Saturday, February 23, 2008

Awal Perjalanan Panjang

Seperti layaknya petualangan lain, kisah ini pun akan dimulai pada suatu tempat. Dan tempat itu adalah Probolinggo. Kenapa kota ini yang dipilih? Kenapa bukan dimulai dari perjalanan pulang dari Bandara Changi Singapura ke Bandara Juanda Surabaya. Kenapa eh kenapa? Ada apa gerangan dengan kota Probolinggo?


Karena Probolinggo adalah kota kelahiran ibuku.
Terdengar mama menyanyi di background "proboliiinggo tanah air beeeeta..."

Wokay, petualangan kali ini bukan bersama psikopat, bukan bersama hewan-hewan buas, tapi bersama dengan keluarga Suhu. Penjelasan singkat, keluarga Suhu adalah caturwarga, terdiri dari seorang ayah [yang seterusnya akan diceritakan dengan nama Papa], seorang ibu [yang seterusnya akan diceritakan dengan nama Mama], dan seorang kakak perempuan [yang seterusnya akan diceritakan dengan nama Mak Lampir Cece].

Okeh, latar belakang dipilihnya setting Start Line di kota Probolinggo harus ditilik beberapa hari sebelumnya. Suhu, yang baru menempuh perjalanan Surabaya-Malang pada hari Minggu tanggal 3 Februari 2008, merasakan nikmatnya perjalanan endut-endutan nyaris macet total. Tentang sabab musababnya, mari kita tanyakan pada lumpur-yang-bergoyang di Sidoarjo. Lalu dua hari kemudian, Mak Lampir Cece datang dari Taiwan ke bandara Juanda. Dan juga menempuh perjalanan Surabaya-Juanda.

Setelah mendapat feedback yang cukup dari kedua buah hatinya, papa mama akhirnya yakin, bahwa mobil kami tidak layak pakai untuk mengarungi Bali Strait [Selat Bali]. Alasannya antara lain adalah, menurut Cece, "kursi penumpang belakang tidak bisa di-njheblag-no" [No Reclining Seat, red]. Menurut Mama, "AC nggak dobel blower, penumpang belakang tidak kebagian hawa sejuk". Menurut Suhu, "mobil kita kelihatan jelek difoto, kan ntar mau di-blog". Maka Papa tidak punya pilihan lain selain mencari uang untuk beli mobil baru pinjaman mobil.

Kijang tua kami difoto dari sisi paling fotojenik. Ya, space pengemudinya memang agak terbatas.


Maksud kami, yang ini.

Kebetulan yang tidak disangka, kerabat kami yang ada di Probolinggo bersedia bertukar mobil dengan kami selama seminggu. Jadi kami bukan pinjam mobil, karena mobil kami harus ditinggal di sana. Untunglah, kalau tidak kita harus ke Probolinggo berjalan kaki. Situasinya sebenarnya sama-sama menguntungkan. Kita butuh mobil Honda Stream baru mereka untuk bertualang ke Bali, dan mereka butuh mobil Kijang tua kita untuk menghindari inspeksi pajak barang mewah.

Wokay, paragraf terakhir bo'ong. Kami pinjem mobil, dan kami numpang parkir mobil kita di rumah orang. That's the fact, but we're not going to dwell into it any further.

Jadi perjalanan kita dimulai di Probolinggo. Menyusuri jalur utara melewati Situbondo, ke Banyuwangi lalu menyeberangi Selat Bali. Paham?

Peta Jawa Timur untuk pembaca dengan nilai geografi kelas 4 eSDe pas-pas an.


Mungkin untuk kalian perjalanan ini biasa-biasa saja. Untuk kalian yang sudah sering ke Bali maksudku, entah buat liburan atau buat rencana pengeboman diskotik. Tapi untuk keluarga kami, pergi ke Bali adalah sesuatu yang istimewa. Karena saat-saat ini saja kami bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Suhu ada di Singapura, Mak Lampir Cece ada dan akan menetap di Taiwan selamanya. Iya, nenek sihir jahat yang tertangkap memang dikumpulkan di suatu pulau yang jauh dari tempat kita tinggal, adik-adik sekalian. Sedangkan Papa dan Mama selalu sibuk menghadiri konferensi-konferensi internasional mengenai masalah politik Myanmar dan ekonomi Cina memantau kesehatan Pak Harto dari layar kaca.

Itu juga salah satu sebabnya kami menempuh jalan darat dan bukannya terbang langsung dari Malang ke Denpasar. Setan alas, sapa yang bilang "Emang di Malang ada airport?" tadi. Ayo angkat tangan! Menempuh perjalanan dengan jalan darat itu artinya, lebih banyak waktu yang diluangkan bersama secara terpaksa.

Kota pertama yang akan kita lalui dalam petualangan ini adalah kota Situbondo. Salah satu obyek wisata menarik di kota ini adalah teman SMA Suhu yang bernama Yen-yen Pantai Pasir Putih. Maka kami akan mampir juga.

Tapi, tidak disangka tidak dinyana. Sesampainya di Pasir Putih, ....


-bersambung-

6 comments:

FaNNy said...

ayooo cepattttt updateeeeee!!!

:D

PHY said...

sebagai warga bali, saya sudah tidak sabar melihat seberapa parah bali diporakporandakan oleh suhu...:D

Hendri said...

Emang di Malang ada airport?

suhu said...

#fanny:
bukan aku yang lama ngapdet, kalian yang baca nya kecepetan.

#phy:
sabar, posting berikutnya baru pasir putih. Belum situbondo, banyuwangi, ketapang-gilimanuk.

#hendri:
Ada. Wikipedia aja tau.

Bali Hotel said...

Santai sambil menikmati deburan ombak di Pantai Kuta, Sanur atau Nusa Dua akan menjadi pengalaman yang terindah. Rencanakan perjalanan Anda untuk liburan yang akan datang ke Bali dan dapatkan harga murah dari Bali hotels yang ada.

Andrew said...

Malang ada airport btw.. Bentar lagi bakal jd salah satu airport besar Indonesia.. Ayo2 jalan2 ke Malang... Buat yang pengen cari inspirasi n hiburan, banyak tempat2 unik sekaligus wisata kuliner... =] Butuh tempat nginap? Ada rekomendasi nihhh... Klik www.kartikagrahahotel.com