Friday, June 06, 2008

Tanah Air Beta

Lima Tahun Silam

Anak itu tersenyum. Melambaikan tangan pada kedua orang tua nya. Senyum nya yang dipaksakan hanya untuk memastikan orang tua nya tidak terlalu bersedih dengan kepergiannya. Senyum yang dipaksakan malah terlihat mesum. Dia tahu, ayah ibunda nya akan kesepian. Kakaknya telah lama pergi meninggalkan keluarga untuk menimba ilmu di negeri lobak seberang. Meskipun tahu mereka akan bersedih, nevertheless [tak pernah basah], orang tua nya pun melepas kepergiannya. Agar dia mengikuti jejak kakaknya, mengebor, mengecor, membuat sumur, lalu menimba ilmu di negeri seberang.

Empat Tahun Silam

Mahasiswa itu telah memilih jalan hidupnya. Terlepas dari pilihan kawan-kawannya yang lebih memilih jurusan teknik Elektro, dia menempuh jalur yang berbeda. Teknik Sipil. Karena dia percaya bahwa size does matter. Mengacuhkan miliAmpere, mikrosekon, dan nanometer. Memilih kilometer, MegaNewton, dan GigaPascal. Dia banyak bertanya, kenapa dan kenapa tidak. Memilih jurusan, ternyata bukan masalah opini. Tapi lebih cenderung ke hati nurani. Teknik sipil, seperti kata seorang teman SMA, 'kalau bukan kita, siapa lagi?'

Tiga Tahun Silam

Menjadi mahasiswa yang belum senior-senior amat tapi sudah punya junior, si anak Malang ini bernasib malang. *TOOETTTT mengulang kata 'malang'*. Si anak Malang ini bernasib naas. Belum menjadi seorang sarjana yang benar, dia sudah harus menjadi suri tauladan untuk adik-adik kelas nya [iyah, jamak, angkatan selanjutnya sudah terhapus kisah teknik sipil satu anak satu generasi]. Akhirnya di pergantian semester pun dia terpilih masuk ke sebuah Konsultansi yang sedang menggarap proyek bendungan sebagai kerja praktek untuk syarat kelulusan kuliah.

Dua Tahun Silam

Mahasiswa itu berubah dua ratus tujuh puluh derajat. Penampilannya yang dulu asal-asalan khas mahasiswa berubah menjadi kemeja lengan panjang disetrika dan celana panjang hitam tanpa lobang di daerah lutut. Intelejensianya pun meningkat dari selevel di bawah amuba menjadi sel kelabu di otak binatang purba. Meskipun dia hanya seorang mahasiswa, dia yang mendesain struktur beton penyimpanan air untuk kilang pengolahan air pipis menjadi air minum, yang lebi sering disebut dengan nama airBau airBaru. Dia pula yang mendesain jembatan yang membentang di atas bendungan yang akan diresmikan akhir dekade ini.

Sepulang dari kantornya, mahasiswa ini bertemu dengan seorang senior di dalam bus. Dari angkatan yang berbeda. Dari jurusan yang berbeda. Dari tempat asal yang berbeda. Biarpun berbeda tapi tetap satu jua. Bhinneka Tunggal Ika. Kami berdua, sama-sama naik bus ke Boon Lay Indonesia.

Percakapan pun bergulir antara seorang mahasiswa tambun berkulit kuning bermata sipit tapi paspor berwarna ijo royo-royo. Dengan seorang alumni universitas yang sama, bermata lebar berkulit gelap sawo terlalu matang, dan menurut UUD pasal 6 ayat 1, lebih berhak menjadi presiden daripada pihak pertama.

Gimana bang, uda lulus kan?
Ya gitu deh. Kerja lah, kan ada bond.
Iya, ada bond tiga tahun yah. Abang tinggal dua tahun dong, bang. Abis itu uda bisa balik.
Balik? Nggak lah.
Nggak? Abis tiga tahun di sini, gak kembali ke Indo bang?
Emang balik indo perusahaan sana bisa nggaji kamu berapa?

Terhenyak dalam luka yang dalam. Mahasiswa itu, dengan hati nasionalis yang idealis, tersayat. Dia menangis dalam hati. Negara ini telah mengambil elit top 7% [Haslim, 2006] dari tanah air ku. Untuk dididik, dibina, dan dibeli. Dan cendekia tersebut di atas, selain tahu sains dan teknik secara mendalam, juga tahu negara yang mana lebih mampu menggajinya. Mungkin hanya cendekia yang bodoh yang berpikir dalam hati, terenyuh mendengar perkataan saudara sebangsa dan setanah airnya, dan terisak dalam tenang, berkumandang dalam lamunan.

'Tapi Bang, kalau bukan kita siapa lagi?'

Meskipun sebelum kata itu terucap, bus itu telah mencapai perhentian terakhir. Dan si abang, dengan mentalitas singapura, sudah berada di antrian paling depan untuk keluar dari bus. Si anak Malang itu pun hanya menunduk ngantuk sedih.

Satu Tahun Silam

Dia terus memikirkan cara-cara membangun bangsa nya dengan ide-ide yang unik. Apa yang bisa dikembangkan dari negara nya sendiri, dengan kemampuan yang dia miliki. Tentu saja dengan nilai A yang bertebaran di mata kuliah Transport dan Traffic, satu-satunya yang bisa dia pikirkan adalah meningkatkan kualitas public transport di tanah air. Dan ternyata Indonesia sudah mencuri idenya dan buru-buru membangun busway sebelum dipaten.

Berkorespondensi dengan gadis desa yang lugu dengan nasionalis tinggi yang susah tersalurkan, mahasiswa ini sering mengungkapkan ide-ide gila nya tentang cara memperbaiki negara Indonesia yang tidak melibatkan politik dan pembantaian massal. Karena kedua hal tersebut mempermudah kita masuk neraka. Pembicaraan idealisme mereka pun berakhir seiring dengan berakhirnya hidup mereka sebagai mahasiswa. Karena mereka kini sudah menjadi sarjana, yang bukan lagi memegang idealisme nasionalis. Tapi realistis dan, sangat mungkin, materialistis.

Tadi Pagi

Terus mengikuti berita dari Warung Indonesia yang menyajikan Es Beye dan Jus Kalla, sarjana Teknik Sipil itu akhirnya mengerti. Dia tahu. Bahwa, mungkin. Tanpa kita pun. Tanah air beta akan baik-baik saja. Mungkin. Kalaupun perkiraan kita salah, dan tanah air beta akan perlahan musnah. Kita tidak lagi di sana.

Apa ada orang lain yang akan menggantikan kita untuk membangun tanah air? Apakah kalau kita di sana, perubahan yang akan kita buat adalah signifikan? Jangan-jangan kita malah menyebabkan kemunduran karena kita tidak paham dengan situasi setempat setelah kita tinggalkan sekian tahun?

Belum sempat pertanyaan itu terjawab olehnya, konsentrasinya buyar oleh suara bel digital, dan insinyur itu menengadah. Layar elektronik itu menunjukkan angka yang sama dengan karcis yang dipegangnya. Dia menuju ke loket, senyum ramah petugas menunjukkan bahwa ada satu orang sarjana lagi yang akan mengembangkan negaranya. Dia menyapa ramah.

How can I help you, sir?

I'm here for my PR application.

10 comments:

konnyaku said...

tolong hu benahi sistem transportasi umum di jakarta hu..
tolongggggg......

mungkin harus dimulai dengan membenahi moral pengemudi dan pengguna transportasi umum dl ya :s

PHY said...

wakakak. kocak banget gaya bahasanya. hampir nangis. hampir.

Reza de Bhro said...

Tiket nomor berapa?
ICA level 5 kan?
Kok ga ketemu?

lita said...

mantaph.
Spt kata Titi DJ di indonesian idol tadi: "feel nya dapet"
hehe..
*btw ini komen dari indo kok error terus pas pencet 'publish ur comment' T__T*

Welltech said...

#konnyaku:
tanpa pembantaian massal, agaknya mustahil.

*lihat sepeda motor motong jalan, bidik, tembak*

*nyalip dari sebelah kiri, lock on target, ledakkan*

*nyetir pelan-pelan di jalur cepat sambil handphone-an, bunuh*


#phy:
kocak, nangis. sebuah ironi.

#bhro:
4125. aku jongkok di depan wc cewek. kamu di mana?

#lita:
iya, coba kamu pencet "publikasikan komentar anda" baru isa. internet e ga ngerti inggris.

Ddee said...

haha...lo kok br apply skrg?
yah....ilang sebiji lagi deh insinyur kite...

wiydiy said...

dan apakah kita akan jadi seperti itu kalo kiat udah jauh dari tanah air?

hw.

miris.

Martha-Happy said...

kalo bukan kita siapa lagi?
ini emang kalimat singkat yang mesti ada di kepala dan hati setiap anak bangsa..
justru jauh2 ke negeri orang, ambil ilmunya, bawa pulang, majuin negara sendiri

doramimiauw said...

Hi Suhu/Panda Tambun,
yup yup setuju...
walopun qta Chinese tapi qta cinta tanah air Indonesia, hoho nasionalis sekali yah kdengerannya...
Eniwei, salam kenal, i like ur blog!

suhu said...

#ddee:
iye, nimbang2 mau jual diri musti aga lama la, neng.

#wiydiy:
akan.

#martha-happy:
tapi bagaimana mungkin, membaca sadja aku soelit.

#doramimiauw:
cina! hahaha ibarat peribahasa "cina teriak cina". Yow salam kenal miauw. Udah lama gak keliatan kucing sejak kenal apong.