Friday, April 11, 2008

Bakso and The Beach

Mata kami tertuju pada satu objek.

Bakso!

Cece melonjak-lonjak seperti anak kelas lima esde yang baru naik gaji dapat tambahan uang jajan. Seraya berkata "Pah! Bakso pah! Bakso pah!" Norak. Sementara Mama hanya tersenyum bijak melihat putri semata wayangnya yang setengah kelaparan setengah nya lagi sudah tujuh tahun tidak makan bakso sejak pergi merantau ke luar negeri. Maklum, di negara tempat dia tinggal sekarang sangat susah untuk memasak. Penduduk sana belum tahu cara menggunakan api.

Papa mengangguk bijak. "Iya beli sana. Adek juga mau?" tanya Papa berusaha adil dan mengayomi kedua anaknya. Meskipun mengetahui jika Panda Tambun berkata mau, maka dengan mudah tukang bakso itu tidak usah melayani pelanggan lain. "Nggak usah mangkok deh bang, garpu aja. Saya beli semua bakso yang tersisa di gerobak sampeyan."

Sebenarnya Suhu tidak begitu lapar, tapi mempertimbangkan beberapa hal. Satu, kalau Cece makan sendirian dia pasti merasa sungkan dan tidak enak, minder dan rendah diri, merasa dikucilkan dan berbeda dari anggota keluarga lain. Dua, kalau aku ikut makan, Papa nggak akan merasa membeda-bedakan anak sulung dan anak bungsu, yang kalau dipikiri terus menerus akan bikin Papa cepat kelihatan tua. Tiga, kalau Mama tahu aku tidak makan, Mama selalu cemas aku nanti lapar. Karena kalau aku lapar aku makan Cece. Empat, Tukang bakso itu sepertinya kasihan, sudah berjualan sejak tadi belum laku sampai separuh padahal hari sudah sore, bagaimana kalau dia punya lima anak yang harus diberi makan dan berhutang ke lintah darat tujuh bulan belum dibayar dan nanti istrinya disandera jika dia tidak bisa membayar padahal satu-satunya sumber penghasilan yang bisa dia harapkan adalah dari mangkok bakso yang aku makan.

Maka Suhu pun beli bakso itu. Dengan terpaksa. Sudah kebiasaan bagi Suhu, yang masa kecilnya dihabiskan di jalanan kota Malang, untuk berbincang-bincang dengan tukang jual makanan. Agar kenal dekat dan laen kali dapat diskon ato porsi gratis.

Rame pak?
Ya... lumayan la dek.
Campur brapaan pak?
Limang ewu iso, telung ewu yo kenek. *Lima ribu bisa tiga ribu juga boleh.*
Cuk, jowo toh?
Iyo, awakku krungu sampeyan mawu ngomong Jowo, mangkane takjak ngomong Jowo langsung. Oooo dancok. Yo wis, campur papat. Sing telung ewuan yo.
Rebes bos.
Rebes? Loh cuk, sampeyan kera ngalam tah ker?
Oyi sam. Reti kowe cak cuk cak cuk lak podho kera ngalam.
Wah, diancuk tenan. Nyapo nang mbali?
Nyambut gawe lah sam, mosok yo uklam uklam, iyo lek sampeyan.

Okeh, buat kalian yang agak confused, tenang. Percakapan di atas dilangsungkan dalam tiga taraf bahasa. Di awal-awal Suhu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata tukang bakso tadi menyadari bahwa Suhu berasal dari Jawa dan segera langsung switch ke kelas bahasa yang lebih tinggi, Bahasa Jawa. Dan setelah menyadari Suhu berasal dari Malang, tukang bakso yang ternyata juga dari Malang, mengajak berbicara bahasa Jawa Timur halus khas Malang.

Buat pembaca dari jakarta, sangat dimaklumi kalau kalian hanya bisa memahami beberapa baris pertama. Buat pembaca dari Jawa tidak seberapa Timur, cukup dimaklumi kalian bisa memahami beberapa baris lebih jauh dari your Jakarta counterpart. Untuk kalian yang memahami semua kalimat di atas, kera ngalam pancen oye jos jos. Untuk pembaca dari medan, it's okay. Silakan dilompati. Untuk pembaca dari Brazil, ngapain kalian di sini?

Satu mangkok bakso itu habis. Lihat kanan lihat kiri. Papa, Mama, Cece, semua nya masih makan belum habis separuh. Demi rasa kekeluargaan yang mendalam. Dan tentu mempertimbangkan beberapa aspek seperti. Satu, kalau mereka tahu aku sudah habis duluan, tentu mereka sungkan membuat aku menunggu dan akan makan cepat-cepat yang tidak baik untuk pencernaan dan mungkin bisa tersedak. Dua, aku masih lapar. Tapi bagaimana caranya untuk bilang minta tambah yang tidak mengganggu suasana ketentraman keluarga kami ya.

Suhu berjalan ke tukang bakso sambil memasang tampang Puss in The Boots di felem Shrek. Tapi gagal. Bapak dengan tingkat intelejensia setingkat di atas amoeba itu tidak memahami peluang bisnis yang ada di depannya. Dia malah mengambil mangkok ku dan langsung mencucinya.



Setelah berhasil ngobrol dengan tukang bakso sambil sesekali menusuk bakso dengan garpu dan langsung menelannya bulat-bulat sewaktu dia tidak melihat, keluarga kami mengucapkan selamat tinggal pada teman sekampung halaman itu dan meninggalkan Sukowati.

Betewe, kami berbelanja cukup banyak. Untuk pembaca yang tidak mengerti betewe, itu adalah singkatan dari by the way. Kami berbelanja lumayan banyak. Tentu saja banyak itu relatif. Ya, kami berbelanja relatif banyak. Sebagai tolok ukur banyak di sini, bandingkan foto-foto sebelum dan sesudah posting Sukowati. Dari Jawa Timur hanya bawa satu set baju dan beberapa pakaian dalam. Setelah dari Sukowati, foto-foto perjalanan memakai baju Bali yang dibeli dari hasil penjualan pakaian dalam.

Lalu kami menuju ke tujuan kami selanjutnya. Sanur Bitch Beach. Dalam waktu kurang dari dua jam, kami mencapai daerah wisata Pantai Sanur. Terlihat sebuah papan besar dikeliling beberapa bapak-bapak berseragam Pintu masuk Pantai Sanur Rp 1000,-. Tulisan itu tidak seberapa jelas karena tertutup para penjaga berseragam. Setelah mendekat baru kami tahu bahwa ternyata mereka berjualan pintu adalah penjaga pintu masuk pantai.



Meskipun kami sudah melihat pintu masuk ke arah Pantai Sanur tersebut, kami tidak langsung menuju ke sana karena kami dapat menguasai nafsu keserakahan duniawi kami perlu menemukan hotel terlebih dahulu. Hotel yang kami cari, berdasarkan koneksi Mama kali ini, bernama Hotel Puri Sading. Hotel nya cukup bagus, sangat dekat dengan pantai Sanur, dan resepsionisnya gadis Bali wow tut tut! ada kolam renangnya. Tapi kolam renangnya kosong terus. Iya, siapa yang pergi ke Sanur, dan kamu berenang di kolam renang berjarak 500 langkah dari pantai Sanur.



Dibandingkan dengan hotel Likita, Puri Sading lebih mahal. Tentu faktor lokasi yang dekat dengan objek wisata memegang peranan penting. Tapi secara kualitas dan kelas hotel, Puri Sading bisa tergolong menengah ke atas meskipun harga yang kami dapat cukup miring.

Satu kamar dengan satu ranjang besar. Dua ratus ribu semalam. Dengan extra bed seharga enam puluh ribu per malam. Total enam puluh ribu. Papa dan Mama tidur di ranjang King size, aku tidur di extra bed, dan untuk Cece kita memang sengaja mencari hotel yang kamar mandi nya punya bath tub.

Satu-satunya yang agak menyiksa dari kondisi hotel ini adalah kami mendapat kamar di lantai dua. Arsitekturnya memang manis dengan romantic balcony di depan tiap kamar. Tetapi kata-kata lantai-dua, tangga, naik biasanya kurang bersahabat dengan kata-kata tua, berat, dan gendut.

Seluruh anggota keluarga kami kurang suka dengan naik turun tangga. Papa yang kaki kiri nya diserang benjolan kecil [Papa bilang bukan tumor, dan dokter-dokter spesialis itu salah diagnosa] naik tangga penuh perjuangan. Suhu yang sebagai anggota keluarga laki-laki terbugar, mendapat tugas untuk memindahkan isi bagasi ke dalam kamar. Cece yang sudah lama tidak melihat peradaban, lari-lari naik turun tangga, sementara Mama berusaha menangkapnya dan mengembalikannya ke kurungan. Sementara Cece dan Mama bertanya pada resepsionis bagaimana caranya pergi ke Pantai Sanur.



Lho, tadi katanya 500 langkah dari pantai Sanur? Benul. Tapi karena kebiadaban pariwisata di Bali, 500 langkah itu tertutup rentetan hotel tinggi-tinggi. Intinya, kalau kamu benar-benar mau ke Sanur dalam 500 langkah, kamu harus bermodalkan minimal gergaji listrik untuk menebang pohon kelapa dan palu godam untuk menghancurkan tembok hotel lain. Buat yang gak siap dengan peralatan berat itu, hubungi saya kalian perlu mengambil jalan memutar.



Bukan Suhu namanya kalau hanya menuruti petunjuk resepsionis. Dalam berobat kita perlu second opinion. Begitu pula dalam petualangan. Saat melihat kedua cewek bule yang berbikini, Suhu langsung mimisan bertanya pada mereka.

Hi! Excuse me?
Ich spreche kein Englisch
Danke. Ich liebe dich.

Mengandalkan bahasa Jerman yang terpatah-patah, Suhu bertanya bagaimana cara menuju ke Pantai Sanur, karena sepertinya kemungkinan besar mereka tidak berjalan-jalan menggunakan bikini ke pasar seni. Karena keterbatasan vocabulary maka hasil pertanyaan dengan percakapan sehari-hari barusan, gagal total. Kalau ini Oral Test LG80 NTU, sudah dipastikan tidak perlu datang ke exam karena pasti harus mengulang semester depan.

Akhirnya Suhu bertemu dengan bapak bule gendut yang bisa berbahasa Inggris. Karena dia berasal dari negara yang menciptakan bahasa tersebut. Pesan dari bule gendut itu, kira-kira kalau diterjemahkan bebas seperti ini.

Kamu bisa jalan lurus ke sana melewati tiga perempatan, lalu setelah melihat Konsulat Jerman kamu belok kiri dan berjalan terus, kamu akan melihat pantai. Atau, kamu bisa menerobos masuk hotel-hotel ini karena di belakang hotel-hotel ini mereka punya akses ke pantai.

Tentunya, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan benar, kita akan menerobos hotel-hotel itu. Yang membuat kami tidak bisa lagi menikmati hotel kami sendiri. Karena hotel yang kami terobos bagus bagus. Kamarnya berbentuk rumah adat, jadi seakan menyewa rumah-rumah kecil, di tengah nya ada kolam renang, taman bunga-bungaan, kebun binatang, lapangan terbang, landasan helikopter dan fasilitas fasilitas bernuansa tradisional Bali.



Membuka hotel di kawasan wisata, memanfaatkan peluang dan kesempatan. Itu adalah bakat alam seseorang yang dikaruniai talenta dalam bisnis. Memanfaatkan kesempatan untuk meraih keuntungan, itu baru businessman. Kalau menciptakan kesempatan, itu baru Cina. Foto tersebut adalah foto Suhu dan Mama mengheningkan cipta untuk para pedagang yang telah gugur mendahului kita. Huruf cina itu adalah namaku, yang kalau diterjemahkan bebas artinya kira-kira "Adi Prawira".



Yang ini adalah foto tampak punggung. Untuk yang tertarik mengetahui cara menulis huruf cina di pasir, bisa menanyakan pada penduduk setempat mengenai peristiwa fenomenal Panda Melata yang diliput Discovery Channel di Sanur Beach. Episode Panda ngesot.



Setelah menulis huruf cina segede bagong di pasir pantai, Suhu melanjutkan karya nya dengan menuliskan nama nya dalam huruf biasa. Foto-foto lain seperti nama Suhu dalam aksara jepang dan Sansekerta tidak dimuat dalam foto ini karena memang dimaksudkan untuk koleksi pribadi.



Tidak lupa Suhu mengabadikan peristiwa ini dalam kamera handphone Siemens nya yang nyaris punah dimakan usia. Pantai yang indah, ombak berdebur byurrr aaahhh tolooong, dan suasana yang sunyi. Semuanya terlalu indah dan sempurna untuk menjadi sebuah petualangan. Dan cerita di atas kurang nyambung dengan judul Sanur, The Beach Where Everything Goes Wrong.

Sampai ... saatnya makan malam.

-bersambung-

Next post: Sanur, The Beach Where Everything Goes Wrong.


NB: Mampir http://hutanbambu.myminicity.com ya, chatting di sana ama sesama pembaca.

5 comments:

PHY said...

istri tukang bakso itu kayaknya bakal bener2 disandera...baksonya ludes digarpu..

~'FeN'~ said...

Suhu t o p ...^^
Pembaca baru nih...
Saya jg anak civil...
Hihihi...

Reza de Bhro said...

Cuk, jowo toh?

100 point

dancok. Yo wis, campur papat. Sing telung ewuan yo.

100 point

Rebes? Loh cuk, sampeyan kera ngalam tah ker?

100 point

Wah, diancuk tenan. Nyapo nang mbali?

100 point

Danke. Ich liebe dich.

500 point

Total 900 point

FaNNy said...

huhu, kepengen bakso juga.. sebal... :(

suhu said...

#phy:
haha kusisai sedikit buat Cece. Harus dilestarikan dia. hitung-hitung investasi buat nanti malem kalo laper.

#fen:
Suhu: Wooo.... ada cewek di kelas! *Suiiit suiiit*
Semua: Wooo.... ada cewek!!!


Sekarang jurusan civil udah terima cewek ya?

#bhro:
font kuning +900 di atas kepala pecah.

#fanny:
fan, bakso e weenaak pol! *nyolot*