Tuesday, February 26, 2008

Tak Lagi Putih Bersih Tanpa Ternoda

Setelah beberapa kilometer kami menyusuri jalan berlobang-lobang tak bercabang itu, kami pun melihat sebuah tanda panah ke arah kiri jalan dengan tulisan Pantai Pasir Putih MASUK.

Tapi sayang Papa yang mengingat masa-masa kejayaannya di Grand Prix melaju terlalu cepat dan tidak sempat mengerem. Entah karena refleksnya yang melambat karena usia, atau karena Cece yang mulai berteriak "We're all gonna dieeeeee!!!" di telinga Papa.

Akhirnya kami melewatkan Gerbang megah Pantai Pasir Putih. Lho? Tapi.

"LIHAT!" teriak Mama, memberikan Papa shock therapy yang baik untuk latihan kesehatan jantung.

Mama menunjuk ke kejauhan, sebuah gerbang dari kayu yang sudah ditumbuhi lumut dan tanaman menjalar menutupinya. Tapi masih bisa terlihat sebuah papan kayu yang menggelantung nyaris putus bertuliskan.

Simpan di Lemari Es.

PINTU MASUK UTAMA PANTAI PASIR PUTIH.

Belum sesaat kami melihat untuk memastikan siaran pandangan mata di depan kami, kami melihat rambu lain yang bertuliskan "Entrance to White Sand Beach - 800 m". Rupanya tidak cuma Bandara yang punya terminal domestik dan internasional, pantai-pantai sekarang mungkin lagi nge-trend.

Seraya mengucek mata sembari takjub dengan pengalaman ini, Suhu mengedip-ngedipkan matanya untuk memastikan ini bukan mimpi. Belum sempat mencubit dirinya sendiri untuk memastikan ini bukan fatamorgana, Suhu melihat hal yang lebih luar biasa lagi.

Sebuah pos kecil seperti pos hansip dengan tulisan "Menjual Tiket Masuk Pantai Pasir Putih" sementara di sebelahnya ada sebuah pos yang lebih menyerupai posko bantuan bencana memasang label "Tiket Masuk Pantai Pasir Putih 1000 Rupiah". Tapi keduanya tidak ada yang jaga.

jalan sepi mamring


Itu juga yang kami sadari. Dari tadi tidak ada mobil lain yang melewati jalan ini. Hanya ada mobil kami sejauh mata memandang. Suhu, yang duduk di samping kursi pengemudi, memicingkan matanya. Papan kayu berwarna putih dengan tulisan merah itu terlihat buram. Memicingkan matanya. Buram. Jauh lebih dalam. Masih buram.

Mengambil kacamata. Nah, baru jelas.

Bahaya Tanah Longsor

Njrot.

Tiba-tiba dari arah kanan terdengar suara gemuruh gludhug gludhug gludhug berkumandang. Tidaaaaaaaakkkk ..... aku masih belum mau mati. Suasana mobil menjadi mencekam setelah Suhu membelalakkan mata dan berkeringat dingin, sementara Mak Lampir Cece mulai berteriak "We're all gonna dieeeeee!!!" tetapi Mama tetap tenang. Memang hanya Mama yang paling mengerti. Mama sudah biasa dengan situasi seperti ini, lalu membuka tasnya, dan memberikan sebuah kresek berisi barang gembuk kepadaku.

Dengan gestur yang keibuan Mama menginstruksikan aku untuk membuka kresek tersebut, mengecek-isinya-dengan-saksama, dan membuka-kemasannya sebelum memberikannya-kepada-Papa.

Ternyata isinya adalah roti. Iya, tadi itu gemuruh perut Papa laper. Hanya Mama yang bisa membedakan antara suara perut papa dan tanah longsor.

Kami melanjutkan menyusuri jalan ini dan melihat ada sepetak pantai yang tidak ada tulisan apa-apa nya. Disinyalir, tempat-tempat wisata alam seperti ini sudah dikomersialkan oleh penduduk setempat dan penduduk sekitar yang berjiwa bisnis. Alhasil, alam yang aslinya milik kita bersama menjadi petak-petak beton yang tidak lagi alami.

Tapi kini, aku berada di depan Pantai Pasir Putih ini. Yang belum terjamah. Tidak ada seonggok pun semen hasil perusakan pantai demi keserakahan manusia. Sambil menikmati ciptaan Tuhan [pantai, bukan pelangi] tak henti-hentinya aku mengutuk semua jenis kegiatan yang merusak pantai ini. Tapi setelah mengingat profesiku sendiri, terngiang di benakku sebuah pemeo Jer Basuki Mawa Beya yang artinya Di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Biarlah Pembangunan Membutuhkan Pengorbanan.

Lalu aku tanya pada orang yang bersepeda melewati daerah ini.

Pak, ini Pasir Putih kan?
Iya
mas

Koq pasirnya item yah?
Lho, gimana toh sampeyan ini. Kan tanah yang di sini *nunjuk pantai*
itu yang dari sana *nunjuk seberang pantai, tebing* barusan longsor. Ndak baca
berita ya?

Baca sih, tapi Wall Street
Journal.

Tapi bagus ya di sini, gak ada
bangunannya. Gak kayak sebelah-sebelah.

Dulu rumah
saya di sini. Kena tanah longsor.


Foto Suhu dengan penduduk setempat [diperankan oleh Cece]



Iya, kalimat terakhir memang imajinasi Suhu belaka. Sangat meyakinkan tapi. Pasir putih tak lagi putih.

Setelah puas kecewa memandangi Pantai Pasir Putih, yang sejak hari itu resmi kita ganti namanya menjadi Pantai Pasir Longsor, kami meneruskan perjalanan. Untungnya kota Situbondo tidak terlalu jauh dari situ. Dalam waktu kurang lebih satu jam, kami berhasil memasuki jantung kota Situbondo yang tidak terlalu jauh dari lambung dan empedu kota tersebut.

Syukurlah, karena getaran lambung Papa sudah memicu tebing di sisi kanan jalan untuk longsor dan membuat pulau samosir di seberang pantai pasir putih. Maksudku, pantai pasir longsor. Dengan penciuman Panda yang tajam, Suhu berhasil menavigasi mobil wisata keluarga ini menuju sebuah rumah makan.

Sebuah rumah makan di kota Situbondo.

Kenapa kasir toko itu menahan isak tangis? Apa yang membuatnya sedih? Tepatnya, apa yang membuat semua orang di toko memandangi Suhu yang dituduh membuat kasir toko itu menangis? Ada apa gerangan Situbondo?


-bersambung-

5 comments:

Ada ajaa said...

pertamaxxxx

fanny said...

WARNING :

jgn baca blog Suhu kalo lagi di kantor, bisa dipandangi sama colleagues dengan aneh karena ketangkep basah ketawa2 sendiri.

PHY said...

@fanny: based on true story ya? :D

suhu said...

#ada ajaa:
kayak kaskus aja

#fanny:
wah disclaimer

#phy:
kayaknya demikian

fanny said...

@suhu :
ho'oh :P

@phy :
iya, kok tahu sih? :P