Wednesday, July 23, 2008

You are not Alone (4) - To be Happy is Your Choice

Pagi itu, Mandor baru berangkat dari pintu rumahnya jam delapan pagi. Padahal itu adalah jam resminya masuk kantor. Memang ini bukan pertama kalinya dia berlaku demikian. Untuk hal-hal perkecualian, seperti ngecor semalam suntuk, di keesokan harinya staff yang ngecor memang -secara tidak formal- diizinkan datang terlambat. Hal ini sangat lumrah, karena acara ngecor sampai jam tiga pagi disambung masuk kerja jam delapan yang dilakukan berulang-ulang bisa berakibat meninggal sebelum dipanggil yang kuasa.

Tapi kali ini berbeda. Dia berangkat jam delapan, yang berarti akan sampai kantor, lebih dari jam delapan. Padahal kemarin malamnya, dia tidak ada jadwal ngecor. Tidak pula ada jadwal inspeksi malam hari. Lebih tepatnya, dia tidak di lapangan malam itu. Dia sudah pergi meninggalkan kantor jauh lebih cepat daripada matahari kembali ke singgasananya. Pukul lima tepat dia berkemas dan meninggalkan kantor.

Lalu pergi menemui teman-temannya. Orang-orang yang lama tidak dia jumpai karena kesibukan kerja selama ini. Teman-teman zaman kuliah. Para pejuang cinta DotA. Sebagai seorang warga negara Indonesia tapi masih Cina, perjumpaan ini selalu disertai aktivitas menyuapi raga. Makan bersama sambil kongkow kongkow. Karena menurut peribahasa Cina, tidak baik untuk "gong sui yok yu tan po guan". Yang artinya, jagongan suwi boyok nganthi kiyu nanging tanpo suguhan.

lung reng ya yu be ju yang ou ru an - lungguh bareng ngguya ngguyu ngombe njuk goyang ora karuan

Banyak hal yang Suhu lakukan dalam masa-masa unmotivated. Suhu meluangkan waktu untuk lunch dengan para Makhluk Ajaib. Menghapus rasa penat dengan nonton bioskop yang judulnya lucu. Hahaha, masak pisuhan Jawa dibuat judul felem, Hancok. Supper dengan warga Choa Chu Kang yang baru, Welly si Mandor Blajaran. Reuni kecil-kecilan bersama dengan teman-teman yang kecil. Iya, kecil. Ari, Ainun, Gitta, reuni kecil-kecilan. "Hayooo siapa yang paling kecil, ayo kecil-kecilan!"

Ainun kecil, Gitta kecil, Nurman nguknguk, Ari kecil, Apong psikopat, Meme gak waras, dan Vidy Pak Har, dalam acara reuni kecil-kecilan



Memang benar kata orang. Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dari materi. Tapi biasanya berbanding lurus. Meskipun gaji kecil tak terurus, pekerjaan berat sampai bikin kurus, tapi kita bisa saja adalah orang kaya. Karena adanya warisan dari orang tua Orang yang paling kaya adalah orang yang paling pandai bersyukur.

Jadilah Suhu kembali seorang warga hutan bambu yang bahagia. Menjalani hidup dengan menatap langit serta merta tangan menengadah bergembira. Karena mulai hari itu, Suhu memilih untuk happy. Pulang awal, main online game MapleStory. Tidur larut malam, chatting sama kawan. Tidur tanpa pasang weker. Bangun pelan-pelan. Masih ngantuk tidur lagi. Masuk kerja seperti masuk kuliah. Laid back life style, meminjam istilah Andreas Lee.

Yah kalau gitu kerja asal-asalan dong?

Terserah mau dipandang seperti apa. Tapi Suhu sekarang bekerja selayaknya. Tidak memberikan additional service pada PT Bangun Subangkit. Bekerja sesuai kontrak. Pagi bangun minum susu terlalu pagi, tunggu sampai pas jam kerja baru masuk kantor. Sore hari, pekerjaan belum kelar, jam kerja usai, selesaikan besok pagi. Sekitar jam empat mau mulai ngecor, kemungkinan besar kalau mulai, bisa selesai jam tujuh malam ke atas, batalkan. Ganti besok pagi.

Berarti pemalas dong, tidak mau menyelesaikan pekerjaan dan menunda-nunda pekerjaan. Mau dibilang pemalas, mau dibilang pemabuk, terserah orang yang bilang. Tapi, to be happy, it's my choice.

Ke mana kah Suhu yang gila kerja, selalu berusaha ngecor wherever whenever possible? Kenapa tiba-tiba berubah menjadi orang yang "apa-katanya-nanti"? Tentu hal-hal mendasar seperti ini tidak berubah dalam semalam. Perlahan tapi pasti, hal-hal yang disebutkan di posting-posting sebelumnya, terus mempengaruhi perubahan karakter Suhu. Perubahan ini juga sempat ditanyakan oleh seorang kawan kepada kawan yang lain. "Itu suhu gpp?" dengan nada "Ituh .. ituh .. rumet wa .. ga pa pa ituh?" yang diucapkan seorang freshman yang dapat kabar sekamar sama preman.

Memang benar kalau lingkungan mempengaruhi character development seseorang. Dan dalam kurun waktu satu tahun terakhir, inilah orang-orang yang berada di lingkungan Suhu. Memperkenalkan. Staff PT Bangun Subangkit.

Martinez Joselito Rodriguez, mengaku masih saudara dengan Marcopolo yang pemberani dan tangguh

Asisten Mandor. Namanya Martin, dia berasal dari Filipin. Contrary to what others might think, Martin tidak bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Bahkan hingga saat ini dia masih kesulitan berkomunikasi dengan kunci Inggris. Berlatar belakang pengalaman kerja lima tahun di negeri Aroyo, dia menjadi asisten Mandor divisi Arsitektural. Masih single, usia dua puluh delapan tahun sering mengaku dua puluh satu dan tidak ketahuan. Mempunyai banyak ide yang menarik, tapi yang masuk akal jarang. Tanpa sebab yang jelas, Martin SELALU, saya ulangi, SELALU kehabisan uang di minggu terakhir sebelum gajian berikutnya. Ngutang koq dibikin hobi.

Tan Tan Oo, kepala rumah tangga yang sering sakit kepala

Asisten Mandor bagian struktur, Tantan. Berasal dari Myanmar. Istri dan anak nya sekarang ada di Singapura. Karena bayi tidak kenyang dari cinta, hampir setiap hari dia mengeluh ke teman-teman sekantornya mengenai masalah finansialnya. Peminjam uang langganan ke Bank Mandor, loan tanpa bunga dengan iming-iming janji nanti Suhu akan dijadikan Bapak Babtis bayinya. Pecinta handphone ini akhirnya menjual Handphone mutakhirnya demi mencukupi kebutuhan hidup anaknya.

Calvin, diduga satu-satunya mesin pemikir dengan bahan bakar bir

Calvin. Seorang engineer lulusan Master Degree di Ninja Turtles University, bertanggung jawab atas services di proyek. Senantiasa berwajah cemberut di kantor, dan seperti Budha tersenyum saat minum bir di Hawker Center. Sole breadwinner dari keluarga dengan lima bersaudara. Tekanan hidupnya sangat berat sehingga hanya bisa diselesaikan dengan merampok bank bantuan minuman beralkohol. Salah satu radar utama Staff PT Bangun Subangkit untuk mengecek hari gajian. Jika hari ini Calvin jalan ke kantor sempoyongan, berarti kemarin baru gajian.

Foto-foto tersebut diambil di saat jam kerja, pada era di mana Suhu menulis artikel ini. Kini kamu tahu, apa yang dimaksud Lost Motivation. Dan yang pasti, kamu paham arti, To be Happy is Your Choice.

Suhu,
to be or not to be.

Thursday, July 17, 2008

You Are not Alone (3) - The Lost Motivation

Setiap makhluk hidup mengenal reward system. Lumba-lumba di sirkus. Setelah berhasil melakukan atraksi yang mengagumkan, mereka diberi makan. Anjing yang lari mengejar frisbee, setelah berhasil menangkapnya dan mengembalikan ke majikan, diberi tepukan dan elusan di punggungnya. Demikian contohnya pada hewan-hewan tersebut di atas. Bagaimana dengan manusia?

Primata modern ini juga sama. Bekerja membanting tulang menguras keringat untuk apa? Untuk reward. Tidak selalu berupa uang. Bisa juga berupa mobil, rumah, dan surat berharga. Reward tidak hanya selalu berupa materi. Tapi bisa juga berupa pengakuan. Atau rasa puas akan pencapaian yang muncul dari dalam diri sendiri.

Yang jadi pertanyaan adalah. Apa yang terjadi kalau reward itu tidak lagi menarik di mata pemburu reward ini?

Di bawah sadar, reward system ini adalah faktor terkuat yang memacu produksi. Dengan kata lain, motivasi. Sebagai seorang Mandor di lapangan kekuasaan PT Bangun Subangkit, Panda Tambun tidak hanya memerintahkan para bawahannya untuk bekerja. Panda Tambun juga mengamati, observasi sosial. Tiap pekerja punya sistem gaji yang berbeda. Ada yang digaji per jam. Dan ada yang di gaji per work done.

Yang digaji perjam, hasil pekerjaannya relatif rapi jali dan tertata manis. Tapi sedikit sekali. Sedangkan yang digaji per work done, selesai luar biasa banyak. Tapi mencang-mencong. Tugas seorang mandor adalah mecutin orang-orang tipe pertama karena terlalu lambat, dan mecutin orang-orang kedua karena hasil kerjanya jelek. Tidak ada dalam job description saya, mecutin miyabi.

Dalam hal ini, aku, alias Mandor. Bertugas sebagai pemberi motivasi. Cuma karena aku kurang pandai dalam reward system, lapangan mempergunakan punishment system di mana aku lebih mahir dan menguasai. Perbedaan utama reward system dengan punishment system adalah sebagai berikut. Reward system berarti tidak dikerjakan tidak apa-apa, kalau dikerjakan berarti kamu dapat hadiah. Punishment system berarti dikerjakan tidak apa-apa, tidak dikerjakan dapat hukuman. Susah dimengerti? Coba tanya kawan muslim anda tentang definisi sunnah dan makruh, haram dan wajib.


Menjelaskan perbedaan reward system dan punishment system ke orang-orang ytem


Setelah mengenal sistem ini lebih mendalam, pertanyaan ini mengundang pertanyaan yang jauh lebih mendalam. Bagaimana jika, andaikata, semisal, apabila. Pemberi motivasi, dalam hal ini Mandor, kehilangan motivasi?

Jawabannya adalah, teman-teman Mandor, asistennya, rekan kerjanya, dan para staff lapangan harus mendorongnya agar masuk jurang yang dalam kembali teringat akan tugasnya. Memotivasi.

Nah lucunya lagi, bagaimana kalau Mandor is not alone. Dan teman-teman yang seharusnya memotivasi dia, juga, kehilangan motivasi. Karena PT Bangun Subangkit tidak lagi berhasil menerapkan reward system yang menarik?

Suhu,
kehilangan motivasi together.

Monday, July 14, 2008

Final Hour

Selamat untuk Bhrosodaro yang sudah lepas dari isolasidoremifa. Setelah berlangganan internet. Baca ceritanya di sini. Akhirnya Bhrosodaro menge-test koneksinya dengan berdosa berDotA.

Saksikan replaynya di cuplikan berikut.


Online Videos by Veoh.com

Iya, becanda.

Anyway, nice video. Just want to share it with para pendosa penDotA.

Suhu,
Pandaren Blogmaster.

Friday, July 11, 2008

You are not Alone (2) - Those Lucky Bastards

Mandor itu pulang, bersandar di pojok ranjang nya, yang membentuk sudut siku-siku dengan jendela berteralis. Ya, memang menjadi salah satu regulasi BCA [kependekan dari Bank Central Asia Building Construction Authority] bahwa jendela HDB [kependekan dari Highly Dangerous Building Housing Development Board] harus dilengkapi dengan grille/teralis untuk mencegah gerak jatuh bebas yang tidak disengaja. Oleh objek apa pun juga, mulai dari gantungan baju sampai pembantu rumah tangga.

Oke, sebelum tulisan ini diwarnai rasa keputus asaan, by the way jendela lantai sembilan tampak sebagai salah satu jalan keluar masalah, mari kita kembali ke topik semula.

Setengah duduk, setengah jongkok. Dia merasakan perasaan yang campur aduk. *tut*. Perasaan itu hilang. Leganya kentut. Dia mengingat-ingat percakapan yang berlangsung antara dia, asistennya, dan koleganya di kantor hari ini. Memang waktu yang mantap untuk bercakap-cakap itu hanya saat makan. Makan pagi, makan siang, dan makan malam. Bersama orang-orang itu saja. Benar-benar hal yang membuktikan kalau karyawan PT Bangun Subangkit tidak punya teman rukun dan komunikatif, team player dan cooperative.

Ngobrol itu memang enak. Eits, belum tentu benar. Kalau yang diobrolkan tentang penderitaan, ngobrol bisa jadi ga enak. Apalagi, kalau yang didiskusikan penderitaan kita sendiri. Hwarakadah.

Like this life how to happy. New man coming salary higher than me how to happy. Boss like this ah? Like this same same boss talk don't want old man already.
Fren, relax la. Boss give money to new man, boss lose money not your money. Why you kao peh kao bu take care boss.
No lah! I understand many many oredi oso boss no up my salary. New man come new new anything no undestand salary high high, this one fair or not.
This world where got fair one. I buy toto from last year until now, every draw one time oso never forget buy. No win. Fair or not?

Mandor mencoba berusaha menenangkan asistennya yang mulai kalap. Meskipun peribahasa tentang Toto dan 4D tidak begitu nyambung, tapi paling tidak membuat asistennya tenang selama beberapa jam. Mungkin memikirkan kebenaran di balik peribahasa asal muni yang dikarang si Mandor dalam hitungan milisekon.

No lah. You buy Toto this one your decision ma. You lose mean you lose ma. You don't want to lose you can choose no buy. My life now no same. Working PT Bangun Subangkit die lah die lah. Understand many many money little bit only. No understand anything money many many.
HEH! Cheebye. You talking I no understand anything arh? Hah? Want challenge ha?
No laaaa, fren. Not you la.

Memang Mandor sendiri sebenarnya sudah tahu yang dibicarakan adalah orang lain. Asisten mandor PT Bangun Subangkit yang dinas di proyek lain. Perlu diketahui, PT Bangun Subangkit sekarang sedang menggarap tiga proyek. Yang pertama berlokasi di Bedok, Project Team di sana adalah orang-orang berpengalaman, kebanyakan Singaporean dan Malaysian. Status, hampir selesai. Sambil menunggu proyek selanjutnya, mereka biasanya duduk-duduk dan makan gaji buta sembari menunggu project completion date untuk joint inspection dengan client. Duduk-duduk, minum kopi, kerja dikit, dibayar penuh. Omaigat, kenapa dulu aku minta dipindah ke GSS?

Proyek kedua, adalah tempat di mana Suhu bekerja. Dengan kode GSS, singkatan dari Gedung Sekolah Sukamaju. Sedangkan proyek ketiga adalah proyek terbesar yang pernah diambil oleh PT Bangun Subangkit selama ini. Dengan total nilai sekitar 40 dengan enam angka enol di belakangnya dalam mata uang singapore dollar. Untuk kepentingan proyek ini pula, Mister Faifai sang Direktur, merekrut beberapa orang baru. Benar-benar baru. Dalam artian, masih dibungkus plastik dan bersegel baru lulus atau baru datang ke Singapore.

Keahlian mereka jelas belum nampak sebelum mereka bekerja. Tapi yang sudah nampak gemilau adalah dewi fortuna yang menyinari garis tangan mereka. Tanpa pengalaman kerja yang mumpuni, staff yang direkrut masuk proyek ini mendapat gaji yang luar biasa mengesankan untuk ukuran perusahaan PT Bangun Subangkit. Sayangnya, dengan jenis perusahaan PT Bangun Subangkit yang bersifat kekeluargaan, informasi mengenai gaji lintas proyek bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan. Private and Confidential, hanya stempel semata. Isi dalam amplop, semua orang mengetahuinya.

Cara Mandor Mencari Informasi, Telepon Kantor Pusat

Informasi. Kadang hanya itu yang diperlukan untuk merubah mood seseorang. Masih teringat saat Calvin, rekan engineer, berkeluh kesah. Posisi yang dia jabat di perusahaan lain bergaji jauh lebih tinggi daripada upah yang diterimanya tiap bulan. Kita selalu menghibur dia, agar tidak membanding-bandingkan dengan perusahaan lain, karena lain ladang lain ilalang. Dan memang rumput tetangga selalu nampak lebih hijau.

Tapi segala peribahasa itu terbabat habis ketika Tantan, si asisten Mandor, berhasil mendapat informasi rahasia dari Account Department tentang gaji asisten Mandor baru PT Bangun Subangkit yang ditugaskan di proyek lain. Gajinya, lebih tinggi dari gaji Tantan, yang sudah setahun lebih berbakti pada PT Bangun Subangkit.

Hancur hatiku, melihat payslip, menjadi keping-keping ....

Koq malah nyanyi lagunya Ahmad Dani?

Suhu, sebagai seorang atasan, hanya bisa menenangkan Tantan yang galau. Mandor hanya bisa menasehatinya untuk bersabar, karena mawas diri bukan jawaban. Suhu merasa dunia ini tidak adil, tapi apakah definisi keadilan? Menenangkan Calvin yang kalap saat itu sudah cukup susah. Akhirnya berhenti karena tidak ada uang tersisa untuk beli bir. Menghibur Tantan, bagaimana caranya? Seorang istri, seorang bayi, tentu tidak mudah menghadapi itu semua. Belum lagi kodrat manusia yang utama, membandingkan. Perbandingan negatif seperti Gaji dia lebih tinggi, kerjaan dia lebih sedikit, dan istri dia lebih cantik.

Membandingkan dengan orang yang baru masuk, dengan upah lebih tinggi dari kita [pegawai lama] tentu menyakitkan. Suhu hanya bisa berkata kepada Tantan.

Orang yang paling kaya adalah orang yang paling pandai bersyukur.

Dan dia terus menyebutkan kata-kata itu. Malam itu, di pojokan ranjang. Dia terus menyebut kalimat itu. Bukan pada Tantan. Tapi pada dirinya sendiri.

Siapa yang menyangka sore itu, PT Bangun Subangkit merekrut seorang fresh graduate engineer, dengan posisi persis seperti dirinya, Mandor. Dengan gaji melampaui gajinya yang sudah pernah naik gaji sekali. Informasi. Bisa merubah mood seseorang dengan mudah.

Suhu,
bersyukur itu tidak mudah.

Thursday, July 03, 2008

You are not Alone (1) - The Unhappy People

Suhu, seorang mandor berkewarganegaraan Indonesia, bekerja di Kontraktor Bangunan bernama PT Bangun Subangkit. Dia melangkahkan sepatunya yang terasa berat ke arah meja nya di kantor. Menghempaskan berat badannya yang tidak ringan, ke arah kursi kantor yang disusul bunyi "GUBRAK" "KRIYEETT" tanda menyerah.

Asistennya, Tantan, juga duduk selonjoran di kantor sambil memainkan HaPe N73 nya yang canggih. Sambil setengah berbasa-basi, dia berkata pada atasannya. Tak lain tak bukan, si Mandor jagoan.

"mister adi ... happy or not"
"happy lan ciao .... kerja seperti kuda gaji seperti babi how to happy"
"hahaha lan ciao happy ah? I no happy mister adi, lan ciao also no happy"

Sambil membungkuk melepaskan safety boots nya, Suhu hanya tersenyum. Bagaimana bisa menghadapi asistennya yang tidak bahagia dalam melakukan pekerjaannya. Bagaimana caranya. Jika dia sendiri juga mengalami masalah yang sama. Tidak gembira dalam menjalankan pekerjaannya. Mandor memikirkannya dalam-dalam lalu melenturkan tulang punggungnya dari posisi membengkuk.

WHOA JANCOK! ngapain kamu tiba-tiba di depan ku?
sori mister adi. i want talk you about something. you free not?
Aiyah you ah. working time no talk. Now makan time people want to sleep you talk. kanina you. Simi problem?

Asisten mandor membungkuk. Setengah berbisik. Dia menatap mandor mesra lalu mandor menamparnya. Dia berkata kepada mandor.

Now money no enough. Can I borrow money?"
Can. not.

Mungkin untuk sebagian besar pembaca, hal ini terdengar keji dan tidak berperasaan. Tapi kalau setiap orang yang pinjam uang diberi, maka blog ini akan cepat ditutup karena penulisnya mati kelaparan dan punah. Okeh. Okeh. Stop stop dulu ibu ibu yang mau mendemo saya atas hak asasi manusia.

"Tapi paling tidak kamu harus mendengarkan dulu alasan mereka! Siapa tahu mereka benar-benar butuh uang itu!" *demikian teriak salah satu ibu-ibu LSM yang melindungi hak-hak buruh.*


Tidur terlelap sambil mengusir sayup-sayup suara ibu-ibu LSM.

Mandor tidak mempedulikan suara-suara kecil di dalam mimpinya. Aku digaji untuk membangun, bukan untuk mendengarkan "keluargaku sakit, orang tua ku meninggal, dan tetanggaku sakit kusta". Dan kalau orang di posisiku harus mendengarkan penjelasan setiap orang yang mau pinjam uang. Antriannya bisa panjang. Dan menyelesaikan sesi konsultasi ini bisa menempuh jangka waktu yang mengganggu jam kerja. Bahkan, siapa tahu, sebelum antrean ini habis, presiden negara kita sudah ganti lagi. Betewe, sekarang masih esbeye kan?

Sore itu, sepulang kerja, si Mandor jagoan memanggil asistennya.

Heh, take take. Here one hundred.
Hah?
Pay fifty next month. Fifty next next month.
Oh ok. Maybe can pay thirty three next month. Thirty three next month. Thirty three next next next month?
Then my one dollar go where?
Here. *memberikan satu dolar*

Mereka berjalan searah. Lalu karena kebetulan yang indah, asisten mandor ini juga sendirian dan tidak ada yang menunggu makan bersama di rumah. Akhirnya, Mandor dan asisten mandor ini live happily ever after dinner bersama.

mister adi, you want to order beer?
i want, but money no have. All wallet inside give you already.
I have one hundred dollar. From you.
Ok lah I borrow you lah. Heineken.

Kami pun hanyut dalam perbincangan. Tentang pekerjaan, itu pasti. Namun perlahan tapi pasti, topik pembicaraan itu berubah ke arah yang lebih sensitif. Finansial. Asistenku bercerita. Dia baru mendapat PR [Permanent Resident, bukan Pekerjaan Rumah] bulan lalu. Sekarang dia hendak menarik anak istrinya ke Singapore. Bayinya yang baru berusia 10 bulan, dan istrinya yang sibuk menjaga bayi, hanya akan menjadi beban di bidang finansial. Terlepas dari kebahagiaan hidup berkeluarga yang tak ternilai, tentunya. Tapi sayangnya, bayi tidak hidup hanya dari cinta dan udara segar.

Asistenku, menjelaskanku tentang biaya-biaya pampers dan bubur bayi, dan mengutarakan niatnya untuk menjual HaPe N73 nya kepadaku. Karena semua orang tahu HaPe ku bosok. Semua tahu ini bukan solusi. Pinjam uang hanya solusi sesaat. Jual HaPe hanya solusi sesaat. Harus ada solusi jangka panjang untuk masalah finansial ini. Hanya ada satu jalan keluar. Jual diri dan menjaja cinta di Geylang. Naik gaji.

Perlu dicamkan bahwa, sejak naik gaji terakhir di tahun lalu, Mandor belum pernah naik gaji lagi. Mereka menenggak bir itu perlahan. Gadis cina itu tersenyum manis sambil menuangkan bir habis ke gelas mereka berdua. Tiap botol yang dia kembalikan ke counter, dia mendapat komisi sekian puluh sen, senyumnya telah ternodai nafsu duniawi. Kecintaan akan materi.

Hai yau ma?
Pu yao la. Kou liao.
Money no enough how to drink many many.

Sosok familiar berseragam biru itu menepuk pundak gadis cina yang meringkas botol-botol bir kosong. Dia duduk bergabung dengan Mandor dan asistennya. Lalu menengadah ke gadis yang masih terheran-heran apa sebaiknya menampar atau panggil polisi.

One more cup. Two more bottle. Thank you.

Gadis itu pun tersenyum. Entah apa yang ada di pikirannya. Dan gadis itu berlalu melupakan niatnya untuk menampar Calvin yang menyesal kenapa tidak sekalian colek-colek tadi, toh gak ditabok. Dia adalah salah satu engineer yang bekerja di proyek ini. Cuma bedanya dia mengurus services seperti layan antar makan siang dan panti pijat tunanetra listrik, air, dan infrastruktur.

Tertegun kami melihatnya datang basah kuyub karena keringat. Memang kita melihat dia bekerja keras hari ini. Pipanya kita ledakkan lagi hari ini karena gaji kita kurang. Dia yang paling tua di antara kita bertiga. Berusia tiga puluh tahun lebih, tidak menikah, dan lulusan S2 Ninja Turtles University. Setelah melalui pergejolakan politik di Myanmar yang membuatnya menempuh S1 bertahun-tahun.

At least you both up salary one time already. I one time also never up. This feeling you don't know. Maybe you are now in trouble. But at least, you are not alone. I'm alone. The only one never up salary.

Sedikit yang Calvin tahu tentang masalah kita. Calvin punya masalahnya sendiri. Pipanya akan kita ledakkan lagi besok. Tantan, asisten mandor, punya masalah sendiri. Dan aku, Mandor jagoan, punya masalah yang lebih besar. Karena dalam masalah ini, aku sendiri.

Mereka bertiga menenggak Heineken itu dan mulai tertawa ketika melihat Calvin gagal menyeimbangkan dompet yang ditaruh di atas jidatnya. Ya, peristiwa ini biasanya terjadi setelah botol kesepuluh kering kerontang. Sementara Tantan melihat dua lembar biru yang dipinjamnya barusan berubah menjadi warna ungu. Setelah sebelumnya warna lembaran biru perlahan menjadi merah kemudian hijau.

You are not alone. You are not alone. You are not alone. Am I. We're just lonely together. Lonely in our own problem each had. You are not alone.

Suhu,
how I wish the sentence got the truth in it.

Wednesday, July 02, 2008

Construction Worker, Hinakah?

Peluh menetes dengan deras dari kening mandor itu. Terik matahari yang menyiksanya membuat langkahnya semakin perlahan seolah tak kuat lagi. Kondisi fisiknya benar-benar diuji hari itu. Sebenarnya bukan hanya hari itu ia mengalaminya. Hari kemarin, hari kemarinnya lagi, hari esok, dan esoknya lagi. Matahari yang sama akan menyapanya di pagi hari. Menghajarnya di siang hari. Dan menantikannya di malam hari untuk di hajar lagi di keesokan hari.



Dia meniti tangga dengan tempo yang pelan tapi pasti. Bukan karena dia tua tak berdaya tapi karena dia meneliti dengan saksama. Satu saja guratan kasar sarang lebah karena kelalaian pekerja saat mengecor, bisa merubah mood-nya dua ratus tujuh puluh derajat. Jika permukaan kulit cor tidak semulus pantat bayi, sudah jelas ada yang akan menerima omelan. Omelan mandor yang mereka kenal dengan sebutan musik-pagi-hari.

Perlahan mandor ke tengah lapangan. Naik ke atas platform bagaikan mimbar upacaranya.

Good morning, ladies!
Good morning!!
I CANT HEAR YOU! GOOD MORNING LADIES!"
GOOD MORNING!!
That's much better. Do you know why you are here today?
To work!
Good. Anyone else?
For money!
Okay. Some more?
For family!
Very good man. Who else?
For SINGAPORE!

Semua pasang mata menuju ke arah dari mana suara itu berasal. Keesokan harinya pekerja itu dipecat.

Okeh. Cerita di atas hanya fiktif belaka. Kecuali dua paragraf pertama, itu nyata. [Bukti disertakan berupa foto]. Bisa dibilang lebih dari lapan puluh persen penggerak pembangunan di proyek ini adalah foreigner. Bekerja sebagai tenaga ahli sampai dengan tenaga kasar, semuanya foreigner. Kami membangun negara Singapura sementara negeri sendiri tertinggal. Memang benar kata pepatah, mata uang negara tetangga selalu lebih hijau.

India, Cina Daratan, Bangladesh, Malaysia, Myanmar, dan tak terkecuali Indonesia. Semua masih memegang paspor negara masing-masing. Mengembangkan sektor pembangunan yang adalah akar dari semua pertumbuhan suatu negara.

Mau mengembangkan sektor pendidikan, perlu membangun sekolah. Mau memajukan transportasi, perlu membangun jalan dan rel kereta api, landasan pacu pesawat terbang, dan pelabuhan. Mau memajukan perdagangan, perlu orang cina perlu membangun gedung-gedung perkantoran. Mau menyeimbangkan sisi kesehatan spiritual, perlu membangun tempat ibadah. Mau memajukan pertahanan dan keamanan, perlu membangun barak dan training ground.

Ironisnya, acap kali, pekerja bangunan alias Construction Worker sering dianggap kelas manusia pekerja yang paling hina. Entah karena pekerjaan ini dianggap kotor, kasar, hina?, tak bernilai. Aku masih ingat, waktu aku eS De, pekerjaan yang selalu dijadikan olok-olokan di sekolah adalah Pasukan Kuning. Penarik gerobak sampah kuning berseragam kuning-kuning. Di Singapore, juara satu pekerjaan paling dipandang rendah adalah Construction Worker.

Tanya kenapa?

Tidak hanya pekerja nya. Tapi juga engineer nya. Mandornya. Sebagai salah seorang staff lapangan. Tidak jarang Suhu mendapat pandangan cemooh. Kadang dari Konsultan. *Woi, jembatan marina itu aku yang ngitung.* Kadang dari Arsitek. *Yang membuat mereka semakin mudah untuk dicintai.* Kadang dari orang-orang di dalam MRT dan bus yang melihat sepatu safety boots bercipratan beton.

Kadang dari teman sendiri.

"Ya kan Mandor profesi yang dipandang rendah sama mereka."

Bahkan teman-teman yang cendekia, kebanyakan lulusan Ninja Turtles University, kadang bertanya. "Jadi kamu di lapangan itu kerja sama bangla-bangla gitu dong hu?"

Tentu di balik pertanyaan itu ada rasa merendahkan, walaupun sedikit. Tapi tak mengapa, itu lah jalan yang kutempuh.

Mandor itu berjalan perlahan ke atas mimbar. Dan mulai bersenandung. Dalam siulnya mengalun nada. Dalam batinnya dia berkata. "Kalau bukan kita, siapa lagi?"

Yeah, this one’s for the workers who toil night and day
By hand and by brain to earn your pay
Who for centuries long past for no more than your bread
Have bled for this country and counted your dead

We’re the first ones to starve the first ones to die
The first ones in line for that pie-in-the-sky
And always the last when the cream is shared out



Suhu,
mulai berpikir untuk mengakhiri karir sebagai mandor.