Thursday, July 03, 2008

You are not Alone (1) - The Unhappy People

Suhu, seorang mandor berkewarganegaraan Indonesia, bekerja di Kontraktor Bangunan bernama PT Bangun Subangkit. Dia melangkahkan sepatunya yang terasa berat ke arah meja nya di kantor. Menghempaskan berat badannya yang tidak ringan, ke arah kursi kantor yang disusul bunyi "GUBRAK" "KRIYEETT" tanda menyerah.

Asistennya, Tantan, juga duduk selonjoran di kantor sambil memainkan HaPe N73 nya yang canggih. Sambil setengah berbasa-basi, dia berkata pada atasannya. Tak lain tak bukan, si Mandor jagoan.

"mister adi ... happy or not"
"happy lan ciao .... kerja seperti kuda gaji seperti babi how to happy"
"hahaha lan ciao happy ah? I no happy mister adi, lan ciao also no happy"

Sambil membungkuk melepaskan safety boots nya, Suhu hanya tersenyum. Bagaimana bisa menghadapi asistennya yang tidak bahagia dalam melakukan pekerjaannya. Bagaimana caranya. Jika dia sendiri juga mengalami masalah yang sama. Tidak gembira dalam menjalankan pekerjaannya. Mandor memikirkannya dalam-dalam lalu melenturkan tulang punggungnya dari posisi membengkuk.

WHOA JANCOK! ngapain kamu tiba-tiba di depan ku?
sori mister adi. i want talk you about something. you free not?
Aiyah you ah. working time no talk. Now makan time people want to sleep you talk. kanina you. Simi problem?

Asisten mandor membungkuk. Setengah berbisik. Dia menatap mandor mesra lalu mandor menamparnya. Dia berkata kepada mandor.

Now money no enough. Can I borrow money?"
Can. not.

Mungkin untuk sebagian besar pembaca, hal ini terdengar keji dan tidak berperasaan. Tapi kalau setiap orang yang pinjam uang diberi, maka blog ini akan cepat ditutup karena penulisnya mati kelaparan dan punah. Okeh. Okeh. Stop stop dulu ibu ibu yang mau mendemo saya atas hak asasi manusia.

"Tapi paling tidak kamu harus mendengarkan dulu alasan mereka! Siapa tahu mereka benar-benar butuh uang itu!" *demikian teriak salah satu ibu-ibu LSM yang melindungi hak-hak buruh.*


Tidur terlelap sambil mengusir sayup-sayup suara ibu-ibu LSM.

Mandor tidak mempedulikan suara-suara kecil di dalam mimpinya. Aku digaji untuk membangun, bukan untuk mendengarkan "keluargaku sakit, orang tua ku meninggal, dan tetanggaku sakit kusta". Dan kalau orang di posisiku harus mendengarkan penjelasan setiap orang yang mau pinjam uang. Antriannya bisa panjang. Dan menyelesaikan sesi konsultasi ini bisa menempuh jangka waktu yang mengganggu jam kerja. Bahkan, siapa tahu, sebelum antrean ini habis, presiden negara kita sudah ganti lagi. Betewe, sekarang masih esbeye kan?

Sore itu, sepulang kerja, si Mandor jagoan memanggil asistennya.

Heh, take take. Here one hundred.
Hah?
Pay fifty next month. Fifty next next month.
Oh ok. Maybe can pay thirty three next month. Thirty three next month. Thirty three next next next month?
Then my one dollar go where?
Here. *memberikan satu dolar*

Mereka berjalan searah. Lalu karena kebetulan yang indah, asisten mandor ini juga sendirian dan tidak ada yang menunggu makan bersama di rumah. Akhirnya, Mandor dan asisten mandor ini live happily ever after dinner bersama.

mister adi, you want to order beer?
i want, but money no have. All wallet inside give you already.
I have one hundred dollar. From you.
Ok lah I borrow you lah. Heineken.

Kami pun hanyut dalam perbincangan. Tentang pekerjaan, itu pasti. Namun perlahan tapi pasti, topik pembicaraan itu berubah ke arah yang lebih sensitif. Finansial. Asistenku bercerita. Dia baru mendapat PR [Permanent Resident, bukan Pekerjaan Rumah] bulan lalu. Sekarang dia hendak menarik anak istrinya ke Singapore. Bayinya yang baru berusia 10 bulan, dan istrinya yang sibuk menjaga bayi, hanya akan menjadi beban di bidang finansial. Terlepas dari kebahagiaan hidup berkeluarga yang tak ternilai, tentunya. Tapi sayangnya, bayi tidak hidup hanya dari cinta dan udara segar.

Asistenku, menjelaskanku tentang biaya-biaya pampers dan bubur bayi, dan mengutarakan niatnya untuk menjual HaPe N73 nya kepadaku. Karena semua orang tahu HaPe ku bosok. Semua tahu ini bukan solusi. Pinjam uang hanya solusi sesaat. Jual HaPe hanya solusi sesaat. Harus ada solusi jangka panjang untuk masalah finansial ini. Hanya ada satu jalan keluar. Jual diri dan menjaja cinta di Geylang. Naik gaji.

Perlu dicamkan bahwa, sejak naik gaji terakhir di tahun lalu, Mandor belum pernah naik gaji lagi. Mereka menenggak bir itu perlahan. Gadis cina itu tersenyum manis sambil menuangkan bir habis ke gelas mereka berdua. Tiap botol yang dia kembalikan ke counter, dia mendapat komisi sekian puluh sen, senyumnya telah ternodai nafsu duniawi. Kecintaan akan materi.

Hai yau ma?
Pu yao la. Kou liao.
Money no enough how to drink many many.

Sosok familiar berseragam biru itu menepuk pundak gadis cina yang meringkas botol-botol bir kosong. Dia duduk bergabung dengan Mandor dan asistennya. Lalu menengadah ke gadis yang masih terheran-heran apa sebaiknya menampar atau panggil polisi.

One more cup. Two more bottle. Thank you.

Gadis itu pun tersenyum. Entah apa yang ada di pikirannya. Dan gadis itu berlalu melupakan niatnya untuk menampar Calvin yang menyesal kenapa tidak sekalian colek-colek tadi, toh gak ditabok. Dia adalah salah satu engineer yang bekerja di proyek ini. Cuma bedanya dia mengurus services seperti layan antar makan siang dan panti pijat tunanetra listrik, air, dan infrastruktur.

Tertegun kami melihatnya datang basah kuyub karena keringat. Memang kita melihat dia bekerja keras hari ini. Pipanya kita ledakkan lagi hari ini karena gaji kita kurang. Dia yang paling tua di antara kita bertiga. Berusia tiga puluh tahun lebih, tidak menikah, dan lulusan S2 Ninja Turtles University. Setelah melalui pergejolakan politik di Myanmar yang membuatnya menempuh S1 bertahun-tahun.

At least you both up salary one time already. I one time also never up. This feeling you don't know. Maybe you are now in trouble. But at least, you are not alone. I'm alone. The only one never up salary.

Sedikit yang Calvin tahu tentang masalah kita. Calvin punya masalahnya sendiri. Pipanya akan kita ledakkan lagi besok. Tantan, asisten mandor, punya masalah sendiri. Dan aku, Mandor jagoan, punya masalah yang lebih besar. Karena dalam masalah ini, aku sendiri.

Mereka bertiga menenggak Heineken itu dan mulai tertawa ketika melihat Calvin gagal menyeimbangkan dompet yang ditaruh di atas jidatnya. Ya, peristiwa ini biasanya terjadi setelah botol kesepuluh kering kerontang. Sementara Tantan melihat dua lembar biru yang dipinjamnya barusan berubah menjadi warna ungu. Setelah sebelumnya warna lembaran biru perlahan menjadi merah kemudian hijau.

You are not alone. You are not alone. You are not alone. Am I. We're just lonely together. Lonely in our own problem each had. You are not alone.

Suhu,
how I wish the sentence got the truth in it.

7 comments:

dina.. said...

suhu tidak seperti yang dulu..

*kehilangan sosok kungfu panda*

konnyaku said...

hu, kali ini aku simpati :(

INdah.pUspita said...

humm..

tapi dari sekian masalah di dunia.

Yang paling gk enak itu ya itu.. SENDIRI..

Ddee said...

hahaha..gue penasaran neh...
itu beneran yah converse pake english bgtu? hehehe

suhu said...

#dina:
sosok kungfu panda hanya bisa didapat di kemudian hari saat uang hasil kerja suhu sebagai mandor cukup untuk modal buka warung bakmi.

#konnyaku:
aku XL. Siapa mentari?

#indah:
setuju.

#ddee:
hahaha 'english'. I've forgotten that word. Di sini semua ngomongnya kayak gitu. I don't have the luxury of having working environment with stewardess' grammar. eniwei, bagaimana cuaca di atas?

Ddee said...

Eits...jangan salah. Ketika menghadapi penumpang yah kita 'berusaha' memakai bahasa Inggris yg baik dan benar... di belakang mereka..haha, semua bahasa juga out!

Ga kok...cuma beneran lucu (in a good way) aja conversationnya hehe

wah...lagi down ya Hu?

suhu said...

#ddee:
haha... semua bahasa out. Aku flabbergasted, dee. Kalian JUGA pakai bahasa Tarzan? Seperti kami?