Tuesday, August 12, 2008

You are Not Alone (6) - Kekecewaan Sebuah Harapan

Mandor itu tampak terengah-engah. Bukan dalam konteks erotis. Sudah lama orang-orang di sekitar SLTP Sukamaju tidak melihat pemandangan seekor Panda berlari tunggang langgang karena terlambat kerja. Maklum, hari-hari sebelumnya, telat pun Mandor jagoan ini masih nyantai mumbai dah.

Anehnya sejak hari itu, Mandor kembali giat bekerja. Meskipun gajinya masih melempem seperti dulu. Tapi bagaimanapun juga, insentif dari Mister Hok benar-benar menambah semangat hidupnya. Rekomendasi dari atasan untuk apresiasi lebih lanjut. Terdengar seperti uang. Memimpin apel pagi tepat waktu, berteriak membahana, dan memastikan produktivitas lapangan mencapai garis optimal.

Dan nampaknya dia tidak sendiri. Calvin, si dewa mabuk, juga sudah nampak berkeringat di pagi hari yang sejuk ini. Embun pagi belum habis menetes, Tantan sudah memarahi sekumpulan worker yang telat datang apel pagi. Dengan gesit Mandor, asisten Mandor, dan rekan kerjanya, menata rapi gambar-gambar teknik yang akan dibangun dalam waktu dekat, dan mematangkan planning. Dan tanpa ragu-ragu Mandor membuat keputusan kontroversial nan bijaksana. Misalnya, menjadwalkan ngecor tiga hari tiga malam.

Suhu yang sekarang masih sakit hati atas permasalahan yang dulu. Yang itu, kerja seperti kuda gaji seperti babi. Tapi somehow dalam hati kecilnya dia yakin. Sangat yakin. Naik gaji sudah dekat. Terasa lebih dekat dari kerajaan surga. Tantan, yang anak istrinya sudah di Singapura, juga menggenjot hasil kerjanya. Terkadang masih sering pulang lembur meskipun bekerja lebih tak berarti tambah rezeki.

Siang itu, saat jam makan siang sudah hampir habis. Suhu baru tiba di meja favoritnya. Meja pojokan dengan kursi panjang yang bisa dibuat bobok selonjoran. Biasanya Mandor tidur di sana untuk mengisi enerji setelah kegiatan ngecor tiada akhir. Meja itu juga favorit para staff jajaran manajemen ke atas. Alasannya simpel, dari sana kamu bisa melihat semua orang, tapi tidak semua orang bisa melihat kamu.

Rupanya sudah ada orang menempati satu sisi meja itu. Mister Hok. Menejer proyek yang tampak bengis tapi baik hatinya. Suhu segera bergabung dan meletakkan piring di depan piring nya.

Makan, Bos.
Eh! Ya, ya, makan. Baru makan?
Iya, baru nge-set surveyor line, biar nanti tukang kayu bisa nerusin kerja setelah makan. Kemarin nge-set agak meleset, soalnya kemarin sekitar jam tujuh udah gelap.
Wah, kemarin kamu pulang jam tujuh?
Nggak. Selesai nge-set surveyor line jam tujuh. Habis itu ke kantor ngerjain paperwork ini itu sampai jam sembilan. Terus merasa kantor sangat sepi dan mengingat para worker akan berubah menjadi makhluk haus birahi di malam bulan purnama, buru-buru pulang, lanjutin besok pagi.
Wah, luar biasa. Eh btw, Faifai barusan datang.
Oh ya? Saya tidak tahu.
Iya, di depan aja. Nggak sampai masuk ke kantor. Terus, aku sudah bilang juga. Tanpa kalian, aku juga tidak bisa melakukan semuanya sendiri.
Melakukan apa, Pak?
Semuanya. Aku bilang kalau kamu sudah maju pesat sejak pertama kali bergabung dengan PT Bangun Subangkit. Begitu pula dengan Calvin. Dia sudah banyak mengerti tentang building services proyek ini. Juga Tantan, pekerjaan yang diberikan ke dia selalu selesai tepat waktu dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Oleh sebab itu aku merekomendasikan naik gaji untuk kalian bertiga.
Saya tidak tahu harus berkata apa, Pak.
Terima kasih?
Iya deh. Terima kasih.

Tentunya mendengar pernyataan seperti itu, membuat seseorang tidak bisa makan dengan enak. Makan apapun rasanya tawar. Mendengar berita bahwa atasanmu merekomendasikanmu ke boss besar, rasanya kira-kira seperti disambar petir. Mungkin sedikit tidak sama. Konon kata orang, tersambar petir bisa bikin orang tidak enak badan.

Tiga hari kemudian. Di ruangan menejer.

Ya, saya tidak ada keberatan dengan rencana kamu. Kamu jalankan saja sesuai yang barusan kamu bilang. Biar saya yang atur booking machinery nya.
Oke, Pak. Tapi saya ada sedikit kendala di sini. Begini ceritanya.
Maaf mister Hok. Maaf mister Adi.
Ya, ada apa? Kami sedang dalam diskusi.
Saya ingin berterima kasih. Barusan mister Faifai bilang ke saya. Gaji saya dinaikkan terhitung bulan depan. Saya percaya ini karena rekomendasi Mister Hok dan Mister Adi.
Oh oke.
Mister Adi?
It's O K.

Rama, salah seorang Safety Supervisor PT Bangun Subangkit. Meninggalkan ruangan menejer dengan hati berbunga-bunga. Meninggalkan mandor dan menejer nya yang berpandangan bingung. Dua orang tersebut di atas saling bertanya "Kamu yang merekomendasikan?" dalam waktu nyaris bersamaan. Dan menggeleng bersamaan. Dan saat mereka keluar dari kantor. Mereka tahu, bahwa Tantan dan Calvin juga sudah tahu.

Suhu,
arti sebuah kekecewaan.

4 comments:

doramimiauw said...

kpn episode naik gajinya hu? huhu~~
semoga tdk lama lagi...

FaNNy said...

Aku ga ngerti Hu.. jadi ceritanya kamu semua dikasih harapan semu gitu?

Reza de Bhro said...

Berpikir keras arti dari semua tulisan diatas.

suhu said...

#doramimiauw:
ga jago bikin cerita bersambung. jagonya bikin cerita bergantung. episode depan tamatin ah. Tanpa ending yang jelas, tentunya.

#fanny:
kalau ga ngerti gpp fan. kamu gak sendiri. bhro juga berpikir keras.

#bhro:
kalau mahasiswa berpikir keras sih boleh bhro. kalau suda sarjana, reaksinya harusnya menyesali pilihan hidup atau menertawakan diri sendiri.