Saturday, March 22, 2008

Tersesat di Denpasar, Bangkrut di Sukowati

Kembali lagi di blog Suhu si Panda Tambun. Kali ini Suhu sedang bertualang bersama keluarganya ke pulau Dewata. Bukan, bukan Maldive. Bali. Suhu sudah melihat upacara adat di Bali, tepatnya di tanah Lot. Dan percayalah, laparnya bukan kepalang. Ya, memang sama sekali tidak ada hubungan yang jelas antara upacara adat dan aktivitas lambung.

Tapi kami berempat, bertekad kuat untuk menemukan tempat tinggal terlebih dahulu. Tentu saja melalui voting, dan Suhu kalah dalam pungutan suara tersebut. Walau tentu saja Suhu yakin, orang-orang yang rasional sudah tahu jawaban atas pilihan makan-atau-tidur.

Pikir! Kalau kita tidak dapat tempat tinggal / hotel, kita masih bisa tidur di mobil. Sedangkan kalau kita dapat tempat tinggal / hotel, kita masih punya sedikit kesulitan untuk merebus mobil kita. Tapi setelah Papa dan Mama meyakinkan aku bahwa nanti aku boleh memakan Cece di hotel pasti ada restoran, aku akhirnya setuju untuk mencari hotel dulu.

Meskipun selalu spontan dalam melakukan segala hal, keluarga Suhu tidak pernah melakukan kesalahan bodoh. Untuk masalah tempat tinggal, kami tidak sembarang memilih hotel. Karena selain bisa ditipu harga, kami juga takut kualitasnya di bawah harapan kami. Oleh karena itu, sekali lagi Papa dan Mama, Cece dan Suhu, mengandalkan jaringan network internasional nya, untuk menemukan recommended hotel di Bali, Denpasar.

Terdengar suara Papa berbincang-bincang dengan sahabat lama nya di telepon.

Iyo... uda di Bali sekarang, mana yo tempat nginep?
hening. sekeluarga siap dengan pena dan kertas.
Jalan apa? Gatsu? Oke. Gatsu. Nomer?
Tiga anggota keluarga saling memandang satu sama lain. Chicken Gatsu Katsu?
Nginep di kargo?
Tiga anggota keluarga memandang Papa.
Oke oke. Enak ya di kargo? Likita?
Tetap menulis di kertas walaupun bingung apa yang terjadi.
Berapaan itu? Oh. Ya? Halo? Halooo? Wah ditutup.
Tiga anggota keluarga memandang kertas masing-masing dan bertanya pada Papa serentak.

Nginep di Kargo?

Njrot. Keluarga kami sudah mengalami naik turun gejolak perekonomian semenjak warga negara indonesia asli menunjukkan rasa kurang bersahabat pada warga negara indonesia kurang asli. Tapi seumur-umur belum pernah kami tinggal di Kargo.

Eniwei, kita sekarang harus mencari di mana kah letak Gatsu. Jalan besar. Jalan utama. Kami sampai di sebuah pom bensin.

Misi mas, Nama saya Nimas tapi kalo pagi saya jadi Thomas saya dari brebes cantik-cantik pedes tapi saya gemes sama cowo judes mau tanya jalan?
Iya? Mau ke mana?

Dan sepertinya mas penjaga pom bensin itu lidahnya lekat dengan langit-langit. Gaya bicaranya benar-benar lucu muahahaha berbeda. Tapi ini bukan logat Bali. Suhu positif ini bukan logat Bali. Karena Suhu punya seorang teman Bali bernama I Wayan Magha Paritranaya Dharmawan dan adik kelas yang konon Bali juga.


Cari Gatsu di mana ya?
Katsu? Hoka-hoka bento aya', Ajisen Ramen oge aya'
Oh, ini adek jalan lurus terooooos. Ada lampu merah, kiri kanan itu dah Gatsu. *dijelaskan dengan gaya dan sangat antusias.*
Oh, makasih mas. *dijawab dengan nahan ketawa*

Mengikuti petunjuk penjaga pom bensin tadi, mobil kami melaku lurus terooooos tapi tidak melihat adanya lampu merah. Lalu ayahanda mengutus diriku untuk turun dari mobil mengendus aspal dan mencari jejak bertanya pada penjaga outlet handphone.

Ya, ada yang bisa dibantu.
Hmpffft... *kaget*

Mas ini suaranya sama kayak logatnya mas yang tadi. Mungkin logatnya. Mungkin saudara. Tapi ini pasti bukan logat Bali. Soalnya Suhu punya seorang teman Bali bernama I Wayan Magha Paritranaya Dharmawan dan adik kelas yang konon Bali juga. Dan logat mereka gak seperti itu.

Oh, betul. Jadi depan ini ada jalan besar, potong aja. Keliatan pat-tung, belok kanan. Dari pat-tung tiga perempatan, belok kanan. Itu sudah Kargo.

Manggut-manggut seolah mengerti apa itu pat-tung, Suhu pun mengucapkan terima kasih. Tapi sebelum rasa keingintahuannya hilang, Suhu menanyakan pertanyaan yang sejak tadi disimpannya.

Lha Gatsu nya di mana?
Ya jalan besar itu kan Gatsu, nanti keliatan pat-tung, itu Gatsu.
Lho, aku tadi dari jalan besar itu liat plang nya di Dealer Suzuki tulisannya jalan ...
Gatsu.
*menelan ludah* Gat Su.

Ladies and Gentlemen, perkenalkan manusia paling idiot abad ini. Sudah jutaan kali kami melewati jalan besar itu, dan entah kenapa otak dengan tingkat intelejensia di atas amuba ini tidak menangkap bahwa jalan Gatsu itu nama resminya adalah.

Gatot Subroto.

Tentu saja tanpa memperpanjang pembicaraan dengan topik apakah Pangsu adalah Panglima Sudirman, Warusu adalah Wage Rudolf Supratman, Airsu adalah Ade Irma Suryani, dan tidak heran jika jalan Rahim adalah singkatan dari Arif Rakhman Hakim.

Kami segera melaju ke hotel Likita. Memang itu nama aslinya. Tidak ada maksud mempopulerkan nama pacar di sini dengan membuat nama hotel nya mirip-mirip nama pacar. Tanpa bermaksud mempromosikan secara gratis, Hotel Likita ada di jalan kargo yang adalah cabang dari jalan Gatot Subroto alias Gatsu. Satu kamar bisa diisi empat orang [dua ranjang besar]. Tarifnya 150 ribu dengan AC, 60 ribu tanpa AC. Dilengkapi dengan fasilitas air hangat. Hotel ini sangat dianjurkan kalau kamu membawa kendaraan sendiri, karena mobil kamu bisa diparkir di depan kamar. Untuk keluarga yang memiliki kepala keluarga paranoid dan setiap 2 jam sekali mengecek roda mobil masih lengkap, hotel ini, sempurna.


Parkir mobil depan kamar, sempurna untuk mereka yang paranoid.


Jangan bertanya dari mana kami bisa mendapatkan hotel yang murah dan bagus. Ingin tahu hotel murah dan bagus di Bali, ikuti terus, kisah di balik hutan bambu.

Aku koq lapar ya?
Ma, pegangi adek, Papa sibuk nyetir.
AAAAAWWWWWW
Dek! Kita cari makan di warung aja. Jangan makan cece!
Itu itu depan ada warung, kita makan sana aja.

Di depan hotel Likita, ada sebuah Warung bernama Warung Satria. Termasuk buka cukup malam untuk daerah sekitarnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, dan keluarga Suhu sudah perlu untuk menyuapi raganya. Semua gembira dengan penemuan Warung Satria tersebut. Penemuan kedua terbesar setelah Christopher Colombus menemukan Benua Amerika.

Nasi campur warung satria dengan porsi lebih dari cukup.



Semua gembira. Dengan alasan berbeda. Mama gembira karena memang doyan nasi campur, dan itu satu-satunya menu yang ada di sana. Papa gembira karena ternyata harganya tidak terlalu mahal, empat belas ribu untuk satu porsi yang tidak bisa dibilang sedikit. Suhu gembira karena memang doyan nasi campur yang satu porsinya tidak bisa dibilang sedikit. Dan Cece, sekali lagi, selamat dari kepunahan.

Bangun pada pagi hari, Suhu merasa sedikit pegal-pegal akibat lama duduk di mobil. Tapi rasa linu itu hilang setelah menenggak minuman yang disediakan hotel. Rasa linu itu tidak sepenuhnya hilang, tapi, berubah menjadi rasa mual. Minuman yang, menurut karyawan hotel, adalah teh manis. Tidak seperti yang biasa kita minum di our homeland, England Jawa.

Entah karena daun teh telah mengalami mutasi menjadi batang tebu, atau memang ketumpahan gula. Teh itu sangat manis. Manis yang sangat jenuh sampai lidah kamu merasa pahit untuk lima belas menit ke depan. Sarapan yang menyertai minuman neraka tersebut adalah roti kelapa. Suhu melihat Cece sangat suka roti itu, dan memberikan jatahnya untuk Cece agar Cece lebih gemuk dalam jangka panjang sebagai tanda sayang kepada keluarga.

Pagi berikutnya, kami berburu babi guling. Okeh, memang kedengaran barbar, tapi memang itu makanan yang harus dicoba saat kamu ke Bali. Bahkan, konon, saking terkenalnya masakan ini, pulau dewata ini juga dinamakan sesuai dengan makanan ini. Babi Guling. Ba Li. Gatot Subroto. Gat Su. What? Don't 'duh' me! They started it.

Mencari rumah makan Lukluk. Bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika kamu sudah ada di daerah Gatsu, dan hendak ke arah luar kota. Sebuah daerah di Bali yang bernama Kapal. Dengan sebuaha rumah makan bernama Lukluk. Rumah makan Lukluk terkenal karena menembak lebih cepat daripada bayangannya babi guling nya.

Mempunyai tujuan tempat makan membawa kesulitan tersendiri. Terutama jika kita tahu mau makan di mana, tapi tidak tahu bagaimana cara menuju ke sana.

Permisi mas, mau tanya jalan.
Ya?
Mau ke Kapal.
Kap-pal? Ini lurus terus. Mau ke mana?
Lukluk.
Kap-pal?
Ya.
Kap-pal? Ini lurus terus. Mau ke Kap-pal mana?
Lukluk.
Kap-pal?
Lukluk.

Setelah mengalami kegagalan berkomunikasi dengan orang setempat, akhirnya diputuskan untuk jalan lurus terus karena memang tidak banyak pilihan. Dan nampaknya memang sejak ada rambu penunjuk jalan bertuliskan KAPAL, jalan ini belum bercabang sama sekali. Nampaknya kami semakin dekat dengan Lukluk, Kapal, Kap-pal. Atau apa pun itu. Yang penting Babi Guling.

Dari hotel sampai ke Lukluk, Suhu sudah tanya jalan ke tiga ratus trilyun penduduk setempat. Dan kesimpulannya adalah sebagai berikut.

1. Waktu berbanding terbalik dengan jarak.
Bukti: Tanya pada orang pertama. "Lukluk, betul, ini lurussss aja, lima menit nyampe." Setelah kira-kira lima menit kami takut kebablas, tanya orang lagi. "Iya benar. Lukluk ke arah sana terus. Kira-kira lima belas menit jalan keliatan dah." Tentu saja setelah beberapa saat kemudian, penduduk setempat terlihat makin gembira mempermainkan pendatang. "Oh, sudah lewat jauh. Ini putar balik, jalan balik satu jam kira-kira."

2. Jangan mudah percaya.
Bukti: Akhirnya kami menemukan Lukluk. Dan lokasinya berbeda dengan deskripsi para penduduk setempat. Either mereka berbohong dan melindungi Babi Guling mereka untuk dinikmati sendiri, atau mereka memang tidak tahu jalan.

3. Wayan Magha Paritranaya Dharmawan dan I Wayan Tresna bukan orang Bali.
Ternyata orang-orang di sini logatnya seperti itu semua. Dan sepertinya lebih mudah buat Wayan Magha Paritranaya Dharmawan dan I Wayan Tresna untuk bersekongkol berlogat palsu untuk mengelabuhi Suhu daripada sejuta penduduk lokal untuk membuat logat palsu. Berani sumpah, aku sudah kenal dengan Wayan Magha Paritranaya Dharmawan dan logatnya is not anywhere near them. Pat-tung? Kap-pal?

Cerita di dalam rumah makan Lukluk disensor untuk menghormati teman-teman kita yang tidak nyaman karena banyak adegan melibatkan babi. Berlanjut ke adegan selanjutnya.

Ibaratnya kemarau panjang dihapus hujan sehari, keletihan kami hari itu diakhiri dengan kegembiraan kegiatan BERBELANJA.

Karena kekurangmahiran Suhu dalam hal tawar menawar, bagian ini tidak akan diceritakan dengan mendetil. Tapi yang pasti untuk beli baju-baju Bali dan souvenir untuk oleh-oleh, Sukowati adalah tempatnya.

Sepanjang jalan kenangan, bertebaran barang dagangan.


Sebagai panduan harga. Kaos Bambu (bahan kain tipis isis) sekitar sepulu ribuan, T-shirt duabelas ribuan, kemeja duapulu ribuan. Kalau kamu beli dengan harga terlalu tinggi, selamat datang di perkumpulan TuTuPu. Turis-turis ketipu.

Kalau harga baju ini benar seperti yang dibilang ibu ini dan tidak bisa ditawar,
kalau baju ini laku semua, dia lebih kaya dari Bill Gates.


Setelah bangkrut di Sukowati, kami mengalami masalah yang dialami kebanyakan umat manusia di dunia. Lapar. Jangan protes kalau isi blog ini cuma makan, tidur, makan, tidur. Suhu sedang liburan, paham? Kalau mau cerita tentang ngecor di bawah hujan, tunggu. Nanti ada saatnya sendiri.

Karena sengatan matahari menambah gejolak lambung, keluarga Suhu memutuskan untuk tidak mencari rumah makan di kota, melainkan makan di tempat makan yang ada di sekitar pusat cindera mata Sukowati. Pandangan mata kami menyapu sekeliling dan melihat baju, celana, kemeja, patung, pahatan kayu, lukisan. Dan sorot mata kami terhenti pada satu objek.



-bersambung-

Apa yang dilihat oleh Suhu dan keluarganya? Bugil di Bali, bagaimana rasanya? Saksikan hanya di episode selanjutnya: Sanur, The Beach Where Everything Goes Wrong.

Wednesday, March 19, 2008

Matahari Terbenam di Tanah Lot

Setelah menyuapi raga dengan bongkahan daging dan gundukan nasi, keluarga Panda Tambun melanjutkan perjalanannya ke Bali. Next destination: mBanyuwangi. Bagi pembaca dari Medan yang tidak bisa berbahasa Jawa, Banyu itu artinya Air. Bahasa Jawa. Banyuwangi artinya parfum sebuah kota yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Dari kota inilah kita akan menyeberang ke Bali.

Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di pelabuhan. Pelabuhan Ketapang. Karena kami akan menyeberang ke Gilimanuk. Kenapa kami hendak menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk? Karena kalau menyeberang Semenanjung Harapan, bisa dipastikan artikel ini ditulis oleh Vasco da Gama dan Marcopolo yang pemberani dan tangguh, bukan Suhu.


Untuk pembaca dengan nilai geografi kelas 4 eSDe pas-pas an, silakan lihat peta di bawah ini.

Mobil kami memasuki kawasan pelabuhan. Jika kalian membayangkan di pelabuhan terdapat pria-pria kekar berbaju kelasi sambil mengunyah bayam, kalian salah besar. Pelabuhan adalah tempat barang-barang selundupan datang para petugas berseragam pemerintah daerah. Dari sana kami meluncur masuk. Untuk yang belum pernah ke pelabuhan, ya ibaratnya kita memasuki sebuah jalan tol dengan sebuah gardu yang dijaga petugas.

Tidak ada pria kekar berbaju kelasi.

Kalau di jalan tol, kita memacu mobil kita dengan cepat. Di pelabuhan kita memasukkan sebuah mobil kita ke sebuah garasi mengapung yang lebih dikenal dengan nama kapal Ferry. Lalu garasi itu, ya Ferry itu tadi, akan menyeberang selat Bali. Dan saat kita keluar dari garasi, ya Ferry itu tadi, kita sudah ada di pulau lain. Faham?

Pintu garasi mengapung.

Kami memacu mobil Stream masuk ke garasi mengapung tadi, dan semua anggota keluarga keluar dari mobil untuk menikmati udara segar. Sayang sekali udara segar ini berbau seperti toilet asrama putra di saat musim kawin. Amis. Kami berempat naik ke geladak kapal. Suasana di atas sudah sangat ramai meskipun garasi di bawah termasuk sepi. Maklum wisatawan ke Bali sangat berkurang setelah kejadian tragedi Bom Bali.

Tak berapa lama setelah mobil kami masuk, Ferry mulai bergerak meninggalkan anjungan. Papa, Mama, dan Cece memilih untuk di dalam kapal. Sementara Suhu, yang lebih suka tantangan, memilih untuk berenang di samping kapal berdiri di samping kapal sambil menikmati hembusan angin yang berbau toilet asrama putra di musim kawin. Papa, Mama, dan Cece berbincang-bincang di dalam kabin, sementara Suhu sendiri dalam sepi menyenandungkan lagu.

Nenek Moyangku seorang pelaut,
gemar mengarung luas samudera.
Menerjang ombak tiada takut,
menempuh badai sudah ...


Belum sempat aku menyelesaikan lagu itu, dari belakang pundakku ditepuk. Rupanya Papa. Papa menepuk pundakku dengan sangat kebapakan. Dengan penuh wibawa, dia berkata. "Nenek moyang kita pedagang." Aku mengangguk penuh arti. Dan Papa kembali ke kabin.

Sekitar tiga puluh menit lebih kemudian, Ferry mulai mengurangi kecepatan. Nampaknya sudah mulai merapat ke anjungan kapal di Gilimanuk. Terdengar suara dua logam berderit ngik ngik ngik cieetttt. Nampaknya kapal Ferry kami menabrak salah satu Pier di Gilimanuk. Papa dan Mama keluar dari kabin untuk melihat dari mana suara itu berasal. Sementara Suhu membungkam mulut Cece yang sedari tadi menarik perhatian karena berteriak "We're all gonna dieeeeee!!!" di dalam kabin.

Mama Papa melihat situasi saat kapal merapat, Suhu membungkam Cece.

Dalam total waktu kurang dari satu jam, kami sudah siap meninggalkan pelabuhan Gilimanuk untuk mengemudi ke arah kota. Tapi sebelum kita meninggalkan gerbang laut Pulau Bali tersebut, ada sebuah loket lagi. Layaknya jalan tol, masuk ada loket keluar ada loket.

Saat meninggalkana pelabuhan Gilimanuk untuk melaju ke arah pusat kota Bali, ada sebuah pemeriksaan. Konon, pemeriksaan ini menjadi dimasyarakatkan setelah tragedi Bom Bali. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, dan kalau sudah terlanjur lebih baik dicegah agar tidak terulang lagi. Pemeriksaannya sama seperti kalau mobil-mobil masuk Mall di Plaza Araya Malang atau Matos [Malang Town Square]. Bapak-bapak tegap berkumis akan menyapa "Selamat siang pak" dan mulai memakai tongkat berujung cermin untuk menge-sweep bagian bawah mobil.

Mereka belajar dari filem cina. Biasanya penjaga gerbang kota akan menusuk-nusuk kereta kuda yang memuat jerami. Untuk memastikan bahwa buronan kerajaan tidak ada di di balik gundukan jerami tersebut. Sedangkan buronan kerajaan, yang adalah lakon felem kungfu tersebut, dengan cengkeraman tangan yang kuat, seolah merayap di sisi bawah kereta bermuatan jerami tersebut. Maklum, di felem silat itu tidak ada pengawal kerajaan yang membawa tongkat berujung cermin.

Bali, benar-benar tahu cara menyambut turis domestik. Sajian pertama yang kami lihat di pulau Bali benar-benar menarik.

Jangan menyuap petugas. Mereka mudah tersedak.

Foto di atas diambil di pintu keluar pelabuhan Gilimanuk, tempat di mana bapak-bapak tegap berkumis tadi memeriksa KTP kami berempat. Ya, mereka hanya memeriksa KTP dan mencocokkan wajah di foto KTP masing-masing sama dengan wajah di ... wajah pemilik masing-masing. Tidak perlu fotokopi, itu hanya manipulasi bisnis si Engkong fotokopi. Hebat kong, bener-bener cina. Bangga aku jadi cina, kong.

Lalu kami meluncur ke Tanah Lot. Waktu perjalanan sekitar tiga jam. Termasuk lama, tapi kami menikmati pemandangan di sekitar perjalanan dan sebentar-sebentar berhenti untuk berburu gadis Bali menikmati keindahan Bali. Berupa gadis Bali. Sebuah nuansa yang sangat berbeda dibandingkan tanah Jawa. Mungkin kalian akan mengiyakan tentang keindahan alam Bali dan lain sebagainya.

Yang itu bisa kalian harapkan dari Departemen Pariwisata Indonesia. Or not. Tapi dari blog ini, jangan harapkan foto-foto tentang objek wisata Bali. Itu bisa dilihat di kartu pos edisi koleksi. Dan yang ngambil foto jauh lebih profesional daripada cakar panda dengan shutter speed terbatas.

Upacara adat di Tanah Lot. Foto diambil oleh fotografer amatiran.

Kentalnya kultur di Bali memang memunculkan rasa ketertarikan tersendiri untuk turis dari berbagai penjuru dunia. Tapi untuk seekor Panda Tambun, Bali, meskipun sangat dengan tanah Jawa, mempunyai perbedaan-perbedaan yang layak disorot.

Di Bali mereka antri.


Mereka bicara dwi-bahasa. Bahkan kadang dicampur. Yang mana yang baku? Foto? Photo?

Senja itu kami menikmati matahari terbenam di Tanah Lot. Melihat ombak berdebur sebagai latar belakang orang-orang setempat yang melakukan upacara adat. Menertawakan turis-turis yang berlarian kehujanan mencari tempat berteduh. Mengagumi ciptaan tuhan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Akhir kata, sebelum meninggalkan tanah lot, kami menyempatkan diri mengambil foto keluarga.
Ini adalah foto keluarga kami. Yang mirip jepang itu papa. Yang hitam manis itu mama.
Yang mirip panda itu aku.
Sisanya cece.


Dari tanah lot, kami menuju ke Denpasar.


-bersambung-

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu:

Gatsu? Apa itu gatsu? Sejenis makanan Jepang? Likita? Kamu di mana? Saksikan hanya di episode selanjutnya: Tersesat di Denpasar, Bangkrut di Sukowati.

Tuesday, March 18, 2008

Happy Birthday tgwinmg

18 Maret.

Happy birthday, tgwinmg [the-girl-who-is-now-my-girl].


Love,
Panda Tambun.