebangku biar dibaca teman-teman sekelas yang belum mengisi. Biar keren. Karena semua menulis cita-cita yang, bagi orang dewasa, kurang realistis. Ya, namanya juga anak kecil. Dilihat dari jumlah murid yang bercita-cita jadi presiden di kelas Suhu dulu, setiap propinsi Indonesia merdeka juga masih ada teman sekelas yang gak kebagian kursi. Mungkin itu sebabnya tuhan menciptakan partai oposisi.


Kadang mereka lupa bahwa gaji presiden itu juga dari kita, para pembayar pajak.




Demikian pula dengan antek-antek pemerintahan yang lain.




Tapi kalau senantiasa diingatkan, yang berkuasa pun biasanya tak senang.


Lalu sekitar kelas lima atau enam eSDe, pandangan kita mulai berubah. Kita mulai mengenal dunia. Tentu saja dari layar kaca. Kita bercita-cita sesuai dengan minat dan bakat meski kurang bakat. Mulai dari pingin jadi olahragawan, selebritis, pesilat, sampai jadi agen rahasia. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian, jika kita menengok silam. Cita-cita itu cuma bikin ketawa kecil di dalam hati.


Ingin jadi olahragawan meski takdir tak mengizinkan.




Ingin jadi selebritis tapi bakat tak menggubris.




Ingin jadi pesilat tapi tubuh kurang kuat.




Ingin jadi agen rahasia takut dibunuh mafia.




Ingin jadi terkenal walapun cuma mengkhayal.



Apa daya. Semakin dewasa manusia semakin mengerti. Cita-cita bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Cita-cita hanyalah sesuatu yang dipakai. Untuk memotivasi kita meraih sesuatu yang belum tentu kita dapat. Dan untuk mengisi buku memo teman sebangku kita di sekolah dasar. Tentu tidak semua orang gagal menggapai cita-citanya. Tapi kebanyakan orang memang iya. Orang-orang yang punya drive, talent, dan opportunity. Mereka yang bisa menjadi bintang. Menggapai cita-cita mereka yang gemilang.



Dan orang-orang itu tidak banyak. Mereka bisa kita temui di Museum Patung Lilin cap Madamme Tussaud. Tempat di mana orang-orang terkenal dibunuh lalu diawetkan diabadikan dalam bentuk patung lilin. Dan itu adalah tujuan kita hari ini. Setelah selesai unpacking, cuci kaki, cuci tangan, baring-baring, bobo siang, kami bergegas menuju ke Madamme Tussaud.


Angelina Jolie diawetkan.



Dengan tangan hampa kami berdua berangkat ke stasiun kereta. Tangan hampa karena kami membawa ransel. Untuk menuju ke museum Madamme Tussaud yang ada di pucuk gunung itu, kami harus naik tiga puluh tujuh eskalator melewati objek wisata lain yang disebut The Peak. Meskipun orang jakarta lebih suka menyebutnya "Puncak", tapi percayalah, mereka salah.


Dua turis di depan pintu masuk lereng Terminal The Peak Tram



Untuk menuju ke The Peak ini, para turis bisa memilih untuk menaiki Peak Tram berdurasi tiga menit. Sebuah kereta listrik yang tanjakan relnya hampir membentuk sudut tujuh puluh tiga koma delapan derajat dari permukaan tanah rata. Atau naik bus seharga belasan dolar dari terminal memakan waktu sekitar setengah jam. Atau berjalan kaki mendaki sampai jumpa di atas tiga tahun lagi. Melihat jalur dakian gunung itu, kalau kamu tidak punya uang, kamu punya dua pilihan: mengemis untuk beli tiket atau mendaki. Tips: Mengemis jauh lebih cepat.

Agar bisa menikmatinya, kami menempuh perjalanan dengan naik kereta api tut tut tut siapa hendak turut ke bandung surabaya lalu turun di stasiun Central. Dari sana kami berjalan kaki menuju ke Terminus lereng The Peak untuk kemudian naek Tram ke puncak The Peak. Tempat di mana museum Madamme Tussaud bersemayam.


Stasiun Tram Puncak The Peak


Setelah nuaik nuaik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara ah ah kami sampai juga di tujuan. Selain Madamme Tussaud Museum kita juga menemukan beberapa toko souvenir [baca: kaos murah dan gantungan kunci]. Lalu beberapa restoran barat dan Burger King.


Memang terlihat sama dengan Burger King Singapore , tapi lihat harganya.




Rambunya juga berbeda, terpleset di Singapore gambar terjengkang ke belakang.



Kami keluar dari Burger King, menuju ke arah balkoni yang terhembus angin lebih dari sekedar sepoi. Dari teras Burger King itu kami bisa melihat perbatasan Rusia Hongkong, sebuah negara yang maju dengan perekonomiannya, ditandai dengan bangunan-bangunan tinggi. Suhu menikmati angin yang berhembus kencang. Luar biasa. Perasaan ini. Sudah lama Suhu tidak merasakannya.


Rasa ingin melompat.




Jatuh langsung mati tanpa sempat kerasa sakit.



tgwinmg mengingatkan, hari sudah mulai gelap. Matahari terbenam, hari mulai malam terdengar burung hantu suaranya merdu suhu suhu suaranya merdu.

Udahan yuk.
Oke. Bentar lagi. Lima menit.
Nanti masih bisa lihat lagi di Avenue of Stars.
Oh iya, nanti pas Symphony of Lights kita lihat gedung-gedung ini lagi.

Kami pun melangkahkan kaki meninggalkan The Peak. Meninggalkan Madamme Tussaud Museum. Meninggalkan Hongkong. Menuju ke Stasiun kereta Central. Dengan menyimpan sedikit kisah tentang bagaimana cita-cita kami kandas bersama patung-patung lilin. Tapi kisah ini masih belum habis di sini. Karena artikel ini berisi tentang orang dengan cita-cita mulia. Masih belum lengkap dengan kisah para pahlawan bangsa.

Dalam perjalanan menuju ke sana. Kami terhenti di sebuah taman. Kami terkejut tidak karuan. Kami dikompas sama preman. Terdengar suara dari kejauhan. Saling menimpali. Senda gurau.

Yo ora iso ... aku yo ora gelem lek ngono ...
Ayo wis, aku arep balik iki, melok a?
Iyo wis. Rek, aku tak balik sek yo. Wes ditelponi karo juraganku.

Mereka yang ke luar negeri bekerja keras memeras keringat. Mereka yang tiap bulan selalu mengirimkan uang ke rumah di kampung halaman. Mereka yang menghidupi keluarganya dengan mengorbankan hidup bahagia dengan keluarga. Mereka yang bercita-cita mulia. Mereka yang tiap pulang selalu disambut loket khusus di imigrasi. Wahai TKW, engkaulah para pahlawan Devisa.

TKW di Hongkong.



There are millions of them.



Suhu,
terasa seperti di tanah air.

Berikutnya Hongkong Delicacies: Long Lost Taste of Happiness hanya di kisah di balik hutan bambu.

6 comments:

konnyaku said...

mirip kyk di taiwan.bnyk tkwnya.

dina.. said...

lho kok kayak bangla yg suka piknik di stasiun bunle?

konnyaku said...

hu,blogku sementara open buat invited readers only.aku mau lay low dulu haha.tunggu keadaan mereda br ak open.emailmu apa ya.biar aku invite.thanks.

hadi said...

bukan pesilat, tapi pesumo.

Celetukan Segar said...

Mohon ijin ambil gambarnya!

suhu said...

#konnyaku:
waktu aku ke tw somehow ga merasa kliatan sebanyak ini la

#dina:
stasiun bunle tempat syuting felem bollywood

#konnyaku lagi:
oke.

#hadi:
pesumo juga pesilat, punya hati punya rasa.

#celetuk:
silakan!