Thursday, February 28, 2008

Makan Bersama Keluarga Suhu

Tidak sulit bagi keluarga Suhu untuk mencari informasi mengenai tempat makan yang enak di seluruh penjuru dunia. Papa adalah seseorang yang pernah menggembala mengembara keliling Eropa. Mulai dari studinya di Jerman, dan sewaktu-waktu ditugaskan oleh perusahaannya ke negara-negara Benelux [Belgium-Netherland-Luxemburg], mutasi ke Jepang, kecopetan di Italia, bergerilya di Botswana, dipenjara di Lithuania, sambil terus berpacaran via surat menyurat dengan Mama yang waktu itu berada di Taiwan, setelah petualangan Mama melintasi Hongkong tentunya.

Beberapa waktu yang lalu Papa bertanya pada teman sekelasnya waktu studi di Jerman dulu. Mama bertanya pada rekan kerjanya di perusahaan Taiwan terdahulu. Dan dua-dua nya memberikan jawaban yang serupa. Kita, dengan bantuan informasi mancanegara, telah menemukan tempat makan yang recommended di ...

...

...

...

...

...

SITUBONDO.

Mencari informasi itu memang mudah jika kita punya network pecinta wisata kuliner. Tapi, tantangan ini belum berakhir. In fact, tantangan baru dimulai setelah kita mendapatkan informasi tersebut. Pertanyaan terbesar adalah ...

Di mana kah Warung Remaja?

Situbondo memang bukan kota yang besar, tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Terdiri dari satu jalan utama dengan bentangan spanduk. Bertuliskan Untuk yang bepergian ke Bali diperlukan fotokopi KTP. Dan di bawah spanduk itu ada papan baliho yang tak kalah besar dengan tanda panah menunjuk ke bawah. Dengan label Fotokopi. Benul, ini baru cina. Bahkan keluarga kami sempat mensinyalir bahwa spanduk itu adalah akal-akalan engkong cina yang punya bisnis fotokopi tersebut.

Cukup setengah jam bagi kami untuk melintasi seluruh jalan besar kota Situbondo guna mencari Warung Remaja yang katanya dari aloon aloon belok kanan lihat rumah besar pager ijo belok kiri lurus sampe keliatan posko PDI Perjuangan nah itu udah kebablasan mesti mundur lima ratus meter liat sisi kiri jalan ada pangkalan becak terus tanya tukang becak letaknya di mana.

Mengikuti kata pepatah Besar kemaluan susah berjalan Malu bertanya sesat di jalan, maka Suhu turun dari mobil untuk menanyakan informasi mengenai lokasi daripada Warung Remaja. Sebuah toko sederhana, tanpa perlu diberitahu pun sudah jelas bahwa penjaga toko merangkap tukang sapu merangkap tukang angkat-angkat merangkap kasir merangkap satpam adalah pemiliknya. Benul, ini juga cina.

Misi cik, numpang tanya jalan ya
O iya koh, mau ke mana?
Mau ke warung remaja.
Warung remaja ya?
Iya, warung remaja.
Warung remaja ... warung remaja ... warung remaja ...

Demikian ucapnya berulang-ulang dengan volume suara makin lama makin mengecil. Fade out. Suaranya semakin lirih. Meskipun betapa susah dia sembunyikan, tapi Suhu tahu bahwa dia menahan luka yang pedih. Dan semua orang di toko itu juga tahu kalau dia menahan isak tangis yang dalam. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah.

Di mana kah Warung Remaja?

KENAPA?

Warung remaja ... tutup.
Oooo, terus buka nya jam berapa?
Tutup! *terisak tangis*
Iya, saya ngerti masih tutup. Biasanya buka jam berapa? *bingung*

Setelah mendapat penjelasan yang cukup dari tukang becak di depan toko tersebut, baru diketahui bahwa Warung Remaja baru saja tutup. Untuk selama-selamanya. Karena juru masaknya telah dipanggil yang kuasa. Dan dari sekian banyak orang Situbondo, Suhu malah tanya keluarganya di mana letak Warung Remaja.

Eniwei. The show must go on.

Karena kami sudah kehilangan arah dan kehilangan tenaga untuk mencari tempat makan, maka kami mencari preferensi kedua kami. Yaitu.

TIDAAAAAAKK.

Kami tidak punya rencana cadangan. Kami hanya tahu sampai ke Situbondo makan di Warung Remaja. Maka yang harus kami lakukan adalah. Berkeliling kota Situbondo dan mencari sebuah rumah makan yang.

Terdekat.

Kami sudah sangat lapar.

Tapi tenang saja. Ini Aloon aloon. Tentu banyak orang berjualan makanan di sini. Orang muslim nggak makan babi. Vegetarian nggak makan daging. Diabetes nggak makan manis. Itu nggak masalah, karena keluarga Suhu termasuk spesies segalavora.

Tapi ternyata tidak semudah itu mencari tempat makan di Situbondo. Sekitar tiga kali kami memutari kota ini, tidak terlihat satu pun rumah makan yang buka. Sepertinya mereka sedang masa berkabung untuk menghormati warung remaja. Sepanjang mata memandang hanya melihat spanduk di atas tukang fotokopi.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak makan di Situbondo dan memakan Cece dalam perjalanan mencari tempat makan di kota lain.

Pucuk dicinta ulam tiba gayung bersambut lambung mengiba.

Ternyata di arah keluar Situbondo, terdapat sebuah rumah makan yang buka. Kami masuk ke dalam. Dan melihat namanya untuk kemudian diabadikan dalam catatan perjalanan ke Pulau Dewata yang kelak akan dibaca dan diingat dan diresapi oleh tujuh turunan Suhu.

Namanya.

Rumah Makan Malang

Lalu kami memesan makanan untuk menyuapi raga kami. Sebenarnya bagian ini tidak terlalu penting. Tapi Suhu sebagai redaksi tunggal blog ini, memang sengaja mencantumkan bagian ini agar supaya para pembaca ngiri.

Hidangan Rumah Makan Malang


Adat makan tiap keluarga memang berbeda-beda. Keluarga taqwa yang memulai santapan dengan doa bersama. Keluarga sederhana mengucap syukur atas hidangan di meja. Keluarga besar menghitung jumlah anggota dari kakek buyut sampai cucu nomer dua puluh dua. Tapi keluarga Suhu tidak mengikuti adat istiadat Indonesia yang tepa selira bertata krama, kami langsung ke pokok-bahasan-masalah. MAKAN.

Rumah Makan Malang


Tenang. Suhu tidak sebuas itu. Tapi lebih buas. Di keluarga kami, makan bersama belumlah lengkap tanpa diiringi cerita Papa. Entah ini berkah atau nestapa, Papa sangat suka bercerita saat makan. Sayang sekali Papa tidak lancar mengetik, kalau Papa bisa mengetik lancar, tentu sudah punya blog yang diupdate setiap hari. Ini adalah salah satu bakat yang Papa punya dari lahir. Bercerita.

Dan setiap saat topiknya selalu berubah. Meskipun setelah sekian tahun makan bersama setiap hari akhirnya mengalami cerita yang terulang.

Papa menceritakan tentang pengalamannya menjuarai badminton kotamadya Jember.


Papa menceritakan tentang masa lalu nya di Training Center tenis meja.


Cerita Papa memang selalu seru. Tapi cerita itu tidak mengundang perhatian penuh Panda kelaparan yang lebih berminat pada fokus tengah meja. Cerita Papa memang selalu tidak terduga dan tidak tersangka. Tapi belum seberapa dibanding kelanjutan Perjalanan ke Pulau Dewata.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu. Menyeberang ke Bali, Matahari Terbenam di Tanah Lot.

-bersambung-

6 comments:

PHY said...

ngacrut nih kisah di situbondonya...:D:D:D

-promosi rumah makan malang ya? :p-

imambenjol said...

wah itu sih bukannya badminton ama tenis meja, tapi ngusir lalat. nyahahahaha~

two thumbs up for the story!

Anonymous said...

bingung mau komentar apa?
tapi akhirnya ipan bisa ketemu blog dikau kembali.
sekarang masih disingapur?
saya belom jadi apa2neh

Anonymous said...

spertinya bapaknya suhu sedang encok karena sudah lama tidak olah raga...
hehehe

Smartphone said...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Smartphone, I hope you enjoy. The address is http://smartphone-brasil.blogspot.com. A hug.

Martha-Happy said...

ada sekelompok manusia mirip babi yang suka banget makan, segala apa aja dilahap dan rela bolos kuliah demi nongkrong buat makan di kantin, mereka hidup untuk makan bukan makan untuk hidup,, "the Piggies", temen2 1 angkatan gw di Ilmu ekonomi FE UI.