Wednesday, October 29, 2008

Hongkong Delicacies: Long Lost Taste of Happiness

Setelah meninggalkan The Peak beserta Madamme Tussaud. Dua turis ini bingung tak tentu arah. Tapi kami tetap tenang. Karena memang kami sudah terbiasa bingung. Senja menyambut dan perut mulai bergemuruh. Suhu mulai cemberut dan tgwinmg mulai mengeluh. Kami lapar.

Mengingat-ingat pesan Alfonso beberapa minggu yang lalu, "Hongkong itu seperti Makasar dua puluh tahun yang lalu". Dan berbekalkan basic cantonese yang diajarkan Andreas Lee, "tuai tuai de". Kami mulai mencari warung Coto Makasar. Maksudku, mencari tempat makan sederhana.

Berbekal peta turisme, kami mencari tempat makan

Membaca peta turisme dengan perut lapar, kami segera menentukan tujuan berikutnya. Tempat yang menawarkan makanan enak dan kegiatan malam. Ladies Street [Nv Ren Jie]. Dilihat dari namanya tentu kalian sudah bisa membayangkan apa atraksi yang ada di sana. Menurut review dari website-website dan informasi pariwisata, tempat inilah yang menjadi salah satu daya tarik wisata malam hari.

PROSTITUSI LEGAL!!!! DHUWAAAAA!!!


Becanda.

Tempat ini adalah salah satu pusat perbelanjaan yang buka sampai dini hari. Suasananya kurang lebih seperti Bugis Street di Singapore. Tapi kesannya lebih leluasa dan kira kira tujuh kali lebih panjang tiga kali lebih lebar dan atapnya satu setengah kali lebih tinggi.

Aku melihat dan memandang, menggeliat dan menerawang. Jalan besar kami lalui, belok ke jalan kecil, melihat gemerlap Hongkong di malam hari. Saat perut kami memegang kendali, kami masuk ke sebuah warung. Tempat makan di Hongkong lebih mirip dengan Makasar Indonesia daripada Singapore. Dalam artian, setiap rumah makan mempunyai 'tanah' sendiri. Tidak seperti Singapore di mana orang hanya punya kios/kedai sewa dan tempat duduk nya gabungan untuk beberapa warung di mana para pembeli bebas duduk di mana pun.

Bingung? Nggak pa pa. Makan. Ngerti makan? Cukup.

Warung pertama yang kami masuki cukup bersahabat. Dapur terletak di depan, dengan kaca besar menghadap trotoar. Tentu saja tujuannya bukan untuk memamerkan kekejian mereka menggantung bangkai babi dan ayam. Tapi sajian-sajian yang mereka siapkan dan asap yang mengepul buas dari dapur itu. Cukup untuk membuat dua turis kelaparan terhipnotis masuk ke dalam.

Eh kiam choy seng...
Sumimasen ... wakarimasen .. *saking kelaparan ga bisa membedakan Cantonese dan Japanese*
Do you have English menu?
Welcome welcome.
Haiiikkk .... *saking gembira ga bisa membedakan English dan Japanese*

Kami memilih dua masakan yang berbeda. Sudah menjadi hukum tak tertulis antara Suhu dan tgwinmg bahwa kami tidak akan membeli makanan yang sama. Kami selalu mencoba sebanyak mungkin variasi makanan untuk memperluas pengalaman wisata kuliner. Karena tgwinmg selalu mencicipi dari piring Suhu. Dan Suhu selalu menyelesaikan setengah dari piring tgwinmg.

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Menu berbahasa piktograf [entah ini huruf cina, jepang, korea, atau mesir], terdiri dari foto-foto menarik. Dan jutaan pilihan dalam belasan lembar buku menu. Saat kami minta menu in English, yang datang hanya satu lembar A4 bolak-balik. Kami sempat curiga mereka menyisipkan artikel kontak jodoh di menu makanan berbahasa lokal.

Karena kami tidak mau rugi, kami ngotot memesan makanan dari menu berbahasa Mandarin. Meskipun dua orang ini kalau di Malang selalu diteriaki "Cino medhit! Cino medhit! sama anak-anak gang sebelah. Tapi kami warga negara Indonesia seutuhnya. Tidak bisa baca huruf Mandarin. Ciburup. Cino buta hurup.

Berkat gemblengan Elementary Chinese di Ninja Turtles University dulu. Suhu tahu kalau beras itu huruf nya yang mirip bendera amerika. Saat melihat menu itu. Terlihat huruf-huruf yang familiar. Ini adalah huruf yang artinya 'beras'. Berarti ini mestinya sesuatu yang mengenyangkan. Harganya 35 HKD. Berarti ini seharusnya termasuk Main Course.

Ya. Suhu sudah memperhitungkan kemungkinan salah pesan dan mendapatkan bubur atau tajin. Tapi didukung pula dengan foto di sebelahnya, ini terlihat seperti main course. Take the gamble. Kita pesan ini. Apapun itu. tgwinmg pun memesan sesuatu yang hurufnya familiar dengan karakter Hor Fun.

Ini yang muncul.

Kami menunggu sambil minum air hangat. Nampaknya hal biasa di sini. Air hangat gratis di restoran. Seperti beberapa warung di Malang menyediakan teh manis gratis. Tak berapa lama kemudian tgwinmg mengamuk karena kelaparan makanan datang bersama waiter. Maksudku, waiter datang bersama makanan.

Waiter sempat menanyakan sesuatu pada kami dalam bahasa alien. Tapi artinya bisa kami tebak. Kira-kira dia bertanya. Piring ini siapa yang pesan. Piring itu siapa yang pesan. Kami jawab "OKAY". Karena kami sudah kelaparan dan tidak tahu apa yang kita pesan. Nampaknya kami mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kami. Sesuatu yang ... random.

Milik Suhu adalah semangkok mi beras bumbu ayam jamur dengan gumpalan daging babi [awas haram!]. Sementara milik tgwinmg adalah Horfun dimasak dengan taoge dan sayur-sayuran tak dikenal dengan citarasa oriental dengan irisan tipis daging dada ayam, bisa ketahuan dari pola seratnya.

Suhu mengangkat sumpit. tgwinmg mengelap sumpit dengan tisu. Kami melahap makanan di depan kami. Air mata meleleh ke ujung pelipis kami. We have found our purpose in life. Ibaratnya melalui penderitaan untuk mencapai kesempurnaan. Kami melihat sinar. Mendengar dengungan harpa yang dipetik para malaikat. Makanan ini. Telah membuktikan filosofi Nothing is Perfect tidak lagi berlaku. Makanan ini. Sempurna.

Sempurna - Andra & The Backbone

Hangat di lidah. Tidak terlalu asin. Jamur yang empuk. Serat ayam yang lembut tapi tidak hancur. Dan yang terpenting, tidak nyangkut di gigi saat digigit. Untuk beberapa menit ke depan kami merasakan surga. Sampai tiba saatnya membayar. 35 HKD memang bukan uang yang kecil. Tapi. Porsinya juga tidak sedikit. Menggembirakan. Ladies and Gentleman. Welcome to Hongkong. The Land of Good Food.

Oke. Yang lagi exam, silakan lanjut belajar satu chapter lagi. Nanti lanjut lagi bacanya.

----------- Belajar buat exam ----------------------

Selamat. Kamu sudah selesai belajar satu chapter. Pusing? Sini, Mandor petualang akan memberikan reward. Catatan perjalanan Panda Tambun yang hijrah ke kampung halaman.

Tetapi pengalaman kami dengan makanan di Hongkong tidak selalu berakhir baik. Seperti di malam berikutnya. Mengikuti pola mencari warung sederhana, Suhu dan tgwinmg merangsek sebuah warung lain. Kami masuk dan warung itu menyediakan air hangat. Tradisi rupanya. Setelah menenggak beberapa teguk air hangat itu. Kami mulai melihat-lihat menu.

Di sini lah mimpi buruk kami dimulai.

TIDAK ADA BAHASA INGGRISNYA! DDHUUWWAARRRR

Untungnya ada foto di setiap baris aksara cina yang dahsyat. Oke. Paling nggak kita bisa milih. Terus gimana pesennya? Tapi masalah ini bukan halangan bagi seorang Mandor yang pekerjanya tidak bisa bahasa manusia Inggris. Dengan penuh percaya diri, Suhu memanggil waiter.

Halo. This one. One. *tunjuk*

Waiter terkesima dengan bahasa inggris Suhu yang luar biasa memukau singkat padat jelas tepat pada sasaran. Lalu waiter berusaha untuk berkomunikasi setelah mengetahui dua orang bermuka cina ini gak bisa ngomong cantonese sama sekali. Setelah dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dua orang ini ngomong bahasa alien yang lebih dikenal sebagai Boso Jowo. Waiter mencoba menyusun kata-kata di dalam kepalanya menjadi sebuah kalimat.

Okay! Okay! One chap choy em sing khoy lak khor tiu bo lu lei yaaa. How many spicy?

Luar biasa. How many spicy. Ini benar-benar serasa di construction site.

One and a half Little bit spicy.

Kejadian berikutnya akan membuat seluruh umat manusia menyesal tidak belajar sejak Cantonese sejak usia dini.

Pesan Pangsit Mie Ayam dikasi Gunung Krakatau Meletus

Awalnya Suhu kira hanya penampilannya saja yang seram. Tapi setelah seruputan pertama. Keringat menetes. Minum air hangat. Tidak membantu. Gigit acar. Fhewwww. Adeemmm. Setelah efek acar worn off, lidah terasa tebal. Oh. Mungkin karena ini sambel ditaruh di bagian atas. Diaduk merata. Campur. Seruput.

Tiba-tiba dunia serasa gelap. Air mata berlinang perlahan di pipi. Hidung mbeler. Di background serasa terdengar suara sholat khusuf dua rokaat. Suasananya benar-benar tidak bisa didefinisikan. Keputusan mencampur sup itu adalah kesalahan terbesar kedua Suhu. Kesalahan terbesar pertama adalah dilahirkan jadi Cina di negara indonesia.

Tapi karena sudah dilatih untuk tidak membuang makanan oleh papa dan mama. Suhu tetap berusaha menghabiskannya. Juga untuk memberikan reportase lengkap pada para pembaca. Siapa tahu di beberapa seruputan terakhir, rasanya seperti ganja. Suhu mengemban tugas berat untuk menghabiskan pangsit mie ayam yang lebih tepat disebut Neraka [Andreas Lee, 2006].

Sampai seruputan terakhir, rasanya masih seperti gunung krakatau

Setiap suapan yang masuk ke mulut Suhu. Rasanya seperti rokok. Serasa menghisap rokok kretek. Dari ujung yang salah.

By the way. Aku tahu kamu barusan tidak benar-benar belajar satu chapter sebelum membaca lanjutan post ini. Jadi sekarang kesempatan kamu untuk benar-benar belajar biar tidak terlalu merasa bersalah. Ayo, kerjakan satu past year exam. Nanti kalah sudah kelar, baca lagi.

---------------------SIMULASI EXAM --------------------------------------------

Please Stop Writing!

Gimana simulasi examnya barusan. Gak bisa? Gak pa pa, itu udah biasa. Yang penting nanti waktu ikjem beneran harus bisa. Semangat!

Lanjut ke tempat makan lain. Tidak hanya makanan saja yang aneh-aneh di negara ini. Di restoran berikutnya. Perlu diketahui tempat-tempat ini didatangi tidak secara berkelanjutan nonstop. Kami tidak serakus itu. Kami tidak hanya menjumpai makanan yang aneh. Kali ini kami menjumpai minuman aneh.


Pepsi Lemon with Ginger

Salah satu yang paling menarik perhatian kami adalah Lemon Pepsi with Ginger. Yang lebih mengejutkan lagi adalah saat gelasnya datang.

Whoa!!! Panas!!!
Heee?
Luar biasa, yang! Pepsi anget!

Nampaknya kita sudah ketinggalan zaman. Saat orang orang kita masih minum wedang jahe. Mereka sudah menciptakan Pepsi lemon jahe anget untuk mengatasi masuk angin.

Jangan heran jika Suhu bisa menulis dengan jelas. Karena di menu warung ini setiap baris ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Inilah yang menyebabkan kita mempunyai intelejensia yang cukup untuk memesan Baked Rice.

Tak lama kemudian. Baked Rice datang bersama. Sumpit.

Sumpah. Orang sini benar-benar kreatif. Setelah memastikan di sekeliling kami tidak ada kamera tersembunyi yang akan membuat kita ditertawakan segenap populasi Hongkong di acara malam minggu. Suhu mencoba memakan Baked Rice dengan sumpit.

Nampaknya Oom kepala waiter memahami kesulitan manusia biasa untuk memakan baked rice dengan sumpit. Dengan tersenyum-senyum mesum. Dia meletakkan sendok dan garpu di meja Suhu dan tgwinmg. Lalu Suhu, tetap berusaha memakai sumpit. Sementara tgwinmg menggerogoti Baked Rice dari sisi satunya dengan sendok. Sepiring berdua. Biar mesra. Alasan sebenarnya adalah karena mata uang Hongkong kami sudah menipis.

Baked Rice with Chicken Steak

Nampaknya Oom kepala waiter melihat kesulitan kami. Datang kembali dengan senyum imut nya. Memberikan sepasang sendok dan garpu lain. Dan sebuah mangkok kosong. Nampaknya dia menganjurkan agar kami tidak menunjukkan perilaku terlalu memelas di hadapan umum. Kami berusaha membagi baked rice itu menjadi dua sama rata. Tapi nampaknya Chicken Steak yang sepaket dengan baked rice itu sangat susah dipotong.

Oom waiter datang lagi dengan pisau. Dengan senyumnya. Nampaknya dia mengira kami berdua turis dari negara yang tiap makan pakai pisau dengan garpu. Terlebih lagi didukung dengan kami memesan Baked Rice. Setelah proses ritual yang khusuk disertai dua pasang sumpit dua pasang sendok garpu dan satu pisau di tengah meja. Kami mencoba Baked Rice with Chicken Steak yang merupakan Chef Recommendation warung yang menyediakan wedang Jahe pepsi tersebut di atas.

Kami telah menemukan tujuan hidup manusia. Ini adalah yang dicari oleh umat manusia. Ayam yang tidak alot digigit. Tapi tidak terlalu lembek. Seratnya terasa per helai tapi tidak nyangkut di sela-sela gigi. Telur dadar yang meleleh di lidah. Nasi yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu berair. Baked Rice with Chicken Steak ini sudah surpass kenikmatan duniawi.

Gembira kalau diberi makan, keturunan panda atau lumba-lumba

Inilah petualangan wisata kuliner kami. Mungkin tidak semuanya berkenan di hati pembaca. Tapi. Kami tidak peduli. Kami telah mencapai penerangan sempurna. Kami melihat pintu surgawi. Kami mengintip taman bermain para malaikat. Kami sempat merasakan paradise. Semua perasaan yang tidak bisa dialami manusia biasa yang belum mencoba makanan-makanan Hongkong. Tapi kami tahu kami salah.

Kami tahu kami belum sampai di surga.

Karena kami mencapai surga lapis ke tujuh. Setelah mencoba snack/cemilan di Hongkong.

Suhu,
mencari surga dunia.

Berikutnya Hongkong Snacks: The Taste Beyond Your Sky hanya di kisah di balik hutan bambu.

Monday, October 20, 2008

Cita-Cita Mulia: Para Pahlawan Devisa

Setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu kita masih kecil dan belum sekolah, satu-satunya panutan yang ada di rumah hanya orang tua. Sehingga sebagian besar anak kecil berusia dua sampai lima tahun, jika ditanya "Uda gede nanti mau jadi apa?" mereka akan menjawab "Mau jadi seperti papah/mamah!".

Kemudian, setelah mereka beranjak masuk sekolah, tiba-tiba akan ada trend semua ingin jadi guru. Karena guru adalah orang pertama yang mereka jumpai di luar rumah selain tukang kebun dan bapak becak. Karena di mata mereka, guru adalah seorang suri tauladan yang tahu sangat banyak hal yang mereka tidak tahu. Little do they know bahwa sebenarnya sekolah adalah sindikat kejahatan berkedok pendidikan.


Kebanyakan pingin jadi guru, dosen, tutor, atau apapun yang otaknya kayak Einstein.

Lalu mereka beranjak lebih dewasa dan pelajaran sekolah mulai membahas tentang Occupation atawa mata pencahar pencaharian. Cara-cara mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situ mereka mulai menetapkan cita-cita mereka. Selain sebagai pemicu motivasi mereka untuk menggapai aspirasi itu, juga biar bisa ditulis di buku memo teman sebangku biar dibaca teman-teman sekelas yang belum mengisi. Biar keren. Karena semua menulis cita-cita yang, bagi orang dewasa, kurang realistis. Ya, namanya juga anak kecil. Dilihat dari jumlah murid yang bercita-cita jadi presiden di kelas Suhu dulu, setiap propinsi Indonesia merdeka juga masih ada teman sekelas yang gak kebagian kursi. Mungkin itu sebabnya tuhan menciptakan partai oposisi.


Kadang mereka lupa bahwa gaji presiden itu juga dari kita, para pembayar pajak.




Demikian pula dengan antek-antek pemerintahan yang lain.




Tapi kalau senantiasa diingatkan, yang berkuasa pun biasanya tak senang.


Lalu sekitar kelas lima atau enam eSDe, pandangan kita mulai berubah. Kita mulai mengenal dunia. Tentu saja dari layar kaca. Kita bercita-cita sesuai dengan minat dan bakat meski kurang bakat. Mulai dari pingin jadi olahragawan, selebritis, pesilat, sampai jadi agen rahasia. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian, jika kita menengok silam. Cita-cita itu cuma bikin ketawa kecil di dalam hati.


Ingin jadi olahragawan meski takdir tak mengizinkan.




Ingin jadi selebritis tapi bakat tak menggubris.




Ingin jadi pesilat tapi tubuh kurang kuat.




Ingin jadi agen rahasia takut dibunuh mafia.




Ingin jadi terkenal walapun cuma mengkhayal.



Apa daya. Semakin dewasa manusia semakin mengerti. Cita-cita bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Cita-cita hanyalah sesuatu yang dipakai. Untuk memotivasi kita meraih sesuatu yang belum tentu kita dapat. Dan untuk mengisi buku memo teman sebangku kita di sekolah dasar. Tentu tidak semua orang gagal menggapai cita-citanya. Tapi kebanyakan orang memang iya. Orang-orang yang punya drive, talent, dan opportunity. Mereka yang bisa menjadi bintang. Menggapai cita-cita mereka yang gemilang.



Dan orang-orang itu tidak banyak. Mereka bisa kita temui di Museum Patung Lilin cap Madamme Tussaud. Tempat di mana orang-orang terkenal dibunuh lalu diawetkan diabadikan dalam bentuk patung lilin. Dan itu adalah tujuan kita hari ini. Setelah selesai unpacking, cuci kaki, cuci tangan, baring-baring, bobo siang, kami bergegas menuju ke Madamme Tussaud.


Angelina Jolie diawetkan.



Dengan tangan hampa kami berdua berangkat ke stasiun kereta. Tangan hampa karena kami membawa ransel. Untuk menuju ke museum Madamme Tussaud yang ada di pucuk gunung itu, kami harus naik tiga puluh tujuh eskalator melewati objek wisata lain yang disebut The Peak. Meskipun orang jakarta lebih suka menyebutnya "Puncak", tapi percayalah, mereka salah.


Dua turis di depan pintu masuk lereng Terminal The Peak Tram



Untuk menuju ke The Peak ini, para turis bisa memilih untuk menaiki Peak Tram berdurasi tiga menit. Sebuah kereta listrik yang tanjakan relnya hampir membentuk sudut tujuh puluh tiga koma delapan derajat dari permukaan tanah rata. Atau naik bus seharga belasan dolar dari terminal memakan waktu sekitar setengah jam. Atau berjalan kaki mendaki sampai jumpa di atas tiga tahun lagi. Melihat jalur dakian gunung itu, kalau kamu tidak punya uang, kamu punya dua pilihan: mengemis untuk beli tiket atau mendaki. Tips: Mengemis jauh lebih cepat.

Agar bisa menikmatinya, kami menempuh perjalanan dengan naik kereta api tut tut tut siapa hendak turut ke bandung surabaya lalu turun di stasiun Central. Dari sana kami berjalan kaki menuju ke Terminus lereng The Peak untuk kemudian naek Tram ke puncak The Peak. Tempat di mana museum Madamme Tussaud bersemayam.


Stasiun Tram Puncak The Peak


Setelah nuaik nuaik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara ah ah kami sampai juga di tujuan. Selain Madamme Tussaud Museum kita juga menemukan beberapa toko souvenir [baca: kaos murah dan gantungan kunci]. Lalu beberapa restoran barat dan Burger King.


Memang terlihat sama dengan Burger King Singapore , tapi lihat harganya.




Rambunya juga berbeda, terpleset di Singapore gambar terjengkang ke belakang.



Kami keluar dari Burger King, menuju ke arah balkoni yang terhembus angin lebih dari sekedar sepoi. Dari teras Burger King itu kami bisa melihat perbatasan Rusia Hongkong, sebuah negara yang maju dengan perekonomiannya, ditandai dengan bangunan-bangunan tinggi. Suhu menikmati angin yang berhembus kencang. Luar biasa. Perasaan ini. Sudah lama Suhu tidak merasakannya.


Rasa ingin melompat.




Jatuh langsung mati tanpa sempat kerasa sakit.



tgwinmg mengingatkan, hari sudah mulai gelap. Matahari terbenam, hari mulai malam terdengar burung hantu suaranya merdu suhu suhu suaranya merdu.

Udahan yuk.
Oke. Bentar lagi. Lima menit.
Nanti masih bisa lihat lagi di Avenue of Stars.
Oh iya, nanti pas Symphony of Lights kita lihat gedung-gedung ini lagi.

Kami pun melangkahkan kaki meninggalkan The Peak. Meninggalkan Madamme Tussaud Museum. Meninggalkan Hongkong. Menuju ke Stasiun kereta Central. Dengan menyimpan sedikit kisah tentang bagaimana cita-cita kami kandas bersama patung-patung lilin. Tapi kisah ini masih belum habis di sini. Karena artikel ini berisi tentang orang dengan cita-cita mulia. Masih belum lengkap dengan kisah para pahlawan bangsa.

Dalam perjalanan menuju ke sana. Kami terhenti di sebuah taman. Kami terkejut tidak karuan. Kami dikompas sama preman. Terdengar suara dari kejauhan. Saling menimpali. Senda gurau.

Yo ora iso ... aku yo ora gelem lek ngono ...
Ayo wis, aku arep balik iki, melok a?
Iyo wis. Rek, aku tak balik sek yo. Wes ditelponi karo juraganku.

Mereka yang ke luar negeri bekerja keras memeras keringat. Mereka yang tiap bulan selalu mengirimkan uang ke rumah di kampung halaman. Mereka yang menghidupi keluarganya dengan mengorbankan hidup bahagia dengan keluarga. Mereka yang bercita-cita mulia. Mereka yang tiap pulang selalu disambut loket khusus di imigrasi. Wahai TKW, engkaulah para pahlawan Devisa.

TKW di Hongkong.



There are millions of them.



Suhu,
terasa seperti di tanah air.

Berikutnya Hongkong Delicacies: Long Lost Taste of Happiness hanya di kisah di balik hutan bambu.

Thursday, October 16, 2008

Fortress Hill: Yang, Ini Mustahil!

Seperti yang telah dibahas di posting sebelumnya, kami berangkat naik pesawat. Tepatnya SQ. Agar tidak terlalu panjang buat pembaca, bagian ngusilin bule di atas pesawat akan kita persingkat.

Bule tidur - colek - tampang innocent dengerin musik - bule pissed off - ulangi sampai landing di Hongkong.


Turun dari pesawat, matahari Hongkong menyengat terik. Menyiksa dua orang turis berkewarganegaraan Indonesia yang mengadu nasib di Singapura. Harahkono bingung gak kon. Kami langsung mencari jalan menuju ke Roma Fortress Hill, tempat di mana penginapan kami telah dipersiapkan.

Yang, ini mustahil!
Apanya?
Tempatnya, sistem transportasinya, orang-orangnya. Ini persis seperti Singapore.
Iya!

Dan kami tidak berlebihan. Saat kami melihat sekeliling, terlihat mesin-mesin pengisi kartu Octopus Card [di Singapore disebut EZlink]. Counter informasi yang dijaga bapak Cina tua berkacamata omaigat seragamnya sama dengan pegawai SMRT. Lalu kami melihat peta rute MRT, sistemnya sama dengan Singapore. Bahkan nama Airport juga Changi Airport, ternyata pesawat kami salah mendarat.

Somebody, please tell me. Isn't it supposed to be Guardian? Iya yang di atas Taxi TransCab itu. Omaigat! TransCab?

Menggunakan kartu 3-days-unlimited kami langsung menggunakan intelektualitas kami untuk naek kereta bulat peluru [bullet train]. Lalu kami ditembakkan dari Hongkong International Airport ke pusat kota.

Dua turis sok manis, sepasang petualang dari Malang.

Sesampai di pusat kota. Menurut salah seorang kawan Suhu, Hongkong adalah tempat di mana orang tidak bisa tersesat, asalkan tidak buta huruf. Sejak saat itu, Suhu putus hubungan kawan dengan orang tersebut di atas. Kami sempat sedikit tersesat di Interchange [baca:tempat oper angkot]. Maklum, stasiun kereta di sini agak biadab. Memang benar ada rambu-rambu petunjuk dan panah-panah direksional yang menunjukkan arah. Tapi. Terlalu banyak. Laknat.

Seingatku di Singapore maksimum kita cuma exit F dan itu pun ga ada 123 nya


Akhirnya dengan kekuatan bulan kami berhasil kembali ke jalan yang benar dan menuju ke Kanaan meskipun harus beberapa kali jalan putar balik. Sejenak kemudian, sekitar satu jam gitu, kami sudah sampai ke Fortress Hill dengan naik MTR [bukan salah ketik, MRT di Hongkong namanya MTR]. Singkatan dari Mass Transit Rapid.

Gantungan tangan di kereta Hongkong ada di dua lajur, berbeda dengan Singapore yang hanya di tengah


Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Gak keliatan pintu keluarnya!

Kami melalui lorong bawah tanah seperti Underpass Orchard Road tanpa pengamen dan penerangan minimum. Kami harus mengandalkan indra pendengaran dan penciuman untuk mengikuti orang keluar dari stasiun. Setelah mengikuti arus-arus penumpang yang keluar, kami baru bisa keluar dari Stasiun Fortress Hill.

Penerangan minim dan turis bingung.


Tapi. Astaga. Pantesan koq gelap banget. Kita berada di kedalaman beberapa meter di bawah tanah. Bodoh. Ini akibat skip lecture Geotechnical Engineering kebanyakan. Bagaimana mungkin seorang Mandor lulusan Civil Engineering nggak merasa bahwa dirinya sedang ada di dalam tunnel? Bukan rahasia bahwa Hongkong memang jago membuat bangunan-bangunan di bawah bangunan-bangunan [baca: Tunnel Engineering]. Tapi suejuknya tempat ini benar-benar menunjukkan tingkat engineering knowledge yang sudah melampaui ilmu pengetahuan manusia biasa. Pasti mereka sudah menguasai barak musuh dan advancement teknologi mereka sudah maksimal dengan bangunan-bangunan technology enhancement.

Sejuknya tempat ini. Ventilasi sempurna. Tidak terasa pengap sama sekali. Mungkin kita cuma ada di sekitar basement B1. Satu lantai di bawah tanah. "Gini mah cemen!" [Rezaditya, 2007]. Lalu Suhu mulai memperhatikan.

Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Escalator ini gak kelihatan ujungnya.

Stairway to Heaven kira-kira setinggi tangga di belakang Chinese Heritage Center untungnya ada eskalator.


Kalau kamu pernah ke Johor Bahru dari Singapore stasiun Kranji dengan berjalan kaki. Kamu pasti tahu ada eskalator tinggi dari lantai satu untuk ke tempat imigrasi/checkpoint. Ya, eskalator itu gak ada setengahnya dari yang di Hongkong ini.

Stairway to heaven sepanjang kira-kira dari Nanyang House ke SRC untung ada eskalator.


Dua turis ini ter-amazed-amazed. Suhu terkagum-kagum atas keindahan struktur bawah tanah, tgwinmg terkagum-kagum atas bagaimana Suhu bisa kagum pada hal-hal yang tidak dikagumi orang waras pada umumnya. Kami naik eskalator. Dan.

Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Escalator ini bukan satu-satunya.

Kami melihat escalator lagi menuju ke atas. Panjangnya kira-kira sama dengan yang ada di City Hall Station di Singapore. Berarti itu 3 lantai. Tadi kira-kira 3 lantai lebih. Berarti kereta itu ada di ... Basement B6? 6 lantai di bawah tanah? Dan hawanya suejuk seperti di Tretes? Proyek pembangunan stasiun ini pasti membutuhkan campur tangan jin botol dan tuyul toples.

Sebelum pembaca blog ini pindah blog lain dan blog ini menjadi milis Mandor, mari kita cerita dengan jargon-jargon yang lebih dimengerti orang-orang yang tidak bisa memahami keajaiban jin botol oleh awam.

Setelah eskalator tak berujung itu, dua turis ini dihadapkan ke cobaan pertama dari sembilan puluh delapan cobaan sisanya. Dua pintu keluar. DHUWAAA. Exit A. Dan Exit B. Apa yang akan dilakukan oleh kaum cendekia saat dihadapkan kasus demikian.

Ide kami pertama adalah. Berpencar. Siapa yang menemukan penginapan terlebih dahulu bisa beristirahat dan yang terakhir menemukannya akan dieliminasi akan menelepon pihak satunya. Ide ditolak. Kami tidak punya SIMcard yang bisa bekerja di Hongkong. Kalaupun kami punya, kami juga tidak bisa memberikan arah yang jelas. Sekarang ketemu belum tentu suruh kembali ke stasiun tidak kesasar.

Ide kedua. Duduk di sini. Suruh satu orang pergi nyari sampe ketemu dan kemudian menjemput yang satunya yang sedang jaga koper. Ide ditolak. Karena kami berdua adalah pasangan kembar siam mesra yang tak dapat dipisahkan.

Ide ketiga. Salah satu metode yang paling sering dipakai oleh anak-anak informatika. Brute Force. Exit B. Naik. Cari. Tidak ketemu. Kembali ke stasiun. Exit A. Cari. Tidak ketemu. Alt+Ctrl+Delete. Ulangi sampai ketemu.

Lalu kami keluar Exit B. Kami berusaha menarik belas kasihan penduduk setempat dengan memasang tampang pura-pura tersesat. Sangat mudah bagi kami, karena kami memang tersesat. Tapi jauh di lubuk hati kami, kami tahu. Tersesat di tempat semacam ini, kami tidak akan mati. Ini bukan Survivor:Cook Islands ataupun Survivor:Gabon. Tapi bagaimanapun juga kami tetap harus menemukan penginapan itu.


Dengan McD dan 7-Eleven, orang buta huruf pun tak bisa mati kelaparan.


Lalu kami keluar di Exit B. Mencari dan mencari. Tanya pada orang di jalan. Dijawab dengan bahasa Cantonese. Lalu kami bilang terima kasih dalam bahasa Rusia. Yeah that's SvasIbo. Setelah puas bertanya-tanya jalan dan dipandang seperti peserta Amazing Race tanpa diikuti kameramen. Kami kembali ke stasiun. Ya, turun tangga itu tadi. Lalu naik tangga lain lagi, keluar di Exit A.

By the time kami melihat cahaya di ujung pintu keluar Exit A, kami sudah luar biasa lelah dan yang tersisa dari raga kami hanya "tinggal kentut dan dosa". [Atalya, 2008]. Lalu kami menyeberang jalan. Membuka peta lebar-lebar di lantai. Dan memutarnya sesuai dengan orientasi Jarum Utara.

Kita perlu nyari Utara, yang.
Okeh. *muter peta*
Menurut Kahitna, mentari terbit di utara.
Okeh. *mengorientasikan peta pada posisi berdiri*
Yang bener ah petanya. Utara.
Mataharinya ada di atas ubun-ubun.

Siang-siang. Untung bawa kompas. Setelah menunjukkan kemampuan dasar Praja Muda Karana dan Karang Taruna serta Gugur Gunung Muda Mudi Katolik, kami berhasil meletakkan peta pada posisi yang benar. Setelah itu semuanya jelas. Karena tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya mendekati kami.

You ... do need any help? Do you need any help?
You can speak English?
No.
Dia barusan ngomong Inggris.
Swahili?
We are looking for this place. *menunjukkan alamat*

Wanita setengah baya itu melihat sekeliling. Melihat alamat itu lagi. Melihat sekeliling. Menanyakan alamat itu pada orang lewat pada bahasa Alien. tgwinmg bisa bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Jawa dan Indonesia. Sementara Suhu bisa bahasa Inggris, Kupang, Swahili, Tamil, Morse dan Braille dasar [timbul dan tenggelam]. Dan kami berdua positif wanita itu tidak bercakap dalam bahasa tersebut di atas. Pasti dia bercakap dalam bahasa Sunda Cantonese. Andai saja Andreas Lee ada di sini, batinku.

Okay. You go theeeeere. And then KROS the road. Turn. And Goooo.

Kami sangat mengerti. Karena saat mengatakan 'turn' ada gestur ke arah mana kami harus berbelok. Dan panjangnya kata yang dipakai, mewakili jauhnya kami harus berjalan. Misalnya, 'Gooooooooooooooooooo...' selama tiga jam berarti kami harus jalan kaki sampai ke airport.

Akhirnya ketemu juga penginapan kita. Tapi. Ini bukan akhir dari perjalanan kami. Ini. Baru. Awal.

"Yang, sudah kuduga. Pasti ada sebabnya dinamain Fortress Hill."



Suhu,
unpacking lalu berangkat menuju petualangan selanjutnya.

Selanjutnya di Kisah di Balik Hutan Bambu.
Cita-Cita Mulia: Para Pahlawan Devisa.

Thursday, October 09, 2008

Hongkong: Kesan Pertama Begitu Menggoda

Berhubung pekerjaan yang menumpuk sesaat sebelum pergi, maka persiapan keberangkatan menuju ke Hongkong ini juga agak tersengal-sengal. Sebagai orang yang mempunyai talenta work incredibly well under pressure, Suhu mempersiapkan hampir semua hal yang ada di post sebelumnya, dengan metode SKS [Sistem Kebut Seminggu].

---*fast forward bagian-bagian gak penting* ---

Semua sudah siap. Tiket sudah dikemas dan koper sudah dibeli. Walkie-talkie kantor dibawa dan pacar ditinggal.

Eh. Tiket sudah dibeli. Koper sudah dikemas. Walkie-talkie kantor ditinggal. Pacar dibawa. Maaf. Kesalahan teknis. Packing semalam suntuk bisa berakibat rasa ngantuk.

Lalu Suhu melihat kondisi di dompet. Uang. Kita perlu uang. Menurut Suhu pribadi, uang adalah hal yang sangat penting di dunia ini. Tingkat kepentingannya saaaanngaaaattt tinggi. Untuk teman-teman yang mengenal Suhu personally, tentu tahu level kecintaan Suhu akan uang. Sampai-sampai ada laskar Kristus yang senantiasa mengingatkan Money is not everything dan berusaha mempertobatkan Suhu dari menyembah Mammon.

Buat yang tidak setuju tentang pandangan Suhu mengenai uang, tidak perlu diperdebatkan di sini. Silakan mencoba berdebat dengan aunty chicken rice terdekat.

One chicken rice. Take away.
Three dollar.
Wah aunty I forget to bring my wallet. Can pay next time?
Cannot. You take your money first la, or borrow your friend first la.
Aiyo aunty .. three dollars only.
Three dollars oso money. One man forget three dollars. Everyone come forget wallet tomorrow I can close shop oredi.
But aunty ....
No lah .. no money no talk. Next? Ni yao shen me?
Money is not eveything.
Roasted one or white one?
Not everything in this world can be measured by money.
Having here or take away?
There are a lot of things that can't be bought by money.
Thank you.
Aunt, are you listening to me?
Ya boy? Wah you still here ah? Oh sorry sorry. Here your chicken rice, three dollar.

Money can't buy everything. But money can buy many things.

Many things is good enough for me. Who needs everything, anyway? [Adi Prawira, 2006]

Dompet mulai mengempes dan cicilan loan mulai slow down setelah menebus tiket seharga kurang lebih 600SGD per orang. Untuk informasi bagi yang mau membandingkan harga, kami naik Singapore Airlines. Pulang pergi. Ini sudah didiskusikan berkali-kali dengan tgwinmg. tgwinmg tidak mempunyai preferensi untuk penerbangan, yang penting murah.

Sedangkan Suhu punya preferensi sendiri. Untuk penerbangan jarak jauh, Suhu lebih percaya ke maskapai-maskapai penerbangan dengan track record memukau. Misalnya, tidak pernah kecelakaan selama beberapa tahun terakhir [Singapore Airlines], jarang ada delay [Singapore Airlines], servis yang bagus di pesawat [Singapore Airlines], dll [Singapore Airlines]. Sedangkan untuk penerbangan jarak dekat, Suhu memilih gantole.

Akhirnya kami memilih SQ. Yang berarti tiketnya agak tak seberapa sedikit cukup lumayan mahal dibanding dengan yang lain-lain. Tapi kursi yang kami pesan bukan kelas yang paling mahal. Kami memilih seats yang termurah yaitu bagasi kelas ekonomi. Kita perlu melakukan penghematan without compromising safety of the journey. Sebelum ada pembaca yang memberikan ide-ide berenang ke Hongkong.

Ilustrasi Panda masuk bagasi



Tentu kami sudah mempertimbangkan beli tiket untuk satu orang dan satunya masuk bagasi. Tapi setelah dihitung-hitung lagi, overweight.

Belum juga kami berangkat, kartu kredit berlogo burung yang dipromosikan Richard Gere terpaksa digesek lagi. Untuk booking akomodasi. Penginapan kami tarifnya sekitar 1100HKD untuk seluruh perjalanan kami di Hongkong nantinya. yang kalau diterjemahkan ke Singapore Dollar akan bernilai sekitar 200SGD. Dan kalau diterjemahkan ke Indonesia akan bernilai banyak.

Belum berangkat saja sudah begini. Kami membaca-baca keterangan public transport di Hongkong dari internet. Mereka punya kartu semacam EZlink Singapore. Mereka menamainya Octopus Card karena kartu itu berbentuk cumi-cumi. Setelah mempelajari tarifnya. Yang paling efektif adalah tungting tungting PINTU KE MANA SAJA kartu 3-hari unlimited MTR. Apalagi untuk arek Malang yang sudah biasa naek angkot Arjosari Borobudur Gadang, prosedurnya sangat familiar dan mudah digunakan. Sistem jauh-dekat-sama-saja. Sama seperti EZlink Concession tapi durasinya hanya untuk tiga hari, bukan sebulan. 300HKD per orang untuk tiga kali dua puluh empat jam terhitung mulai *cetut* pertama.

Tiket masuk Disneyland harganya sekitar 300HKD dan Ocean Park harganya sekitar 200HKD. Per orang. Untungnya setelah masuk ke dalam, tidak perlu bayar apa-apa lagi. Kecuali kalau kamu mau beli makanan di restoran yang piringnya berbentuk Gufi dan sendoknya berbentuk kepala Donal.

Tiket pesawat pulang pergi Singapore Hongkong. Penginapan. Transport. Disneyland. Ocean Park. Itu tujuan utama. Belum lagi untuk keperluan-keperluan lain. Kita juga perlu membawa uang tunai. Karena kita perlu makan. "Dan makan perlu bayar." [Aunty Chicken Rice, since 1945].

Suhu,
Hongkong: kesan pertama begitu MENGGOrok DAna.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu.
Fortress Hill: Yang, Ini MUSTAHIL!

Postnote: Untuk posting-posting berikutnya. Persiapkan mental anda untuk banyak foto-foto yang mendebarkan. Untuk anak-anak, perlu bimbingan orang tua. Tidak sesuai untuk ibu hamil, orang yang berpenyakit jantung, dan tekanan darah tinggi ataupun kombinasi ketiganya. Posting-posting berikutnya akan diselipi oleh foto-foto amatir hasil jepretan tapak Panda. Hanya. Di. Kisah Di Balik Hutan Bambu.

Saturday, October 04, 2008

Tips Merencanakan Perjalanan Panjang Gaya Panda

Berikut adalah tips merencanakan Perjalanan Panjang Gaya Panda

1. Bawa bambu sebanyak batas maksimal bagasi pesawat.
2. Berangkat.





Okeh. Barusan becanda. Mari kita serius. Berikut adalah tips yang benar.

1. Tentukan tujuan perjalanan.
Hongkong.

2. Cari informasi mengenai tempat tujuan.
2.1.Informasi secara general mengenai Hongkong.

"Hongkong ya hu. Hmm... Mirip seperti Makasar dua puluh tahun lalu." [Alfonso, 2008]

Tentu jangan mudah percaya. Karena setelah mendengar komentar semacam ini, setiap orang pasti ingin ke Makasar. Tempat yang, menurut Alfonso, dua puluh tahun lebih maju daripada Hongkong. Gak semua yang elo denger itu bener.

"Tye se wu hen, sya shi lay, tueng tueng tek." [Andreas Lee, 2005, 2006, 2007, 2008]

Chap choy.

Promosi hongkong dari departemen pariwisata setempat. Discover Hongkong.

2.2 Cari Informasi Tempat yang Dituju

Hal-hal seperti ini harus dicari sebelum kamu sampai ke tempat tujuan. Jadi kamu bisa menentukan mana saja yang kira-kira bisa kamu datangi. Dan akan sangat mempengaruhi budget.

Untuk perjalanan kali ini, tujuan utama kita ada dua. Disneyland dan Ocean Park. Disneyland untuk bertemu tikus-tikus dan bebek-bebek dan tupai-tupai berukuran manusia. Ocean Park untuk bertemu dengan Panda-Panda dan Ikan-Ikan seukuran manusia.

Baik Disneyland maupun Ocean Park bisa dilihat melalui internet. Kita bisa menemukan Opening Hours, booking Admission Ticket bila perlu, dan nge-print dulu Park Map nya. Agar saat sampai di sana, kita tinggal mengandalkan fotografik memori untuk meningkatkan efektifitas rute perjalanan.

Lalu cari tujuan-tujuan minor yang dipakai untuk mengisi waktu setelah tujuan utama tercapai. Misalnya, foto-foto di Madame Tussaud, beli eggtart, menambah koleksi selimut dan bantal pesawat, judi di Macau, dsb. Tujuan minor ini bisa sangat banyak jumlahnya, dan tidak harus semuanya terpenuhi. Karena sifatnya hanya mengisi sela-sela waktu agar liburan menjadi padat dan value for money. Dasar cina.

2.3 Biaya ke dan di Sana

Kunjungi link-link berikut untuk merencanakan paket berlibur kamu.
Zuji untuk mendapatkan deal hotel dan penerbangan paketan yang murah meriah.
Travelocity yang terkenal dari reality show Amazing Race juga not bad.
Website maskapai penerbangan masing-masing. (Singapore Airlines, Garuda, Air India, bisa di-Google)
Asia-room untuk booking hotel online.
ctrip untuk yang bepergian ke Cina [Hongkong termasuk Cina]
dan AdultFriendFinder untuk yang mencari teman bepergian

Hal ini sangat berpengaruh besar pada budget. Karena kurang lebih lima puluh persen budget akan dicurahkan ke harga tiket pesawat pada perjalanan berdurasi pendek. Lain halnya kalau kamu ke Hongkong untuk menikah dengan warga setempat, mungkin harga tiket pesawat bisa diabaikan. Kamu perlu memperhatikan banyak hal lain.

2.4 Keperluan Perjalanan

Barang-barang Super Penting
Paspor, Uang, Tiket, Uang, Credit Card, Uang. Tingkat kepentingan uang bisa dilihat dari frekuensi uang disebutkan. Bawa dalam mata uang setempat, dan mata uang lain yang diakui money changer. Misal, Rupiah pecahan 100 ribu ke atas, SGD pecahan 10$ ke atas. Money changer biasanya tidak mau menukar pecahan yang terlalu kecil atau terlalu besar.
Barang-barang Penting
Peta. Pakaian nyaman pakai. Obat-obatan sesuai selera kebutuhan. Kalau hobi sakit perut, ya bawa obat sakit perut. Kalau hobi sakit tenggorokan, ya bawa obat sakit tenggorokan. Kalau hobi banyak jenis penyakit, jangan pergi ke Hongkong. Pergi ke dokter. Universal Travel Adapter/ colokan 2ke3, 3ke2, 3batangke2bulet, 2buletke2gepeng - kalau tempat tujuan kamu tidak cocok dengan alat-alat elektronik yang kamu bawa [misal: shaver, charger batere, gitar listrik, dll].
Barang-barang Cukup Penting
Tas pinggang/ransel untuk dibawa sehari-hari [kecuali kamu gemar narik koper sebesar Megazord di Disneyland]. HP/teleponbimbit/ponsel/telepongenggam kalau kamu berencana membeli simcard nomer setempat. Kamera digital untuk mengabadikan perjalanan. Jangan lupa chargernya.
Barang-barang Tidak Penting Tapi Bisa Dibawa
Tas untuk baju kotor. Tas kosong buat oleh-oleh. Tshirtku ukuran XL, btw.
Barang-barang Tidak Penting Jangan Dibawa
TV, kulkas, dan mesin cuci.

Perlu mesin cuci.



Panduan di atas hanya ringkasan secara general dan subjektif pada masing-masing pihak. Lain orang lain pula kebutuhannya. Tentu ada pembaca yang akan mempertanyakan "Lho nggak perlu bawa sabun dan sampo dan sikat gigi serta pasta gigi?". Sebelum lebih banyak pertanyaan serupa bermunculan, penulis ingin memperjelas. Siapa juga yang mau mandi? Hal-hal seperti itu termasuk trivial dan bisa didapat di hotel atau convenient store terdekat. Dan ingat, membawa sabun cair melewati airport sudah tidak semudah dulu lagi.

3. Siapkan Keperluan Pra dan Pasca Keberangkatan
Pra: Kebanyakan berupa mempersiapkan barang yang akan dibawa. Bisa juga berarti menyelesaikan tugas-tugas di kantor/sekolah agar liburan bisa terasa lebih tenang.
Pasca: Persiapan mental dan spiritual kembali ke alam nyata. Kerja lagi. Atau kuliah lagi. Yeah, life sux. Live it.

4. Berangkat.
Enjoy.

Suhu,
berangkat.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu.
Hongkong: Kesan Pertama Begitu Menggoda.

Friday, October 03, 2008

Destination Hongkong: The Planning

Sekitar lima tahun lalu, Suhu tidak sama seperti sekarang. Dalam banyak aspek. Tentu saja yang paling mencolok adalah perbedaan di lingkar perut. Tapi bukan itu yang akan kita bahas sekarang. Yang berbeda dari Suhu dari masa ke masa adalah kedewasaan dan sifat serta cara menyikapi sebuah perjalanan.

Kalau dulu, kisah petualangan Suhu, selalu bersifat spontan. Baik itu bersama Guntur, maupun Andreas Lee. Pergi main kartu sampai pagi di asrama tetangga, bangun jam 9 pagi, cuci muka. Ngobrol dan bercanda saat hendak sarapan. Itulah awal terjadinya perjalanan Suhu ke Malaysia.

Mau ke mana sekarang?
Kantin 9?
Bosan.
Kantin 2?
Bosan.
Malaysia?
Bentar, aku cari paspor.

Dan jam sepuluh pagi kami sudah di perbatasan. Tanpa mengetahui apa yang ada di Johor Bahru untuk dikunjungi. Melangkah ke mana kaki melangkah. [Andreas Lee, 2005]. Karena tindak spontanitas seperti ini, cerita-cerita di kisah di balik hutan bambu season 1 bisa tercipta. Misalnya, tersesat di Johor malam hari dan salah masuk gang maksiat. Tindak penuh spontanitas ini sangat menyenangkan untuk orang-orang yang sukanya tanpa beban dan siap untuk mendapat liburan yang tidak sempurna.

Karena perjalanan spontan ini seringkali membawa kita ke tempat yang tidak dituju para turis pada umumnya. Dan lebih sering lagi, tidak membawa kita pulang. Perjalanan Suhu ke Kuala Lumpur misalnya, Suhu berhasil menemukan bangunan yang kukira Petronas. Dan ternyata bukan. Dan tidak berhasil membawa Suhu pulang tepat waktu, sampai terpaksa menginap di hotel yang kurang jelas. Hotel yang kalau malam hari ada yang ketok pintu buat servis plus plus. "Misi mas, jual ginjal?"

Tapi itu dulu. Suhu yang sekarang tidak lagi seperti dulu. Terutama dalam perihal lingkar perut. Perubahan itu sangat gradual. Sejak menganal mengenal Alfonso, mata Suhu menjadi lebih terbuka mengenai Perencanaan. Planning.

Terlebih lagi sejak mengenal tgwinmg. Untuk informasi pembaca, tgwinmg sangat suka planning. Dia sangat enjoy bagian pra-perjalanan ini. Bahkan, kalau boleh dibilang, delapan puluh persen kenikmatan perjalanan dia dapat dari part ini. Planning. Dan sisa dua puluh persen nya terbagi menjadi dua kemungkinan. Kegembiraan tanpa batas jika perjalanan berjalan sesuai rencana/plan. Atau, jika jadwal meleset dari rencana disebabkan oleh pacar [baca:aku] karena last-minute-decision-making-skill [baca:telat bangun, boker kelamaan, lupa bawa paspor, dll]. Dua puluh persen itu akan menjadi sesuatu yang kamu sesali ingat seumur hidup. Kalau kamu masih hidup.

Aku udah selesai planning!
Oya? Kita ke mana?
Jadi kita minggu depan masak soto di rumah deh.
Lho? Aku kira kamu planning buat ke Hongkong?
Oh, plan ke Hongkong uda selesai bulan lalu.
Ouw.
Tiketnya sudah aku booking. Penginapannya sudah kamu atur kan?.
Oh. *keringat*. Tentu. *dingin*. Sudah. *keringat dingin*. Sudah.
*mencium ketidakberesan* Belum ya?
Hehehe, s-s-s-sudah koq. *pipis di celana*


pipis di celana


Liburan kali ini, seperti yang sudah kalian expect, adalah liburan dengan penuh perencanaan. Tapi bagaimanapun juga, manusia merencanakan, manajerial yang menentukan. Proses perencanaan tahap pertama adalah, apply annual leave. Usahakan bersambung dengan public holiday, jadi liburan kita bisa sehari-dua hari lebih panjang. Setelah annual leave di-approve oleh perusahan-perusahaan bersangkutan, baru kita bisa optimis membeli tiket pesawat dan akomodasi.

Setelah melalui proses perencanaan yang mantap, kami mencoba untuk apply tanggal 29 dan 30 September [yakni Senin dan selasa] dikarenakan hari rabu tanggal 1 oktober 2008 adalah hari raya idul fitri. Maka untuk orang-orang beruntung, akan menjadi libur panjang dari hari sabtu tanggal 27 September 2008 [ultah Septian] sampai ke tanggal 1 Oktober 2008 [Hari Kesaktian Pancasila]. Sedangkan bagi orang-orang yang kurang beruntung, liburan baru mulai tanggal 28 September 2008 karena Sabtu masih harus ngecor akbar.

Suhu dan tgwinmg mencari-cari mana negara yang belum dikunjungi. Dan pilihan tercapai pada Thailand. Maka kami memutuskan untuk berangkat ke Thailand. Memang agak susah mencapai negara dengan kesamaan minat. Pilihan tgwinmg jatuh pada Venice, Paris, Jepang, dan sejenisnya. Sedangkan pilihan Suhu lebih condong ke arah India, Bangladesh, Pakistan. Ini benar-benar efek samping bekerja di lingkungan yang penuh tantangan.

Setelah itu. Kami mencari info-info tentang Thailand. Terutama pada yang barusan ke sana. Yakni pasangan Apong dan cewe_apong@hotmail.com [nama dirahasiakan]. Saat informasi tentang Pattaya dan sanook sanook sawadeekaaa hampir kami lengkapi, Channel News Asia memberitakan gejolak politik di Thailand. Airport ditutup, dan turis-turis dibiarkan menggelandang di boarding gate.

Sebagai pasangan yang cerdas cendekia serta siap siaga pun cekatan berwibawa laksana praja muda karana, Suhu dan tgwinmg segera merombak rencana liburan. Okeh. Jatah cuti, sudah diambil. Kita HARUS pergi. Uwaaahhhh bersemangat!!! Kecuali kita mau merubah rencana cuti untuk keliling dunia menjadi syuting Resep Oke Rudi di Dapur Kecil kita selama empat hari tersebut.

Perombakan rencana selalu melibatkan perselisihan. Terutama saat Suhu memaksakan untuk pergi ke India. Apa yang salah dengan Taj Mahal? Dari sana kita punya beberapa kandidat pengganti Thailand. Yaitu.

1. Tetap ke Thailand.
Jika airport ditutup kita ke sana melalui jalan darat. Karena kita memegang teguh prinsip Thailand atau Mati. Jalan darat akan kami halalkan. Mulai kereta api, bis, jalan kaki, sampai melata.

2. Ke Venice.
Faktor finansial memerlukan jual ginjal. Kita lupakan pilihan ini sampai masa yang tidak ditentukan.

3. Ke Indonesia.
Memang suasana gemerlap malam takbiran adalah sesuatu yang sulit dilewatkan. Tapi karena kulit kuning mata sipit perut gendut selalu jadi pusat perhatian saat malam takbiran, kami memutuskan untuk pergi ke tempat di mana kehadiran kami disikapi dengan lebih bersahabat.

4. Ke Hongkong.
Budget hampir sama dengan ke Thailand. Bahasa juga hampir sama. Maksudku, sama-sama gak ngerti.

Setelah mencapai musyawarah mufakat. Akhirnya pilihan jatuh ke Hongkong. Maka, perencanaan untuk perjalanan ke Hongkong dimulai sekitar tiga-empat minggu sebelum keberangkatan.

Suhu,
belajar bahasa Hongkong.


Berikutnya di kisah di balik hutan bambu.
Tips Merencanakan Perjalanan Panjang Gaya Panda.