Wednesday, July 02, 2008

Construction Worker, Hinakah?

Peluh menetes dengan deras dari kening mandor itu. Terik matahari yang menyiksanya membuat langkahnya semakin perlahan seolah tak kuat lagi. Kondisi fisiknya benar-benar diuji hari itu. Sebenarnya bukan hanya hari itu ia mengalaminya. Hari kemarin, hari kemarinnya lagi, hari esok, dan esoknya lagi. Matahari yang sama akan menyapanya di pagi hari. Menghajarnya di siang hari. Dan menantikannya di malam hari untuk di hajar lagi di keesokan hari.



Dia meniti tangga dengan tempo yang pelan tapi pasti. Bukan karena dia tua tak berdaya tapi karena dia meneliti dengan saksama. Satu saja guratan kasar sarang lebah karena kelalaian pekerja saat mengecor, bisa merubah mood-nya dua ratus tujuh puluh derajat. Jika permukaan kulit cor tidak semulus pantat bayi, sudah jelas ada yang akan menerima omelan. Omelan mandor yang mereka kenal dengan sebutan musik-pagi-hari.

Perlahan mandor ke tengah lapangan. Naik ke atas platform bagaikan mimbar upacaranya.

Good morning, ladies!
Good morning!!
I CANT HEAR YOU! GOOD MORNING LADIES!"
GOOD MORNING!!
That's much better. Do you know why you are here today?
To work!
Good. Anyone else?
For money!
Okay. Some more?
For family!
Very good man. Who else?
For SINGAPORE!

Semua pasang mata menuju ke arah dari mana suara itu berasal. Keesokan harinya pekerja itu dipecat.

Okeh. Cerita di atas hanya fiktif belaka. Kecuali dua paragraf pertama, itu nyata. [Bukti disertakan berupa foto]. Bisa dibilang lebih dari lapan puluh persen penggerak pembangunan di proyek ini adalah foreigner. Bekerja sebagai tenaga ahli sampai dengan tenaga kasar, semuanya foreigner. Kami membangun negara Singapura sementara negeri sendiri tertinggal. Memang benar kata pepatah, mata uang negara tetangga selalu lebih hijau.

India, Cina Daratan, Bangladesh, Malaysia, Myanmar, dan tak terkecuali Indonesia. Semua masih memegang paspor negara masing-masing. Mengembangkan sektor pembangunan yang adalah akar dari semua pertumbuhan suatu negara.

Mau mengembangkan sektor pendidikan, perlu membangun sekolah. Mau memajukan transportasi, perlu membangun jalan dan rel kereta api, landasan pacu pesawat terbang, dan pelabuhan. Mau memajukan perdagangan, perlu orang cina perlu membangun gedung-gedung perkantoran. Mau menyeimbangkan sisi kesehatan spiritual, perlu membangun tempat ibadah. Mau memajukan pertahanan dan keamanan, perlu membangun barak dan training ground.

Ironisnya, acap kali, pekerja bangunan alias Construction Worker sering dianggap kelas manusia pekerja yang paling hina. Entah karena pekerjaan ini dianggap kotor, kasar, hina?, tak bernilai. Aku masih ingat, waktu aku eS De, pekerjaan yang selalu dijadikan olok-olokan di sekolah adalah Pasukan Kuning. Penarik gerobak sampah kuning berseragam kuning-kuning. Di Singapore, juara satu pekerjaan paling dipandang rendah adalah Construction Worker.

Tanya kenapa?

Tidak hanya pekerja nya. Tapi juga engineer nya. Mandornya. Sebagai salah seorang staff lapangan. Tidak jarang Suhu mendapat pandangan cemooh. Kadang dari Konsultan. *Woi, jembatan marina itu aku yang ngitung.* Kadang dari Arsitek. *Yang membuat mereka semakin mudah untuk dicintai.* Kadang dari orang-orang di dalam MRT dan bus yang melihat sepatu safety boots bercipratan beton.

Kadang dari teman sendiri.

"Ya kan Mandor profesi yang dipandang rendah sama mereka."

Bahkan teman-teman yang cendekia, kebanyakan lulusan Ninja Turtles University, kadang bertanya. "Jadi kamu di lapangan itu kerja sama bangla-bangla gitu dong hu?"

Tentu di balik pertanyaan itu ada rasa merendahkan, walaupun sedikit. Tapi tak mengapa, itu lah jalan yang kutempuh.

Mandor itu berjalan perlahan ke atas mimbar. Dan mulai bersenandung. Dalam siulnya mengalun nada. Dalam batinnya dia berkata. "Kalau bukan kita, siapa lagi?"

Yeah, this one’s for the workers who toil night and day
By hand and by brain to earn your pay
Who for centuries long past for no more than your bread
Have bled for this country and counted your dead

We’re the first ones to starve the first ones to die
The first ones in line for that pie-in-the-sky
And always the last when the cream is shared out



Suhu,
mulai berpikir untuk mengakhiri karir sebagai mandor.

12 comments:

doramimiauw said...

pertamax!!!!
alah, yg penting kerjaan halal, terpuaskan secara materi & spiritual toh, tak perlu lah gundah gulana semata-mata karena masalah anggapan orang...

wiydiy said...

suhuu,
semangattt!

buat apa peduli sama omongan orang lain yang sebenernya mereka nggak ngerti?
yakaaaan.


yang pernting kerjaanmu halal, hu..
=D


semangat semangat semangatttt!

konnyaku said...

aku kan termasuk salah satu orang yang perhatian sama mandor, buktinya setiap kali aku selalu nanya, "ga ngecor hu?" :p

nCy . vLa said...

trus mau jadi apa hu?

dina.. said...

dianggap hina?

kalo saya mah takut..huhuhu..
bukan karena mereka kerja bangunan hu, tapi karena melototnya ga kira-kira..
*mengetes dengan duduk di pojokan, bertetangga tembok dan masih dipelototin*

coba mereka semua seperti pak mandornya,
baik hati, baik budi,jagoan kungfu, bintang film pula :Db

mingmingkawaii said...

hu, kalo aku liat construction workers, aku malah kasihan, karena aku tau kerjaannya berat and very important, tapi kok kurang dihargai ama orang2. But I respect them =)
dan aku salut ama kmu yg berani maju dan beda dari yang laen, seems like you really know what you want and don't care about what others say. Jadi, kalo emang kepikiran mo ganti kerjaan, as long as you really want it, do it. Jgn hanya gara2 omongan org yg aneh2 y =)

Jiayou~!

suhu said...

#doramimiauw:
itu yang penting miauw. "terpuaskan secara materi." Itu yang kurang di sini. Itu dia. Nah. Itu dia.

#wiydiy:
oooshhh semangat! seperti kata pepatah. "yang ngomong yang nggak ngerti, yang ngerti yang nggak ngomong."

#konnyaku:
iyah, kamu jadi kayak bos ku deh la. "ga ngecor? kenapa ga ngecor? kamu tahu kita baru dapat duit kalo ngecor? kenapa belum siap cor?"

#ncy.vla:
masi mempertimbangkan sih, ncy. soalnya karirku sebagai binatang eh... bintang felem kan mulai menanjak.

#dina:
sudah din, hentikan. terbang lho aku nanti.

#ming:
kalau lihat construction worker, aku mengasihani diriku sendiri. gimana hayo?

PHY said...

semangat, Hu! meski memang pekerjaannya rendahan, kotor2an, tidak elit, tapi tetap semangat, Hu!

*paragraf di atas itu pujian bukan, ya? kaburrrr....

tapi jujur, agak getir nih tulisannya. sendu sendu ngakak gitu deh..

Gita Arimanda said...

Aku sering miris kalo liat bangla2 gitu. Perasaan campur aduk.

Satu, yang jelas: TAKUT. Karena mereka seharian nggak pernah ketemu cewek di tempat kerja, kalo liat cewek nggak ketulungan. Mata mereka kalo nyorot dari ujung kepala ampe ujung kaki balik ke ujung kepala lagi, setajam sinar X, membuatmu merasa seperti transparan.

Dua: kesian.
Mereka disini digaji berapa sih hu per bulan?

suhu said...

#phy:
*manggil bangla2* "FINISH HIM"

#gita:
satu:hahahaha transparan.bukannya membuatmu serasa memakai baju transparan? kalo membuatmu seperti transparan kan kayak fantastic four.
dua:lebih dari yang kamu kira. mereka ngirim ke rumah lebih banyak daripada aku ngirim ke rumah. skilled worker gajinya lebih tinggi dari fresh graduate Ninja Turtles University. modaroooo.

INdah.pUspita said...

yahh hu...

yang penting mah kerjaa.. dapet duit..

kerja yang bener dan gak merugikan orang...


yang hina itu.. pekerjaan : STUDENT!!
masa' pusing2 tapi masih bayar jugaa.. takut ama bos lagi.. *bos=lecturer*

=P



*p.s
udah lama ya hu gak comment.. ;],, suhu apa kabar?? kemaren pelemnya kayaknya laku keras ya hu.. [kungfu panda] =P*

suhu said...

#indah:
Jadi student susah, ndah? Hahahaha. Huahahaha. Muhahahaha.

*speechless*

Muhahahahaha.