Wednesday, March 19, 2008

Matahari Terbenam di Tanah Lot

Setelah menyuapi raga dengan bongkahan daging dan gundukan nasi, keluarga Panda Tambun melanjutkan perjalanannya ke Bali. Next destination: mBanyuwangi. Bagi pembaca dari Medan yang tidak bisa berbahasa Jawa, Banyu itu artinya Air. Bahasa Jawa. Banyuwangi artinya parfum sebuah kota yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Dari kota inilah kita akan menyeberang ke Bali.

Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di pelabuhan. Pelabuhan Ketapang. Karena kami akan menyeberang ke Gilimanuk. Kenapa kami hendak menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk? Karena kalau menyeberang Semenanjung Harapan, bisa dipastikan artikel ini ditulis oleh Vasco da Gama dan Marcopolo yang pemberani dan tangguh, bukan Suhu.


Untuk pembaca dengan nilai geografi kelas 4 eSDe pas-pas an, silakan lihat peta di bawah ini.

Mobil kami memasuki kawasan pelabuhan. Jika kalian membayangkan di pelabuhan terdapat pria-pria kekar berbaju kelasi sambil mengunyah bayam, kalian salah besar. Pelabuhan adalah tempat barang-barang selundupan datang para petugas berseragam pemerintah daerah. Dari sana kami meluncur masuk. Untuk yang belum pernah ke pelabuhan, ya ibaratnya kita memasuki sebuah jalan tol dengan sebuah gardu yang dijaga petugas.

Tidak ada pria kekar berbaju kelasi.

Kalau di jalan tol, kita memacu mobil kita dengan cepat. Di pelabuhan kita memasukkan sebuah mobil kita ke sebuah garasi mengapung yang lebih dikenal dengan nama kapal Ferry. Lalu garasi itu, ya Ferry itu tadi, akan menyeberang selat Bali. Dan saat kita keluar dari garasi, ya Ferry itu tadi, kita sudah ada di pulau lain. Faham?

Pintu garasi mengapung.

Kami memacu mobil Stream masuk ke garasi mengapung tadi, dan semua anggota keluarga keluar dari mobil untuk menikmati udara segar. Sayang sekali udara segar ini berbau seperti toilet asrama putra di saat musim kawin. Amis. Kami berempat naik ke geladak kapal. Suasana di atas sudah sangat ramai meskipun garasi di bawah termasuk sepi. Maklum wisatawan ke Bali sangat berkurang setelah kejadian tragedi Bom Bali.

Tak berapa lama setelah mobil kami masuk, Ferry mulai bergerak meninggalkan anjungan. Papa, Mama, dan Cece memilih untuk di dalam kapal. Sementara Suhu, yang lebih suka tantangan, memilih untuk berenang di samping kapal berdiri di samping kapal sambil menikmati hembusan angin yang berbau toilet asrama putra di musim kawin. Papa, Mama, dan Cece berbincang-bincang di dalam kabin, sementara Suhu sendiri dalam sepi menyenandungkan lagu.

Nenek Moyangku seorang pelaut,
gemar mengarung luas samudera.
Menerjang ombak tiada takut,
menempuh badai sudah ...


Belum sempat aku menyelesaikan lagu itu, dari belakang pundakku ditepuk. Rupanya Papa. Papa menepuk pundakku dengan sangat kebapakan. Dengan penuh wibawa, dia berkata. "Nenek moyang kita pedagang." Aku mengangguk penuh arti. Dan Papa kembali ke kabin.

Sekitar tiga puluh menit lebih kemudian, Ferry mulai mengurangi kecepatan. Nampaknya sudah mulai merapat ke anjungan kapal di Gilimanuk. Terdengar suara dua logam berderit ngik ngik ngik cieetttt. Nampaknya kapal Ferry kami menabrak salah satu Pier di Gilimanuk. Papa dan Mama keluar dari kabin untuk melihat dari mana suara itu berasal. Sementara Suhu membungkam mulut Cece yang sedari tadi menarik perhatian karena berteriak "We're all gonna dieeeeee!!!" di dalam kabin.

Mama Papa melihat situasi saat kapal merapat, Suhu membungkam Cece.

Dalam total waktu kurang dari satu jam, kami sudah siap meninggalkan pelabuhan Gilimanuk untuk mengemudi ke arah kota. Tapi sebelum kita meninggalkan gerbang laut Pulau Bali tersebut, ada sebuah loket lagi. Layaknya jalan tol, masuk ada loket keluar ada loket.

Saat meninggalkana pelabuhan Gilimanuk untuk melaju ke arah pusat kota Bali, ada sebuah pemeriksaan. Konon, pemeriksaan ini menjadi dimasyarakatkan setelah tragedi Bom Bali. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, dan kalau sudah terlanjur lebih baik dicegah agar tidak terulang lagi. Pemeriksaannya sama seperti kalau mobil-mobil masuk Mall di Plaza Araya Malang atau Matos [Malang Town Square]. Bapak-bapak tegap berkumis akan menyapa "Selamat siang pak" dan mulai memakai tongkat berujung cermin untuk menge-sweep bagian bawah mobil.

Mereka belajar dari filem cina. Biasanya penjaga gerbang kota akan menusuk-nusuk kereta kuda yang memuat jerami. Untuk memastikan bahwa buronan kerajaan tidak ada di di balik gundukan jerami tersebut. Sedangkan buronan kerajaan, yang adalah lakon felem kungfu tersebut, dengan cengkeraman tangan yang kuat, seolah merayap di sisi bawah kereta bermuatan jerami tersebut. Maklum, di felem silat itu tidak ada pengawal kerajaan yang membawa tongkat berujung cermin.

Bali, benar-benar tahu cara menyambut turis domestik. Sajian pertama yang kami lihat di pulau Bali benar-benar menarik.

Jangan menyuap petugas. Mereka mudah tersedak.

Foto di atas diambil di pintu keluar pelabuhan Gilimanuk, tempat di mana bapak-bapak tegap berkumis tadi memeriksa KTP kami berempat. Ya, mereka hanya memeriksa KTP dan mencocokkan wajah di foto KTP masing-masing sama dengan wajah di ... wajah pemilik masing-masing. Tidak perlu fotokopi, itu hanya manipulasi bisnis si Engkong fotokopi. Hebat kong, bener-bener cina. Bangga aku jadi cina, kong.

Lalu kami meluncur ke Tanah Lot. Waktu perjalanan sekitar tiga jam. Termasuk lama, tapi kami menikmati pemandangan di sekitar perjalanan dan sebentar-sebentar berhenti untuk berburu gadis Bali menikmati keindahan Bali. Berupa gadis Bali. Sebuah nuansa yang sangat berbeda dibandingkan tanah Jawa. Mungkin kalian akan mengiyakan tentang keindahan alam Bali dan lain sebagainya.

Yang itu bisa kalian harapkan dari Departemen Pariwisata Indonesia. Or not. Tapi dari blog ini, jangan harapkan foto-foto tentang objek wisata Bali. Itu bisa dilihat di kartu pos edisi koleksi. Dan yang ngambil foto jauh lebih profesional daripada cakar panda dengan shutter speed terbatas.

Upacara adat di Tanah Lot. Foto diambil oleh fotografer amatiran.

Kentalnya kultur di Bali memang memunculkan rasa ketertarikan tersendiri untuk turis dari berbagai penjuru dunia. Tapi untuk seekor Panda Tambun, Bali, meskipun sangat dengan tanah Jawa, mempunyai perbedaan-perbedaan yang layak disorot.

Di Bali mereka antri.


Mereka bicara dwi-bahasa. Bahkan kadang dicampur. Yang mana yang baku? Foto? Photo?

Senja itu kami menikmati matahari terbenam di Tanah Lot. Melihat ombak berdebur sebagai latar belakang orang-orang setempat yang melakukan upacara adat. Menertawakan turis-turis yang berlarian kehujanan mencari tempat berteduh. Mengagumi ciptaan tuhan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Akhir kata, sebelum meninggalkan tanah lot, kami menyempatkan diri mengambil foto keluarga.
Ini adalah foto keluarga kami. Yang mirip jepang itu papa. Yang hitam manis itu mama.
Yang mirip panda itu aku.
Sisanya cece.


Dari tanah lot, kami menuju ke Denpasar.


-bersambung-

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu:

Gatsu? Apa itu gatsu? Sejenis makanan Jepang? Likita? Kamu di mana? Saksikan hanya di episode selanjutnya: Tersesat di Denpasar, Bangkrut di Sukowati.

8 comments:

PHY said...

ngakak aku baca cerita tentang bali. huehehehehe...
*yang ngantri itu tidak selamanya benar - ridwan, lahir di bali, besar di bali, malas antri :D*

Fanny said...

ampun. jam 4 pagi, dan aku ketawa2 sendiri. :D

Gita Arimanda said...

#phy n fanny:
Wah agak pasaran baca blog suhu trus ketawa. Aku mau beda. Aku nangis aja. huhuhuhhuhu

dina.. said...

akirnya suhu ngapdet :D

mukuge said...

gatsu = gatot subroto!!!
(ya, kena gampar huehehe)

adam brown said...

Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

suhu said...

#phy:
apakah itu sebabnya akhirnya kamu tidak lagi di bali? Diusir warga setempat karena malas antri?

#fanny:
jangan egois fan. Bangunin rumet, ketawa bareng dong. jam 4 pagi.

#gita:
inofativ kamu git.

#dina:
lebi lama mana, suhu ngapdet ato loading website nomer unik pegawai

#mukuge:
hahaha, spoiler.

#adam brown:
Really? The only website where i type some stuff and make good and far better money than yours is my DBS iBanking page.

ayumi said...

Matahari terbenam (sunset) sangat terkenal di Tanah Lot. very amazing panorama.
Visit http://www.tanahlot.net