Thursday, September 04, 2008

Resensi, Bukan Rangkuman

Resensi. Kata ini adalah kosa kata yang baru aku kenal saat kelas 2 eSeMPeh. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ringkasan dan rangkuman. Yang menjadikan resensi berbeda dari rangkuman dan ringkasan adalah resensi mengandung sisi personal penulis. Pendapat penulis mengenai suatu karya, yang tentu saja, sangat subyektif.

Rangkuman dan ringkasan, jelas berbeda. Rangkuman dan ringkasan tidak boleh memuat opini pribadi. Misalnya, rangkuman pelajaran Biologi kelas dua eSeMPeh yang ditulis oleh Yenny, dipinjam oleh Tono. Bagaimana reaksi Tono saat membaca rangkuman sebagai berikut. Dengan komentar Yenny dicetak miring.

Sistem reproduksi ayam berbeda dengan sistem reproduksi pada manusia. Secara
umum, unggas melakukan reproduksi dengan cara bertelur. Kecuali ayam
gang dolly, mereka merupakan mamalia menyusui.
Sel telur yang dibuahi
akan menjadi seekor anak ayam. Berarti sel telur yang diekori akan
menjadi sebuah anak ayam?


Rangkuman, bersikap faktual, tajam dan terpercaya. Oleh karena itu rangkuman sering juga disebut ringkasan. Lain halnya dengan Resensi. Resensi adalah hasil dari seseorang yang telah menikmat suatu karya untuk membagikan pendapatnya dengan orang-orang yang belum. Oleh karena itu resensi sering juga disebut ulasan.

Sering halnya, ulasan-ulasan ini dibuat sedemikian rupa sehingga penonton cukup mengerti jalan cerita secara garis besar agar supaya mengetahui terlebih dahulu apakah buku/felem/karya sastra yang bersangkutan kira-kira cocok dengan selera mereka. Di lain pihak, penulis tidak boleh memaparkan terlalu banyak sampai-sampai pembaca tidak perlu beli bukunya, nonton felemnya, atau datang ke pameran seninya.

Terlalu sedikit, susah dimengerti. Terlalu banyak (makasih arianto atas koreksinya), malah jadi spoiler.

Jadi, tanpa banyak cing-cong-pak-cong, mari kita mulai resensi, bukan rangkuman, felem animasi yang baru diputar di layar lebar. Judulnya Wall-E. Trailer-trailer dari felem ini selalu diputar dengan suara-suara digitized yang mengucapkan kata "Wa~~aall-E" dengan nada seperti perut Suhu di bulan puasa.

Seperti layaknya resensi, Wall-E akan di-review dengan sudut pandang seorang Suhu. Dan oleh sebab itu. Wall-E akan mendapat rating yang sangat tinggi, karena felem ini sangat dekat dengan hati penulis. Kenapa? Mari lanjutkan baca resensinya.

Wall-E, manusia terakhir di bumi, dan Eva



-Bumi, entah tahun berapa. Gersang dan tidak ada manusia.

Setiap pagi, robot dekil ini akan keluar dari kontainernya, memungut sampah-sampah, mengolahnya menjadi sebuah bongkahan sampah, *kluthuk.. Tadaa..*, dan membangunnya satu persatu sampai bongkahan tersebut menjadi tumpukan sampah. Bahkan Wall-E membuat bangunan sampah pencakar langit. Gedung-gedung tinggi yang terbuat dari sampah. And that's what future is all about. Pembangunan. Mohon maaf karena efek samping profesi, segala hal yang berkaitan dengan pembangunan dan konstruksi akan lebih mudah diterima di hati seorang Mandor.

Tidak berapa lama kemudian, sesuatu yang besar terjadi. Karena kalau tidak ada yang terjadi, semua penonton akan tertidur bosan melihat kegiatan sehari-hari Wall-E yang tidak semenarik hidup seorang mahasiswa tingkat akhir. Maaf, penulis tidak bisa membayangkan pekerjaan yang lebih membosankan daripada skripsi. Maka pada suatu hari, sebuah pesawat luar angkasa datang. *Ngiengggg, ciesss, gludhug gludhug*. Menurunkan seekor robot yang, seperti Najib dan Nokia, begitu kecil begitu cerdas.

Robot tersebut, setelah diteliti, bernama Eva. Dan sebuah hukum alam bahwa yang dekil dan suka membangun, punya ketertarikan natural pada yang putih dan jago menembak. Saya refer pada hubungan Wall-E dan Eva, sama sekali tidak ada unsur kebetulan dengan Suhu yang mandor dan tgwinmg yang kapten Air Rifle Club. Mereka berdua hidup sangat serasi, Wall-E menimbun dan Eva mencari. Wall-E mengubur dan Eva menggali. Wall-E membangun dan Eva merusak. Fenomena ini sangat wajar, mengingat wanita sangat suka kekerasan. Wall-E mengasihi dan Eva pemberani. Di mata Wall-E, Eva sangat tinggi dan di mata Eva, Wall-E sadar diri.

Lalu sampai suatu hari Eva menjumpai apa yang dicari-cari nya dalam misi ke bumi. Sebuah bukti bahwa bumi bisa ditinggali. Sebuah tanaman. Jancok, canggih-canggih nggae robot gae nggolek suket, sempel. Diambilnya sampel tanaman itu, dan pesawat luar angkasa yang ada di awal cerita tadi menjemput Eva. Wall-E yang tidak rela teman barunya diambil, ikut membonceng pesawat raksasa itu.

Dan sampailah Wall-E ke sebuah pesawat induk yang memuat banyak orang-orang gendut. See, this is exactly why I love this movie. Semua orang ditampilkan gendut, membuat orang gendut merasa normal. Eva akan dikirim ke inti pesawat untuk menerima laporan bahwa bumi siap ditinggali. Dan manusia, ya orang-orang gendut itu tadi, akan kembali ke bumi untuk hidup seperti layaknya sedia kala.

Sayang sungguh sayang, cerita tinggal cerita ketika Artificial Intelligence pesawat induk tadi menghentikan usaha pesawat ini untuk balik haluan ke arah bumi. Karena jika manusia kembali ke bumi, mereka tidak akan berguna lagi. Terjadilah pertarungan akbar antara Wall-E, Eva, beserta jutaan umat manusia di dalam pesawat induk, melawan Artificial Intelligence yang menjadi pilot otomatis pesawat induk tersebut di atas.

Dalam sekuel cinta dan felem laga ini, ada sebuah robot kecil yang bertugas mengidentifikasi foreign object. Foreign object berupa kotoran jejak roda mesin Wall-E. Robot kecil ini mengidentifikasi foreign object untuk benda apa pun yang masuk kategori dirt dan mengumpulkan sampel foreign object itu [baca:bersih-bersih]. Ya, rasanya seperti punya flatmate kecil putih yang punya hobi bersih-bersih.

Bagaimana akhir dari kisah perjuangan umat manusia yang ingin kembali ke bumi? Apakah akhirnya manusia berhasil melestarikan bumi dan menumbuhkan tanaman yang berbuah pizza? Yang pasti, felem animasi ini sangat dianjurkan untuk ditonton umat manusia yang mungkin sudah mulai lupa pentingnya menjaga kelestarian alam.

Seperti felem anak-anak lainnya, akhirnya happy ending. Pesawatnya mendarat di bumi.

Bagaimana? Terlalu banyak? Terlalu banyak, ya nggak apa-apa. Memang Suhu suka spoiler koq.

Suhu,
krucug krucug Waa~~alll-E.

6 comments:

J said...

"Terlalu sedikit, susah dimengerti. Terlalu sedikit, malah jadi spoiler."

.. kok aku ngerasa ada salah ketik yah di bagian ituh.. :p

suhu said...

#j:
hiyah... baru juga diganti ... uda ada yang ngomen ... teliti pembaca2ku. kalian semua bakat jadi arsitek. njlimet dan kritis.

dina.. said...

:D

dindin uda nonton dari sebelom liburan hu

romantis ya,
cinta tak perlu kata-kata =P

konnyaku said...

udah nonton kungfu panda?

suhu said...

#dindin:
benul. cinta perlu modal.

#konnyaku:
udah. mau diresensi juga, tapi mengingat suhu nontonnya terakhir dibandingkan umat manusia seluruh dunia, nggak jadi.

Anonymous said...

Lovely tajam posting. Tidak pernah berpikir bahwa itu adalah ini mudah. Extolment untuk Anda!